Rasa Syukur kepada Orang Tua – Venerable Ajahn Sumedho

Kamis, Maret 31st 2016. | Artikel

venerable aiahn sumedho tisaranadotnet
Amaravati , – suatu hari yang istimewa, hari penuh berkah. Pagi ini banyak dari Anda berada di sini untuk memberi persembahan tradisional dan dedikasi khusus buat orang tua kita – mereka yang sudah meninggal maupun yang masih hidup. Di hari ini kita akan merenungkan katannu kataveti, istilah Pali untuk kata: bersyukur (gratitude). Syukur adalah respon positif terhadap hidup; dalam mengembangkan katannu, kita secara sengaja membawa ke dalam ruang-kesadaran tentang hal-hal baik yang terjadi pada kita dalam hidup ini. Maka hari ini, terutama, kita mengingat kebajikan orang tua kita, dan merenungkannya. Kita tidak mengenang kesalahan yang pernah mereka perbuat; sebaliknya, dengan sengaja kita memang hanya mengenang kebaikan mereka, kasih yang telah ayah-ibu berikan untuk kita – bahkan meski pada beberapa kasus, kemurahan-hati barangkali tidak selalu tersedia di sepanjang waktu. Sekarang adalah satu hari dalam tahun ini untuk mengenang ayah-ibu dengan bersyukur dan mengingat kembali segala hal baik yang sudah mereka lakukan buat kita. Hidup tanpa katannu adalah hidup tanpa keceriaan.

Kalau kita tak punya apapun untuk disyukuri, hidup sungguh muram jadinya. Cukup renungkanlah ini. Kalau hidup terus-menerus hanya diisi dengan keluhan dan rengekan akan ketidakadilan serta kecurangan yang kita derita, kita tidak ingat hal-hal baik yang terjadi pada kita, dan bahkan jika kita hanya mengingat yang busuk-busuk saja – itu mah namanya: Depresi (!)…

Ya memang ini bukanlah hal yang aneh di jaman sekarang. Ketika kita jatuh dalam depresi, kita tak bisa mengingat kebaikan apapun yang ada pada hidup. Ada sesuatu yang mampet di dalam benak dan tak terbayangkan bahwa kita akan bisa bahagia lagi: rasanya kesengsaraan ini bakal abadi selama-lamanya. Di Sri Lanka, dan seantero Asia, katannu kataveti adalah suatu kebajikan yang sudah mengakar, kualitas yang sangat dihargai dan ditanamkan dalam masyarakat. — Mampu menyokong dan memelihara orang tua kita adalah salah satu berkah terbesar di dalam hidup. Ini menarik bagi sebagian dari kita yang datang dari latar belakang budaya Barat, karena nilai-nilai di Barat agak sedikit berbeda.

Banyak dari kita di sini yang hidup berkelimpahan, namun kendati lahir di keadaan yang serba beruntung kita bisa cenderung menganggap seakan semua itu memang sudah semestinya begitu. Kita punya kemudahan-kemudahan dan keuntungan-keuntungan istimewa serta kehidupan yang jauh lebih baik daripada sebagian besar umat manusia di dunia yang bisa harapkan. Ada beragam hal buat disyukuri, begitu banyak hal untuk merasa katannu ketika kau hidup di tempat seperti Britania (Inggris). Saya berpikir kembali ketika saya masih kecil, bagaimana orang tua mencurahkan hidup mereka buat merawat saya dan saudara perempuanku. Ketika masih muda, saya tidak menghargai ini sama sekali. Sebagai seorang bocah yang tumbuh di Amerika, kami sama sekali tidak menimbangnya, kami menganggap ayah dan ibu sebagai sesuatu yang sudah semestinya memang harus begitu.

Dan kami tak bisa menyadari apa yang telah mereka korbankan, segala apa yang mesti mereka rela persembahkan demi untuk merawat kami. Hanya setelah kami sendiri kian dewasa dan sudah mengalami sendiri: mesti merelakan berbagai hal demi kebaikan anak-anak kami atau seseorang, barulah kami mulai bisa menghargai dan merasakan
katannu kataveti kepada orang tua.

Saya ingat akan ayah. Beliau seorang seniman yang bercita-cita tinggi sebelum masa Depresi 1929. Kemudian di tahun ‘29 terjadi ambruknya Wall Street (the Crash) dan beliau beserta ibu kehilangan segalanya1, sehingga beliau mesti bekerja sebagai penjual sepatu. Saya dan saudara perempuanku lahir di masa Depresi Besar, dan beliau harus menyokong kami [dalam situasi yang sangat sulit itu]. Kemudian Perang Dunia II dimulai, tetapi ayahku terlalu tua untuk mendaftar di kemiliteran; ayah ingin turut mendukung perjuangan perang itu, maka ia menjadi perakit kapal di New Seattle. Beliau bekerja di pabrik kapal. Ia tak menyukai tugas tersebut, tetapi itu adalah jalan terbaik baginya
untuk bisa ikut membantu negara di Perang Dunia II. Sehabis masa perang, ayah kembali ke bisnis sepatunya dan menjadi manajer di suatu toko eceran. Omong-omong dengannya belakangan setelah saya dewasa, saya mendapati
bahwa sesungguhnya ia pun tak pernah benar-benar menyukai pekerjaan itu, tapi beliau merasa sudah terlalu tua buat mencari profesi lain. Dengan mengorbankan hal-hal yang harusnya lebih ia sukai itu [a.l.: profesi seni] sebenarnya adalah demi buat menyokong ibu, kakak, dan saya sendiri.

Saya punya pilihan yang jauh lebih banyak, kesempatankesempatan yang jauh lebih baik. Generasiku memiliki kemungkinan-kemungkinan yang begitu luas tersedia bagi kami sewaktu kami muda. Namun, orangtua saya tidak mendapat peluang-peluang serupa, generasi mereka harus bertanggung jawab atas hidupnya sendiri dan mulai bekerja sejak masih amat muda.

Kedua orangtua saya sebenarnya berbakat tetapi mereka tidak memperoleh kesempatan buat berkembang lebih dari
sekadar biasa-biasa saja dalam cara mencari nafkah. Kala saya di universitas tahun 1950-an, mode yang populer waktu itu adalah belajar Psikologi. Di waktu itu trend-nya adalah menyalahkan ibumu atas segala hal yang keliru dalam hidupmu 2. Fokus-nya adalah kepada para ibu dan apa yang telah mereka lakukan yang menyebabkan AKU menderita sekarang.

Aku sungguh tidak menyadarinya waktu itu bahwa penderitaan itu sebenarnya adalah hal yang sangat alamiah dalam hidup manusia. — Tentu saja ibu saya memang tidak sempurna, beliau bukanlah makhluk yang tercerahkan sempurna ketika dia melahirkanku, jadi memang ada beberapa hal yang seharusnya dapat ia perbaiki. Tetapi secara umum, dedikasi, komitmen, kasih, dan kepedulian — semua ada dalam dirinya, dan semuanya telah dicurahkan demi untuk membuat agar hidup ayah, saudara perempuanku, dan diriku sebaik dan sebahagia mungkin. Ini adalah dedikasi — beliau hanya meminta sangat sedikit buat dirinya sendiri. Jadi ketika saya berpikir balik seperti ini, katannu, syukur, muncul di dalam hati saya untuk ibu dan ayah. Sekarang bahkan malah mustahil rasanya untuk bisa mengingat satu pun kesalahan mereka – suatu hal yang dulu biasa menjejali benakku ketika masih muda; kini semuanya [kesalahan-kesalahan orangtua] nampak begitu sepele, bahkan langka sekali saya bisa mengingatnya lagi.

Betapapun, kalau kita hanya terus saja larut bersama dengan kekuatan-kebiasaan dan pengkondisian (the force of habit and conditioning), kita ya bakal kira-kira tetap saja terjebak dengan segala macam yang dijejalkan ke dalam kita — dengan kebiasaan-kebiasaan [buruk] yang kita dapati sewaktu masih muda — dan semua ini bisa menguasai seluruh kesadaran hidup kita sementara kita pun kian menua. Tetapi dengan semakin kita matang dan berkembang, kita menyadari bahwa kita dapat mengembangkan kecerdikan (skillfulness) dalam cara kita berpikir tentang diri sendiri, dan dalam cara berpikir mengenai orang lain. Sang Buddha mendorong kita untuk: mengingat kebaikan yang kita terima — oleh orang tua, oleh guru-guru, teman-teman, siapa saja; dan kita menjalankan itu secara
sengaja — menumbuhkannya, membawanya pada ruang kesadaran memang dengan niat – bukan hanya membiarkannya terjadi secara kebetulan.

 

Sumber :

Vidyasena Production Vihara Vidyaloka

Incoming search terms:

  • 5 cara bersyukur kepada keluarga/orangtua
  • kata-kata bersyukur karena masih punya orang tua yang utuh
  • rasa bersyukur dari lahir sampe sekarang kepada ortu
tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Rasa Syukur kepada Orang Tua – Venerable Ajahn Sumedho