Dana membawa Kebahagiaan

Jumat, Februari 10th 2017. | Dhammadesana

berdana membawa kebahagiaan by tisaranadotnet

oleh: Sri Paññavaro Thera

Pada kesempatan ini saya ingin membicarakan apakah yang dikandung dalam peristiwa yang kita sebut dengan masa Kathina atau bulan Kathina itu. Di negara-negara yang umat Buddha cukup banyak seperti di Thailand dan di negara-negara lain Kathina kala atau bulan Kathina ini biasanya disambut dengan begitu meriah seolah-olah kalau di tanah air kita seperti lebaran. Bulan Kathina disambut oleh umat Buddha dengan begitu meriah karena menyambut para bhikkhu yang telah selesai menjalani masa vassa. Bahkan di daerah prosesi Kathina diikut-sertakan gajah-gajah yang mengangkut persembahan Kathina dan merupakan suatu parade keagamaan yang cukup meriah dan cukup panjang.

Para umat dengan wajah bersuka cita, dengan pikiran yang tulus ikhlas beramai-ramai menjahit jubah dan perlengkapan-perlengkapan kebutuhan para bhikkhu. Kemudian mempersembahkan semua persembahan itu pada Sangha.

Upacara Kathina tidak bisa dilepaskan dengan dana. Kathina adalah suatu kesempatan yang telah diizinkan Sang Buddha untuk mengingatkan kembali umat dengan satu kebajikan yang disebut dengan Dana.

Sering disebutkan bahwa Dana merupakan pemimpin dari semua kebajikan. Dana merupakan pintu yang memungkinkan tumbuhnya sifat-sifat baik lain yang mungkin belum muncul pada diri seseorang.

Oleh karena itu umat Buddha yang sedang berusaha mempelajari dan mendalami Dhamma, Dana selalu ditempatkan di tempat pertama. Apakah di dalam Dasa Paramita, dalam Panca anupubekata ataukah di dalam Dasa Punnakiriyavatthu.

Cukup banyak kisah-kisah pada zaman Sang Buddha yang berhubungan dengan dana. Dan saya akan berusaha untuk mengutip kisah-kisah itu pada kesempatan ini.

Sanentara tidak semua orang bisa melakukan kebaikan yang disebut dengan Dana. Orang mungkin merasa sangat berat untuk memberikan dana. Seseorang berpandangan bahwa berdana itu berarti bekurang kekayaan, kebutuhan yang kita miliki akan menjadi berkurang dengan berdana. Tetapi suatu ketika perasaan berat buat berdana ini akan bisa diatasi dan disingkirkan kalau dia mau berjuang.

Seseorang kemudian mulai berdana. Dana membawa kebahagiaan. Tetapi kebahagiaan yang diperoleh dengan berdana akan maju sesuai dengan pengertian yang menyertainya pada saat berdana.

Seseorang yang baru mulai berdana akan merasa berdana merupakan perjuangan yang hebat antara memberi dan tidak memberi. Sementara orang akan berpikir berkali-kali: “Kalau saya memberi ini kemudian bagaimana kalau saya membutuhkan nanti? Ah, ini Kathina, kalau saya memberi Sangha, pos wesel belum datang. Padahal sudah tanggal pertengahan, ya nanti saja kalau berdana”.

Kalau latihan atau niat berdana meningkat, yang semula mereka berhitung di dalam berdana, sekarang dia berdana dengan satu langkah yang lebih baik. Tetapi dia berhitung dengan tujuan yang lebih halus. Ya, saya berdana ini mudah-mudahan citra saya naik di tengah-tengah masyarakat. Kalau saya dana Kathina apakah Bhante itu sempat mencocokkan satu-satu si A berdana ini si B berdana itu?

Setingkat lebih naik, orang tidak lagi berdana dengan tujuan supaya dikenal orang, tidak lagi berdana supaya dipandang. Tetapi orang berdana dengan tujuan yang lebih jauh. Supaya kehidupan saya tidak kekurangan. Supaya ekonomi saya tidak menjadi hancur. Semoga sesudah kematian saya bisa dilahirkan di alam sorga sebagai dewa.

Semua ini menunjukkan pengertian yang maju, pengertian yang meningkat dari masing-masing orang yang menginginkan untuk berdana. Akhirnya akan sampai pada suatu pikiran puncak. Seseorang berdana dengan tujuan, saya berdana supaya saya bisa membebaskan diri saya dari lingkaran samsara. Dia berdana dengan tidak berhitung. Dia berdana dengan tidak mempersoalkan apa yang akan dia capai. Tetapi dia berdana hanya dengan tujuan semoga saya bebas dari keterikatan.

Saya mempunyai beberapa cerita untuk menggambarkan bagaimana kondisi bathin orang yang berdana. Ada seseorang Brahmana yang bernama Ekasataka. Karena brahmana ini hanya mempunyai selembar jubah, kalau istrinya pergi maka suaminya terpaksa di rumah. Karena jubah atau pakaiannya hanya selembar. Kalau suaminya pergi istrinya harus tinggal di rumah karena pakaian dipakai suaminya. Brahmana ini tidak pernah pergi berduaan karena pakaiannya hanya selembar.

Pada suatu saat Sang Buddha mengunjungi daerah tempat tinggal brahmana. Orang-orang pergi untuk mempersembahkan dana. Demikian juga brahmana ini pergi dan melihat orang-orang lain mempersembahkan dana. Timbul peperangan dalam hatinya, perhitungan, “Saya berdana atau tidak?” Kalau berdana saya tidak mempunyai sesuatu, materi yang saya punyai hanyalah jubah yang saya kenakan dan jubah ini hanyalah satu-satunya. Dia berperang antara memberi dan tidak memberi. Memberi. Jangan. Memberi. Jangan. Memberi, memberi, jangan, jangan. Akhirnya memberi. Jubahnya dibuka, dilipat dan dipersembahkan kepada Sang Buddha. Dia menang berjuang. Satu pertempuran telah dimenangkan karena dia memutuskan untuk memberikan jubah satu-satunya. Spontan dia berteriak, “Aku menang! Aku menang! Aku menang!”

Kata-kata itu menarik untuk seorang raja. “Orang miskin ini mengatakan aku menang, apakah dia akan memberontak?” pikirnya. Raja menanyakan, “Mengapa engkau berkali-kali mengatakan kamu menang?” Dan Brahmana ini menceritakan bahwa ia telah menang pada peperangan yang maha dahsyat karena jubah satu-satunya telah dipersembahkan kepada Sangha.

Raja merasa berbahagia dan spontan, “Baik kalau begitu aku ikut berbahagia. Aku akan menghadiahkan lima lembar jubah baru”. Brahmana begitu bahagia menerima lima tembar jubah baru dan spontan dia mengatakan: “Kelima-limanya aku akan persembahkan kepada Sangha”.

Raja begitu teikejut dan mengatakan akan menghadiahkan kembali lima puluh jubah luar untuk brahmana.

Dari kisah ini bisa dilihat bagaimana seseorang berjuang untuk bisa melepaskan miliknya untuk berdana.

Ada satu kisah lain tentang seorang wanita yang miskin sekali yang tinggal di tepi ladang. Pada suatu hari wanita ini sedang menggoreng jagung.

Suatu hari lewat Bhante Maha Kassapa yang baru selesai bermeditasi tujuh hari tujuh malam, memasuki Niroda Samapati. Maha Kassapa berjalan berpindapatta untuk menerima dana yang akan dipersembahkan oleh umat. Begitu melihat Bhante Maha Kassapa lewat, dia mengatakan “Bhante, berhenti dulu saya ingin berdana”. Wanita ini yang bernama Upasika Laja mengambil segenggam jagung yang sudah digoreng, membungkusnya, dan memasukkannya ke dalam mangkok Bhante Maha Kassapa.

Upasika ini mengatakan “Bhante, berikanlah berkahmu padaku.” Maha Kassapa menyebutkan “Icchitam pattitam tumham. Kippameva samijhatu —Dengan kekuatan kebaikanmu semoga semua cita-citamu tercapai”.

Upasika Laja ini begitu bahagia pada waktu Bhante Maha Kassapa pulang ke vihara. Dia mengikuti Beliau dari belakang. Di tengah-tengah pematang sawah muncul seekor ular yang menggigit Bhante Maha Kassapa. Tetapi karena jubahnya turun sampai ke bawah, ular ini hanya berhasil menggigit kain jubah dan tidak berhasil menggigit Bhante Maha Kassapa. Upasika Laja yang mengikuti dari belakang kemudian dipatuk, digigit oleh ular yang berbisa itu.

Sesampai di vihara, Laja kaku membiru kemudian meninggal. Karena Upasika Laja ini meninggal dengan pikiran yang amat bahagia, maka Upasika Laja ini dilahirkan di alam sorga.

Tiap-tiap pagi, sebagai dewa, Upasika Laja datang ke kuti Bhante Maha Kassapa. Dia menyapu, membersihkan kuti Bhante Maha Kassapa dan mengisi air di kolam yang sudah kosong.

Dia berpendirian, “Kalau saya berdana segenggam jagung goreng bisa menyebabkan saya dilahirkan di alam sorga, alangkah besar manfaatnya kalau saya berdana lebih daripada itu dan saya berdana setiap hari. Oleh karena itu meskipun saya sebagai dewa, saya tetap akan berdana dengan membersihkan pondok Bhante Maha Kassapa.

Tiap-tiap hari Bhante Maha Kassapa bangun dan membuka pintu, semua sudah bersih. Semua sudah teratur dengan baik. Bhante Maha Kassapa berpikir, “Siapakah yang mengerjakan ini?” Mungkin ada bhikkhu-bhikkhu muda yang membantu saya. Tetapi Bhante Maha Kassapa tidak berhasil menjumpai siapa yang membantu.

Suatu hari Bhante Maha Kassapa berusaha untuk mengintip siapakah yang membersihkan pondoknya. Akhirnya dilihat seorang dewa membersihkan pondok Bhante Maha Kassapa. Bhante Maha Kassapa bertanya, “Siapakah engkau?”

“Bhante, inilah aku muridmu”.

“Aku tidak pernah punya murid dewa”, kata Bhante Maha Kassapa.

Dewa ini kemudian bercerita, “Aku adalah wanita miskin, Bhante. Yang hanya mampu berdana segenggam jagung goreng. Pada waktu itu aku digigit ular dan karena aku meninggal dengan perasaan bahagia dan kebaikan luar biasa, aku dilahirkan sebagai dewa. Sekarang aku ingin berbuat kebaikan yang lebih banyak. Kalau aku hanya berdana sekali dengan segenggam jagung goreng menyebabkan aku dilahirkan di alam dewa sorga, alangkah tinggi manfaatnya. Alangkah tinggi buahnya kalau aku berbuat baik setiap hari kepada Bhante”.

Maha Kassapa mengatakan, “Kamu ini dewa, sebagai bhikkhu aku mempunyai kewajiban sendiri. Pergilah ke alammu sendiri, tidak usah membantu saya”.

Dewa ini pergi dengan menangis. Pada saat dia terbang untuk kembali ke alam dewa. Sang Buddha melihat peristiwa ini mencegat di tengah perjalanan. Betapa bahagianya dewa ini. Diusir oleh Bhante Maha Kassapa, murid Sang Buddha, sekarang Sang Buddha sendiri datang menemui dia. Sang Buddha mengatakan, “Janganlah bersedih hati. Ya demikianlah kewajiban bhikkhu. Bhante Maha Kassapa memang mempunyai keistimewaan. Dia ingin hidup sederhana dan menyelesaikan tugasnya sendiri”.

Sang Buddha kemudian mengatakan, “Kalau seseorang ingin berbuat baik janganlah kebaikan itu ditunda-tunda”. Karena buah kebaikan adalah kebahagiaan atau kebaikan.

Tetapi selain Brahmana Ekasakata dan Upasika Laja ada Vessantara yang berdana lebih dari mereka. Vessantara berdana dengan tidak pernah berpikir keuntungan dan kerugian. Sebagai seorang pangeran, suatu hari dia didatangi penduduk dari negara lain. Penduduk ini menceritakan bahwa negaranya sedang musim kemarau, panen tidak jadi, hujan tidak turun, penyakit di mana-mana dan orang mati setiap hari. Mereka percaya kalau ada gajah putih sebagai maskot, maka negara kami akan makmur. Spontan Pangeran Vessantara memerintahkan pengikutnya “Keluarkan gajah putih, kuberikan gajah putih kepadamu”.

Tetapi apa yang terjadi? Raja menjadi marah besar, karena maskot kerajaan diberikan kepada negara lain.

Kemudian Vessantara diusir. Bersama dengan istri dan anak-anaknya untuk sekian belas tahun tinggal di dalam hutan. Vessantara mengerti kalau gajah keramat milik kerajaan satu-satunya dan kebanggaan telah diberikan maka bencana akan terjadi pada dirinya. Tetapi Vessantara tidak pernah menghitung untung ruginya pada saat akan berdana.

Suatu ketika Vessantara pergi naik kereta bersama istri dan kedua anaknya. Di tengah jalan mereka bertemu dengan orang yang sudah tua, berjalan dengan sangat susah, datang mendekati pangeran dan mengatakan, “Pangeran berikanlah keretamu untukku”. Dan Vessantara spontan turun dari keretanya kemudian, “Baiklah, ambillah keretaku untukmu”.

Kemudian Vessantara berjalan berdua dengan istrinya dan menggendong kedua anaknya. Akhirnya, mereka tiba di sebuah hutan dan membuat sebuah pondok.

Suatu hari ada seorang sangat tua, mukanya berbisul-bisul, bernama Jujaka. Karena menang berjudi, Jujaka mendapatkan barang taruhan seorang gadis yang cantik. Gadis ini menjadi pembantu Jujaka, mencuci, memasak, dan sebagainya.

Lama-lama dia merasa malu sebagai pembantu dan mengatakan kepada Jujaka, “Jujaka, kalau kamu mau pembantu, jangan aku engkau jadikan permbantu. Carilah di tempat lain. Saya mendengar Pangeran Vessantara mempunyai dua orang anak. Pergilah ke sana, mintalah anak-anak mereka itu sebagai pembantu”.

Jujaka pergi mendatangi Vessantara meminta anak-anaknya. Dan Vessantara memberikan anaknya. Pada saat orang bopeng ini datang untuk meminta anaknya, kedua anaknya lari bersembunyi di kolam. Mereka takut akan diberikan ke orang bopeng itu karena apapun yang diminta ayahnya pasti akan diberi.

Anaknya yang wanita tidak bisa menerima sikap ayahnya. “Punya ayah seperti itu, anak akan diberi-berikan orang. Kalau kelak lahir kembali, aku tidak mau menjadi anaknya”, katanya. Tetapi anak laki-lakinya mengatakan “Aku bersedia diberikan kepada orang itu karena aku ingin membantu ayahku membuat paramita, membuat kebajikan sempurna. Tetapi adiknya yang perempuan mengatakan, “Ah, tidak sudi. Lahir kembali aku tidak ingin menjadi anak orang itu”. Sehingga pada saat Vessantara dilahirkan kembali menjadi Pangeran Sidhatta, anaknya hanya satu.

Kedua anak ini diberikan kepada Jujaka. Pada saat malam karena takut dimakan binatang, Jujaka naik ke pohon dan anaknya diikat di bawah pohon. Kalau dimakan binatang buas biar dua anak itu saja.

Akhirnya Jujaka membawa kedua anak itu masuk ke kota. Daripada menjadi pembantu, lebih baik anak ini dijual dengan harga yang mahal. Pada saat anak ini ditawarkan, orang-orang terkejut karena anak ini mempunyai wajah tampan seperti seorang Pangeran. Ketika raja mendengar dan melihatnya betapa terkejutnya raja bahwa kedua orang anak itu adalah cucunya sendiri.

Raja kemudian membeli berapapun harganya. Dan kemudian memberi makan Jujaka sepuas-puasnya. Sehingga Jujaka perutnya menjadi pecah dan mati.

Anak ini kemudian menunjukkan kepada kakek dan neneknya tempat kedua orang tuanya sedang sengsara di hutan. Akhirnya raja, anak, menantu dan cucu-cucunya bertemu kembali dalam suasana yang bahagia.

Vessantara adalah satu kisah Dana Paramita. Suatu kisah seorang yang berdana dengan tidak pernah menghitung untung ruginya. Saya akan berdana apa saja yang saya bisa. Saya akan memberikan materi, tenaga, apapun yang saya punya.

Berusahalah menjadi Vessantara. Janganlah menjadi Jujaka. Karena setiap Dana membawa kebahagiaan, tergantung pengertian yang menyertai pada saat berdana. Apakah saya berdana dengan perhitungan? Apakah saya berdana untuk menaikkan citra di tengah-tengah masyarakat? Ataukah saya berdana dengan tanpa hitung-hitung, dengan satu tujuan untuk mencapai kebebasan.

Para bhikkhu memang miskin tetapi para bhikkhu mempunyai kekayaan, mempunyai pengalaman di dalam melepaskan segala sesuatu. Kalau dibandingkan orang awam maka orang berumah tangga mempunyai pengalaman mengumpulkan segala sesuatu. Mengumpulkan nama, mengumpulkan kekayaan, mengumpulkan kekuasaan, mengumpulkan kedudukan.

Tetapi para bhikkhu sejak pagi sampai menjelang tidur kembali, sebagian besar hidupnya hanya melepas. Melepas waktu, tenaga, pikiran, dan apapun yang dipunyai demi kepentingan orang banyak. Ya, memang para bhikkhu orang miskin. Tetapi tidak pernah merasa miskin.

Memang, para bhikkhu mendapat fasilitas, kemudahan-kemudahan untuk menghayati kehidupan kesucian ini karena bantuan umat. Meskipun kebutuhan materi tidak bisa dihindari, tetapi tidak bijaksana untuk berlebih-lebihan.

Oleh karena itu, cobalah hidup sederhana. Apa yang Anda dapatkan gunakan untuk kepentingan orang banyak. Rela berjuang dan berkorban demi kepentingan orang lain. Karena perbuatan itu akan membawa kebahagiaan yang jauh lebih besar daripada Anda mendapatkan keuntungan materi.

Kalau bisa menikmati kebahagiaan orang melepas, apapun ingin dilepas. Apapun ingin diberikan kepada orang lain. Karena dengan memberi akan memberikan kebahagiaan yang sangat hebat. Sungguh luar biasa, sulit dibayangkan dan kebahagiaan manapun juga.

Sang Buddha mengatakan,

“Pada saat engkau akan memberi kalau engkau berbahagia itulah yang dinamakan Pubba cetana. Pada saat engkau memberi kalau engkau berbahagia itulah Munca Cetana. Jauh sesudah engkau memberi kalau engkau masih merasa bahagia itulah yang dikatakan Aparapara Cetana”.

Dari ketiga pikiran yang dikatakan permulaan, pertengahan dan sesudah berdana manakah yang paling penting? Yang paling penting justru sesudah berdana.

Kalau pada saat berdana perasaan anda kurang rela, tetapi sesudah berdana merasa bahagia dan kebahagiaan ini bisa berlangsung berhari-hari, maka pikiran bahagia sesudah berdana itu akan memberikan nilai tambah dari perbuatan baik yang dilakukan.

Tetapi, sebaliknya kalau pada waktu berdana perasaan anda antusias, sebelum berdana Anda senang. Tetapi sesudah berdana kemudian menjadi kecewa. Pikiran ini akan merusak kebaikan anda. Pikiran baik, pikiran puas sesudah memberi itu justru akan memberikan nilai tambah pada saat melakukan kebaikan itu.

Kathina adalah dana kepada Sangha. Kathina bukan dana kepada pribadi bhikkhu. Tetapi dana yang harus dipersembahkan dengan pikiran dana kepada Sangha. Sang Buddha mengatakan,

“Tanah yang padat, lautan yang luas, gunung Maha meru yang sangat tinggi karena waktu yang berjalan terus. Karena ketidak-kekalan, itu pan akhirnya bisa habis. Lautan bisa kering, gunung bisa hancur, tanah yang padat bisa berhamburan. Tetapi kebaikan yang kamu lakukan kepada Sangha, seratus ribu kalpa tidak akan musnah”.

Kalau berdana kepada Sangha sekarang ini dan Anda mempunyai Akusalakamma yang menunda, kamma baik itu tidak mungkin akan menjadi Ahosi. Kamma baik itu tidak mungkin lenyap, menjadi kadaluarsa. Meskipun nanti seratus ribu kalpa, dana anda kepada Sangha itu masih akan berbuah.

Satu kalpa bumi ini terbentuk, berlangsung, dan hancur kembali. Bumi ini muncul, hancur kembali, muncul hancur kembali, muncul hancur kembali.

Seratus ribu kalpa kebaikan yang dilakukan kepada Sangha tidak akan musnah. Apa sebab? Anda berdana kepada Sangha tidak mengenal favoritisme. Karena dana yang Anda tujukan kepada Sangha ini Anda tujukan kepada semua bhikkhu yang hadir maupun yang tidak hadir, yang sekarang ataupun yang akan datang.

Demikianlah hakekat yang bisa kita petik dari setiap masa Kathina. Kita tidak ragu-ragu berdana. Apapun hendaknya kita rela memberi. Apalagi kalau kita mengerti hidup ini adalah anatta, tidak ada aku, tidak ada yang menjadi milikku, dan tidak aku yang bisa memiliki. Semuanya adalah proses. Pada saat kematian kita akan meninggalkan semuanya. Apa perlunya kita menyimpan terlalu banyak. Kita hanya hidup secukupnya kemudian berikan semuanya untuk anak, keluarga, masyarakat dan yang lainnya. Kami para bhikkhupun sudah membuat perjanjian “Besok kalau saya mati cukillah mata saya ini dan pakailah, kepada siapa yang membutuhkan”.

Apakah Anda mau mengikuti jejak kami? Membuat pernyataan, kalau mati ambillah mata saya ini, berikan kepada mereka yang membutuhkan. Saya lebih rela mendanakan mata saya daripada diberi mata oleh orang lain. Kami siap mendanakan darah kami. Bahkan ada orang yang menyatakan atau membuat wasiat: “Kalau saya mati, jangan kuburkan saya, jangan bakar saya, saya mendanakan jasmani saya ini. Apapun yang bisa diambil, ambillah! Ginjal mau diambil, ambillah! Mata mau diambil, ambillah!”

Betapa bahagianya orang yang berdana. Marilah kita bertekad, “Aku bertekad meskipun tidak mampu, aku rela memberikan apapun kepada siapapun yang membutuhkan”. Sang Buddha mengatakan, “Apakah yang bisa diperoleh dari dana?” Nama harum, wajah cantik, usia panjang, kekayaan, pangkat, kekuasaan, pengaruh, raja besar, menjadi dewa, kehidupan di alam Brahma, mencapai Arahat, Pacceka Buddha, Samma Sambuddha semuanya itu adalah manfaat banyak Dana Punna, kekuatan baik, kekuatan bajik dari dana.

Jadilah orang yang bisa dicontoh oleh masyarakat dalam berdana. Jangan remehkan perbuatan baik. Meskipun kecil, kebaikan adalah kebaikan. Jangan meremehkan kebaikan. Seperti air yang menetes di tempayan, setetes demi setetes, akhirnya akan menjadi penuh.

Selamat berdana, memasuki masa Kathina dengan penuh kebahagiaan. Semoga mencapai kebebasan akan dana yang dilakukan dengan keyakinan kepada Tiratana. Dengan kekuatan kebaikan kita, semoga kita mencapai kebahagiaan.***

 

Sumber:

BUDDHA CAKKHU No.03/XVII/1995; Yayasan Dhammadipa Arama.

tags: , , , , , , , , ,

Related For Dana membawa Kebahagiaan