Penderitaan Dan Lenyapnya Penderitaan oleh YM. Bhikkhu Sri Pannyavaro, Mahathera

Senin, Desember 4th 2017. | Dhammadesana


Dhamma yang dibabarkan oleh Buddha selama 45 tahun sangat luas, *namun dapat diringkas seperti yang Buddha katakan kepada Bhikkhu Anuraddha:* _“Wahai Anuraddha, dahulu dan sekarang hanya ini yang Kuajarkan. Apakah itu? Penderitaan dan lenyapnya penderitaan.”_
*Kata kuncinya adalah penderitaan dan lenyapnya penderitaan*. Inilah yang menggerakkan kita untuk menjalankan Dhamma.
*Tidak ada orang yang ingin menderita*, apa pun agamanya, apa pun suku bangsanya.
*Karena menolak penderitaan itulah*, semua orang mencari kebahagiaan.
Tetapi yg sering terjadi adalah *kita mencari kebahagiaan untuk menutup-nutupi penderitaan*, bukan untuk melenyapkan penderitaan.
Memang benar akan senang, *tetapi cuma sebentar*. Penderitaan akan muncul lagi.
Apalagi jika kesenangan itu *dicari dengan cara kebablasan, justru akan menimbulkan* penderitaan baru.
Mengikuti hawa nafsu *membuat kita menjadi puas dan senang, tapi cuma sebentar*. Kemudian penderitaan bertambah
Buddha meminta kita untuk mengubah cara berpikir, *jangan menutupi penderitaan dengan kesenangan, tetapi selesaikan penderitaan* dengan mencari sebabnya, mencabut akarnya.
*Akar penderitaan* adalah
*(1) keserakahan dengan segala turunannya: iri hati, tidak senang melihat orang lain maju, dll.;
*(2) kebencian:* senang melihat orang lain sengsara, dendam, jengkel, marah;
*(3) arogansi keakuan*.
Jadi Buddha tidak mengajarkan kita untuk mengejar dan mencari kebahagian, *tetapi kurangilah penderitaan, yaitu dengan mengurangi* keserakahan, kebencian dan arogansi keakuan.
Kalau penderitaan berkurang, *meskipun belum habis, otomatis* kita akan lebih bahagia.
Akar penderitaan itulah yang *harus dicabut, bukan ditutupi*.
Bagaimana caranya?
#Jangan_membunuh, tapi kembangkan cinta kasih.
#Jangan_mencuri, tapi biasa berdana.
#Jangan_selingkuh, tapi membangun kehidupan rumah tangga yg baik.
#Jangan_berbohong, tapi mengucapkan kata-kata yang enak, benar, dan tidak menyakiti.
#Jangan_mabuk, tapi memilih makanan yang sehat dan tidak menimbulkan ketagihan.
*Itu adalah pengendalian diri*, sila.
Jika sudah mengendalikan diri, *sudah bebaskah kita dari penderitaan?* Belum.
Meskipun kita hati-hati tidak melakukan kejahatan, mengendalikan diri, menambah kebaikan, *kita tetap menjadi tua, sakit, dan meninggal*.
Orang baik atau orang jahat, dari raja sampai orang biasa *tetap akan mengalaminya*.
Ini adalah *problem besar* umat manusia.
Oleh karena itu *kita harus ber meditasi*.
Meditasi akan *membuat pikiran kita jernih, juga akan mendeteksi* jika keserakahan atau keakuan muncul.
Ingin mengendalikan ucapan dan perbuatan, *tapi tidak pernah meditasi*, maka akan gagal terus.
*Karena sumber* perilaku yang buruk itu *dari pikiran*.
*Kalau pikiran kotor*, ucapan dan perbuatan yang mengalir akan kotor.
*Kalau pikiran bersih*, ucapan dan perbuatan yang mengalir akan bersih.
*Bermeditasilah* untuk membersihkan pikiran.
Selain duduk diam, tetapi juga *sadar setiap saat*.
Jika kita mempunyai praktek Dhamma yang baik, *keakuan akan berkurang dan menjadi tenang*, menghadapi kematian tidak gentar.
Kematian, usia tua?
Rapopo.
*Rapopo = tidak apa-apa*, sebuah ungkapan menerima dengan tulus dan lapang dada.
*Kita tidak mungkin menolak* usia tua dan kematian.
*Dengan pikiran* yang bersih,
*dengan mendeteksi* keserakahan-kebencian-keakuan,
*dengan melihat perubahan sebagaimana adanya*, termasuk usia tua dan kematian, *semuanya itu hanyalah perubahan*.
Anicca *tidak perlu membuat kita* menderita.
*Tidak ada seorang pun* yang bisa menghentikan perubahan, *termasuk Buddha*.
Tetapi Buddha *memberikan cara* menghentikan penderitaan.
*Itulah kata kunci ajaran Guru Agung kita*, bebas dari penderitaan.
*Kita tidak bisa* merevolusi mental orang lain, *orang lain juga tidak bisa* mengubah mental kita.
Kita sendiri *yang harus berjuang mengubah mental menjadi lebih sehat dan dewasa*, dengan sila dan meditasi.
*Tidak ada cara lain*, apalagi menggantungkan diri pada jimat atau batu akik.
Oleh karena itu marilah kita praktek Dhamma.
Sangat bermanfaat bagi kehidupan kita.
*Seandainya kita belum bisa* membebaskan diri dari penderitaan, *kita bisa mengurangi penderitaan*.
Kurangnya penderitaan *itu sudah merupakan* kebahagiaan.
*Tidak usah dicari*, kebahagiaan akan datang sendiri.
Saat penderitaan berkurang, kebahagiaan akan muncul.
Memuja memang baik, *tapi pemujaan tertinggi kepada Buddha adalah dengan* praktek Dhamma yg benar.
Dengan jalan itulah *kita mendapat manfaat* untuk bebas dari penderitaan.

 

Sumber : https://gakbanged.wordpress.com/2017/07/10/%E2%80%8Buraian-dhamma-oleh-bhikkhu-sri-pannyavaro-saat-asadha-agung/

 

tags: , , ,

Related For Penderitaan Dan Lenyapnya Penderitaan oleh YM. Bhikkhu Sri Pannyavaro, Mahathera