Apakah Anda sudah YAKIN memilih Agama Buddha ?

Jumat, Maret 25th 2016. | Artikel

pentingnya keyakinan dalam agama buddha by tisaranadotnet
Apakah Anda pernah mendengar kata “keyakinan”? Apakah Anda memahami arti “keyakinan” tersebut? Umumnya ketika seseorang bertanya kepada Anda, ”Apakah keyakinan Anda?” maka Anda cenderung menjawab agama yang Anda anut. Hubungan erat antara keyakinan dan agama sering diartikan sebagai hal yang sama. Keyakinan merupakan dasar seseorang dalam memilih dan menganut sebuah agama. Namun, kita cenderung memiliki suatu “agama” terlebih dahulu dibandingkan dengan keyakinan. Hal ini disebabkan dari pengaruh orang tua atau keturunan. Agama yang dianut suatu keluarga akan diturunkan terlebih dahulu kepada anak-anaknya sehingga dasar dari beragama yang berupa “keyakinan”, tidak didapatkan oleh anak-anaknya, kemudian untuk generasi berikutnya akan mudah digoyahkan oleh kenikmatan yang bersifat duniawi.
Menurut KBBI , keyakinan diartikan sebagai kepercayaan, sungguh-sungguh, kepastian, ketentuan serta bagian agama atau religi yang berwujud konsep/ menjadi keyakinan (kepercayaan) para penganutnya. Dilihat dari sudut pandang agama Buddha, pengertian ini berbeda. Keyakinan biasanya dalam bahasa pali disebut sebagai Saddha, namun pengertian ini tidak seperti yang lazim dipahami oleh masyarakat umumnya. Keyakinan disini juga bukan berarti kepercayaan yang membabi buta atau asal percaya saja, melainkan keyakinan yang berlandaskan pada pengertian benar, kebijaksanaan, yang diperoleh dari penyelidikan, pengamatan, pembuktian (datang, melihat, mengalami) kejadian dengan sendiri. Dengan demikian, ketika seseorang mengalami hal tersebut, maka keyakinan itu akan tumbuh dengan kuat di dalam dirinya, karena ia telah membuktikannya sendiri.

Keyakinan yang berlandaskan pembuktian ini biasa dikenal sebagai Ehipassīko yakni mengundang untuk datang, melihat dan mengalami sendiri, bukan untuk datang dan percaya. Dalam konsep Ehipassīko, keyakinan yang kuat lebih ditekankan pada melihat, mengetahui, dan memahami yang dipercayai sehingga seseorang akan memiliki keyakinan ketika ia telah mengalami ketiga proses tersebut. Contohnya : Ketika Astronot Amerika, William Anders dalam misi Apollo 8 yang untuk pertama kalinya mendarat di bulan. Astronot ini melapor ke bumi bahwa “Bumi ini bulat,” karena astronot tersebut benarbenar melihat dengan matanya sendiri bahkan sampai mengambil gambar bumi dari bulan yang sekarang dikenal dengan Earthrise, bumi muncul. William Anders telah membuktikan bahwa “Argumen mengenai bumi itu bulat adalah benar,” yaitu melalui proses melihat dan membuktikannya sendiri. Contoh lainnya dalam membuktikan bahwa bumi itu bulat adalah Columbus yang berlayar lurus terus mengitari bumi hingga akhirnya Beliau berada di titik yang sama seperti saat Ia pertama kali memulai pelayarannya. Ketika Columbus menemukan Benua Amerika dan membuktikan bahwa bumi itu bulat maka terbukalah mata manusia saat itu yang memegang teguh bahwa bumi itu berbentuk datar bahkan persegi.

Keyakinan yang membabi-buta tanpa pembuktian akan mengarahkan kita kepada pandangan yang salah.
Sebagai contoh, kasus yang dialami oleh seorang ilmuwan, Galileo Galilei, dimana ilmuwan ini mengatakan
bahwa “Matahari terletak di pusat dan tidak mengubah tempat,” dan bahwa “Bumi berputar pada dirinya sendiri dan bergerak di sekelilingnya.” Teori ini ditentang oleh banyak kalangan, karena Galileo Galilei tidak mempunyai bukti yang mendukung pada saat itu. Walaupun teori itu ditentang, Galileo Galilei tetap bersikeras dengan teorinya tersebut dan menganggap bahwa “Hal itu adalah benar.” Pada akhirnya teori yang telah ditemukannya tetap saja tidak diterima bahkan ia dianggap sebagai keledai / orang bodoh yang mencari perhatian. Dari kasus Galileo Galilei ini, kita dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa “Tanpa sebuah pembuktian, maka apa yang kita yakini belum dapat dikatakan benar, namun ketika kita dapat membuktikannya, maka orang lain pun akan menghargai keyakinan kita.”
Dalam agama Buddha, terdapat beberapa keyakinan yaitu keyakinan terhadap Sang Tiratana, konsep empat kebenaran mulia, tiga corak kehidupan, hukum kamma, dan Nibbana. Semua keyakinan tersebut tidak harus diyakini langsung oleh individu. Sang Buddha pernah mengatakan bahwa Beliau mengajarkan Dhamma agar seorang individu dapat mengetahui secara mendalam; melihat dengan benar; merenungkan yang telah dilihat; dan akhirnya memperoleh faedah-faedah sesuai praktik mereka sehingga pada akhirnya seorang individu akan memiliki keyakinannya sendiri atas segala usaha yang telah ia lakukan, bukan pada keyakinan yang diturunkan atau dipaksakan oleh orang lain (Aṅguttara Nikāya I.276; Majjhima Nikāya II.9).

Sebagai contoh, pengalaman pribadi terhadap keyakinan. Awalnya saya belum memiliki keyakinan terhadap agama Buddha. Saya cenderung bingung terhadap pedoman hidup saya saat itu. Saya tidak berhenti berpikir, ”Apa yang akan saya yakini kelak? Pedoman hidup mana yang akan saya pilih?” Setelah beberapa waktu saya mengenal dan mencari diantara pilihan yang ada, saya menemukannya, yaitu mengenai kebenaran hukum kamma dalam agama Buddha. Hukum kamma merupakan hukum yang mengatur sebab-akibat perbuatan makhluk hidup di dunia. Hukum ini mengungkapkan bahwa “Perbuatan apapun yang saya lakukan akan berpengaruh pada diri saya sendiri. Ketika saya berbuat baik, maka saya akan menerima hasil perbuatan baik saya, begitu juga sebaliknya.“ Hukum kamma ini meyakinkan saya bahwa setiap perbuatan kita akan memiliki akibatnya dan kita harus bertanggung jawab atas perbuatan yang telah kita lakukan sendiri. Hukum ini merupakan hukum yang dapat saya cerna melalui nalar dan daya logika, sehingga hukum kamma inilah yang menjadi dasar dan pedoman saya untuk selalu melakukan perbuatan baik yang bersifat positif dalam berpikir, berucap, maupun bertindak sehingga mengarah kepada kehidupan yang lebih baik.

Setiap orang memiliki agama yang diyakininya. Ada sebagian dari kita yang memiliki keyakinan terhadap Sang Tiratana, ada juga yang memiliki keyakinan berbeda dengan kita. Apapun agama yang diyakini seseorang, haruslah dapat membawa dirinya ke arah yang lebih baik terhadap kualitas hidup maupun kualitas spiritual. Keyakinan yang kita miliki juga tidak boleh dipaksakan kepada orang dekat kita, karena hal ini akan menimbulkan konflik batin dan emosi antara kedua belah pihak. Hal ini disebabkan karena keyakinan merupakan suatu hal
yang sangat pribadi.

Di dalam salah satu sutta dijelaskan bahwa:
“Wahai, Suku Kalama. Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau kalian berpikir, ‘Petapa itu adalah guru kami.‘ Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri,’ Hal-hal ini adalah bermanfaat, hal-hal ini tidak tercela; hal-hal ini dipuji oleh bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktikkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan’, maka sudah selayaknya kalian menerimanya.” (Kalama Sutta; Aṅguttara Nikāya 3.65).

Berdasarkan sutta ini, sangatlah jelas bahwa “Segala sesuatu harus disaring dan disikapi dengan bijaksana. Janganlah menelan mentah-mentah atas apa yang sudah kita dengar hanya karena orang yang menyampaikan itu lebih tua dari kita.”

Ada beberapa hal yang sangat penting dari sekian banyak ajaran yang dibabarkan oleh Guru Agung kita, Sang Buddha, untuk membuat perubahan dalam hidup kita, tentunya perubahan ke arah yang lebih baik. Hal pertama yaitu KEYAKINAN. Keyakinan adalah awal, fondasi. Jika kita mengaku sebagai umat Buddha, kita harus mempunyai keyakinan. Jika kita tidak memiliki keyakinan, maka kita tidak akan memiliki ukuran untuk mengambil keputusan, dimana keputusan tersebut selain tidak memberikan manfaat bagi kita, namun akan menghancurkan diri kita sendiri. Sebagaimana kita ketahui bahwa keyakinan itu mendasari perilaku baik melalui pikiran, ucapan, maupun perbuatan kita. Belum terlambat bagi kita semua untuk memiliki keyakinan yang benar terhadap agama Buddha. Tidak ada kata terlambat untuk menuju ke arah yang lebih baik.

Di dalam Aṅguttara Nikāya III.127, Sang Buddha juga pernah mengajarkan cara meningkatkan keyakinan pada diri sendiri yaitu dengan Saddhā, Sīla, Bāhusacca, Viriyārambha, dan Pañña. Pertama-tama kita harus memiliki keyakinan (Saddhā) terhadap hal-hal yang dapat kita yakini. Seperti halnya dalam agama Buddha kita dapat meyakini hukum kamma atau empat kebenaran mulia. Setelah kita memiliki keyakinan kita dapat melanjutkan Sīla. Sīla dapat diartikan dengan mempraktekkan apa yang kita yakini dalam kehidupan kita, baik dalam pikiran, ucapan, maupun perilaku. Melalui praktik yang telah kita lakukan, kita dapat mengevaluasinya, apakah perilaku kita menjadi lebih baik setelah meyakini hal itu atau sebaliknya.
Kemudian, kita harus memperluas wawasan kita terhadap nilai-nilai kebenaran yang ada di dunia ini sehingga kita memiliki wawasan yang luas (Bāhusacca) yang dapat menjadi pedoman tambahan atas keyakinan yang telah
kita miliki. Tahap selanjutnya yaitu Viriyārambha, dimana maksudnya adalah kita harus rajin dan bersemangat dalam memperkaya sebuah keyakinan. Jika keyakinan semakin kuat (setelah melewati proses sebelumnya), sekarang saatnya mempraktIkkan dengan lebih giat lagi sehingga manfaat yang sebenarnya dapat kita rasakan dan pada akhirnya kita akan menumbuhkan sebuah kebijaksanaan (Pañña). Kebijaksanaan yang dimaksud yaitu mengetahui hal baik dan buruk. Dengan begitu, dalam melakukan setiap tindakan, kebijaksanaan akan turut andil dan mendasari segala perbuatan kita. Setelah semua proses dilakukan, kita akan merasakan manfaat yang besar dalam hidup kita.

Setelah kita memiliki keyakinan, hendaklah kita tidak fanatik terhadap keyakinan kita. Jangan sampai kita menganggap bahwa keyakinan kita adalah keyakinan yang paling benar, atau menganggap keyakinan orang lain salah karena tidak sesuai dengan apa yang telah kita yakini. Ketika kita membandingkan keyakinan dengan orang lain, maka akan menimbulkan konfl ik yang tidak berujung, dan muncullah sebuah penderitaan. Sebenarnya, tidak ada yang benar dan salah. Setiap keyakinan pada dasarnya akan dianggap benar apabila dapat membawa manfaat bagi pemiliknya, namun ketika hal itu tidak memberikan manfaat bagi pemiliknya maka keyakinan itu akan dianggap salah.

Dalam memilih agama, kita harus mendasarinya dengan keyakinan, namun tetap harus berhati-hati dalam memilih keyakinan, tidak sekedar ikut-ikutan, tetapi kita dapat mempraktikkan Ehipassīko (datang, lihat, dan buktikan dulu) baru kita yakini dan pilih agama yang sesuai dengan hati nurani kita. Jadikanlah keyakinan itu sebagai pedoman hidup sehingga membawa manfaat bagi perkembangan diri kita ke arah kualitas hidup yang lebih baik.

Semoga karya tulis ini dapat memberikan pemahaman akan pentingnya memiliki keyakinan yang benar terhadap agama Buddha. Bagi Anda yang belum memiliki keyakinan (hanya mengikuti tradisi dalam keluarga), penulis berharap mulai hari ini kita dapat merenungkan dasar keyakinan kita terhadap agama Buddha.

 

Sabbe sattā bhavantu sukhitattā,
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 

Sumber :
Upi. Tejasiri Thio Nofi tarina Sulis

Vidyāsenā Production
Vihāra Vidyāloka

Incoming search terms:

  • bumi datar menurut buddha
  • agama budha
  • bentuk bumi menurut budha
  • agama buda
  • menurut buddha bentuk bumi datar
  • bumi menurut buddha
  • bumi bulat budha
  • buddha bumi bulat
  • bentuk bumi menurut buddha
  • Penjelasan agama budha tentang bumi yg datar
tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Apakah Anda sudah YAKIN memilih Agama Buddha ?