Pemimpin Si Penakluk Diri. Ven YM. Bhante Sri Pannavaro Mahathera.

Senin, Mei 15th 2017. | Ceramah

Dalam suatu kesempatan Pangeran Siddharta keluar dari istana. Pada saat itulah untuk pertama kalinya Beliau melihat orang yang tua renta, orang yang sakit, dan orang yang meninggal dunia, jenazah yang dikremasi.

Pangeran Siddharta melihat penderitaan yang snagat berbeda dengan kehidupan yang terjadi didalam istana. Kejadian yang dilihat oleh Pangeran itu sangat merisaukan hatinya. Bermacam-macam penderitaan Beliau lihat di luar istana.

Mengapa manusia harus menderita? Kerisauan itu, pertanyaan itu sangat menggangu Pangeran Siddharta. Apakah ada jalan untuk membebaskan manusia dari penderitaan?

Padahal Pangeran melihat penderitaan, melihat orang tua yang menderita, orang sakit dan orang yang mati itu, untuk pertama kalinya. Lalu itu sudah cukup membuat kepedulian yang luar biasa Pangeran Siddharta terhadap penderitaan.

Bagaimana dengan kita? Sudah berapa kali kita melihat penderitaan orang lain? Berkali-kali !

Namun, kita ini mungkin tumpul. Tidak timbul peduli kepada mereka yang menderita. Kita akan sangat peduli kalau yang menderita itu adalah keluarga kita atau diri kita sendiri.

Berbeda dengan Pangeran Siddharta yang hanya melihat sekali. Dan, yang sekali itu cukup mengguncang hatinya.

Mengapa mereka harus menderita?

Inilah bedanya bodhisattva dengan manusia biasa seperti kita. Melihat penderitaan yang sekali itu saja sudah cukup menarik kepedulian yang luar biasa. Kepedulian yang di atas rata-rata umat manusia.

Itulah bodhisattva, mahluk agung.

Pangeran Siddharta berpikir penderitaan ini tidak mungkin akan selesai hanya dengan diberi makanan, diberi pakaian – sekarang dengan caranya membagi sembako.

Tidak mungkin penderitaan itu akan berakhir dengan member makanan, pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain. Tentulah ada sebab yang lebih dalam, ada sebab yang lebih hakiki dari sekedar kelaparan, sakit, dan lain-lain.

Pangeran Siddharta merenungkan bahwa Beliau harus berjuang, mencari jawaban mengapa penderitaan itu terjadi. Tidak mungkin tidak ada sebabnya, dan tidak mungkin tidak ada jalan keluar untuk mengatasinya.

Pangeran Siddharta pergi meninggalkan istana. Beliau meninggalkan tahta, meningalkan kemegahan dan kemewahan. Menolak kenyamanan, dan diganti dengan 6 tahun perjuangan yang sangat luar biasa.

Untuk Anda yang pernah berziarah ke India, Anda bisa melihat tempat 6 tahun Pertapa Gotama berjuang bukanlah tempat yang nyaman. Hanya merupakan satu goa yang sederhana dan kecil. Perjuangan yang sangat luar biasa karena kepedulian Pangeran Siddharta terhadap penderitaan mahluk hidup di semesta ini.

Setelah 6 tahun berjuang, pada saat bulan purnama di bulan Vesakha, Pertapa Gotama mencapai pencerahan sempurna. Beliau mencapai Sammasambuddha. Sejak itulah beliau mengajarkan Dhamma kepada kita.

Namun sebenarnya Guru Agung kita Buddha Gotama, setelah mencapai pencerahan, Beliau tidak hanya mengajarkan Dhamma selama 45 tahun saja. Tidak. Sebenar-benarnya Guru Agung itu masih memimpin kita sampai sekarang, selama lebih dari 2600 tahun. Meskipun Beliau sudah mangkat .

Karena menjelang Beliau menutup mata, para bhikkhu yang belum mencapai kebebasan, termasuk Bhante Ananda, juga umat perumah tangga merasa sedih sekali karena Sang Guru sudah parinibbana, menutup mata, kita tidak mempunyai guru lagi. Guru Agung kita mengatakan, “Tidak demikian. Dhamma dan Vinaya yang kuajarkan itulah sebagai pengganti Gurumu kelak. Setelah Aku tidak ada lagi.”

Dhamma itu sekarang masih utuh, dan Vinaya itu masih dijalani, dipraktekkan oleh para bhikkhu dengan semaksimal mungkin. Dhamma dan Vianaya yang diwariskan oleh Guru Agung kita itu masih utuh. Berarti Guru Agung kita masih memimpin kita sampai sekarang. Meskipun Beliau sudah wafat, Beliau masih memimpin kita sepanjang lebih dari 2600 tahun.

Banyak tokoh sejarah, para guru spiritual, ribuan, mungkin jutaan keberadaannya yang sekarang ini tidak kita kenal lagi. Namun , Guru Agung kita Buddha Gotama dikenal oleh ratusan juta umat manusia, dan masih memimpin kita sampai sekarang.

Mengapa demikian?

Karena Pangeran Siddharta menolak tahta, Pangeran Siddharta menolak kemewahan dan kenyamanan. Pangeran Siddharta mengalahkan dirinya sendiri, barulah Beliau mencapai pencerahan dan memimpin kita sampai sekarang.

Marilah kita berpikir terbalik sekarang. Seandainya Pangeran Siddharta memilih menjadi raja, menggantikan Raja Sudhodana, siapa yang mengenal Pangeran Siddharta sekarang ini?

Kepemimpinan Pangeran Siddharta hanya akan sebentar saja andaikan Pangeran Siddharta memilih menjadi raja.

Namun, karena Pangeran Siddharta mengalahkan dirinya sendiri, dari seorang Pangeran, Beliau menjadi seorang pertapa. Lalu mencapai pencerahan, dan menjadi Sammasambuddha. Manusia yang telah mengalahkan dirinya sendiri. Untuk itu Beliau menjadi pemimpin yang baik.

Sebagai contoh; Apabila seorang suami , seorang ayah, di rumah dia tidak mau mengalahkan dirinya sendiri, maka dia hanya ingin mencari menangnya sendiri. Dia mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri. Apakah ayah seperti itu bisa memimpin keluarganya? Tidak !!

Seorang ayah yang mencari kenikmatan untuk dirinya sendiri, yang mempunyai selingkuhan berganti-ganti, ayah seperti ini tidak mungkin memimpin keluarganya sendiri. Tidak ada kerukunan di dalam keluarga itu. Tidak ada keutuhan.

Demikian juga seornag ibu, seorang istri, apabila dia tidak memperhatikan suaminya, tidak memperhatikan pendidikan anak-anaknya, tidak mengurus rumah tangganya, tidak mau mengalahkan dirinya sendiri alih-alih justru mencari kesenangan sendiri, maka seorang ibu yang seperti ini tidak mungkin mampu memimpin keluarganya.

Suatu hari, seorang umat vihara setelah melihat satu program TV, dia mengatakan kepada saya, “Bhante, orang yang berumah tangga itu dalam bahasa Inggrisnya disebut workshop”.

Saya pikir workshop itu loka karya. Namun, dia pun berkata, “Bukan bhante. Maksudnya workshop adalah suaminya work, istrinya shop. Suaminya work hard, istrinya shop hard.”

Ini hanya bercandaan yang ada di masyarakat. Tetapi apabila seperti demikian ini rumah tangga dijalankan, barangkali akan terjadi percekcokan karena ada perlakuan tidak adil.

Apabila seseorang tidak mampu mengalahkan dirinya sendiri, dia hanya mencari kenikmatan pribadi, maka tidak mungkin dia mampu memimpin orang lain. Orang seperti ini bukanlah seorang pemimpin yang baik.

Masyarakat kita sekarang ini membutuhkan keteladanan seorang pemimpin yang baik. Seorang pemimpin yang mampu mengalahkan dirinya sendiri untuk peduli kepada yang dipimpinnya.

 

Sumber Gambar : http://abphy.com/user/malamseniwaisak

Sumber Tulisan : https://www.facebook.com/search/top/?q=dhamma%20kehidupan

Incoming search terms:

  • Sri Pannavaro tentang Karma
  • tulisan bante panavaro
tags: , , , , , ,

Related For Pemimpin Si Penakluk Diri. Ven YM. Bhante Sri Pannavaro Mahathera.