EMPAT KEBENARAN (KESUNYATAAN) MULIA

Sabtu, Desember 5th 2015. | Dasar Agama Buddha, Empat Kesunyataan Mulia
empat kebenaran mulia

Empat Kebenaran / Kesunyataan Mulia

Ajaran Buddha didasarkan pada Empat Kebenaran Mulia.
Apakah Empat Kebenaran Mulia itu?
1. Kebenaran Mulia tentang Dukkha
2. Kebenaran Mulia tentang sebab dari Dukkha
3. Kebenaran Mulia tentang berakhirnya Dukkha
4. Kebenaran Mulia tentang jalan menuju lenyapnya Dukkha

Kita dapat menganalogikan Kebenaran Mulia yang ditemukan oleh Buddha Gautama dengan perumpamaan seorang dokter. Ketika seorang pesakit datang menemui seorang dokter, maka dokter yang baik akan memeriksa apakah benar orang tersebut sedang sakit. Langkah kedua; setelah memastikan bahwa si pasien memang sakit, si dokter akan memeriksa apa penyebabnya. Nah, setelah mengetahui apa penyebab si pasien menjadi sakit, dokter yang baik harus bisa melihat bahwa sakit itu bisa disembuhkan. Dan untuk bisa disembuhkan, maka si dokter akan memberikan resep kepada si pesakit agar pesakit itu menjadi sembuh. Masih banyak orang yang menganggap bahwa ajaran Buddha adalah ajaran yang pesimistis. Mengapa demikian? Hal itu lebih disebabkan karena mereka tidak
melihat ajaran Buddha secara utuh, hanya setengah-setengah. Ajaran Buddha boleh saja disebut ajaran yang pesimis hanya bila apa yang diajarkan oleh Buddha Gautama berhenti pada tahap 1 (mengetahui
bahwa seseorang sedang sakit), tahap 2 (mengetahui sebabnya), atau tahap 3 (mengetahui bahwa sakit itu bisa disembuhkan). Tetapi Buddha Gautama juga mengajarkan tahap 4 sebagai puncak dari apa yang diketahuinya, yaitu menawarkan sebuah resep bagi si pesakit agar sembuh. Dengan demikian ajaran Buddha bukanlah ajaran yang pesimistis, namun sangat realistis.

Kebenaran Mulia tentang Dukkha
Dukkha dalam bahasa Pali (bahasa India kuno) memiliki pemahaman yang sangat mendalam, namun secara umum kata dukkha diterjemahkan sebagai ‘penderitaan’ atau ‘ketidakpuasan’ (walau sebagian orang pun kurang setuju dengan pengertian diatas; ada pula yang beranggapan bahwa dukkha = duka dalam bahasa Indonesia). Harus diakui bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah dukkha. Mengapa demikian? Karena pengertian dukkha juga mencakup hal yang lebih mendalam, seperti ketidaksempurnaan, sakit, ketidakabadian, ketidaknyamanan, maupun ketidakpuasan. Dengan demikian tidak ada seorang pun yang dapat menyanggah bahwa hidup ini memang merupakan dukkha. Selalu terdapat ketidakpuasan, ketidaknyamanan, maupun ketidakabadian. Segala sesuatu akan terus berubah, bahkan terhadap hal-hal yang kita sebut sebagai sukkha (mirip dengan kata ‘suka’ dalam bahasa Indonesia) atau kesenangan. Inilah prinsip dasar dari Kebenaran Mulia yang pertama.
Kebenaran Mulia tentang Sebab dari Dukkha
Sumber dari dukkha adalah tanha (nafsu keinginan yang tiada habisnya) dan avijja (ketidaktahuan). Oleh karena adanya ketidaktahuan inilah maka seseorang akan terus dan terus memupuk (bernafsu) pengalaman yang menyenangkan atau tidak, nafsu akan benda-benda material, nafsu akan hidup abadi (eksistensi terusmenerus), termasuk pula nafsu akan kematian abadi (pemusnahan diri). Apa bahaya dari ketidaktahuan (avijja)? Ketidaktahuan akan menyebabkan seseorang menjadi tidak mampu memahami esensi dari hidup itu sendiri. Ketidaktahuan akan menutupi celah-celah bagi seseorang untuk bisa melihat realitas hidup ini. Oleh karena itu keinginan yang berlebihan/keserakahan (tanha) dan ketidaktahuan (avijja) keduanya akan menyebabkan seseorang terus berputar dalam penderitaan hidup.
Kebenaran Mulia tentang Berakhirnya Dukkha
Dukkha sebagai salah satu sifat sejati segala sesuatu yang berkondisi ternyata memiliki akhir. Proses terhentinya dukkha inilah yang dinamakan oleh umat Buddha sebagai Nibbana atau Nirwana.  Ada sebagian orang yang beranggapan bahwa Nirwana itu sendiri sebagai sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, tidak
bisa diwujudkan dalam kehidupan saat ini. Apabila demikian, maka itu bukanlah Nirwana menurut konsep buddhisme. Beranggapan demikian hanya akan membuat pengertian tentang Nirwana tidak jauh berbeda dari pengertian Tuhan. Kita meyakini bahwa apa yang Buddha Gautama ajarkan adalah hal-hal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari saat ini juga. Sang Buddha tidak mengajar untuk kepentingan kehidupan setelah mati, tetapi Beliau mengajarkan untuk kepentingan kehidupan saat ini. Untuk itu Sang Buddha sendiri telah mengartikan Nirwana sebagai lenyapnya keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha). Dan Beliau menyatakan bahwa Nirwana dapat direalisasikan (dialami) pada saat ini juga—dalam kehidupan sehari-hari.

Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha
Sebagai solusi dari penderitaan yang dialami manusia, Buddha Gautama menawarkan sebuah jalan universal yang dapat digunakan sebagai pedoman hidup bagi manusia. Jalan ini disebut sebagai Hasta Ariya Magha atau Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Mengembangkan Kebijaksanaan (Pañña)
1. P a n d a n g a n Benar
Pandangan hidup yang selaras dengan kebenaran sejati (relalitas), yakni: Empat Kebenaran Mulia, Tiga Corak Kehidupan (Tilakkhana), Kesalingterkaitan Antar Segala Sesuatu (Paticca-Samuppada), dan Hukum Sebab-Akibat (Karma)
2. Pikiran Benar
Pikiran yang bebas dari keserakahan, kebencian, dan kekejaman/kekerasan.

M e j a l a n k a n Moralitas (Sila)
3. Ucapan Benar
Ucapan yang memenuhi 4 syarat:
1.Ucapan itu benar (sesuai kenyataan),
2.Ucapan itu beralasan (ada tujuan),
3.Ucapan itu bermanfaat, dan
4.Ucapan itu tepat pada waktunya
4. P e r b u a t a n Benar
Adalah perbuatan yang menghindari pembunuhan, pencurian, dan asusila
5. Pencaharian Benar
Terdapat 5 sifat mata pencaharian yang harus dihindari: penipuan, ketidaksetiaan, penujuman, kecurangan, dan memungut bunga yang tinggi (lintah darat)
Terdapat pula 5 macam pencaharian yang harus dihindari: berdagang alat senjata, makhluk hidup, daging, minum-minuman yang memabukkan, serta berdagang racun
Melatih Pikiran (Samadhi)
6. Daya Upaya Benar
Terdiri dari 4 unsur, yaitu: mencegah munculnya unsur-unsur jahat, melenyapkan unsur-unsur jahat yang sudah ada, membangkitkan unsur-unsur baik, dan mengembangkan unsur-unsur baik yang sudah ada
7. P e r h a t i a n Benar
Perenungan terhadap tubuh, perasaan, kesadaran, dan bentuk-bentuk pikiran
8. K o n s e n t r a s i Benar
Pemusatan pikiran sebagai bentuk latihan untuk melatih kesadaran, kontrol pikiran dari emosi, pemusatan pikiran untuk ketenangan dan pelatihan

Incoming search terms:

  • sebab dukkha
  • 4 kebenaran mulia
  • 4 kebenaran mulia dan jelaskan
  • buddha mengajarkan 4 kebenaran yang tinggi
  • kitab hidup adalah dukka
  • sebutkan hukum hukum kesunyataan qyau hukum kebenaran yang buddha ajarkan
tags: , , , ,

Related For EMPAT KEBENARAN (KESUNYATAAN) MULIA