Apakah Hukum Karma selalu Negatif ?

Rabu, Mei 18th 2016. | Hukum Kamma dan Tumimbal-lahir

hukum kamma atau karma dalam agama buddha TisaranaDotNet

Anda pasti tidak asing dengan kata Karma atau Hukum Karma, bahkan bukan hanya dala percakapan sehari-hari kata Karma ini digunakan, tetapi juga tidak jarang kata Karma ini ditemukan pada berita media masa baik itu media elektronik maupun cetak. Tentu tidak asing bila kata Karma ini digunakan oleh umat Buddha dan Hindu; tetapi sekarang, kata Karma ini sering digunakan oleh umat agama yang lainnya juga. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah anda benar-benar memahami maksud dari kata Karma ini? Bila memang anda mengerti, maka penulis ucapkan sadhu untuk anda.

Dalam Nibbedhika Sutta – AN 6.63, Sang Buddha mengatakan bahwa “cetanā (kehendak hati) adalah karma, karena melalui cetanā–lah seseorang melakukan perbuatan melalui pikiran, ucapan, dan jasmani.”

Apakah anda pernah merenung tentang hidup ini? Mengapa ada begitu banyak keanekaragaman dalam kehidupan ini? Ambil contoh saja keanekaragaman manusia, ada yang sehat – ada yang berpenyakitan, ada yang berumur panjang – ada yang berumur pendek, ada yang kaya – ada yang miskin, ada yang pintar – ada yang bodoh, ada yang cantik – ada yang jelek, dan yang lainnya. Ini baru sebagian kecil tentang perbedaan yang anda jumpai pada manusia, bila anda mencoba membuat daftar perbedaan pada semua makhluk, mungkin anda tidak akan pernah selesai membuat daftar tersebut. Pernahkah terpikir oleh anda mengapa ada begitu banyak perbedaan, apakah semua ini ada yang mengaturnya? Apakah ada suatu makhluk maha kuasa yang mengatur ini semua? Bila anda penganut Ajaran Buddha dan mempercayai hal yang disebutkan terakhir, maka anda mempunyai pandangan salah. Sang Buddha dalam Culakammavibhanga Sutta – MN 135 mengatakan bahwa semua ini disebabkan oleh Karma (perbuatan1) anda sendiri.

Untuk membuat tulisan ini agar lebih dapat mewakili Ajaran Buddha tentang Hukum Karma, maka 5 kisah yang berkaitan dengan Hukum Karma yang ditampilkan di sini, diambil dari 3 era yang berbeda. Yang pertama, berasal dari era ketika Sang Buddha masih menjadi calon Buddha (Bodhisatta); yang kedua dan ketiga, berasal dari era Sang Buddha; dan yang keempat dan kelima berasal dari era setelah wafatnya Sang Buddha. Dua kisah yang terakhir ini dapat juga dikatakan sebagai era saat ini, karena kisah ini terjadi di tahun 1900an.

Renungkanlah baik-baik dan petik pelajaran berharga dari kelima kisah tersebut. Jadikanlah hal positif yang terkandung di dalamnya sebagai sesuatu yang dapat membantu anda untuk menjalani hidup ini dengan baik dan lurus.

Tulisan ini tidak membahas Hukum Karma secara mendetail, tetapi ditujukan sekedar hanya untuk mengenalkan atau memberikan gambaran tentang Hukum Karma. Penulis juga tidak berharap anda langsung mempercayai hal yang ditulis di sini karena hal itu tidak akan membuat anda mempunyai keyakinan yang kuat terhadap Hukum Karma ini. Dalam Ajaran Buddha, bukanlah hal yang salah apalagi murtad bila mempertanyakan sesuatu yang anda belum jelas, belum mengerti, atau masih ragu-ragu. Selain itu, Sang Buddha juga tidak ingin pengikutnya mempunyai keyakinan yang (membabi) buta. Keyakinan yang baik adalah keyakinan yang dilandasi oleh kebijaksanaan.

Sang Buddha mengungkapkan hal tersebut di Kalama Sutta “Instruksi kepada Kaum Kalama” – AN 3. 65, ini adalah ringkasannya.

“Adalah hal yang pantas untuk kamu merasa ragu, merasa tidak pasti; karena ketika ada keraguan, ketidakpastian akan muncul. Maka, Kaum Kalama, jangan percaya hal tersebut hanya karena: sering didengar atau berdasarkan laporan, merupakan legenda/desas-desus, merupakan sebuah tradisi, berada di kitab suci, dugaan berdasarkan logika, didapat berdasarkan kesimpulan, berdasarkan analogi/persamaan, cocok dengan pemikiranku, berdasarkan probabilitas/kemungkinan, atau berpikir bahwa ‘Bhikkhu tersebutadalah guru kita.’ Kaum Kalama, jika kamu sendiri mengetahui bahwa: ‘Hal ini adalah buruk, hal ini adalah tercela, hal ini dikecam oleh para bijaksana, ketika dipraktikkan dan diteliti – hal ini mendatangkan kerugian dan penderitaan, maka tinggalkanlah.”

 

“Adalah hal yang pantas…(sama seperti di atas)…. Kaum Kalama, jika kamu sendiri mengetahui bahwa: ‘Hal ini adalah baik, hal ini tidak tercela, hal ini dipuji oleh para bijaksana, ketika dipraktikkan berdiamlah di sana (jalanilah).”dan diteliti – hal ini mendatangkan keuntungan/manfaat dan kebahagiaan, maka masuk dan

“Para murid yang Mulia, Kaum Kalama, yang pikirannya bebas dari permusuhan, bebas dari niat jahat/kedengkian, bersih dan murni, adalah dia yang memiliki 4 kepastian di sini dan saat ini: ‘Seandainya ada kehidupan yang akan datang dan ada buah/hasil dari perbuatan baik atau buruk. Maka, adalah hal yang mungkin ketika meninggal, saya akan terlahir di alam bahagia, alam dewa/surga,’ Ini adalah kepastian pertama yang dia dapatkan. ‘Seandainya tidak ada kehidupan yang akan datang dan tidak ada buah/hasil dari perbuatan baik atau buruk. Tetapi di kehidupan ini, di sini dan saat ini, saya menjaga diri saya dalam ketentraman, bebas dari permusuhan, bebas dari niat jahat/kedengkian, dan masalah.’ Ini adalah kepastian kedua yang dia dapatkan. ‘Seandainya buah/hasil dari perbuatan buruk menimpa pelakunya. Tetapi, saya tidak melakukan perbuatan buruk, bagaimana hasil perbuatan buruk akan menimpa saya yang tidak melakukannya?’ Ini adalah kepastian ketiga yang dia dapatkan. ‘Seandainya buah/hasil dari perbuatan buruk tidak menimpa pelakunya. Maka, saya dapat memastikan diri saya murni dalam keadaan apapun.’ Ini adalah kepastian keempat yang dia dapatkan.”

Oleh karena itu, penulis mengundang anda semua untuk menyelidiki Ajaran Sang Buddha, bukan hanya tentang Hukum Karma. Semoga anda mendapatkan kebenaran sejati dalam hidup ini.

 

Sumber:
Bhikkhu Sikkhānanda
Chanmyay Yeiktha Meditation Center
Hmawbi, Myanmar

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Apakah Hukum Karma selalu Negatif ?