Makna “CINTA”yang Sesungguhnya

Selasa, Februari 14th 2017. | Ceramah, Dhammadesana

cinta sejati dalam agama buddha share by tisarana dot net

Oleh:Bhikkhu Phaladhammo

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Salah satu cerita yang cukup menarik bagi manusia dalam hidup ini adalah tentang cinta. Kata “Cinta” telah menjadi bagian dan aspek intregral kehidupan manusia. Masalah percintaan ini selalu menjadi topik yang dominan dalam setiap budaya manusia di segala zaman.
Cinta memberikan perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa senang, gembira, bahagia. Namun tidak jarang, Cinta juga bisa membuat kita sedih, kecewa, bahkan ada yang frustasi (sampai-sampai bunuh diri). Di dalam Dhamma, cinta kasih adalah termasuk dalam salah satu sifat mulia. Akan tetapi, seperti yang telah dikatakan di atas, cinta juga bisa membuat derita.

Konsep Cinta menurut agama Buddha
Cinta diartikan sebagai perasaan suka atau benar-benar sayang kepada seseoang yaitu baik kepada pasangan hidup, pacar, sahabat, orangtua, dan lain sebagainya. Merujuk dari arti kata tersebut “Cinta” hanya kepada orang-orang tertentu saja, bukan perasaan cinta kepada semua makhluk. Dalam pandangan umum, Cinta adalah sebuah kata yang sangat dipuja-puja. Terutama oleh pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran. Dalam agama Buddha Cinta diartikan bukan terbatas hanya pada orang-orang tertentu saja tetapi cinta yang benar-benar “Cinta”, Cinta yang universal. Cinta kasih yang tidak terbatas kepada semua makhluk.
Pembahasan konsep cinta yang ideal dalam Buddha Sāsana berhubungan dengan pencapaian tujuan akhir dari umat Buddha, yaitu Pembebasan dari dukkha (ketidakpuasan). Mettā merupakan bagian pertama dari Kediaman Luhur atau Brahma Vihāra, juga merupakan yang pertama dari Lima sifat mulia / Pañca Dhamma, serta Mettā juga merupakan salah satu dari Ārakkha Kammaṭṭhāna (Meditasi Pelindung). Mettā / Cinta kasih yang bersifat universal, tidak terbatas serta tanpa pamrih. Mettā sebagai landasan untuk mencapai pembebasan selalu ditekankan oleh Sang Tathāgata. Di dalam berbagai kesempatan Sang Bhagavā mengajarkan pada para siswanya agar selalu mengembangkan mettā dalam kehidupan sehari-hari. Seperti apa yang dijelaskan oleh Sang Tathāgata dalam Mettā Bhāvanāsutta; Itivuttaka. Sang Bhagavā mengatakan pada para bhikkhu sebagai berikut: ”Para bhikkhu, apapun jenis, apapun alasan untuk berbuat tindakan berjasa, semuanya tidak dapat menyamai seperenambelas bagian dari pembebasan pikiran lewat mettā. Pembebasan batin lewat mettā melebihi mereka, lebih cemerlang, gemerlap serta bercahaya … (diibaratkan rembulan purnama yang bercahaya lebih terang jika dibandingkan dengan cahaya bintang yang redup )”. Begitulah kekuatan dari mettā yang melebihi mereka dari perbuatan berjasa, yang tidak hanya lebih dari seperenambelas dari nilai akan Mettā.

Cara mengembangkan Cinta Tanpa Syarat (Mettā)
Di dalam Dhamma, apa yang telah dibabarkan oleh Sang Tathāgata. Terdapat cara-cara ataupun metode untuk pengembangan Mettā, yaitu :
1.Tevijja Sutta; Dīgha Nīkaya.
Menjelaskan bagaimana cara mengembangkan Mettā ke sepuluh penjuru/arah, yaitu: Barat, Barat Laut, Utara, Timur Laut, Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Atas dan Bawah. Contohnya: dengan bantuan kata-kata perenungan yang diucapkan secara terus-menerus serta diresapi “Semoga semua makhluk yang berada di arah Barat dapat berbahagia, bebas dari penderitaan jasmani dan batin, bebas dari permusuhan, bebas dari kebencian, bebas dari kesulitan apapun, semoga semua makhluk yang berada di arah Barat dapat mempertahankan kebahagiaan yang telah mereka peroleh”. Selanjutnya Mettā dipancarkan kepada semua makhluk yang berada di arah-arah lain. Metode/cara pengembangan seperti ini (kesepuluh penjuru) disebut Disapharana.
2.Paṭisambhidāmagga; Khuddaka Nikāya.
Menjelaskan bagaimana cara mengembangkan Mettā, yaitu:
Odishapharana, Mettā dipancarkan dengan spesifikasi tertentu, seperti semua wanita (sabbā itthiyo), semua pria (sabbe purisā), semua orang suci (sabbe ariyā), semua orang yang belum suci (sabbe anariyā), semua dewa (sabbe devā), semua manusia (sabbe manussā), semua yang tidak berbahagia (sabbe vinipātikā), dll. Contohnya: “Semoga semua wanita dapat berbahagia, bebas dari penderitaan jasmani dan batin, bebas dari permusuhan, bebas dari kebencian, bebas dari kesulitan apapun, semoga semua wanita dapat mempertahankan kebahagiaan yang telah mereka peroleh ”.
Anodhisapharana, Mettā yang dipancarkan tanpa suatu batasan (tanpa spesifikasi tertentu), seperti semua makhluk (sabbe sattā) makhluk yang berada di 31 alam kehidupan, semua makhluk hidup yang bernapas (sabbe pana), semua makhluk halus (sabbe bhūtā), semua orang (sabbe puggala), semua makhluk yang menjadi orang (sabbe attabhava pariya-panna), dll. Contohnya: “Semoga semua makhluk dapat berbahagia, bebas dari penderitaan jasmani dan batin, bebas dari permusuhan, bebas dari kebencian, bebas dari kesulitan apapun, semoga semua makhluk dapat mempertahankan kebahagiaan yang telah mereka peroleh”.
3.Mettā Sutta, Khuddaka Nikāya; Khuddakapātha
Perenungan cinta kasih, seperti di dalam Mettā Sutta yang sering dikenal dengan Karaṇīyametta Sutta. Kalimat-kalimat di dalam sutta tersebut dibaca/dihafal baik tata bahasa Pāḷi maupun bahasa Indonesia, dijadikan objek meditasi (direnungkan serta diresapi dalam hati secara perlahan-lahan).
4.Khandha Paritta, Khuddaka Nikāya; Jātaka, Tiṁsanipāta.
Pengembangan cinta kasih, yang khususnya ditujukan untuk kepada hewan. Hewannya bisa berkaki dua, hewan berkaki empat, hewan berkaki banyak, maupun hewan yang tanpa kaki (seperti ular, belut, dan hewan air yang tak mempunyai kaki).

Penutup
Begitu luar biasanya Cinta, sehingga Jeane Moureau pernah berkata “Usia tidak pernah melindungi Anda dari Cinta—tetapi Cinta melindungi Anda dari usia”. Karena itu, siapa pun yang memiliki cinta, maka ia yang memiliki kebahagiaan. Cinta selalu menjadi “tamu” yang datangnya membawa kebahagiaan, tetapi kepergiannya tidak pernah diharapkan. Cinta bisa mengubah duri menjadi mawar dan cuka menjadi anggur! Karena cinta, kebencian hilang dan permusuhan menjadi persaudaraan bahkan siapa pun yang ada di hadapan kita tampak menjadi sangat istimewa! George Sand juga pernah berkata, “Hanya ada satu kebahagiaan dalam hidup yaitu mencinta dan dicinta”. Cinta bukanlah dinamakan Cinta jika disertai dengan adanya tuntutan, cinta juga bukanlah dinamakan cinta jika dipenuhi hasrat untuk memiliki. Cinta yang sejati tidak lain adalah hasrat untuk selalu memberi dan berbagi serta cinta juga senantiasa membebaskan. Carl G Jung mempertegaskan hal ini dengan mengatakan, “Di mana cinta bertahta, maka tidak ada kehendak untuk berkuasa, tetapi bila kehendak untuk menguasai yang bertahta maka cinta akan berkurang”. Cinta Abadi, cinta yang tidak terbatas dan akan selalu bertahan. Sekalipun rambut di kepala kita memutih, kulit-kulit kita menjadi keriput bahkan kita tidak mampu berdiri lagi, namun Cinta tetaplah Cinta! Bahkan William Shakespeare melukiskan-nya demikian “Aku mengasihimu dengan penuh cinta yang tidak akan mati. Sampai matahari menjadi dingin dan bintang-bintang menjadi tua”. Pengembangan Mettā ini hendaknya tidak hanya terpancar lewat pikiran atau ucapan semata akan tetapi harus teraktualisasi dalam tindakan yang nyata. Begitu banyak akan manfaat dari pengembangan cinta yang sesungguhnya (Mettā). Marilah kita bersama-sama berusaha untuk mencintai orang ataupun makhluk lain dengan Cinta tanpa syarat, cinta tanpa melukai dan terlukai, yang ada hanya kedamaian dan ketenangan batin. Yang tidak boleh kita lupakan ialah “what the world needs now is love, sweet love”. Yang dibutuhkan oleh dunia saat ini adalah cinta, karena hanya dengan cara itulah dunia menjadi indah dan terus menjadi semakin indah. Dengan memahami sifat dan karakteristik dari cinta, seseorang dapat mentranformasikan cinta dalam pengertian rendah [eros] (bersifat memenuhi nafsu semata) menuju ke pengertian yang lebih tinggi yaitu [agape] (mengandung unsur spiritual) untuk tujuan kemajuan dan perkembangan batin / mental. Selain itu, pemahaman konsep cinta yang sesungguhnya tidak hanya mengangkat harkat derajat seseorang tetapi juga membawa kesejahteraan masyarakat luas. Bahkan salah satu penyair Kahlil Gibran pernah berucap “Hidup tanpa cinta adalah bagaikan sebatang pohon, tanpa bunga dan buah”.

Sumber : http://www.dhammacakka.org/?channel=ceramah&mode=detailbd&id=516

Incoming search terms:

  • hidup tanpa cinta ceramah
tags: , , , , , , ,

Related For Makna “CINTA”yang Sesungguhnya