MAHA PARINIBBANA SUTTA

Selasa, Mei 16th 2017. | Ceramah, Kitab Suci, Sutta Pitaka

MAHA PARINIBBANA SUTTA
Sumber: Maha Parinibbana Sutta
Editor : Pandita Pannasiri, Disempurnakan : Cornelis Wowor, MA.
Diterbitkan : CV. Lovina Indah, Jakarta 1989

BAB I
DEMIKIANLAH YANG TELAH KAMI DENGAR

1. Ketika Sang Buddha berdiam di atas puncak Gijjhakuta, Rajagaha, raja Magadha Ajatasattu, putra ratu Viheda berkeinginan untuk berperang melawan suku Vajji. Raja Ajatasattu berpikir : “Suku Vajji yang berdaulat dan jaya akan aku musnahkan, celakakan dan basmi seluruhnya.”

2. Kemudian raja Ajatasattu menitahkan patihnya Brahmana Vassakara sambil bersabda : “Brahmana, pergilah menghadap Sang Buddha. Sampaikanlah salam hormat dan sujudku kepada Beliau. Sampaikan pula harapanku, semoga Beliau selalu dalam keadaan sehat walafiat, selamat sejahtera dan selalu bahagia. Selanjutnya sampaikan pula kepada Beliau, bahwa aku raja Ajatasattu dari Magadha, hendak berperang melawan suku Vajji. Suku Vajji yang berdulat dan jaya itu, akan aku musnahkan, celakakan dan basmi seluruhnya.

Setelah mendengar rencanaku ini, apapun jawaban Sang Buddha, simpanlah itu dalam ingatanmu dengan sebaik-baiknya, dan kemudian beritahukanlah kepadaku. Aku yakin Sang Tathagata akan menyampaikan pendapatnya dengan jujur, karena Sang Buddha tidak pernah berbicara yang tidak jujur.”

3. Setelah mendengar sabda dan pesan raja Ajatasattu Patih Vassakara menyatakan persetujuannya sambil berdatang sembah : “Baik, Tuanku, segala titah kami junjung tinggi di atas kepala kami.” Kemudian Brahmana Vassakara menitahkan untuk menyiapkan keretanya yang indah dan kereta-kereta lainnya bagi para pengiringnya. Setelah semuanya siap, berangkatlah Patih Brahmana Vassakara dengan diiringi oleh para pengiringnya menuju Gijjhakuta, untuk menghadap kepada Sang Buddha. Sesampai di suatu tempat di atas bukit itu, perjalanan tidak dapat di tempuh dengan naik kereta, mereka terpaksa meneruskan perjalanan dengan berjalan.

Setelah Patih Brahmana Vassakara sampai di hadapan Sang Buddha, beliau lalu bersujud kepada Sang Buddha, setelah itu Patih Brahmana Vassakara duduk di salah satu sisi Sang Buddha. Kemudian dengan suara yang lemah lembut, Patih Brahmana Vassakara berkata : “Sang Gotama yang mulia, saya datang menghadap Yang Mulia ialah untuk menyampaikan pesan raja Ajatasattu dari Magadha. Baginda raja Ajatasattu menghaturkan hormat dan sujud ke hadapan Bhante, dan memujikan semoga Bhante selalu selamat, dalam keadaan sehat walafiat dan selamat sejahtera serta selalu berbahagia. Baginda juga memerintahkan kepada saya, untuk menyampaikan pesan baginda raja Ajattasattu yang ingin mengadakan peperangan dengan suku Vajji yang berdaulat dan jaya itu. Baginda hendak memusnahkan, mencelakakan dan akan membasmi mereka seluruhnya.”

SYARAT-SYARAT KESEJAHTERAAN SUATU BANGSA

4. Pada saat itu Ananda berdiri di belakang Sang Buddha sedang mengipasi Beliau. Kemudian Sang Buddha bersabda kepada Ananda : “Pernahkah kau mendengar bahwa suku Vajji itu sering berkumpul untuk mengadakan musyawarah, dan musyawarah mereka apakah berlangsung dengan lancar serta selalu dicapai kata mufakat?”

“Bhante, kami telah mendengar bahwa memang demikianlah adanya.””Kalau demikian halnya, perkembangan dan kemajuan suku Vajji yang seharusnya kita harapkan, bukan kemundurannya.”

“Pernahkah kau mendengar, apakah suku Vajji itu dalam permusyawaratan-permusyawaratannya selalu menganjurkan perdamaian? dan apakah di dalam menyelesaikan berbagai masalah yang mereka hadapi, mereka selalu dapat menyelesaikan dengan damai?”

“Bhante, memang demikianlah yang telah kami dengar.”

“Kalau demikian halnya, perkembangan dan kemajuan suku Vajji yang harus kita harapkan, bukan kemundurannya.”

“Pernahkah kau mendengar bahwa suku Vajji telah menetapkan adanya hukum-hukum yang baru, dan telah merubah tradisi mereka yang lama atau mereka meneruskan pelaksanaan peraturan-peraturan lama yang sesuai dengan dhamma?”

“Bhante, demikianlah yang telah kami dengar.”

“Pernahkah kau mendengar bahwa suku Vajji selalu menunjukkan rasa hormat dan bakti serta menghargai kepada orang yang lebih tua dan menganggap sangat berharga dan bermanfaat untuk selalu mengindahkan mereka?”

“Bhante, demikianlah yang telah kami dengar.”

“Kalau demikian halnya, perkembangan dan kemajuan suku Vajji yang seharusnya kita harapkan, bukan kemundurannya.”

“Pernahkah kau mendengar bahwa suku Vajji melarang dengan keras adanya penculikan atau penahanan wanita-wanita atau gadis-gadis dari keluarga baik-baik?”

“Bhante, demikianlah yang telah kami dengar.”

“Kalau demikian halnya, perkembangan dan kemajuan suku Vajji yang seharusnya kita harapkan, bukan kemundurannya.”

“Pernahkah kau mendengar bahwa suku Vajji sangat menghormati dan menghargai tempat-tempat suci mereka dan mereka dengan taat melaksanakan puja bhakti, baik di tempat suci yang ada di kota maupun yang ada di luar kota?” “Bhante, demikianlah yang telah kami dengar.”

“Kalau demikian halnya, perkembangan dan kemajuan suku Vajji yang seharusnya kita harapkan, bukan kemundurannya.”

“Pernahkah kau mendengar bahwa suku Vajji melindungi serta menjaga orang-orang suci itu dengan sepatutnya. Bagi mereka yang belum memiliki pekerjaan, diusahakan supaya memiliki pekerjaan, hidup dengan aman dan damai?” “Demikianlah yang telah kami dengar, Bhante.”

“Kalau demikian halnya, perkembangan dan kemajuan suku Vajji yang seharusnya kita harapkan, bukan kemundurannya.”

5. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Brahmana Vassakara : “Pada suatu ketika, kami berdiam di Vesali, di cetiya Sarandada. Di cetiya itu kami telah mengajarkan kepada suku Vajji mengenai tujuh syarat untuk membina kesejahteraan suatu bangsa. Selama syarat itu dapat dihayati dan diamalkan dengan baik, maka perkembangan dan kemajuan suku Vajji yang seharusnya kita harapkan, bukan kemundurannya.”

Setelah Sang Buddha berkata demikian, Brahmana Vassakara lalu bersujud kepada Sang Buddha dan berkata : “Wahai Gotama, jika suku Vajji benar-benar dapat menghayati dan mengamalkan salah satu atau lebih dari ke tujuh syarat tersebut untuk dapat mencapai kesejahteraan, maka perkembangan dan kemajuan suku Vajji yang seharusnya diharapkan, bukan kemundurannya. Lebih-lebih lagi kalau mereka dapat menghayati dan mengamalkan ke tujuh syarat-syarat tersebut. Jika demikian, suku Vajji tidak dapat ditaklukkan oleh raja Magadha; juga walaupun terjadi peperangan yang dilalukan oleh raja Ajatasattu dari Magadha. Kecuali, dengan diplomasi atau memecahkan persatuan mereka. Baiklah Gotama, perkenankanlah kami mohon diri, karena masih banyak tugas yang harus kami laksanakan.”

“Silakan, Brahmana,” jawab Sang Buddha. Brahmana Vassakara bangkit dari duduknya, dan dengan hati yang gembira ia menyatakan setuju dengan pendapat Sang Buddha. Kemudian Brahmana Vassakara setelah menghormat kepada Sang Buddha, lalu mohon diri.

KESEJAHTERAAN PARA BHIKKHU

6. Setelah Brahmana Vassakara meninggalkan Sang Buddha, lalu Sang Buddha berkata kepada Ananda ; “Ananda, segera kumpulkan para bhikkhu yang ada di Rajagaha di ruangan Dhammasala ini.””Baiklah, Bhante,” jawab Ananda. Setalah itu Ananda melaksanakan perintah Sang Buddha. Setalah para bhikkhu yang ada di Rajagaha berkumpul semua, Ananda menghadap Sang Buddha.

“Bhante, para bhikkhu telah berkumpul. Kami persilakan Bhante untuk memberikan pembinaan dan bimbingan kepada mereka.”

Setelah itu, Sang Buddha menuju ke ruangan Dhammasala dan duduk di tempat duduk yang telah disediakan. Sang Buddha kemudian berkata kepada para bhikkhu : “Dengarlah dan perhatikan dengan sekasama, para bhikkhu tentang tujuh syarat yang harus dihayati dan diamalkan untuk mendapat kesejahteraan hidup.”

“Silakan, Bhante,” jawab para bhikkhu.

“Para bhikkhu, kami selalu mengharapkan perkembangan dan kemajuan para bhikkhu, bukan kemundurannya. Perkembangan kemajuan akan tercapai, jika kalian dapat menghayati dan mengamalkan ketujuh syarat untuk mencapai kesejahteraan sebagai berikut :

Hendaknya kalian, para bhikkhu yang telah berjumlah besar ini terus berkumpul dan bermusyawarah untuk mencapai mufakat.
Di dalam pertemuan-pertemuan, para bhikkhu hendaknya selalu menganjurkan persatuan dan perdamaian.
Hendaknya para bhikkhu tidak menetapkan aturan-aturan baru dan tidak menghapuskan yang telah ada. Hendaknya mereka berbuat sesuai dengan peraturan disiplin (vinaya) yang telah ada.
Hendaknya mereka selamanya menghormati dan menghargai dan berbakti kepada para bhikkhu yang lebih tua, terhadap yang lebih lama ada dan berpengalaman, para pendiri dan para pemimpin dan menganggap hal ini sebagai suatu perbuatan yang sangat berharga dan bermanfaat kalau memuliakan mereka.
Hendaknya mereka jangan sampai terikat dengan pamrih hal mana dapat membawa mereka untuk tumimbal lahir kembali.
Hendaknya mereka menyenangi hutan sebagai tempat tinggal yang tenang.
Hendaknya mereka mengembangkan pikiran bahwa orang-orang baik di antara para teman akan mendatangi dan mereka yang akan datang akan hidup dengan tenang.
Bilamana tujuh syarat ini telah diamalkan, maka kesejahteraan akan dicapai oleh bhikkhu, lebih-lebih jika para bhikkhu benar-benar telah menghayati dan memahaminya, maka perkembangan dan kemajuan para bhikkhu yang kita harapkan bukan kemundurannya.7. Tujuh syarat yang lebih lanjut untuk dapat mencapai kesejahteraan, akan kami jelaskan, perhatikan dan dengarkan dengan seksama.

“Baiklah Bhante,” jawab para bhikkhu.

“Perkembangan dan kemajuan para bhikkhu yang kita harapkan, bukan kemundurannya selama para bhikkhu :

Tidak senang dalam kegiatan keduaniawian,
Tidak menyukai percakapan yang tak berguna,
Tidak malas dan senang tidur
Tidak melibatkan diri pada masalah sosial (pesta, politik dan sebagainya),
Tidak terikat pada sang aku dan tidak berpamrih yang jahat,
Tidak bersahabat dengan orang yang jahat,
Tidak berhenti berusaha atau berjuang karena sikap mental yang terlalu memperhitungkan hasil dan keuntungan-keuntungan yang tidak berarti.
Selama para bhikkhu melaksanakan ketujuh syarat ini dan para bhikkhu benar-benar memahaminya, maka perkembangan dan kemajuan para bhikkhu yang kami harapkan, bukan kemundurannya.8. “Tujuh syarat selanjutnya yang dapat mengantarkan kalian memasuki kehidupan yang sejahtera, akan kami utarakan. Dengarkanlah dan perhatikanlah dengan seksama apa yang akan kuucapkan.”

“Silakan, Bhante,” jawab para bhikkhu.

TUJUH SIFAT BAIK

“Perkembangan dan kemajuan para bhikkhu yang kami harapkan, bukan kemundurannya. Para bhikkhu akan selamanya mengalami perkembangan dan kemajuan bilamana para bhikkhu memiliki :

keyakinan (saddha)
rasa malu melakukan perbuatan salah (hiri)
takut akan akibat perbuatan salah (ottapa)
banyak pengetahuan (bahussuta)
keteguhan bathin (araddha)
perhatian yang kuat (upatthiha-sati)
kebijaksanaan (panna)
Ketujuh syarat yang menuju kesejahteraan ini, bilamana para bhikkhu dapat memahami dan menghayati serta mengamalkannya, maka perkembangan dan kemajuan mereka yang kita harapkan, bukan kemundurannya.9. Ketujuh syarat selanjutnya yang menuju kesejahteraan, akan kami utarakan kepada kalian. Dengarkan dan perhatikanlah dengan seksama.”

“Silakan, Bhante,” jawab para bhikkhu.

TUJUH FAKTOR PENERANGAN SEJATI

“Perkembangan dan kemajuan para bhikkhu yang seharusnya kami harapkan, bukan kemundurannya, bilamana para bhikkhu dapat menghayati dan mengamalkan faktor Penerangan Sejati yaitu :

perhatian (sati)
menyelidiki dhamma (dhammavicaya)
bersemangat (viriya)
kegiuran dalam meditasi (piti)
ketenangan (passaddhi)
meditasi (samadhi)
keseimbangan bathin (upekkha)
Bilamana ketujuh syarat yang menuju kesejahteraan itu dapat dipahami, dihayati dan diamalkan oleh para bhikkhu, maka perkembangan dan kemajuan mereka yang kita harapkan, bukan kemundurannya.”10. Tujuh syarat selanjutnya yang menuju kesejahteraan akan kami utarakan kepada kalian, para bhikkhu. Dengarkan dan perhatikan dengan seksama.”

“Baiklah, Bhante,” jawab para bhikkhu.

TUJUH PENCERAPAN

“Perkembangan dan kemajuan para bhikkhu yang kita harapkan, bukan kemundurannya, selama para bhikkhu :

memiliki pengertian tentang ketidakkekalan (anicca sanna)
mengembangkan pengertian tentang ketanpa-akuan (anatta sanna)
mengembangkan pengertian tentang ketidak-indahan tubuh (asubha sanna)
mengembangkan pelenyapan pandangan salah (adinava sanna)
mengembangkan pelenyapan kotoran batin (pahana sanna)
mengembangkan pelenyapan nafsu (viraga sanna)
mengembangkan penghentian dukkha (nirodha)
Bilamana para bhikkhu benar-benar memahami dan menghayati serta mengamalkan ketujuh syarat untuk menuju kesejahteraan ini, maka perkembangan para bhikkhu yang kita harapkan, bukan kemundurannya.”11. Enam syarat selanjutnya yang menuju kesejahteraan akan kami utarakan kepada kalian. Dengarkan dan perhatikanlah dengan seksama.”

“Silakan Bhante,” jawab para bhikkhu.

ENAM SYARAT YANG HARUS DIINGAT

“Perkembangan para bhikkhu yang harus kita harapkan, bukan kemunduran, selama para bhikkhu :

Dalam pergaulan para bhikkhu saling mengasihi dan menyayangi dengan perbuatan.
Ucapan.
Pikiran, dalam hal pribadi maupun umum.
Membagi dengan adil segala sesuatu yang mereka terima sesuai dengan peraturan sangha walaupun itu berupa isi dari “patta” (tanpa makan).
Melaksanakan kehidupan suci secara pribadi maupun di tempat umum, dengan sila yang tidak dilanggar, utuh, tak ternoda, dan tak tercela adalah menghasilkan kebebasan, dipuja oleh para bijaksana yang tak ternoda oleh nafsu keinginan untuk terlahir kembali dan pandangan-pandangan salah.
Hidup diantara para orang suci (ariya), secara pribadi atau umum mengembangkan pandangan benar untuk melenyapkan “penderitaan” (dukkha).
Selama keenam syarat ini selalu ada pada para bhikkhu, selama mereka melaksanakan keenam syarat ini, maka perkembangan para bhikkhu yang diharapkan, bukan kemunduran.”

NASEHAT KEPADA PARA BHIKKHU

12. Ketika Sang Bhagava berada di puncak Gijjhakuta, Rajagaha, Beliau sering memberi nasehat kepada para bhikkhu : “Ini adalah kebajikan moral (sila), ini adalah meditasi (samadhi), dan ini adalah kebijaksanaan (panna). Besar sekali pahala dan kemajuan bila meditasi dikembangkan berdasarkan sila yang baik. Besar sekali pahala dan kemajuan bila kebijaksanaan (panna) dikembangkan berdasarkan pada meditasi (samadhi) yang baik. Batin yang dikembangkan berdasarkan pada kebijaksanaan yang baik akan bebas dari kotoran batin seperti nafsu indria (kamasava), nafsu untuk “menjadi” (bhavasava) dan pandangan salah (ditthasava).”13. Pada waktu Sang Bhagava berdiam di Rajagaha dekat Suttamartha, Beliau berkata kepada Ananda : “Ananda, marilah kita pergi ke Ambalathika.” “Baiklah bhante,”
demikianlah Sang Bhagava berdiam di Ambalathika, bersama-sama dengan sejumlah besar para bhikkhu.

Di Ambalathika, Sang Bhagava menginap di pesanggrahan raja, di tempat itu Sang Bhagava sering memberikan nasehat kepada para bhikkhu : “Ini adalah kebajikan moral (sila), ini adalah meditasi (samadhi), dan ini adalah kebijaksanaan (panna). Besar sekali pahala dan kemajuan bila meditasi dikembangkan berdasarkan pada sila yang baik. Besar sekali pahala dan kemajuan bila kebijaksanaan (panna) dikembangkan berdasarkan pada meditasi (samadhi) yang baik. Batin yang dikembangkan pada kebijaksanaan yang baik akan bebas dari kotoran batin seperti nafsu indria (kamasava), nafsu untuk “menjadi” (bhavasava) dan pandangan salah (ditthasava).”

15. Setelah Sang Bhagava merasa sudah cukup lama berdiam di Ambalathika, maka Beliau berkata : “Ananda, marilah kita pergi ke Nalanda.”
“Baiklah, Bhante,” jawab Ananda.

Demikianlah Sang Bhagava tinggal di Nalanda bersama sejumlah besar para bhikkhu, kemudian berdiam di Pavarikambavana.

RAUNGAN SINGA SARIPUTTA

16. Ketika Sariputta menghadap Sang Bhagava, dengan hormat Beliau lalu duduk di hadapan Sang Bhagava dan kemudian Beliau berkata kepada Sang Bhagava : “Keyakinan kami terhadap Sang Bhagava, sungguh tak ada bandingannya. Belum pernah kami menjumpai baik dulu maupun sekarang ini ada seorang brahmana atau orang lain yang lebih terpercaya dalam Penerangan Sempurna dibandingkan dengan Bhagava sendiri.””Sungguh mulia dan terpuji ucapanmu itu, Sariputta. Ucapanmu yang demikian lantang itu bagaikan raungan singa. Tetapi bagaimanakah hubungan ini, Sariputta? Apakah kamu mempunyai pengetahuan yang langsung tentang para Bhagava dan para Arahat di masa yang lampau, mengenai bagaimana moral (sila), dhamma, kebijaksanaan (panna) mereka, dan bagaimana membebaskan diri?”

“Hal itu kami tidak ketahui, Bhante.”

“Sariputta, dalam hubungan ini, apakah kamu mempunyai pengetahuan langsung tentang semua Bhagava dan para Arahat, di masa yang akan datang mengenai bagaimana moral (sila), dhamma dan kebijaksanaan (panna) mereka, bagaimana mereka membebaskan diri?”

“Hal itu kami tidak ketahui, Bhante.”

“Sariputta, bagaimanakah tentang diriku sendiri yang sekarang adalah seorang Arahat Samma Sambuddha, apakah kamu mempunyai pengetahuan langsung mengenai bagaimana aku melangsungkan hidupku, bagaimana aku membebaskan diriku?”

“Hal itu tidak kami ketahui, Bhante.”

“Sariputta, maka jelaslah bahwa sesungguhnya kamu tidak memiliki pengetahuan langsung mengenai para Arahat Samma Sambuddha baik di waktu lampau, yang akan datang maupun di waktu sekarang ini. Lalu bagaimana kamu berani mengutarakan ucapan yang sedemikian mulia dan terpuji seperti ucapanmu yang demikian lantang bagaikan suara raungan singa mengatakan : “Keyakinan kami terhadap Sang Bhagava adalah tidak ada bandingannya, tak pernah kami menjumpai baik dahulu maupun sekarang ini, ada seorang brahmana atau orang lain yang lebih terpuji dalam kesempurnaan dibandingkan dengan yang mulia sendiri.”

17. “Bhante, kami sebenarnya tidak mempunyai pengetahuan langsung seperti itu, mengenai para Arahat Samma Sambuddha baik dari waktu yang lampau, yang akan datang maupun di masa sekarang. Akan tetapi meskipun demikian, kami sekarang menyadari akan sifat Dhamma yang penuh sifat keadilan itu. Sebagai suatu perumpamaan, ada sebuah benteng perbatasan di sebuah kerajaan yang dijaga dengan ketat sekali. Kubu-kubu dengan menaranya yang menjulang tinggi yang mempunyai hanya sebuah pintu gerbang saja. Di sana ada seorang penjaga pintu yang cerdas berpengalaman, bersifat sangat hati-hati dan waspada. Ia akan mengusir orang-orang asing, tetapi mengijinkan orang baik-baik yang dikenalnya untuk masuk. Pada suatu hari ketika ia memeriksa jalan yang mengelilingi seluruh perbentengan itu, ia tidak melihat adanya sebuah lubang atau celah-celah di dinding perbentengan, yang cukup dilalui oleh seekor kucing. Sehubungan dengan ini maka tiba-tiba ia berkesimpulan : “Mahluk hidup yang besar maupun kecil bentuknya akan masuk dan akan meninggalkan kota ini, mau tak mau harus berjalan melalui pintu ini.”
Demikian saya telah menyatakan sesuai dengan dhamma.

“Oleh karena, para Arahat Samma Sambuddha dari waktu yang lampau, semua Bhagava telah meninggalkan kelima rintangan kekotoran batin dan memperoleh kesadaran. Mereka menunjukkan perhatian pada keempat Dasar Kesadaran dan mengembangkan ketujuh faktor Penerangan Sejati dengan seksama sehingga mencapai kesempurnaan sepenuhnya, dalam penerangan sejati yang tak ada bandingannya.

“Demikian pula para Arahat Samma Sambuddha pada waktu yang akan datang, akan meninggalkan kelima rintangan kekotoran batin yang memperlemah pandangan terangnya, akan menunjukkan perhatian mereka pada keempat dasar Kesadaran dan akan mengembangkan ketujuh faktor penerangan sejati dengan seksama, dan dengan sepenuhnya akan menjadi sempurna dalam penerangan sejati yang tiada bandingannya.

“Bhante sendiri, yang menjadi Arahat Samma Sambuddha, yang telah meninggalkan kelima rintangan kekotoran batin yang dapat memperlemah pandangan terang, yang telah mahir dalam keempat dasar kesadaran dan yang melaksanakan ketujuh faktor penerangan sejati dengan seksama dan menjadi sempurna sepenuhnya, dalam penerangan sejati yang tiada bandingnya.”

18. Begitu pula ketika Sang Bhagava berada di Pavarikambavana, Nalanda, Beliau sering memberi nasehat kepada para bhikkhu : “Ini adalah kebajikan (moral), ini adalah meditasi (samadhi), dan ini adalah kebijaksanaan (panna). Besar sekali pahala dan kemajuan bila meditasi dikembangkan berdasarkan pada sila yang baik. Besar sekali pahala dan kemajuan bila kebijaksanaan (panna) dikembangkan berdasarkan pada meditasi (samadhi) yang baik. Batin yang dikembangkan berdasarkan pada kebijaksanaan yang baik akan bebas dari kotoran batin seperti nafsu indria (kamasava), nafsu untuk “menjadi” (bhavasava) dan pandangan salah (ditthasava).”

19. Setelah Sang Bhagava tinggal di Nalanda, Beliau lalu bersabda kepada Ananda : “Ananda, marilah kita ke Pataligama.”

“Baiklah, Bhante,” jawab Ananda. Demikianlah Sang Bhagava tinggal di Pataligama bersama sejumlah besar bhikkhu.

20. Kemudian para umat beragama Pataligama berkunjung menghadap Sang Buddha : “Kami telah mendengar bahwa Bhante telah tiba di Pataligama.”
Kemudian mereka mendekati Sang Bhagava sambil bersujud kepada Beliau dengan hikmad. Kemudian duduk pada salah satu sisi. Lalu mereka berkata kepada Sang Bhagava : “Bhante, dapatkah Bhante mengunjungi kami di ruangan dhammasala?” Sang Bhagava bersikap diam. Dengan sikap diam ini berarti Sang Bhagava menyetujui.

21. Mengetahui bahwa Sang Bhagava telah setuju, para utusan dari Pataligama bangkit dari tempat mereka, memberi hormat dengan penuh hikmad dan mereka mengundurkan diri. Mereka mempersiapkan segala sesuatu di ruangan Dhammasala, menutupi seluruh lantainya, menyediakan tempat duduk, dan menempatkan sebuah lampu. Sesudah semuanya selesai dipersiapkan, mereka kembali menghadap Sang Bhagava, memberi hormat dengan penuh hikmad dan duduk pada salah satu sisi sambil berkata : “Bhante, ruangan dhammasala dengan lantainya telah ditutupi, dan tempat-tempat duduk telah disiapkan demikian pula sebuah lampu minyak telah disiapkan. Sekarang kami persilakan Bhante untuk menentukan waktu sebagaimana mestinya.”

22. Sang Bhagava lalu mempersiapkan diri, sambil membawa patta dan jubah menuju ke ruangan sidang bersama-sama dengan para bhikkhu. Sesudah mencuci kakinya Sang Bhagava masuk ke ruang Dhammasala dan duduk dekat tiang di tengah-tengah menghadap ke timur. Para bhikkhu sesudah mencuci kaki, juga memasuki ruangan Dhammasala dan duduk dekat dinding sebelah barat, menghadap ke timur, sehingga dengan demikian Sang Bhagava berada di depan mereka. Dan utusan dari Pataligama sesudah mencuci kaki, mereka memasuki ruang Dhammasala lalu duduk dekat dinding sebelah timur menghadap ke barat, sehingga Sang Bhagava berhadapan dengan mereka.

HASIL DARI KEHIDUPAN-KEHIDUPAN YANG TIDAK SUSILA DAN YANG SUSILA

23. Setelah itu, Sang Bhagava bersabda kepada para utusan dari Pataligama sebagai berikut :
“Wahai saudara-saudara yang berkeluarga, orang-orang yang tidak susila dan karena merosotnya moral orang-orang itu maka mereka akan menjumpai lima bahaya :

Kehilangan sebagian besar kekayaan, karena sifat mereka yang acuh tak acuh
Perbuatan mereka yang tidak baik
Perbuatan mereka yang memalukan dan menyusahkan setiap warga masyarakat, apakah mereka itu sebagai bhikkhu, pendeta, berkeluarga atau pertapa
Mereka akan meninggal dunia dalam kebingungan
Pada saat kehancuran tubuh mereka setelah kematian, mereka akan terlahir kembali dalam alam penderitaan, keadaan yang tidak bahagia, alam terbawah, alam neraka.
24. Saudara-saudara berkeluarga, bagi orang yang melaksanakan sila (kebajikan moral), akan mendapat pahala dan kekayaannya akan bertambah besar. Orang yang rajin mengerjakan apa yang harus dikerjakannya, berkelakuan baik dan mempunyai keyakinan yang kuat, tidak berbuat hal-hal yang memalukan dalam masyarakat, apakah mereka dari golongan para kesatria, para brahmana, para orang berkeluarga ataupun para pertapa, jika mereka meninggal, mereka akan meninggal dengan tenang dan pada saat kehancuran tubuh mereka setelah kematian, mereka akan terlahir kembali dalam keadaan bahagia di alam surga (suggati)25. Sang Bhagava telah menggunakan banyak waktu untuk memberi pengertian kepada utusan dari Pataligama itu mengenai dhamma, membangkitkan, menunjukkan dan menggembirakan hati mereka dengan dhamma. Sesudah itu Beliau berpisah dengan mereka sambil berkata : “Wahai saudara-saudara berkeluarga, hari telah larut malam, sebaiknya kita akhiri pertemuan kita sampai di sini.”

Demikianlah sabda yang mulia Sang Buddha. Utusan dari Pataligama itu lalu bangkit dari tempat mereka, bersujud dengan penuh hikmad kepada Sang Bhagava, mereka lalu mengundurkan diri dan meninggalkan ruangan Dhammasala. Sang Bhagava sesudah kepergian mereka itu segera mengundurkan diri ke tempat yang sunyi.

26. Pada saat itu, Sunidha dan Vassakara, Patih Magadha, sedang membangun sebuah perbentengan di Pataligama, pertahanan untuk melawan suku Vajji. Mereka mengundang para dewa dalam jumlah yang besar, sampai beribu-ribu banyaknya. Mereka berada di lapangan di Pataligama. Di daerah para dewa kekuasaan besar, dengan para pekerjanya yang mempunyai kekuatan yang besar pula, sibuk membangun pertahanan.

Demikian pula para dewa yang kekuasaan sedang maupun yang kecil keunggulan serta para pekerja yang sedang dan yang lebih kecil kekuatannya juga sibuk dalam membangun pertahanan.

27. Sang Bhagava memandang dengan mata batin (dibbacakkhu) yang suci, melihat rakyat dan para dewa yang ribuan jumlahnya yang berada di lapangan kerja masing-masing di Pataligama. Demikianlah setelah Sang Bhagava bangun waktu pagi menjelang subuh, beliau berkata kepada Ananda : “Ananda, siapakah mereka itu yang sedang membangun sebuah kota di Pataligama?”

“Bhante, Sunidha dan Vassakara, patih Magadha. Mereka sedang membangun sebuah perbentengan di Pataligama sebagai pertahanan untuk menghadapi suku Vajji.”

28. “Ananda, demikianlah Sunidha yang kamu saksikan serta Vassakara yang meminta nasihat kepada para dewa Tavatimsa. Dengan penglihatan batinKu nampaklah olehKu ribuan dewa mendirikan bangunan di Pataligama. Di daerah di mana para dewa dengan kekuasaan yang maha besar, serta para pekerja dengan kekuatan yang maha besar pula, sibuk dalam membangun bangunan-bangunan. Demikian pula para dewa dengan kekuasaan yang sedang dan kecil serta para pekerja dengan kekuatan sedang dan kecil sibuk pula membangun bangunan-bangunan. Ananda, sebenarnya selama suku Ariya meluas, menyebabkan perdagangan berkembang, hal ini menyebabkan kota Pataliputta menjadi pusat perdagangan yang terkenal. Tetapi Pataliputta akan ditimpa tiga bahaya, yaitu : api, air dan perpecahan.”

29. Pada suatu hari, Sunidha dan Vassakara menghadap Sang Bhagava, sesudah memberi hormat kepada Sang Bhagava, mereka berdiri pada satu sisi dan berkata pada Sang Bhagava : “Kami menghadap sudilah kiranya Yang Mulia Gotama menerima undangan kami untuk santap besok pagi, bersama-sama dengan para bhikkhu. Sang Buddha diam, sebagi tanda Beliau menyetujuinya.

30. Mengetahui bahwa Sang Bhagava setuju, Sunidha dan Vassakara menundurkan diri. Mereka menyuruh memilih makanan, keras dan lunak untuk disiapkan. Ketika waktunya telah tiba, mereka memberitahukan kepada Sang Bhagava, “Waktunya telah tiba, Yang Mulia Gotama, hidangan telah siap.”

Karena itu, Sang Bhagava mempersiapkan diri sebelum tengah hari dan sambil membawa patta serta jubah, pergi bersama-sama dengan para bhikkhu ke tempat tinggal Sunidha dan Vassakara. Beliau mengambil tempat duduk yang telah disediakan. Sunidha serta Vassakara sendiri mempersilakan para bhikkhu, yang dipimpin oleh Sang Buddha. Mereka menghidangkan hidangan pilihan, keras dan lunak. Ketika Sang Bhagava selesai makan dan telah menaruh mangkoknya, maka para hadirin lalu mengambil tempat duduk yang rendah dan duduk pada tempat yang telah disediakan.

31. Demikianlah, Sang Bhagava mengutarakan rasa terima kasihnya dengan syair sebagai berikut :

“Di manapun ia berdiam, seorang yang bijaksana selalu melaksanakan kesucian serta kebajikan, dengan sikapnya ini ia membuat berkah jasanya telah mengikutsertakan para dewa setempat dan dengan penghormatan mereka yang meriah, sebaiknya mereka memberi anugrah dengan berkah dengan rahmat dan cinta kasih bagaikan seorang ibu bersikap terhadap putranya sendiri yang tunggal, demikianlah mereka menikmati rahmat para dewa dan ia mendapat banyak keberuntungan.” Kemudian, setelah Sang Bhagava mengucapkan terima kasih dengan syair tersebut kepada kedua patih Magadha, Sunidha dan Vassakara, Beliau bangkit dari tempat dudukNya dan meninggalkan tempat.32. Mereka mengikuti Sang Bhagava dengan berkata : “Gerbang yang akan dilalui oleh Samana Gotama pada hari ini akan dinamakan ‘Gerbang Gotama’, dan perahu yang akan digunakan oleh Beliau untuk menyeberangi Sungai Gangga akan dinamakan ‘Perahu Gotama’.”

33. Tetapi ketika Sang Bhagava tiba di tepi sungai, air sungai Gangga sedang meluap, dan karena ingin menyeberang ada beberapa orang yang sibuk mencari perahu, ada yang membuat rakit dari kayu dan ada yang membuat rakit dari bahan pembuat keranjang; selagi Beliau melihat mereka, pada saat itu Beliau menyatakan syair berikut ini :

“Mereka yang telah menyeberangi lautan kesuraman membuat jalan yang keras melintasi air. Ini adalah cara bijaksana, mereka selamat. Sedangkan mereka yang gagal, mengikat rakit penyeberang pada dunia.”

BAB II
1. Dikisahkan pada suatu hari Sang Bhagava berbicara dengan Ananda demikian.
“Ananda, marilah kita menuju ke Kotigama.”

“Baiklah bhante,” jawab Ananda. Demikianlah Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu tinggal di Kotigama.

EMPAT KESUNYATAAN YANG MULIA

2. Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu, demikian:
“Penderitaan itu disebabkan oleh ketidaksadaran. Oleh karena tidak mampu menembus ke Empat Kesunyataan Mulia itu, menyebabkan perjalanan ini menjadi sangat lama, yang merupakan kelahiran dan kematian silih berganti seperti yang dialami olehku dan juga olehmu. Apakah keempat hal itu? Hal itu adalah Kesunyataan Mulia mengenai Penderitaan, Kesunyataan Mulia tentang asal Mula Penderitaan, Kesunyataan Mulia tentang lenyapnya Penderitaan dan Kesunyataan Mulia tentang jalan yang menuju pada lenyapnya Penderitaan.

Tetapi sekarang, jika semua ini telah diamalkan dan telah ditembus, juga keinginan untuk tumimbal lahir telah diputuskan maka berhentilah segala sesuatu yang menuju pada pembentukan kembali segala sesuatu dan tidak akan ada kelahiran baru lagi.”

3. Demikianlah yang dikatakan oleh Sang Bhagava, selanjutnya berkata: “Oleh karena tidak mengerti akan Empat Kesunyataan Mulia itu, maka akan menjadi panjanglah jalan yang menjemukan, yang merupakan rangkaian tumimbal lahir yang terus menerus. Apabila kesemuanya ini disadari, maka diketahuilah sebab musabab dari kelahiran kembali itu. Penderitaan akan dapat diatasi, maka berakhirlah kelahiran kembali.”

4. Begitu pula, di Kotigama Sang Bhagava sering memberi nasehat kepada para bhikkhu: “Ini adalah kebajikan moral (sila), ini adalah meditasi (samadhi) dan ini adalah kebijaksanaan (panna). Besar sekali pahala dan kemajuan bila meditasi dikembangkan berdasarkan pada sila yang baik. Besar sekali pahala dan kemajuan bila kebijaksanaan dikembangkan berdasarkan pada meditasi (samadhi) yang baik. Batin yang dikembangkan berdasarkan pada kebijaksanaan yang baik akan bebas dari kotoran batin seperti nafsu indria (kamasava), nafsu untuk ‘menjadi’ (bhavasava) dan pandangan salah (ditthasava).”

5. Setelah Sang Bhagava tinggal agak lama di Kotigama, beliau berkata kepada Ananda: “Ananda, marilah kita ke Nadika.” “Baiklah, bhante,” jawab Ananda. Demikianlah Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu pergi ke Nadika dan tinggal di Ginjakavasathe.

EMPAT PENCAPAIAN YANG ISTIMEWA

6. Kemudian Ananda mendekati Sang Bhagava dan setelah memberi hormat, duduk pada salah satu sisi. Kemudian Ananda berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, di Nadika ini bhikkhu Salha dan bhikkhu Nanda telah meninggal. Juga yang telah meninggal adalah upasaka Sudatta, upasika Sujata serta beberapa upasaka lain yaitu Kakhuda, Kalinga, Nikata, Katissabha, Tuttho, Santuttha, Bhadda dan Subhadda. Bagaimanakah nasib mereka? Bagaimanakah keadaan tumimbal lahir mereka?”

7. “Ananda, mengenai bhikkhu Salha, ia dengan melenyapkan kekotoran-kekotoran bathinnya selama hidupnya itu, maka ia telah memperoleh kebebasan batiniah dari noda, telah mendapatkan kebebasan melalui kebijaksanaan, dan hal itu telah dipahami dan disadarinya sendiri.

Mengenai bhikkhu Nanda, dengan menghancurkan lima belenggu yang lebih rendah (belenggu yang mengikat mahluk-mahluk di alam nafsu), dan menghancurkan keinginan untuk hidup di alam yang bermateri halus (alam dewa), ia telah mencapai perhentian yang terakhir dalam kehidupan yang sekarang ini dan tak akan kembali lagi di dunia ini. Mengenai upasaka Sudatta, ia telah menghancurkan tiga belenggu (pandangan salah adanya aku, keragu-raguan dan kepercayaan tentang upacara-upacara adalah dapat menyelamatkan), mengurangi hawa nafsu dan kebencian, telah menjadi seorang yang hanya dilahirkan sekali lagi; untuk mengakhiri penderitaannya, ia akan dilahirkan kembali sekali lagi di dunia ini.

Mengenai upasika Sujata, dengan menghancurkan Tiga Belenggu, ia telah mencapai tingkat Sotapanna, dan telah bebas dari bahaya jatuh ke dalam keadaan yang buruk, telah terjamin dan siap untuk mencapai kesempurnaan.

Mengenai upasaka Kakhuda, dengan menghancurkan lima belenggu yang rendah (yang mengikat mahluk-mahluk di alam nafsu) dan telah menghancurkan keinginan untuk hidup di alam dewa (kama loka), tidak terlahir kembali di dunia ini dan pasti akan mencapai nibbana.

Demikian pula halnya dengan Kalingga, Nikata, Katissabha, Tuttho, Santuttha, Bhadda dan Subhadda, beserta lebih dari lima puluh orang di Nadika. Lebih dari sembilan puluh orang telah wafat di Nadika, dengan menghancurkan Ketiga Belenggu dan pengurangan hawa nafsu, kebencian dan khayalan, telah menjadi seorang yang akan Dilahirkan Sekali lagi (Sakadagami) dan telah siap mencapai akhir dari penderitaannya dalam kelahirannya kembali yang sekali lagi di dunia ini. Lebih dari lima ratus orang yang telah wafat di Nadika, dengan melenyapkan tiga belenggu, mereka adalah para sotapanna dan telah bebas dari kelahiran kembali di alam penderitaan, yang pasti akan mencapai penerangan sempurna (bodhi).”

CERMIN KEBENARAN

8. “Ananda, tetapi sebenarnya tidaklah mengherankan apabila mahluk hidup akhirnya harus mati. Tetapi apabila ini terjadi pada setiap saat kamu harus datang pada Tathagata dan menanyakan soal itu maka dengan cara ini akan mengganggu Tathagata. Oleh karena itu, kami akan memberi pelajaran kepadamu yang dinamakan ‘cermin Kebenaran’ dengan memilikinya seorang siswa Ariya, apabila ia memang menghendakinya ia dapat menyatakan: ‘Neraka bagiku tak ada lagi, tidak ada lagi kelahiran kembali sebagai binatang, atau setan ataupun dalam suatu alam yang celaka. Kami adalah Sotapanna, telah terhindar dari malapetaka dari keadaan yang buruk, terjaminlah kami, dan siap untuk mencapai kesernpurnaan.’

9. Selanjutnya, apakah pelajaran yang dinamai ‘Cermin Kebenaran’ yang dimiliki seorang siswa ariya dan ia dapat menyatakan dirinya seperti itu? Ananda, dalam hal ini siswa ariya memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap Sang Buddha akan berkata: ‘Demikianlah Sang Bhagava, yang maha suci, yang telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak-tanduknya, sempurna menempuh jalan (ke nibbana), pengenal segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar dan yang patut dimuliakan.’ Mereka memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan terhadap Dhamma, akan berkata: ‘Dhamma Sang Bhagava telah sempurna dibabarkan, berada sangat dekat, tak lapuk oleh waktu, mengundang untuk dibuktikan, menuntun ke dalam batin, dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing. Mereka memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan kepada Sangha, akan berkata: ‘Sangha siswa Sang Bhagava telah bertindak baik, lurus, benar dan pantas. Mereka empat pasang mahluk, terdiri dari delapan jenis mahluk suci, itulah Sangha siswa Sang Bhagava. Patut menerima pemberian, tempat bernaung, persembahan serta penghormatan. Lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya di alam semesta.’ Siswa ariya yang memiliki moral kebajikan (sila) yang disukai oleh para bijaksana, karena sila tidak dilanggar, utuh, tak ternoda, bersih; sila yang dipuji oleh para bijaksana; sila yang menyebabkan orang itu bebas dan tak dinodai oleh keinginan untuk kehidupan yang akan datang atau oleh kepercayaan pada kenikmatan phisik, tetapi sila yang mengarah pada meditasi.

Ananda, uraian ini dinamai “Cermin Kebenaran” yang dapat dipakai sebagai cermin oleh seorang siswa untuk dapat mawas diri: ‘Neraka tidak ada lagi bagiku, tidak akan ada kelahiran kembali sebagai binatang, sebagai setan, atau dalam suatu alam yang celaka.

Kami adalah menempuh Jalan Mulia (Sotapanna), telah terhindar dari bencana, dari keadaan yang buruk, terlindunglah kami, dan telah siap untuk mencapai kesempurnaan.’

10. Juga di Ginjakasavatha, Nadika, Sang Bhagava memberi nasihat kepada para bhikkhu: “Ini adalah kebajikan moral (sila), ini adalah meditasi (samadhi) dan ini adalah kebijaksanaan (panna). Besar sekali pahala dan kemajuan bila meditasi dikembangkan berdasarkan pada sila yang baik. Besar sekali pahala dan kemajuan bila kebijaksanaan dikembangkan berdasarkan pada meditasi (samadhi) yang baik. Batin yang dikembangkan berdasarkan pada kebijaksanaan yang baik akan bebas dari kotoran batin seperti nafsu indria (kamasava), nafsu untuk ‘menjadi’ (bhavasava) dan pandangan salah (ditthasava).”

11. Setelah Sang Bhagava lama tinggal di Nadika beliau berkata kepada Ananda: “Ananda, marilah kita menuju ke Vesali.”

“Baiklah, bhante,” jawab Ananda.

Demikianlah, Sang Bhagava dengan sejumlah besar para bhikkhu pergi ke Vesali dan tinggal di Ambapalivana.

PERHATIAN YANG BENAR DAN PENGERTIAN YANG BENAR

12. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Dengan penuh perhatian (sati) hendaknya merenung dengan pengertian yang benar (sampajana) semua nasihat kami kepada kamu sekalian.

Para bhikkhu, bagaimana caranya seorang bhikkhu mengembangkan perhatian (sati)?

Apabila ia merenungkan badan jasmani (kaya) sendiri dengan sungguh-sungguh, dengan pengertian benar dan sadar, ia akan dapat mengatasi keinginan duniawi, ketidaksenangan dan penderitaan batin. Atau apabila ia merenungkan segala bentuk perasaan (vedana), pikiran (citta) atau obyek-obyek pikiran (dhamma), dengan sungguh-sungguh, dengan pengertian yang benar dan sadar ia akan dapat mengatasi keinginan duniawi, ketidak-senangan dan penderitaan batin, maka ia disebut sebagai seorang yang memiliki perhatian (sati).

13. Para bhikkhu, bagaimana seorang bhikkhu dikatakan memiliki pengertian yang benar? Apabila ia menyadari timbul dan lenyapnya gerak-gerik badannya, waktu ia membungkukkan dan merenggangkan badannya, ia sadari waktu menggunakan jubahnya dan membawa mangkoknya, waktu bersantap dan minum, waktu mengunyah, waktu mengecap, waktu membuang air besar dan kecil, waktu berjalan, waktu berdiri, duduk, berbaring, tidur maupun waktu bangun, pada waktu ia berkata-kata atau pada waktu diam maka dengan sikapnya yang demikian ia dikatakan memiliki pengertian yang benar (sampajana).

Dengan penuh pengertian, seharusnya hal ini direnungkan dengan pengertian yang benar. Inilah nasihat kami kepada pada bhikkhu semuanya.”

AMBAPALI DAN ORANG-ORANG LICCHAVI

14. Ketika Ambapali, seorang selir bangsawan, mendengar bahwa Sang Bhagava telah tiba di Vesali dan beliau tinggal di kebun mangganya, ia menyuruh para pembantunya untuk mempersiapkan sejumlah kereta yang mewah, sebuah kereta untuknya dan yang lain untuk para pembantu agar mengikutinya pergi ke kebun mangganya.

Mereka berkereta sejauh jalan yang dapat dilalui kereta. Kemudian mereka turun dan berjalan mendekati Sang Bhagava, sambil memberi hormat dengan hidmatnya, kemudian duduk pada salah satu sisi. Setelah itu Sang Bhagava mengajarkan kepada Ambapali ajaran Dhamma yang dapat menyadarkan, menyenangkan dan menggembirakan hatinya.

Sesudah itu, maka Ambapali itu berkata kepada Sang Bhagava: “Dapatkah kiranya yang mulia menerima undangan kami untuk santap esok pagi bersama-sama dengan para bhikkhu?”

Dengan sikapnya yang diam, berarti bahwa Sang Bhagava menyetujuinya.

Setelah mengetahui bahwa Sang Bhagava menyetujui permohonannya, maka Ambapali bangkit sambil memberi hormat kepada Sang Bhagava, lalu mengundurkan diri.

15. Ketika itu orang-orang Licchavi dari Vesali mengetahui pula akan kehadiran Sang Buddha dan mereka lalu berkata: “Sang Bhagava, katanya telah tiba di Vesali dan tinggal di kebun Ambapali.”

Mereka pun menyediakan sejumlah kereta yang indah dan setiap orang mengendarai sebuah kereta, keluar dari Vesali. Di antara orang-orang Licchavi itu ada beberapa yang berpakaian biru dengan hiasan-hiasan yang biru pula, sedangkan yang lainnya memakai pakaian kuning, merah dan putih.

16. Demikianlah di tengah jalan kereta-kereta Ambapali berpapasan dengan kereta-kereta pemuda Licchavi itu. Kereta-kereta itu saling bergeseran antara poros dengan poros, roda dengan roda dan gandar dengan gandar. Oleh karena itu orang-orang Licchavi bertanya: “Mengapa kamu berkendaraan menentang kami Ambapali?”

“Para pangeran, sebenarnya hal ini terjadi karena kami telah mengundang Sang Bhagava bersama para bhikkhu untuk makan besok pagi di tempat kami.”

“Ambapali, batalkan undanganmu itu, untuk itu kami akan memberimu seratus ribu.”

Tetapi Ambapali menjawab: “Janganlah berkata begitu, saya tak akan membatalkan undanganku itu, karena itu sangat penting bagiku.”

Orang-orang Licchavi menjadi kesal: “Kawan-kawan, lihatlah, kita dihalangi oleh wanita mangga ini.” Tetapi meski pun demikian mereka meneruskan perjalanan ke kebun mangga.

17. Dari kejauhan Sang Bhagava melihat orang-orang Licchavi yang sedang mengendarai kereta mereka. Kemudian beliau berkata kepada para bhikkhu: “Siapa di antara para bhikkhu yang belum pernah melihat para dewa (surga) Tavatimsa? Sekarang kamu sekalian dapat melihat para Licchavi ini dan dapat memandangi mereka sebab mereka itu nampak seperti para dewa dari alam surga Tavatimsa.”

18. Orang-orang Licchavi mengendarai kereta mereka sejauh yang dapat ditempuh, kemudian mereka turun dari kereta dan berjalan menemui Sang Bhagava dan memberi hormat kepada beliau. Setelah itu mereka duduk pada tempat yang telah disediakan. Sang Bhagava membabarkan dhamma kepada orang-orang Licchavi, menyadarkan, menyenangkan dan menggembirakan hati mereka.

Sesudah itu, orang-orang Licchavi berkata kepada Sang Bhagava: “Semoga bhante sudi menerima undangan kami untuk santap esok pagi bersama-sama para bhikkhu.”

“Undangan untuk santap esok pagi, saudara-saudara dari Licchavi, telah disampaikan oleh Ambapali dan kami telah menyetujuinya.” Orang-prang Licchavi menjadi kesal dan berkata: “Kawan-kawan, lihatlah kita disabot oleh wanita mangga itu.” Tetapi akhirnya orang-orang Licchavi menerima dengan senang hati keterangan Sang Bhagava. Kemudian mereka bangkit dari duduk, menghormat beliau lalu meninggalkan Sang Bhagava.

19. Keesokan harinya, setelah Ambapali menyiapkan makanan terpilih, lunak dan keras, di tamannya, ia memberitahukan kepada Sang Bhagava: “Bhante, telah waktunya untuk makan, makanan telah siap.” Sang Bhagava mempersiapkan diri, sambil membawa patta dan jubah, pergi bersama para bhikkhu ke tempat Ambapali. Sang Bhagava duduk di tempat yang telah disediakan. Ambapali sendiri yang melayani Sang Bhagava dan para bhikkhu, menyuguhi mereka dengan makanan terpilih, lunak dan keras.

Setelah selesai makan, Sang Bhagava meletakkan patta, Ambapali duduk di tempat yang lebih rendah dan menempatkan dirinya pada salah satu sisi, lalu berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, taman ini saya persembahkan kepada bhikkhu sangha yang dipimpin oleh Sang Bhagava.”

Sang Bhagava menerima taman itu, kemudian beliau membabarkan dhamma kepada Ambapali, menyadarkan, menyenangkan dan menggembirakan hatinya. Sesudah itu Sang Bhagava bangkit dari duduknya dan meninggalkan tempat itu.

20. Di Vesali, di hutan milik Ambapali, Sang Bhagava sering memberi nasihat kepada para bhikkhu: “Ini adalah kebajikan moral (sila), ini adalah meditasi (samadhi) dan ini adalah kebijaksanaan (panna). Besar sekali pahala dan kemajuan bila meditasi dikembangkan berdasarkan pada sila yang baik. Besar sekali pahala dan kemajuan bila kebijaksanaan dikembangkan berdasarkan pada meditasi (samadhi) yang baik. Batin yang dikembangkan berdasarkan pada kebijaksanaan yang baik akan bebas dari kotoran batin seperti nafsu indria (kamasava) nafsu untuk ‘menjadi’ (bhavasava) dan pandangan salah (ditthasava).”

21. Setelah Sang Bhagava tinggal lama di taman Ambapali, beliau berkata kepada Ananda: “Ananda, marilah kita pergi ke desa Beluva.” “Baiklah, bhante,” jawab Ananda. Demikianlah, Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu tinggal di desa Beluva.

PENYAKIT SANG BHAGAVA YANG SANGAT PARAH

22. Ketika itu Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu: “Sekarang pergilah, para bhikkhu, dan carilah tempat bervassa di mana saja di sekitar Vesali ini di mana kalian dapat diterima dengan baik oleh para kenalan dan sahabat dan tinggallah di sana selama musim hujan ini. Aku akan vassa di tempat ini juga selama musim hujan di dusun Beluva.” “Baiklah, bhante,” kata para bhikkhu.

23. Ketika musim hujan telah tiba Beliau merasa sakitnya semakin parah, badannya terasa ditusuk-tusuk sehingga beliau merasa kesakitan sekali. Tetapi Sang Bhagava menghadapinya dengan penuh kesadaran, pengertian yang benar dan tenang.

Kemudian terlintaslah pada pikiran Sang Bhagava: “Tidaklah wajar, sebelum parinibbana aku tidak memberitahukan pada mereka yang menaruh perhatian selama ini kepadaku, dan tidak memberi kata-kata terakhir kepada para bhikkhu. Karena itu biarlah aku menekan penyakit ini dengan kekuatan batinku, berteguh hati untuk mempertahankan kelangsungan hidup ini, dan meneruskan hidupku untuk sementara waktu.”

Sang Bhagava berhasil melawan sakit dengan kekuatan kemauan yang gigih, dengan teguh hati mempertahankan kelangsungan hidup dan meneruskan kehidupan Beliau. Demikianlah akhirnya rasa sakit dapat diatasinya.

24. Kemudian, setelah Sang Bhagava sembuh dari sakitnya segera Beliau keluar dari kamar tempat pembaringannya, lalu duduk di bawah naungan bangunan itu, di tempat yang telah disediakan untuk beliau. Kemudian datanglah Ananda menemui Sang Bhagava, dan memberi hormat dengan sangat hidmat kepada beliau, lalu duduk pada salah satu sisi, kemudian ia berkata kepada Sang Bhagava: “Alangkah bahagianya kami ini, karena nampaknya bhante telah sembuh dan sehat kembali. Karena, ketika kami mengetahui bhante sakit, badan saya sendiri seolah-olah ikut lemah bagaikan lumpuh, segala sesuatu di sekitar kami menjadi gelap, dan perasaan kami sangat lesu. Tetapi walaupun demikian, ada sedikit hiburan bagi kami, karena bhante tak akan meninggalkan kami tanpa memberi beberapa petunjuk yang terakhir kepada kami para bhikkhu.”

25. Demikianlah kata Ananda, tetapi Sang Bhagava memberi jawaban sebagai berikut: “Apalagi yang dapat diharapkan oleh para bhikkhu dariku ? Aku telah mengutarakan Dharma, tanpa membeda-bedakan pelajaran yang bersifat khusus maupun yang umum. Tidak ada apa-apa lagi, yang berkenaan dengan Dharma, yang Sang Tathagata pegang sampai akhir, seperti seorang guru yang menggenggam tangannya, seolah-olah menyimpan sesuatu. Barang siapa yang berpendapat, bahwa dia memimpin para bhikkhu atau bahwa para bhikkhu harus tergantung kepadanya, orang seperti itu biasanya memberikan ajaran terakhir yang berkenaan dengan dirinya. Tetapi, Sang Tathagata tidak mempunyai angan-angan seperti itu, yang ingin memimpin para bhikkhu supaya para bhikkhu terus tergantung padaku.

Maka dari itu, wejangan-wejangan apa yang perlu kami berikan lagi kepada para bhikkhu itu?

Sekarang kami telah menjadi lemah, kami sudah tua, hidup kami sudah lama berlangsung, sampai puluhan tahun. Kini umurku yang ke delapan puluh dan hidupku telah cukup lama. Seperti halnya dengan sebuah kereta tua, yang mengalami berbagai kerusakan dan perbaikan, demikian pula badan Sang Tathagata ini dapat terus berlangsung hanya dengan dukungan-dukungan. Hanya, apabila Sang Tathagata, tak menghiraukan obyek-obyek yang berada di luar, pikiran-pikiran yang mengandung keserakahan, benci dan lain-lainnya dengan melenyapkan perasaan-perasaan keduniawian tertentu, berpegang pada pemusatan pikiran (ceto samadhi) berkenaan dengan tanpa obyek material (animitta), maka badan ini lebih ringan bebannya.”

26. “Ananda, oleh karena itu, hendaknya kamu menjadi sebuah pulau sebagai tempat perlindungan bagimu sendiri. Jangan mencari perlindungan yang lain. Hanya Dharmalah sebagai pulaumu, dan kau tiada mencari perlindungan lain. Bagaimana seorang bhikkhu adalah sebagai pulau baginya, sebagai suatu perlindungan bagi dirinya sendiri, tidak mencari perlindungan dari yang lain, dan hanya Dhamma sebagai pulaunya, hanya Dhamma sebagai pelindungnya, dan tiada mencari perlindungan lain ?

Apabila ia merenungkan proses tubuh dalam tubuhnya dengan sungguh-sungguh, dengan pengertian benar dan sadar, ia akan dapat mengatasi keinginan duniawi, ketidaksenangan dan penderitaan batin. Atau apabila ia merenungkan segala bentuk perasaan (vedana), pikiran (citta), atau obyek-obyek pikiran (dhamma), dengan sungguh-sungguh, dengan pengertian benar dan sadar, ia akan dapat mengatasi keinginan duniawi, ketidaksenangan dan penderitaan batin, maka sesungguhnya ia membuat suatu pulau bagi dirinya sendiri, suatu perlindungan bagi dirinya sendiri, tiada mencari perlindungan lain, memiliki Dhamma sebagai pulau dan perlindungannya, tiada mencari perlindungan yang lain.

Para bhikkhu berpegang teguh pada pulau bagi diri mereka sendiri, perlindungan bagi diri mereka sendiri, tiada mencari lain perlindungan di luar karena telah memiliki Dhamma sebagai pulau dan perlindungan bagi mereka, tiada mencari perlindungan lain. Mereka akan mencapai kesempurnaan dan kesucian, apabila mereka mempunyai keinginan untuk menempuhnya.”

BAB III
1. Pada pagi hari, kemudian Sang Bhagava mengambil patta (tempat makan) serta jubahnya, lalu pergi ke Vesali untuk pindapatta (menerima dana makanan). Sesudah mendapat makanan Sang Bhagava makan. Kemudian Sang Bhagava pulang, dan ketika tiba di tempat peristirahatannya, beliau berkata kepada Ananda:
“Ambillah sebuah tikar, dan marilah kita ke cetiya Capala.”
“Baiklah, bhante,” jawab Ananda.
Demikianlah, Ananda mengambil sehelai tikar, lalu mengikuti Sang Bhagava.

2. Ketika Sang Bhagava tiba di cetiya Capala beliau duduk di tempat yang telah disediakan.

Setelah Ananda duduk di salah satu sisi beliau lalu memberi hormat dengan hidmat. Sang Buddha bersabda kepadanya: “Sungguh menyenangkan Vesali ini Ananda karena banyak cetiyanya, yaitu Udana, Catamala, Sattamabaka, Bahuputta, Sarandada dan Capala.”

3. Sang Bhagava berkata: “Ananda, barang siapa yang telah mengembangkan, mempraktekkan, mempergunakan, mempertahankan, menyelidiki dengan seksama kesempurnaan keempat dasar kekuatan batin, apabila ia menghendakinya maka ia akan dapat hidup selama satu kappa atau sampai akhir dari kappa ini. Sang Tathagata, juga dapat hidup sepanjang kappa atau sampai pada akhir dari kappa ini, jika beliau menghendakinya.”

4. Tetapi Ananda tidak dapat memahami makna dari kata-kata yang diucapkan Sang Bhagava. Karena perhatiannya seakan-akan dipengaruhi oleh Mara, sehingga ia tidak memohon kepada Sang Bhagava dan tidak berkata: “Semoga Sang Bhagava hidup satu kappa, Semoga Sang Tathagata tetap ada di sini sepanjang satu kappa, demi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, demi kasih sayang pada seluruh manusia di dunia, bagi kebaikan mahluk-mahluk dan kebahagiaan para dewa dan manusia.”

5. Namun ketika untuk kedua kali dan ketiga kalinya Sang Bhagava mengulangi ucapannya itu, Ananda tetap diam saja.

6. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: “Ananda, pergilah dan berbuatlah sesuai dengan kehendakmu.”

“Baiklah, bhante,” jawab Ananda dan bangkit dari duduknya, memberi hormat dengan penuh hidmat kepada Sang Bhagava, lalu mengundurkan diri. Kemudian Ananda duduk di bawah sebatang pohon yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya.

PERMOHONAN SI JAHAT MARA

7. Setelah Ananda pergi, tiba-tiba Mara muncul dan mendekati Sang Bhagava. Sambil berdiri, Mara berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, sekarang telah tiba saatnya bagi Sang Bhagava mengakhiri kehidupannya, karena itu biarlah Sang Sugata parinibbana (meninggal). Sesungguhnya saat parinibbana Sang Tathagata telah tiba. Untuk hal ini, Sang Bhagava telah berkata kepada kami: ‘Mara, kami tidak akan memenuhi ajakanmu, sebelum para bhikkhu, bhikkhuni, upasaka dan upasika yang menjadi siswa-siswaku yang benar-benar bijaksana dalam melaksanakan peraturan yang benar, cakap dan terpelajar, memelihara dhamma, hidup sesuai dengan dhamma, berpegang teguh pada pimpinan yang telah ditetapkan, dan telah mempelajari kata-kata Sang Guru, dapat menerangkannya, mengkhotbahkannya, mengumumkannya, menyusunnya, mengartikannya, menerangkannya secara seksama, dan membuatnya menjadi jelas, sehingga apabila timbul kemudian pendapat-pendapat yang bertentangan dengan mereka, mereka dapat memberi penjelasan dengan sempurna sehingga dapat menimbulkan keyakinan pada setiap orang bahwa dhamma ini memberikan kebebasan terakhir.’

8. Sekarang, para bhikkhu dan bhikkhuni, upasaka dan upasika yang menjadi siswa-siswa Sang Bhagava telah melaksanakan hal itu. Maka sudah waktunya Sang Bhagava mengakhiri kehidupan ini. Sang Sugata dapat dengan bebas meninggalkan dunia ini. Telah tiba saatnya bagi Sang Bhagava parinibbana. Walaupun sama dengan kata-katanya ketika ia berkata: ‘Kami tidak akan memenuhi ajakanmu Mara, sebelum kehidupan suci yang kami ajarkan memperoleh hasil yang baik, tersebar luas dan dihayati dengan benar oleh para dewa dan manusia. Hal ini juga telah berlangsung tepat seperti yang dicita-citakan itu. Maka sudah waktunya Sang Bhagava mengakhiri kehidupan ini. Sang Sugata dapat dengan bebas meninggalkan dunia ini. Telah tiba saatnya bagi Sang Bhagava parinibbana.’

SANG BHAGAVA MELANJUTKAN KEHIDUPANNYA

9. Setelah hal ini diucapkan, Sang Bhagava berkata kepada Mara: “Mara, jangan kau menyusahkan dirimu. Saat parinibbana Sang Tathagata belum tiba, tiga bulan lagi Sang Tathagata akan mangkat, parinibbana.

10. Demikianlah di cetiya Capala, Sang Bhagava dengan penuh perhatian dan pengertian yang benar telah menetapkan keinginannya untuk melanjutkan kehidupannya. Akibat dari pernyataan Sang Bhagava tentang kemauannya untuk melanjutkan kehidupannya itu maka terjadilah gempa bumi yang menakutkan, sangat dahsyat dan menyeramkan, serta halilintar menyambar-nyambar. Sang Bhagava, memandangnya dengan penuh pengertian serta mengucapkan kata-kata ini:

“Penyebab kehidupan yang kecil maupun yang tak terbatas dari lingkaran kehidupan telah diputuskan oleh pertapa. Dengan kegembiraan dan ketenangan, ia terbebas dari penyebab kelahirannya, bagaikan ia merobek sampul surat.”

11. Lalu terlintaslah pada pikiran Ananda: “Benar-benar mengherankan, dan sangat luar biasa. Bumi bergetar begitu hebatnya sungguh sangat menakutkan, dahsyat dan menyeramkan. Apakah sebabnya dan apa alasannya sehingga gempa bumi yang dahsyat terjadi ?”

DELAPAN SEBAB GEMPA BUMI

12. Kemudian Ananda mendekati Sang Bhagava, lulu duduk pada tempat yang telah tersedia, kemudian ia berkata kepada Sang Buddha: “Bhante, mengherankan dan sangat luar biasa, bumi bergetar begitu hebatnya dan sangat menakutkan. Apakah sebabnya dan alasannya sehingga gempa bumi yang dahsyat itu dapat terjadi? Mohon kami diberi penjelasan.”

13. Kemudian Sang Bhagava berkata: “Ananda, ada delapan sebab atau ada delapan alasan sampai terjadinya suatu gempa bumi yang dahsyat itu. Apakah delapan sebab musabab itu?

“Bumi yang luas ini terbentuk dari zat cair, zat cair terbentuk dari udara dan udara ada di angkasa. Apabila udara bertiup dengan dahsyatnya, maka zat cair terguncang. Keguncangan zat cair ini menyebabkan bumi bergetar. Inilah sebab pertama timbulnya gempa bumi yang maha dahsyat itu.

14. Demikian pula Ananda, apabila seorang pertapa atau brahmana yang memiliki kekuatan batin maha besar, seseorang yang telah memperoleh kekuatan untuk mengendalikan pikirannya, atau sesosok dewata yang maha kuasa, yang maha tahu, mengembangkan pemusatan pikirannya yang hebat pada unsur bumi ini, dan pada suatu tingkatan yang tak terhatas pada unsur zat cair, ia juga dapat mengakibatkan bumi bergetar, goyah serta bergoyang. Inilah sebab yang kedua sampai timbulnya gempa bumi yang maha dahsyat itu.

15-20. Ananda, apabila Sang Bodhisattva meninggalkan alam surga Tusita dan lahir melalui rahim (kandungan) seorang ibu yang penuh pengertian dan perhatiannya yang benar. Apabila Sang Tathagata mencapai kesempurnaan yang maha sempurna yang tak ada yang menyamainya, sungguh luar biasa sempurnanya atau apabila Sang Tathagata memutar Dharmacakra, – apabila Sang Tathagata telah bertekad untuk meneruskan hidupnya atau – apabila Sang Tathagata telah tiba saatnya mangkat, parinibbana, di mana tiada tersisa suatu unsur keinginan, maka semuanya ini akan menyebabkan bumi yang besar ini bergetar, goyah dan bergoncang.

Inilah delapan alasan atau sebab musabab bagi terjadinya suatu gempa bumi.”

DELAPAN MACAM PERHIMPUNAN

21. “Ananda, ada delapan macam perhimpunan, yaitu Perhimpunan para kesatriya, para brahmana, orang-orang berumah tangga, para pertapa, para dewa Catummaharajika, para dewa Tavatimsa, para Mara dan para dewa Brahma.

22-23. Ananda, kini kami ingat bagaimana kami telah pernah menghadiri undangan dari kedelapan persidangan yang masing-masing dihadiri oleh beratus-ratus orang itu. Sebelum dimulai percakapan atau pembahasan, kami membuat wajahku mirip dengan wajah mereka, suaraku menyerupai suara mereka. Demikianlah kami mengajarkan mereka mengenai Dhamma, dan hal ini memberikan manfaat dan kegembiraan kepada mereka. Meskipun demikian, tatkala kami sedang memberikan Dhamma kepada mereka, mereka tak mengetahui siapa sebenarnya kami ini, dan mereka saling bertanya pada kawan-kawannya, “Siapa gerangan yang sedang berbicara kepada kita? Apakah gerangan ia seorang manusia atau dewa?” tanya mereka.

Sesudah Sang Bhagava mengajarkan Dhamma dan telah membimbing mereka, mereka menyadari manfaatnya dan gembira, lalu kami pergi. Setelah kami meninggalkan mereka, mereka belum juga mengetahui tentang kami, mereka saling bertanya: “Siapakah gerangan dia yang telah pergi itu? Apakah dia manusia atau dewa?” Ananda, begitulah delapan macam perhimpunan itu.”

DELAPAN BIDANG PENGUASAAN

24. “Ananda, ada delapan lapangan Penguasaan. Apakah delapan hal itu?

25. Apabila seorang dapat mencerap bentuk-bentuk secara subyektip, melihat bentuk-bentuk yang terbatas baik atau buruk yang ada di luar dirinya sendiri dan menguasai semua itu, sadar bahwa ia melihat dan mengetahui semua itu sebagaimana adanya, inilah bidang penguasaan yang pertama.

26. Apabila seorang dapat mencerap bentuk-bentuk secara subyektip melihat bentuk-bentuk yang tak terbatas baik atau buruk yang ada di luar dirinya sendiri dan menguasai semua itu, sadar bahwa ia melihat dan mengetahui semua itu sebagaimana adanya, inilah bidang-bidang penguasaan yang kedua.

27. Apabila orang tidak dipengaruhi oleh bentuk-bentuk pencerapan secara subyektip, melihat bentuk-bentuk yang kecil, baik atau buruk yang ada di luar dirinya sendiri, dan menguasai semua itu, sadar bahwa ia melihat dan mengetahui semua itu sebagaimana adanya, inilah bidang penguasaan yang ketiga.

28. Apabila seseorang tidak dipengaruhi oleh bentuk-bentuk pencerapan secara subyektip, melihat bentuk-bentuk yang besar, baik atau buruk yang ada di luar dirinya sendiri dan menguasai semua itu, sadar bahwa ia melihat dan mengetahui semua itu sebagaimana adanya, inilah bidang penguasaan yang keempat.

29. Apabila seseorang, tidak dipengaruhi oleh bentuk pencerapan secara subyektip, melihat bentuk-bentuk yang ada di luar dirinya sendiri yang berwarna biru dalam warnanya, dari suatu cahaya kebiru-biruan seperti bunga tanaman rami, atau seperti kain dari Benares yang halus yang dicelup kedua sisinya, biru-biru dan hitam biru. Apabila seseorang seperti itu dan menguasai semua itu, sadar bahwa ia melihat dan mengetahui semua itu sebagaimana adanya, inilah yang dinamakan bidang penguasaan yang kelima.

30. Apabila seseorang tidak mencerap bentuk-bentuk pencerapan secara subyektip, melihat bentuk-bentuk di luar dirinya yang berwarna kekuning-kuningan, kuning warnanya, dari kilauan kuning seperti bunga Kanikata, atau seperti kain yang halus dari Benares yang diwarnai kedua sisinya dengan kuning, warna kuning, dari suatu cahaya kuning. Apabila seseorang seperti itu melihat bentuk-bentuk yang ada di luar dirinya sendiri, dalam warna kuning, dan menguasai semua itu, sadar bahwa ia melihat dan melihat semua itu sebagaimana adanya, inilah bidang penguasaan yang keenam.

31. Apabila seseorang tidak dipengaruhi oleh bentuk-bentuk pencerapan secara subyektip, melihat bentuk-bentuk yang ada di luar dirinya yang berwarna merah, dalam warna merah, dari suatu cahaya merah sebagai bunga Bandhuyivaka, atau seperti kain yang halus dari Benares yang diwarnai kedua sisinya dengan merah, merah warnanya dari suatu cahaya merah. Apabila seorang seperti itu melihat bentuk-bentuk di luar dirinya sendiri yang berwarna merah dan menguasai semua itu dengan sadar bahwa ia melihat dan mengetahui semua itu sebagaimana adanya, inilah bidang penguasaan yang ketujuh.

32. Apabila seseorang tidak dipengaruhi oleh bentuk-bentuk pencerapan secara obyektip, melihat bentuk-bentuk di luar dirinya sebagai warna putih dalam warna putih, dari suatu cahaya putih seperti bintang Oshadi, atau seperti kain halus dari Benares yang diwarnai kedua sisinya dengan putih, warna putih, dengan sinar putih. Apabila seseorang seperti itu melihat bentuk-bentuk di luar dirinya sendiri yang berwarna putih dan menguasai semua itu, sadar bahwa ia menyerap dan mengetahui semua itu sebagaimana adanya. Inilah bidang penguasaan yang kedelapan.

Ananda, inilah delapan bidang penguasaan.”

DELAPAN KEBEBASAN (VIMOKHA)

33. “Ananda, ada delapan Kebebasan. Apakah ke delapan itu ?

Dari kita ini mempunyai bentuk-bentuk dan orang yang menyadari bentuk-bentuk tersebut ia telah mencapai Kebebasan yang pertama.

Dengan tak memperhatikan bentuk-bentuk pada dirinya sendiri, dan orang yang dapat menyerap bentuk di luar dirinya, ia telah mencapai Kebebasan yang kedua.

Di waktu seorang melihat keindahan, ia menyadari keindahan itu, ia telah mencapai Kebebasan yang ketiga.

Dengan mengatasi semua penyerapan dari materi dengan lenyapnya semua penyerapan dari reaksi terhadap perasaan, dan dengan tidak memperhatikan segala macam penyerapan-penyerapan lainnya, orang lalu menjadi sadar dan mencapai kebebasan serta berdiam di dalam keadaan ruang yang tak terbatas berarti ia telah mencapai Kebebasan yang keempat.

Dengan mengatasi seluruh keadaan dari ruang yang tak terbatas, orang menjadi sadar dan mencapai kebebasan, serta berdiam di dalam keadaan kesadaran tak terbatas; berarti orang itu telah mencapai Kebebasan yang kelima.

Dengan mengetahui seluruh keadaan dari kesadaran tak terbatas, orang menjadi sadar dan mencapai kebebasan serta berdiam di dalam keadaan kekosongan. Ini berarti ia telah mencapai Kebebasan yang keenam.

Dengan mengatasi seluruh keadaan dari kekosongan, orang menjadi sadar dan mencapai kebebasan serta berdiam di dalam keadaan yang bukan penyerapan pun tidak bukan penyerapan, ini berarti ia telah mencapai Kebebasan yang ketujuh.

Dengan mengatasi seluruh keadaan yang bukan penyerapan pun juga yang tidak bukan penyerapan, orang mencapai kebebasan dan berdiam di dalam penghentian dari seluruh penyerapan dan perasaan, ini berarti orang itu mencapai Kebebasan yang kedelapan.
Ananda, inilah delapan Kebebasan itu.”

GODAAN MARA PADA WAKTU YANG LALU

34. “Ananda, pada suatu waktu ketika kami berdiam di Uruvela, di tepi sungai Neranjara, di bawah pohon beringin, sejenak sesudah aku mencapai Penerangan Sempurna, Mara si jahat, telah datang mendekati aku dan berdiri pada salah satu sisi, lalu berkata kepadaku: ‘Kini, bhante, kiranya Sang Bhagava sudah sampai saatnya untuk mengakhiri kehidupannya, kiranya Sang Sugata akan segera wafat. Sebenarnya saatnya telah tiba untuk Tathagata parinibbana.’

35. Kemudian aku menjawab demikian: ‘Aku tak akan mengakhiri hidupku, Mara, sebelum para bhikkhu dan bhikkhuni, para umat pria serta wanita, telah menjadi siswa-siswaku yang baik, yang sejati dan bijaksana, berdisiplin dan tertib, cerdas dan terpelajar, sanggup memelihara ajaran dhamma, hidup sesuai dengan dhamma, taat pada pimpinan yang baik dan mengerti ucapan Sang Guru, dapat menerangkan, mengkhotbahkan, mengumumkan, menyusun, menafsirkannya, membahas dengan teliti dan menjelaskannya, sehingga mereka semuanya dapat memberikan sanggahan apabila timbul pendapat-pendapat yang keliru, dapat memberi penjelasan dengan baik dan bijaksana, dan dapat menyampaikan dhamma yang penuh dengan keyakinan serta memberi kebebasan.

Mara, aku tak akan mengakhiri hidupku, sebelum kehidupan suci yang akan kuajarkan dapat berhasil dengan baik dan sejahtera, terkenal, dan tersebar luas, sebelum ini diketahui dengan benar-benar oleh para dewa dan manusia.’

36. Ananda, dalam waktu enam hari ini di cetiya Capala, si jahat Mara, mendekati aku, berdiri pada salah satu sisi, dan berkata kepadaku demikian: ‘Kini, bhante, para bhikkhu dan bhikkhuni, para umat pria dan wanita, telah menjadi siswa yang sejati Sang Bhagava, bijaksana, teratur baik, cerdas dan terpelajar, memelihara Dhamma hidup sesuai dengan Dhamma, taat pada pimpinan yang baik, dan telah mempelajari ucapan-ucapan Sang Guru, telah dapat menerangkan, mengkotbahkan, mengumumkan, menyusun, menerangkan dengan seksama dan menjelaskan sehingga bila nanti ada pendapat yang keliru mereka akan dapat menyanggahnya dengan baik dan bijaksana dan mereka telah dapat mengkotbahkan Dhamma yang meyakinkan serta memberi mereka kebebasan.

Kini kehidupan suci yang diajarkan Sang Bhagava telah berhasil dengan baik, terkenal dan tersebar luas. Juga telah dibabarkan dengan baik kepada para dewa dan manusia. Oleh karena itu, telah tiba saatnya bagi Sang Bhagava untuk mengakhiri hidupnya. Biarlah Sang Bhagava segera wafat, karena sebenarnya telah tiba saatnya Yang Mulia parinibbana.’

37. ‘Ananda, kemudian aku menjawab kepada si jahat Mara itu demikian: ‘Janganlah kau sulitkan dirimu, Mara, saat parinibbana Sang Tathagata pasti akan tiba. Ketahuilah bahwa tiga bulan lagi, Sang Tathagata akan mangkat-sirna-wafat.’

Ananda, sebenarnya pada hari ini, di tempat nan suci ini, Sang Tathagata telah bertekad untuk melepaskan hidupnya.’

PERMOHONAN ANANDA

38. Mendengar ucapan-ucapan tersebut, Ananda lalu berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, semoga Sang Bhagava selalu berada di dunia ini; Semogalah Yang Berbahagia tetap di sini sepanjang masa, demi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Kasihanilah dunia demi kebaikan mahluk-mahluk semuanya dan demi kebahagiaan para dewa serta manusia.”

39. Sang Bhagava lalu menjawab demikian: “Cukuplah Ananda, janganlah menahan Sang Tathagata, karena waktunya sudahlah terlambat, untuk permintaan semacam itu.”

Tapi untuk kedua dan ketiga kalinya, Ananda memohon kepada Sang Bhagava: “Bhante, semoga Sang Bhagava tetap berada di dunia ini, semoga Yang Berbahagia tetap di sini sepanjang masa; demi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Kasihanilah dunia, demi kebaikan semua mahluk dan kebahagiaan para dewa serta manusia.”

Sang Bhagava lalu berkata: “Ananda, apakah kamu mempunyai keyakinan terhadap buah hasil Penerangan sejati dari Sang Tathagata?”
Ananda menjawab: “Bhante, kami sangat yakin.”
“Ananda, kalau begitu, mengapa kamu mengganggu Sang Tathagata sampai tiga kali?”

40. Ananda menjawab: “Dari mulut Sang Tathagata sendiri kami telah mendengar: ‘Barang siapa yang telah mengembangkan, mempraktekkan, menggunakan, memelihara, menyelidiki dengan seksama dan menguasai empat iddhipada (dasar kekuatan batin), maka ia dapat menggunakan iddhipada itu sebagai alat dan dasar dan bila ia ingin, ia dapat mempertahankan kehidupannya selama satu kappa atau selama sebagian kappa yang masih berlangsung.’ Sekarang Sang Tathagata telah mempraktekkan dan mengembangkan iddhipada itu dengan sempurna, maka ia dapat dan bila ia ingin, ia dapat hidup selama satu kappa atau selama bagian dari kappa yang masih berlangsung.”

“Ananda, apakah kamu mempercayainya?”

“Ya, kami mempercayainya, bhante,” jawab Ananda. “Ananda, dengan demikian kesalahan ada padamu. Karena dalam hal ini kamu telah gagal memahami saran yang sederhana dan bermakna serta dorongan yang berarti yang diberikan oleh Sang Tathagata, maka seharusnya kamu tidak memohon beliau untuk tetap berada di sini. Jika pada waktu yang lalu kamu memohon seperti itu, untuk kedua kali Sang Tathagata mungkin menolaknya, tetapi untuk yang ketiga kalinya ia mungkinkan menyetujuinya. Ananda, oleh karena itu, kesalahan ada padamu, maka permohonanmu sekarang adalah sia-sia.”

41. “Ananda, di Rajagaha, ketika kita sedang berdiam di puncak Gijjhakuta, kami telah berkata kepadamu: ‘Ananda, menyenangkan Rajagaha ini, menyenangkan pula puncak Gijjhakuta ini.

Barang siapa yang telah mengembangkan, mempraktekkan, menggunakan, memelihara, menyelidiki dengan seksama dan menguasai empat iddhipada (dasar kekuatan batin), maka ia dapat menggunakan iddhipada itu sebagai alas dan dasar, bila ia ingin, ia dapat mempertahankan kehidupannya selama satu kappa atau selama bagian dari kappa yang masih berlangsung. Tapi kamu tidak dapat memahami saran yang sederhana dan bermakna serta dorongan yang berarti yang diberikan oleh Sang Tathagata …. Ananda, oleh karena itu, kesalahan adalah padamu, maka permohonanmu sekarang adalah sia-sia.”

42. “Begitu pula ketika kami berdiam di Gotama Nigrodha, Rajagaha … di Corapapato, Rajagaha … di goa Sattapanni pada lereng gunung Vebhara, Rajagaha … di Kalasila pada lereng gunung Isigali, Rajagaha … di hutan Sitavana dalam goa gung Sappasondika, rajagaha … di Tapodarama, Rajagaha … di Veluvana Kalandaka, Rajagaha … di Ambavana milik Jivaka, Rajagaha … dan di taman rusa Maddakucchi, Rajagaha.

43. Ananda, pada tempat-tempat itu kami mengatakan: ‘Menyenangkan Rajagaha ini …. dan menyenangkan semua tempat ini.

44. Barang siapa yang telah mengembangkan, mempraktekkan, menggunakan, memelihara, menyelidiki dengan seksama dan menguasai empat iddhipada (dasar kekuatan batin), maka ia dapat menggunakan iddhipada itu sebagai alat dan dasar, bila ia ingin, ia dapat mempertahankan kehidupannya selama satu kappa atau selama bagian dari kappa yang masih berlangsung. Tapi, kamu tidak memahami saran yang sederhana dan bermakna serta dorongan yang berarti yang diberikan oleh Sang Tathagata …. Ananda, oleh karena itu, kesalahan ada padamu, maka permohonanmu sekarang adalah sia-sia.”

45-47. “Demikian pula di Vesali, pada waktu tertentu Sang Tathagata telah berkata kepadamu: ‘Ananda, menyenangkan sekali Vesali ini, menyenangkan Cetiya Udena, Gotamaka, Sattamba, Bakuputta, Sarandada dan Capala.’

‘Barang siapa yang telah mengembangkan, mempraktekkan, mempergunakan, meneguhkan, memelihara, menyelidiki dan menyempurnakan empat dasar kekuatan batin, jika ia menghendaki, ia dapat tetap hidup di sini sepanjang masa, atau sampai akhir dunia ini.’

Sang Tathagata telah melakukan hal itu. Oleh karena itu Sang Tathagata, apabila menghendakinya, dapatlah tetap berada di sini sepanjang masa atau sampai di akhir dunia ini.”

Ananda, tapi kau tak dapat memahami saran yang sederhana dan bermakna serta dorongan yang berarti yang diberikan oleh Sang Tathagata, maka seharusnya kau tidak memohon beliau untuk tetap berada di sini. Jika pada waktu yang lalu kamu memohon seperti itu, untuk kedua kali Sang Tathagata mungkin menolaknya, tetapi untuk ketiga kalinya mungkin akan menyetujuinya. Ananda, oleh karena itu kesalahan ada padamu maka permohonanmu sekarang adalah sia-sia.”

48. “Ananda, lagi pula apakah kami belum pernah mengajarkan bahwa sejak permulaan bahwa segala sesuatu yang disenangi atau dicintai mesti akan berubah, berpisah dan berjauhan? Segala sesuatu yang timbul menjadi atau lahir terwujud di dalam perpaduan, dicengkeram oleh kelapukan, bagaimana orang akan dapat berkata: ‘Semoga ini tidak menjadi hancur.’ Hal itu tak mungkin dapat terjadi. Dalam hal ini, yang telah diselesaikan oleh Sang Tathagata, dan hal ini yang telah dilepaskan, dibuang, ditinggalkan dan ditolak beliau yaitu keinginan untuk hidup. Kata-kata Sang Tathagata yang telah diucapkan satu untuk semuanya: ‘Lama sebelum parinibbana Sang Tathagata akan wafat. Demikianlah, bahwa Sang Tathagata akan menarik kata-kata yang telah diucapkannya untuk meneruskan kehidupannya adalah suatu hal yang tidak mungkin.’

“Ananda, marilah kita pergi ke Kutagara Sala di Mahavana.”

“Baiklah, bhante,” jawab Ananda.

NASEHAT YANG TERAKHIR

49. Kemudian Sang Bhagava dengan diiringi oleh Ananda pergi ke Kutagara Sala, di Mahavana. Di sana beliau berkata kepada Ananda: “Ananda, sekarang pergilah dan himpunlah para bhikkhu yang tinggal di sekitar Vesali di ruang dhammasala.”

“Baiklah, bhante,” jawab Ananda dan ia memanggil para bhikkhu yang berdiam di sekitar Vesali dan menghimpun mereka di ruangan Dhammasala. Kemudian, Sang Bhagava sambil berkata: “Bhante, bhikkhu Sangha telah berkumpul. Sekarang terserah kepada Sang Bhagava.”

50. Demikianlah Sang Bhagava memasuki ruangan Dhammasala dan duduk pada tempat yang telah disediakan, lalu beliau menasehati para bhikkhu demikian: “Kini, para bhikkhu, kami katakan kepada kalian bahwa dhamma ini merupakan pengetahuan yang langsung, yang telah kuajarkan kepada kalian semuanya. Seharusnya kalian mempelajari benar-benar, pelihara, kembangkan dan praktekkan, dengan berulang-ulang. Dengan demikian kehidupan yang suci akan terwujud, dan semoga dapat berlangsung lama demi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia, demi welas asih pada dunia ini, untuk kebahagiaan semua, kemakmuran dan kesejahteraan para dewa dan manusia.

Para bhikkhu apakah sesungguhnya dhamma yang telah kuajarkan? Pelajaran itu meliputi keempat usaha yang benar, keempat dasar kekuatan batin, kelima bakat batin, keenam kekuatan, ketujuh faktor penerangan sejati, dan jalan mulia berunsur delapan. Para bhikkhu, semua ini adalah dhamma yang merupakan pengetahuan yang langsung yang telah kuajarkan kepada kalian yang seharusnya dipelajari sebaik-baiknya, dipelihara, dikembangkan, dan diamalkan berulang kali. Dengan demikian kehidupan suci itu akan dapat diwujudkan dan semoga hal itu semua berlangsung lama demi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia berdasarkan kasih sayang pada dunia ini, untuk kebaikan mahluk-mahluk dan kebahagiaan para dewa dan manusia.

51. Lalu Sang Bhagava bersabda kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu, demikianlah, aku nasehati kalian bahwa segala sesuatu adalah mengalami perubahan dan kehancuran. Oleh karena itu berjuanglah dengan sungguh-sungguh. Saatnya Sang Tathagata parinibbana. Tiga bulan lagi Sang Tathagata akan wafat.

Setelah selesai mengucapkan kata-kata ini, Sang Sugata berkata lagi demikian : “Umurku kini telah mencapai puncaknya, jangka waktu hidupku sudah sampai. Perpisahan akan terjadi, aku akan pergi meninggalkan kalian, aku akan pergi sendiri. Tekunlah dengan sungguh-sungguh, para bhikkhu, dan hiduplah selalu dengan sadar. Jalankan kebajikan dan kehidupan yang suci. Dengan keteguhan hati yang tak tergoyangkan, jagalah pikiranmu. Barang siapa yang dapat menghayati dan mengamalkan Dhamma-Vinaya tak mengenal lelah akan dapat mengatasi lingkaran tumimbal lahir ini dan akan dapat mengakhiri semua penderitaan.”

BAB IV
PANDANGAN SEPERTI GAJAH

1. Kemudian Sang Bhagava mempersiapkan diri untuk pindapatta (menerima dana makanan) di pagi hari. Sang Bhagava mengambil patta serta jubahnya lalu pergi ke Vesali. Sesudah mendapat dana dan selesai bersantap, beliau kembali ke tempatnya. Beliau memandang Vesali dengan pandangan sebagai gajah (para Buddha, tidak menengok ke belakang, melainkan membalikkan badan Beliau, seperti lakunya para gajah) dan berkata kepada Ananda : “Ananda inilah yang terakhir kalinya Sang Tathagata meninjau Vesali. Marilah Ananda kita pergi ke Bhadagama.”

“Baiklah,bhante,” jawab Ananda. Demikianlah Sang Bhagava bersama sejumlah bhikkhu berdiam di Bhadagama.

EMPAT PEMBAGIAN DHAMMA YANG UTAMA

2. Sang Bhagava menasehati para bhikkhu: “Para bhikkhu, sebenarnya karena tidak mempunyai keyakinan, karena tidak adanya pengertian terhadap empat Dasar Utama, menyebabkan kita telah berkelana dalam kelahiran dan kematian yang tak terputus-putusnya (samsara). Apakah keempat Dasar itu? Empat Dasar Utama itu adalah : kebajikan moral yang mulia (ariya sila), meditasi yang mulia (ariya samadhi), kebijaksanaan mulia (ariya panna) dan pembebasan yang mulia (ariya vimutti). Para bhikkhu, tetapi kini setelah kesemuanya kami sadari dan mengerti, lenyaplah keinginan untuk lahir kembali, maka padamlah segala sesuatu yang menyebabkan terjadinya kelahiran kembali, sehingga tidak ada kelahiran baru lagi.”

3. Selanjutnya Sang Bhagava berkata: “Kebajikan moral, meditasi, kebijaksanaan dan kebebasan telah dimilikinya. Inilah dhamma yang tiada taranya, yang telah dilaksanakan oleh Gotama. Dengan memahami semuanya itu, Sang Bhagava telah mengajarkan dhamma kepada para bhikkhu. Beliau adalah pembasmi dukkha, maha guru yang telah melihat dan yang selalu hidupnya sejahtera.”

4. Di Bhadagama, Sang Bhagava sering memberi nasehat kepada para bhikkhu: “Ini adalah kebajikan moral (sila), ini adalah meditasi (samadhi) dan ini adalah kebijaksanaan (panna). Besar sekali pahala dan kemajuan bila meditasi dikembangkan berdasarkan pada sila yang baik. Besar sekali pahala dan kemajuan bila kebijaksanaan dikembangkan berdasarkan meditasi (samadhi) yang baik. Batin yang dikembangkan berdasarkan pada kebijaksanaan yang baik akan bebas dari kotoran batin seperti nafsu indera (kamasava), nafsu untuk ‘menjadi’ (bhavasava) dan pandangan salah (ditthasava).”

5-6. Setelah Sang Bhagava cukup lama berada di Bhadagama, Beliau bersabda kepada Ananda: “Marilah Ananda, kita pergi ke Hattigama bersama-sama dengan para bhikkhu.” Demikianlah Sang Bhagava lama berdiam di Hattigama. Beliau lalu pergi ke Ambagama, kemudian ke Jambagama. Di setiap tempat ini Sang Bhagava sering memberi nasehat kepada para bhikkhu: “Ini adalah kebajikan moral (sila), ini adalah meditasi (samadhi) dan ini adalah kebijaksanaan (panna). Besar sekali pahala dan kemajuan bila meditasi dikembangkan berdasarkan sila yang baik. Besar sekali pahala dan kemajuan bila kebijaksanaan dikembangkan berdasarkan meditasi (samadhi) yang baik. Batin yang dikembangkan berdasarkan pada kebijaksanaan yang baik akan bebas dari kotoran batin seperti nafsu indera (kamasava), nafsu untuk ‘menjadi’ (bhavasava) dan pandangan salah (ditthasava).”

Setelah Sang Bhagava lama berdiam di Jambagama, beliau berkata kepada Ananda : “Ananda, marilah kita pergi ke Bhoganagara.”

“Baiklah, bhante,” jawab Ananda. Demikianlah Sang Bhagava bersama sejumlah bhikkhu tinggal di cetiya Ananda, di Bhoganagara.

EMPAT MACAM KEWIBAWAAN

7. Pada suatu hari Sang Bhagava menasehati para bhikkhu : “Para bhikkhu, sekarang kami akan menjelaskan tentang empat macam kewibawaan (mahapadesa), dengarkan dan perhatikan dengan seksama.” “Baiklah, bhante,” jawab para bhikkhu.

8. Seorang bhikkhu mungkin berkata : “Di depan dan dari mulut Sang Bhagava sendiri saya mendengar dan menerima pernyataan : “Ini dhamma, ini vinaya, ini ajaran Guru.”

Para bhikkhu, kata-kata yang diungkapkan oleh bhikkhu itu seharusnya tidak diterima dengan pujian atau pun celaan. Tanpa pujian dan celaan semua kata dan ungkapan itu haruslah dimengerti dengan baik dan dibandingkan dengan Sutta dan Vinaya. Bila setelah dibandingkan, kata-kata dan ungkapan itu tidak sesuai dengan Sutta dan Vinaya, maka kamu sekalian dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya itu bukan ucapan Sang Bhagava dan telah disalahmengerti oleh bhikkhu itu. Kamu sekalian harus menolak pernyataan itu. Tetapi, jikalau kata-kata dan ungkapan itu sesuai dengan Sutta dan Vinaya, maka kamu sekalian dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya itu ucapan Sang Bhagava dan telah dimengerti dengan baik oleh bhikkhu itu. Ini harus diterima sebagai Mahapadesa pertama.

9. Seorang bhikkhu mungkin berkata : “Di tempat tertentu ada Sangha dengan para thera dan pemimpinnya. Di depan Sangha itu saya mendengar dan menerima pernyataan : “Ini dhamma, ini vinaya, ini ajaran Guru.” Para bhikkhu, kata-kata yang diungkapkan oleh bhikkhu itu seharusnya tidak diterima dengan pujian atau pun celaan …. Ini harus diterima sebagi Mahapadesa kedua.

10. Seorang bhikkhu mungkin berkata: “Di tempat tertentu ada banyak bhikkhu thera dalam Sangha yang telah banyak belajar, berkeyakinan sama dengan para pendahulu, banyak mengetahui dhamma, vinaya dan menguasai matika (ikhtisar). Di depan para bhikkhu thera itu saya mendengar dan menerima pernyataan : “Ini dhamma, ini vinaya dan ini ajaran Guru.” Para bhikkhu, kata-kata yang diungkapkan oleh bhikkhu itu seharusnya tidak diterima dengan pujian atau pun celaan …. Ini harus diterima sebagai Mahapadesa ketiga.

11. Seorang bhikkhu mungkin berkata: “Di tempat tertentu ada seorang bhikkhu yang telah banyak belajar, berkeyakinan sama dengan para pendahulu, banyak mengetahui dhamma, vinaya dan menguasai matika (iktisar). Di depan bhikkhu tersebut saya mendengar dan menerima pernyataan: “Ini dhamma, ini vinaya dan ini ajaran Guru.”
Para bhikkhu, kata-kata yang diungkapkan oleh bhikkhu itu seharusnya tidak diterima dengan pujian maupun celaan. Tanpa pujian dan celaan semua kata dan ungkapan itu haruslah dimengerti dengan baik dan dibandingkan dengan Sutta dan Vinaya. Bila setelah dibandingkan, kata-kata dan ungkapan itu tidak sesuai dengan Sutta dan Vinaya, maka kamu sekalian dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya itu bukan ucapan Sang Bhagava dan telah disalahmengerti oleh bhikkhu itu. Kamu sekalian harus menolak pernyataan itu. Tetapi, jikalau kata-kata dan ungkapan itu sesuai dengan Sutta dan Vinaya, maka kamu sekalian dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya itu ucapan Sang Bhagava dan telah dimengerti dengan baik oleh bhikkhu itu. Ini harus diterima sebagai Mahapadesa keempat.”

12. Juga di cetiya Ananda, Bhoganagara, Sang Bhagava sering memberi nasehat kepada para bhikkhu: “Ini adalah kebajikan moral (sila), ini adalah meditasi (samadhi) dan ini adalah kebijaksanaan (panna). Besar sekali pahala dan kemajuan bila meditasi dikembangkan berdasarkan pada sila yang baik. Besar sekali pahala dan kemajuan bila kebijaksanaan dikembangkan berdasarkan meditasi (samadhi) yang baik. Batin yang dikembangkan berdasarkan pada kebijaksanaan yang baik akan bebas dari kotoran batin seperti nafsu indera (kamasava), nafsu untuk ‘menjadi’ (bhavasava) dan pandangan salah (ditthasava).”

13. Setelah Sang Bhagava lama berdiam di Bhoganagara, beliau berkata kepada Ananda : “Ananda, marilah kita pergi ke Pava.”
“Baiklah, bhante,” jawab Ananda. Demikian Sang Bhagava tinggal di Pava bersama sejumlah besar bhikkhu dan tinggal di Ambavana milik Cunda, pandai besi.

SANTAPAN SANG BHAGAVA YANG TERAKHIR

14. Cunda pandai-besi, setelah mengetahui bahwa Sang Bhagava telah tiba lalu berkata: “Sang Bhagava, telah tiba di Pava dan berdiam di Ambavana milikku.” Cunda lalu menghadap Sang Bhagava, sesudah memberi hormat dengan khidmat kepada beliau, kemudian duduklah ia pada salah satu sisi. Sang Bhagava mengajarkan Cunda, pandai-besi, tentang dhamma yang telah membangkitkan semangatnya dan menyebabkan hatinya sangat gembira.

15. Kemudian Cunda berkata kepada Sang Bhagava: “Dapatkah kiranya Sang Bhagava menerima undangan kami untuk makan esok pagi bersama dengan para bhikkhu?” Sang Buddha bersikap diam. Dengan sikapnya yang diam itu berarti Sang Bhagava menyetujui permohonan Cunda.

16. Karena telah yakin akan persetujuan Sang Bhagava itu. Maka Cunda, pandai-besi, berdiri dari tempat duduknya. Menghormat dengan khidmat kepada Sang Bhagava lalu mengundurkan diri meninggalkan beliau.

17. Cunda pandai-besi, sejak semalam telah membuat makanan yang keras serta yang lunak dan makanan yang terdiri dari Sukaramaddava (jamur). Kemudian ia memberitahukan kepada kepada Sang Bhagava: “Bhante, silahkan. Makanan telah siap.”

18. Pada waktu pagi Sang Bhagava menyiapkan diri, membawa patta dan jubah, pergi dengan para bhikkhu ke rumah Cunda. Di sana beliau duduk di tempat yang telah disediakan, dan berkata kepada Cunda: “Hidangan Sukaramaddava (jamur) yang telah saudara sediakan, hidangkanlah itu untukku. Sedangkan makanan lain yang keras dan lunak, saudara dapat hidangkan kepada para bhikkhu.”
“Baiklah, bhante,” jawab Cunda. Sukaramaddava (jamur) yang telah disediakannya, dihidangkannya untuk Sang Bhagava, sedangkan makanan keras dan lunak lainnya dihidangkannya kepada para bhikkhu.

19. Sesudah itu Sang Bhagava berkata kepada Cunda: “Cunda, sisa-sisa Sukaramaddava yang masih tertinggal, tanamkanlah dalam sebuah lobang, karena kami lihat di dunia ini di antara para dewa, Mara, Brahmana, para samana atau Brahma, atau pun manusia, tidak ada seorang pun yang sanggup memakannya atau mencernakannya, kecuali Sang Tathagata sendiri.”
Cunda menjawab: “Baiklah, bhante.”
Demikianlah sisa Sukaramaddava yang tertinggal itu ditanamkannya dalam sebuah lobang.
Setelah itu ia kembali kepada Sang Bhagava memberi hormat dengan khidmat kepada beliau dan duduk pada salah satu sisi. Kemudian Sang Bhagava mengajarkan Cunda pandai-besi itu mengenai pelajaran yang membangkitkan semangat, yang berisi penerangan yang menggembirakan hatinya. Sesudah itu beliau bangun dari tempat duduknya pergi meninggalkan Cunda.

20. Sebenarnya sesudah Sang Bhagava menyantap santapan yang dihidangkan oleh Cunda, pandai-besi itu, beliau telah diserang sakit perut yang sangat mengerikan. Beliau merasakan rasa sakit yang sangat parah dan hebat sekali. Tetapi Sang Bhagava dapat melawan rasa sakitnya dengan penuh kesadaran, pengertian dan dengan penuh ketenangan.
Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: “Ananda, marilah kita ke Kusinara.”
Ananda menjawab: “Baiklah, bhante.”
“Kami telah mendengar: ‘Ketika Sang Bhagava makan hidangan yang dihidangkan oleh Cunda, dengan ketabahan hati dan ketenangan beliau menahan penderitaan yang hebat.’ Hal ini terjadi karena Sang Bhagava makan Sukaramaddava (jamur) yang dihidangkan oleh Cunda. Tetapi dengan tenang dan tabah beliau berhasil menahan rasa sakit yang datang sekonyong-konyong itu. ‘Marilah kita ke Kusinara,’ kata beliau dengan penuh kesabaran.”

21. Kini, dalam perjalanan itu Sang Bhagava tidak melalui jalan raya dan kemudian berhenti di bawah sebatang pohon. Beliau bersabda kepada Ananda: “Lipatlah jubah luarku empat kali Ananda dan letakkan di bawahku. Aku sangat letih, aku mau beristirahat sebentar.” “Baiklah, bhante,” jawab Ananda dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Sang Bhagava.

22. Sang Buddha duduk pada tempat yang disediakan baginya dan bersabda kepada Ananda: “Ananda tolonglah bawakan aku sedikit air, aku haus dan ingin minum.”
Ananda menjawab: “Bhante, baru saja sejumlah lima ratus pedati telah menyeberangi sungai yang dangkal di bagian itu, dan roda-rodanya telah mengeruhkan air sungai ini. Sebaiknya kita pergi ke sungai Kakutha yang tidak jauh dari sini. Air sungai itu sangat jernih, sejuk dan bening. Sungai itu mudah dicapai dan letaknya sangat baik. Di sana bhante dapat menghilangkan rasa haus dan menyegarkan tubuh.

23-24. Kemudian untuk kedua kalinya Sang Bhagava mengulangi permintaannya, tetapi Ananda menjawab seperti semula. Kemudian untuk ketiga kalinya Sang Bhagava bersabda: “Bawalah sedikit air, penuhi permintaanku Ananda, Aku amat haus dan ingin minum.”
Lalu Ananda menjawab demikian : “Baiklah, bhante.” Ananda mengambil mangkok ke sungai itu.
Air sungai yang dangkal yang telah dilalui oleh pedati-pedati sehingga airnya menjadi sangat keruh dan kotor. Tetapi sekonyong-konyong kotoran dalam air mengendap, air menjadi bening dan jernih. Dengan gembira Ananda lalu menghampirinya.

25. Ananda berkata dalam hatinya : “Sungguh mengherankan dan luar biasa. Sebenarnya semua ini terjadi tidak lain karena kemuliaan dan kekuatan Sang Tathagata.”
Ananda lalu mengambil air itu dengan mangkok dan membawanya kepada Sang Bhagava sambil berkata: “Sungguh mengherankan dan luar biasa. Semuanya ini terjadi karena kekuatan dan kemuliaan Sang Tathagata. Air sungai yang dangkal itu yang telah dilalui oleh pedati-pedati, airnya menjadi keruh dan kotor. Tetapi ketika saya menghampirinya tiba-tiba kotorannya mengendap, menjadi bening dan sungguh menyenangkan. Bhante, silahkan minum.” Sang Bhagava minum air itu.

PUKKUSA SUKU MALLA

26. Pada suatu hari ada seorang bernama Pukkusa, dari suku Malla, siswa dari Alara Kalama, lewat di situ dalam perjalanannya dari Kusinara ke Pava.
Ketika ia melihat Sang Bhagava sedang duduk di bawah sebatang pohon, ia menghampirinya sambil memberi hormat dengan hidmat dan duduk di salah satu sisi. Kemudian ia berkata kepada Sang Bhagava demikian: “Sungguh mengherankan dan sungguh luar biasa. Hanya dengan ketenangan batin bhante dapat melewati hidup di alam keduniawian ini.”

27. Dikisahkan pada suatu ketika, Alara Kalama sedang mengadakan perjalanan. Kemudian ia duduk di pinggir jalan, di bawah sebatang pohon, untuk menghindari terik sinar matahari. “Pada waktu itu kebetulan, bhante, sejumlah besar pedati bahkan lima ratus pedati, melewati tempat itu satu demi satu. Kemudian, seorang yang turut dalam iring-iringan pedati itu yang berada di belakang, menghampiri Alara Kalama yang sedang duduk itu dan berkata kepadanya demikian : “Apakah tuan melihat sejumlah besar pedati yang lewat tadi di sini?” Alara Kalama menjawabnya: “Saya tidak melihatnya sama sekali.” “Tetapi suaranya, tentu tuan mendengarnya bukan?” “Saya sama sekali tidak mendengarnya.” Orang itu lalu bertanya kepadanya : “Kalau demikian barangkali tuan sedang tertidur?” “Tidak saudara, saya tidak tertidur.”
“Apakah tuan dalam keadaan sadar?” “Demikianlah saudara.” Kemudian orang itu berkata: “Jadi tuan sedang terjaga dan sadar, tetapi tuan tidak melihat sejumlah pedati, bahkan lima ratus pedati yang melewati tuan satu demi satu dan tuan juga tidak mendengar suaranya. Mengapa jubah tuan ini sangat kotor dikotori debu?” Alara Kalama menjawab demikian: “Demikianlah keadaannya saudara.”
Setelah orang itu melihat kejadian tersebut lalu timbul pikirannya demikian: “Sungguh mengherankan dan sangat luar biasa ketenangan mereka yang telah dapat meninggalkan hidup keduniawian.” Maka timbullah kepercayaannya yang besar terhadap Alara Kalama. Kemudian ia pergi melanjutkan perjalanannya.

28. Kemudian Sang Bhagava berkata: “Pukkusa, bagaimana pendapatmu? Yang mana yang lebih sukar untuk dikerjakan, yang lebih sukar untuk ditemui, seseorang yang sedang sadar dan terjaga yang tak melihat-sejumlah besar pedati, bahkan lima ratus pedati, yang melewatinya satu demi satu, dan yang juga tidak mendengar suaranya. Kalau hal ini dibandingkan dengan seseorang yang sadar dan terjaga yang duduk di tengah-tengah hujan yang lebat disertai guntur menggelegar, halilintar menyambar dan petir bergemuruh, tetapi orang itu tidak melihat maupun mendengar suara halilintar yang menggeletar itu, bagaimana pendapatmu?”

29. “Bhante, tentu tidak sebanding, kelima ratus pedati, atau enam, tujuh, delapan, sembilan atau seribu bahkan beratus atau beribu-ribu pedati, kalau dibandingkan dengan kejadian ini.”

30. “Pernah terjadi pada suatu ketika, Pukkusa, tatkala aku sedang di Atuma dan duduk di dalam sebuah kandang sapi di sana. Pada waktu itu terjadilah hujan lebat dengan guntur menggelegar, halilintar dan petir menggemuruh. Atas kejadian itu dua orang petani bersaudara mati dekat kandang itu bersama dengan empat ekor sapinya. Kemudian sejumlah orang berdatangan dari Atuma di tempat kejadian itu.”

31. “Pukkusa, pada saat itu, saya keluar kandang itu sambil berjalan di depan pintu saya merenungkan sesuatu. Tiba-tiba seorang dari mereka itu datang menghampiri aku, sambil memberi hormat dengan hidmat dan berdiri di samping.”

32. Setelah itu aku bertanya kepadanya: “Mengapa banyak orang berkumpul ke mari?” Ia lalu menjawab: “Bhante, baru saja turun hujan yang sangat lebat dan guntur menggelegar, halilintar menyambar dan petir gemuruh. Dua orang petani bersaudara telah meninggal disambar petir di dekat kandang ini bersama empat ekor sapi. Sebab itulah orang-orang ini datang berkumpul ke mari, tetapi, di manakah Bhante berada tadi?” “Saya ada di sini, saudara.” “Kalau demikian apakah Bhante tidak tahu kejadian tadi?” “Saya tak melihatnya, saudara.” “Tetapi suaranya, Bhante tentu mendengarnya.” “Saya juga tidak mendengarnya.” Kemudian orang itu bertanya kepadaku: “Kalau demikian, Bhante barangkali sedang tidur?” “Tidak saudara, saya tidak tidur.” “Lalu apakah Bhante pada saat itu dalam keadaan sadar?”
Demikianlah adanya saudara. Kemudian orang itu berkata: “Jadi Bhante pada saat itu berada dalam keadaan sadar dan terjaga di tengah-tengah hujan yang lebat, yang disertai guntur yang gemuruh suaranya. Sementara ada suara halilintar menyambar-nyambar dan suara petir menggelegar tetapi Bhante tidak melihat atau mendengarnya?” Saya menjawab: “Tidak saudara.”

33. Pukkusa berkata dalam hatinya : “Sungguh mengherankan dan sangat luar biasa, ketenangan mereka yang telah dapat membebaskan diri dari keduniawian.”
Timbullah dalam dirinya kepercayaan yang amat besar kepadaku. Ia lalu menghormat dengan hidmat padaku dan kemudian ia mengundurkan diri.

34. Setelah beliau berkata demikian, Pukkusa dari suku Mala itu berkata kepada Sang Bhagava : “Kepercayaan kami, terhadap Alara Kalama sekarang telah lenyap bagaikan ditiup angin topan yang maha besar. Biarlah kepercayaanku kepadanya terbawa pergi oleh angin yang bertiup kencang luar biasa ini.
Sesungguhnya, Bhante adalah orang yang telah menegakkan kembali apa yang pernah tumbang atau mengeluarkan apa yang pernah tenggelam, atau menunjukkan jalan kepada seseorang yang telah tersesat atau menyalakan sebuah lampu di dalam kegelapan, sehingga mereka mempunyai mata dapat melihat. Di samping itu, Sang Bhagava telah mengajarkan Dhamma dengan berbagai cara. Karena itu perkenankanlah saya berlindung kepada Sang Bhagava, Dhamma dan Sangha. Semoga Sang Bhagava menerima saya sebagai siswa. Saya menyatakan berlindung kepada Sang Tiratana sampai akhir hidup saya.”

35. Kemudian Pukkusa berkata kepada seorang pembantunya: “Berikanlah saya, dua perangkat jubah berwarna keemasan yang berkilauan yang dapat dikenakan sekarang.” Orang itu menjawab : “Baiklah tuan.”
Setelah jubah itu diberikan kepadanya, Pukkusa mempersembahkanya kepada Sang Bhagava sambil berkata: “Semoga Sang Bhagava sudi menerima persembahan jubah ini.” Sang Bhagava menjawab : “Kuterima jubah ini sebuah saja Pukkusa, dan yang lainnya berikanlah kepada Ananda.” “Baiklah, bhante.”
Kemudian ia menyerahkan jubah itu sebuah kepada Sang Bhagava dan sebuah lagi kepada Ananda.

36. Setelah itu Sang Bhagava mengajarkan Dhamma kepada Pukkusa yang telah membangunkan semangatnya untuk mencapai penerangan dan yang sangat menggembirakan hatinya. Sesudah itu Pukkusa lalu bangun dari tempat duduknya dan memberi hormat dengan hidmat kepada Sang Bhagava lalu mengundurkan diri.

37. Segera setelah Pukkusa pergi Ananda lalu mengatur seperangkat jubah berwarna keemasan, yang berkilauan cahayanya dan kemudian mengenakannya, di badan Sang Bhagava. Tetapi ketika jubah itu telah dikenakan di badan Sang Bhagava, tiba-tiba jubah tersebut menjadi pudar warnanya dan sirna keindahannya.
Ananda lalu berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, sungguh mengherankan dan sangat luar biasa. Alangkah terang dan indah cahaya kulit tubuh Sang Tathagata. Jubah yang berwarna keemasan ini, yang berkilauan cahayanya, setelah bhante kenakan, cahayanya menjadi suram dan keindahannya sirna.”
“Ananda, memang demikianlah. Ada dua kejadian di mana tubuh Sang Tathagata nampak luar biasa terangnya dan bercahaya. Apakah kedua kejadian itu? Pada, malam Sang Tathagata mencapai Penerangan Sempurna yang tidak ada bandingannya dan pada malam Sang Tathagata sampai pada akhir kehidupannya, parinibbana, di mana tidak ada lagi unsur-unsur dan sisa keinginan. Tubuh Sang Tathagata nampak luar biasa bercahaya terang benderang.

38. “Ananda, malam ini pada saat-saat terakhir di kebun Sala milik suku Mala, di dekat Kusinara, di antara dua pohon Sala, Sang Tathagata akan mangkat, parinibbna. Karena itu marilah kita pergi ke sungai Kakuttha. Ananda menjawab : “Baiklah, bhante.”
Dengan mengenakan jubah yang dipersembahkan oleh Pukkusa, jubah yang dijalin dengan benang emas, namun tubuh Sang Guru nampaknya lebih bercahaya dan indah sekali kelihatannya.

DI TEPI SUNGAI KAKUTTHA

39. Kemudian Sang Bhagava pergi ke sungai Kakuttha bersama dengan sekumpulan para bhikkhu. Setelah tiba di tepi sungai itu, Sang Bhagava mandi. Setelah Sang Bhagava mandi, Beliau pergi ke Ambavana. Di tempat ini Beliau berkata kepada Cundaka: “Cundaka tolonglah lipat jubah luarku, lipatlah dalam empat lipatan lalu letakkan di bawah tubuhku. Aku merasa lelah dan ingin beristirahat sebentar.” “Baiklah, bhante.” Cundaka pun melipat jubah itu dalam empat kali lipatan dan meletakkannya di bawah tubuh Sang Buddha.

40. Sang Bhagava membaringkan tubuhnya pada sisi kanannya, dengan sikap seperti singa, dan meletakkan salah satu kakinya di atas kakinya yang satu lagi, dengan sikap demikian Beliau selalu tetap sadar, penuh perhatian dan setiap saat dapat bangun dengan mudah. Cundaka menempatkan dirinya di depan Sang Bhagava.

41. Sang Buddha pergi ke sungai Kakuttha yang airnya jernih sejuk menyegarkan. Beliau mandi untuk menyegarkan badannya yang lelah. Sang Buddha yang dihormati dalam semua alam. Setelah selesai mandi dan minum, Sang Buddha lalu berjalan meliwati para bhikkhu yang kemudian mengiringnya. Sang Guru Jagat kemudian pergi ke Ambavana untuk membicarakan dhamma. Di sana Beliau berkata kepada Cundaka, tolonglah lipat jubah luarku dalam empat lipatan, kemudian letakkan di bawah tubuhku.
Dengan segera Cundaka mengerjakannya dengan rapi. Sesuai dengan permintaan Sang Bhagava. Setelah itu Sang Bhagava berbaring di atas alas itu. Sedangkan Cundaka duduk di hadapannya.

MENGHILANGKAN PENYESALAN CUNDA

42. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: “Ananda, kemungkinan ada orang akan menyesali dan menyalahkan Cunda, pandai besi, dengan berkata: “Sungguh sial kau Cunda, karena perbuatan kamu, Sang Tathagata telah makan santapan untuk terakhir kalinya.” Dalam hubungan ini Ananda, tuduhan terhadap Cunda itu dapatlah dijelaskan sebagai berikut: “Suatu rahmat bagimu, Cunda dan ini benar-benar suatu berkah, bahwasanya karena kamulah Sang Tathagata memperoleh makanan sebagai dana yang terakhir dan setelah itu Beliau mangkat. Hal ini saudara, aku telah mendengar sendiri, langsung dari Sang Bhagava yang menyatakan: “Ada dua macam makanan, yang mempunyai pahala, yang mempunyai nilai kebaikan yang sama, yang melebihi nilai dari semua dana makanan yang lainnya. Dana manakah itu? Dana yang pertama adalah dana makanan yang pertama kalinya di makan oleh Sang Tathagata, setelah beliau mencapai penerangan sejati, dana ini tiada bandingannya. Dana yang kedua ialah dana makanan terakhir yang dimakan oleh Sang Tathagata sebelum beliau parinibbana, di mana semua unsur-unsur ikatan tidak akan timbul lagi. Maka perbuatan yang telah dilakukan saudara Cunda adalah berkah yang mengakibatkan panjang umur, rupawan, kesejahteraan, kemuliaan, akan lahir di alam sorga dan mendapat kedudukan yang tinggi.” Demikianlah Ananda, kau jelaskan tentang diri Cunda pandai besi itu.

43. Sang Bhagava, karena mengerti masalah tersebut, lalu mengucapkan syair dengan hidmat:

Orang yang memberi kebajikannya berkahnya akan bertambah;
Orang yang dapat mengendalikan diri, tidak akan membenci;
Orang yang tekun dalam kebajikan terhindar dari kejahatan;
Dengan membuang nafsu dan kebencian serta khayalan;
Maka ia akan mencapai ketenangan.

BAB V
TEMPAT PERISTIRAHATAN TERAKHIR

1. Kemudian Sang Bhagava mengajak Ananda dengan berkata: “Ananda, marilah kita menyeberangi sungai ini dan bila kita tiba di Hirannavati, kita pergi ke hutan Sala di daerah suku Malla, dekat Kusinara.” “Baiklah, bhante,” jawab Ananda.
Demikianlah, Sang Bhagava bersama sejumlah besar bhikkhu menyeberang sungai, tiba di Hirannavati, pergi ke hutan Sala di daerah suku Malla, dekat Kusinara. Setelah tiba, Sang Bhagava berkata kepada Ananda: “Ananda, tolong sediakan tempat berbaring di antara pohon-pohon Sala kembar itu, saya ingin berbaring.” “Baiklah, bhante,” jawab Ananda. Ananda melaksanakan permintaan Sang Bhagava. Sang Bhagava membaring diri pada sisi kanan dengan sikap bagaikan singa, meletakkan salah satu kakinya pada kakinya yang lain. Dengan bersikap seperti ini, beliau tetap sadar dan waspada. 2. Pada saat itu tiba-tiba dua pohon Sala kembar itu berbunga walaupun bukan pada musimnya untuk berbunga. Bunga-bunga itu jatuh bertaburan di atas tubuh Sang Tathagata, sebagai tanda penghormatan kepada beliau. Juga bunga surgawi serta serbuk cendana bertaburan dari angkasa ke tubuh Sang Bhagava. Bunga-bunga yang semerbak itu bertaburan di atas tubuh Sang Bhagava sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Suara nyanyian surgawi serta suara musik surgawi dengan lagu sangat merdu terdengar di angkasa, juga sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. 3. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: “Ananda, pohon Sala kembar ini berbunga semerbak, meskipun sekarang bukan musimnya berbunga. Bunga-bunga jatuh berhamburan di atas tubuh Sang Tathagata sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Bunga surgawi serta serbuk cendana surgawi bertaburan dari angkasa ke tubuh Sang Bhagava sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Suara nyanyian surgawi serta suara musik surgawi dengan lagu sangat merdu terdengar di angkasa, juga sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata.
Meskipun tidak mendapat penghormatan demikian, Sang Tathagata tetap dihormati, dimuliakan, dihargai, dipuja oleh semua orang dari semua tingkatan. Tetapi, siapa saja, apakah dia seorang bhikkhu, bhikkhuni, upasaka atau upasika yang berpegang pada Dhamma, hidup sesuai dengan Dhamma, berkelakuan baik sesuai dengan Dhamma, oleh mereka itu Sang Tathagata dihormati, dimuliakan, dihargai dan dipuja.
Ananda, oleh karena itu, berpeganglah pada Dhamma, hidup sesuai dengan Dhamma dan berkelakuan baik sesuai dengan Dhamma. Demikianlah caranya kamu melatih diri.”

DUKA CITA PARA DEWA

4. Pada waktu itu Upavana sedang di hadapan Sang Bhagava, sambil mengipasi beliau. Kemudian Sang Bhagava menegurnya: “Bhikkhu, minggirlah, jangan berdiri di depan saya.”
Ananda berpikir: “Upavana telah biasa melayani Sang Bhagava, sudah lama dan akrab dengan beliau. Akan tetapi pada saat terakhir ini Sang Bhagava menegurnya. Apakah sebabnya, apakah alasannya sehingga Sang Bhagava menegur Upavana dengan berkata: “Bhikkhu, minggirlah, jangan berdiri di depan saya.”

5. Ananda, kemudian menyatakan pendapatnya kepada Sang Bhagava. Sang Bhagava menjawab: “Ananda para dewa dari sepuluh ribu tata surya, hampir tidak ada yang ketinggalan, datang bersama-sama berkumpul di sini untuk menghadap Sang Tathagata. Sampai pada jarak duabelas yojana di sekeliling hutan Sala milik Suku Malla di daerah Kusinara ini tak ada tempat seujung rambut pun yang kosong, semuanya terisi, penuh sesak ditempati oleh para dewa perkasa dan para dewa agung, semuanya mengeluh: ‘Dari jauh datang kemari untuk menghadap Sang Tathagata. Karena jarang sekali di dunia ini muncul para Tathagata Arahat Samma Sambuddha. Sekarang pada hari ini, pada saat-saat terakhir dari malam ini, parinibbana Sang Tathagata akan segera tiba. Tetapi, pada saat ini, seorang bhikkhu yang berkekuatan besar, telah berdiri di muka Sang Bhagava, menghalangi pandangan kami, sehingga kami sekarang tak dapat melihat Sang Bhagava. Demikianlah Ananda, keluhan para dewa itu.”

6. “Bhante, para dewa manakah yang dimaksudkan oleh Sang Bhagava?” tanya Ananda.
“Ananda, para dewa angkasa dan para dewa bumi yang masih cenderung pada kesenangan nafsu, dengan rambut kusut sambil mengangkat tangan, mereka menangis, membanting diri di tanah sambil berguling-guling kian ke mari. Mereka meratap sambil berkata: Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat Sang Sugata parinibbana, terlalu cepat Sang Guru jagat parinibbana dan akan lenyap dari pandangan.”
Tetapi para dewa yang telah terbebas-dari hawa nafsu dengan penuh kesadaran dan pengertian yang benar, merenung: “Segala sesuatu adalah tidak kekal, bersifat sementara. Bagaimanakah yang akan terjadi, jika tidak terjadi demikian?”

KECEMASAN HATI ANANDA

7. “Dahulu tiga bulan sesudah musim hujan para bhikkhu datang mengunjungi Sang Tathagata. Hal itu sungguh sangat menguntungkan dan berguna dapat diterima dan berkenalan dengan para bhikkhu yang terhormat itu. Bhikkhu itu datang untuk mendengarkan amanat Sang Tathagata dan untuk mengunjungi Beliau. Tetapi kalau nanti Sang Bhagava mangkat, kami tak akan memperoleh manfaat dan kegembiraan serupa itu lagi.”

EMPAT TEMPAT UNTUK BERZIARAH

8. “Ananda, ada empat tempat bagi seorang berbakti seharusnya pergi berziarah, menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat. Di manakah keempat tempat itu?
Ananda, tempat di mana Sang Tathagata dilahirkan, adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah, menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.
Tempat di mana Sang Tathagata mencapai Penerangan Sempurna yang tiada taranya, adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah, menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.
Tempat di mana Sang Tathagata memutarkan roda dhamma untuk pertama kali, adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah, menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat.
Tempat di mana Sang Tathagata meninggal (parinibbana), adalah tempat bagi seorang berbakti seharusnya berziarah, menyatakan sujudnya dengan perasaan hormat. Mereka yang berziarah ke tempat-tempat itu, apakah mereka itu para bhikkhu, para bhikkhuni, para upasaka atau para upasika merenungkan : “Di sinilah Sang Tathagata dilahirkan. Di sinilah Sang Tathagata mencapai Penerangan Sempurna. Di sinilah Sang Tathagata memutarkan roda dhamma untuk pertama kali. Di sinilah Sang Tathagata meninggal (parinibbana).”
“Ananda, bagi mereka yang dengan keyakinan yang kuat melakukan ziarah ke tempat-tempat itu, maka setelah mereka meninggal dunia, mereka akan terlahir kembali di alam surga (sagga loka).”

9.Kemudian Ananda bertanya kepada Sang Bhagava: “Bhante, bagaimanakah seharusnya kita bersikap terhadap kaum wanita?” “Jangan memandang mereka, Ananda.” “Bhante, tetapi bagaimana kalau saya secara kebetulan memandang mereka?” “Janganlah berbicara dengan mereka Ananda.” “Bhante,tetapi bagaimana kalau mereka berbicara kepada kami?”
“Ananda, seharusnya dalam menghadapi mereka, kamu selalu sadar dan terus memusatkan pikiranmu.”

10. Ananda berkata: “Bhante, bagaimana caranya kami menghormati badan wadag Sang Tathagata?” “Janganlah menyusahkan dirimu Ananda, dengan menghormati badan wadag Sang Tathagata. Lebih baik kamu terus berjuang dan selalu belajar untuk kepentinganmu, untuk kebaikanmu. Janganlah mundur, rajin-rajinlah berlatih dan dengan keteguhan hati kembangkanlah kesadaranmu untuk kebaikanmu. Karena Ananda, terdapat banyak muliawan bijaksana, Brahmana bijaksana, orang berkeluarga yang berbudi luhur, yang telah berbakti kepada Sang Tathagata. Merekalah yang akan menyatakan rasa hormatnya dengan sewajarnya kepada badan wadag Sang Tathagata.”

11. Kemudian Ananda berkata: “Tetapi bagaimana Yang Mulia cara mereka menghormati jenazah Sang Tathagata?” “Persis atau sama Ananda, seperti kalian menghormati jenazah seorang raja Dunia (Cakkavati).” “Tetapi bagaimanakah, cara mereka untuk menghormati jenazah seorang raja Dunia?”
“Jenazah seorang Raja Dunia, mula-mula dibungkus dengan kain linen yang baru dan kemudian diikat dengan kain wool katun dan dengan begitu ia dibalut dengan lima ratus lapisan kain linen dan lima ratus lapisan kain katun wool. Apabila itu sudah dikerjakan, maka jenazah Sang Raja Dunia itu, ditempatkan dalam sebuah peti pembuluh yang dicat meni, yang dimasukkan pula dalam peti pembuluh yang lain, kemudian ditempatkan di pembakaran jenazah yang dibangun dengan beraneka macam kayu-kayu yang wangi, dan dengan demikian jenazah Sang Raja Jagat itu lalu dibakar. Di persimpangan empat (perempatan) lalu dirikan stupa untuk raja jagat itu.
Demikianlah Ananda, yang seharusnya dilakukan kepada jenazah seorang Raja Dunia. Selanjutnya Ananda, seperti halnya dengan jenazah dari Raja Dunia itu, demikian pula seharusnya dikerjakan terhadap badan wadag Sang Tathagata. Pada pertemuan empat jalan juga seharusnya didirikan stupa bagi Sang Tathagata.
Barang siapa yang membawa bunga-bunga, dupa kayu cendana, dan melakukan penghormatan di tempat itu pikiran mereka lalu menjadi tenang maka kebahagian dan kesenangan akan ada pada diri mereka dalam waktu yang lama.”

12. “Ada empat macam manusia, Ananda, yang sepantasnya dibuatkan stupa. Yang manakah keempat macam manusia itu?” “Seorang Tathagata Arahat Samma Sambuddha pantas dibuatkan stupa, demikian pula seorang Pacceka Buddha, seorang siswa dari Tathagata dan seorang Raja Dunia.
Ananda, mengapa seorang Tathagata Arahat Samma Sambuddha itu pantas dibuatkan sebuah stupa? Sebab bilamana orang-orang melihat stupa dan merenung: ‘Ini adalah stupa Sang Bhagava Arahat Samma Sambuddha.’ Hati para penganut itu akan menjadi tenang dan berbahagia, dengan ketenangan yang demikian serta pikiran yang penuh dengan kepercayaan pada semua itu, mereka pada penghancuran jasmaninya sesudah kematian akan tumimbal lahir dalam suatu keadaan yang penuh dengan kebahagian Surga. Demikian pula bila mereka merenungkan. “Ini adalah stupa dari Pacceka Buddha atau ini adalah stupa dari Siswa Sang Tathagata Arahat Samma Sambuddha, atau inilah stupa raja yang adil yang memerintah sesuai dengan Dhamma.” Maka dengan perenungan ini, hati mereka akan menjadi tenang dan bahagia; dengan ketenangan demikian serta dengan penuh kepercayaan pada semua itu, mereka pada penghancuran jasmaninya, sesudah kematian, akan tumimbal lahir di suatu keadaan yang bahagia. Karena alasan-alasan ini keempat macam manusia itu pantas dibuatkan sebuah stupa.”

DUKA CITA ANANDA

13. Sementara itu Ananda menuju vihara dan bersandar pada tiang pintu, ia menangis dan berkata : “Saya masih seorang siswa (savaka) dan masih harus berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Sungguh malang aku ini, Guru yang penuh kasih sayang padaku akan meninggal dunia.”
Kemudian Sang Bhagava bertanya kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu, di manakah Ananda?”
“Bhante, Ananda telah pergi ke vihara, bersandar pada tiang pintu, menangis dan berkata: ‘Saya masih seorang siswa dan masih harus berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Sungguh malang aku ini, Guru yang penuh kasih sayang padaku akan meninggal dunia.’”
Sang Bhagava menyuruh seorang bhikkhu untuk memanggil Ananda dengan berkata : “Bhikkhu, katakanlah kepada Ananda bahwa Sang Guru memanggilnya.” “Baiklah bhante,” jawab bhikkhu itu. Bhikkhu itu pergi menjumpai Ananda dan mengatakan apa yang diperintahkan oleh Sang Bhagava. Kemudian Ananda pergi menemui Sang Bhagava, bersujud kepada Sang Bhagava dan menempatkan diri pada tempat yang tersedia.

14. Sang Bhagava lalu berkata kepada Ananda: “Ananda, cukuplah jangan bersedih, janganlah meratap, karena …. apakah kami belum cukup mengajarkan pada waktu yang lalu bahwa sudah menjadi kodrat bahwa segala sesuatu yang dekat kita, yang kita cintai pada suatu saat tentu akan berpisah dengan kita. Segala sesuatu yang dilahirkan, menjadi makhluk, semua akan mengalami keadaan sama yang akhirnya akan dicengkram oleh kehancuran. Bagaimana kita dapat mengatakan, bahwa kita tidak akan berpisah? Sudah lama kamu melayani Sang Tathagata dengan cinta kasih dalam perbuatan, kata-kata dan pikiran, disertai dengan sopan santun serta, menyenangkan. Juga dengan hati yang tulus ikhlas yang tak ada taranya, sungguh suatu kebaikan yang sangat besar telah kamu kerjakan, Ananda. Sekarang kamu harus berjuang terus dengan giat, akhirnya dengan segera kamu akan menjadi seorang yang bebas dari segala penderitaan.”

PUJIAN KEPADA ANANDA

15. Kemudian Sang Bhagava mengatakan kepada para bhikkhu demikian : “Para Buddha yang suci, yang maha sempurna dari waktu-waktu yang lampau, beliau itu juga mempunyai bhikkhu sebagai pelayan yang sangat tekun dan berbakti, seperti yang terlihat pada diri Ananda. Para bhikkhu, demikian pula halnya dengan para makhluk yang suci, para yang maha sempurna dari waktu yang akan datang.”
“Para bhikkhu, Ananda adalah cakap dan jujur, karena ia mengetahui waktu yang tepat untuk para bhikkhu menghadap Sang Tathagata, dan waktu yang tepat untuk para bhikkhuni, waktu bagi laki serta wanita biasa, waktu bagi para Raja serta para patih negara, waktu bagi para guru aliran-aliran lain serta para pengikutnya untuk menghadap beliau.”

16. “Para bhikkhu, pada diri Ananda terdapatlah empat sifat yang luar biasa dan jarang kita temui pada orang lain. Apakah keempat sifat itu? Apabila, serombongan bhikkhu berkunjung pada Ananda, mereka akan menjadi sangat gembira dapat bertemu. Apabila ia kemudian bercakap-cakap dengan mereka mengenai Dhamma mereka akan menjadi senang akan pembicaraan itu, dan kalau ia berdiam diri maka mereka akan merasa kecewa. Begitulah apabila para bhikkhu, atau orang laki-laki serta wanita biasa berkunjung pada Ananda, mereka akan menjadi gembira, apabila ia berbicara pada mereka tentang Dhamma, mereka akan menjadi senang dan apabila ia berdiam diri mereka akan merasa kecewa.
“Para bhikkhu, pada diri seorang raja dunia terdapat sifat yang jarang ada dan utama. Apakah keempat sifat itu? Apabila, serombongan orang mulia berkunjung pada Raja Dunia itu, mereka menjadi gembira. Dan apabila ia berbicara, mereka menjadi senang oleh pembicaraannya; apabila berdiam diri mereka akan merasa kecewa. Begitu pula apabila serombongan brahmana, orang biasa, atau pertapa, berkunjung pada seorang Raja Dunia itu mereka akan mengalami keadaan yang demikian juga.”
“Para bhikkhu, demikian pula halnya pada diri Ananda, terdapat keempat sifat yang jarang ada dan utama itu.”

KEMEGAHAN KUSINARA PADA WAKTU YANG LAMPAU

17. Ketika hal ini telah diucapkan, Ananda lalu berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, janganlah sampai terjadi, Sang Bhagava akan wafat di tempat ini, di daerah yang sederhana dan tidak ada peradabannya, di tengah belantara, hampir di luar perbatasan dari propinsi, banyak kota besar, seperti Champa, Rajagaha, Savathi, Saketa, Kosambi dan Benares. Sebaiknya Sang Bhagava mengakhiri hidup beliau di salah satu kota tersebut. Karena di dalam kota itu berdiam banyak muliawan yang kaya dan para brahmana serta para keluarga yang merupakan para pengikut yang sangat berbakti kepada Sang Tathagata; mereka akan melakukan penghormatannya sebagaimana mestinya kepada Sang Tathagata.”
“Janganlah berkata demikian, Ananda. Janganlah berkata: ‘Tempat ini, adalah daerah yang tidak ada peradabannya di tengah belantara hampir di luar perbatasan propinsi.’

18. Dahulu kala di tempat ini berdiam seorang Raja yang bernama Maha Sudassana, ia adalah seorang Raja seluruh dunia, seorang Raja yang adil, seorang Pemenang dari seluruh bumi ini yang kerajaannya didirikan dengan penuh kemegahan, aman dan sentausa serta diberkahi dengan tujuh permata.
Raja Sudassana mendirikan istana di Kusinara ini, yang kemudian dinamakan Kusavati yang luasnya dua belas yojana dari timur ke barat dan dari utara ke selatan tujuh yojana. Sangat luas istana itu.
Megah sekali Kusavati itu, ibukota yang makmur dan penduduknya sangat baik dan beradab. Penduduknya berkembang dengan cepat, dan berlimpah dengan bahan makanan. Persis sebagai istana para dewa, Alakamanda, yang luar biasa makmurnya dan penghuninya baik sekali serta beradab, disertai para dewa serta dilimpahi sejumlah besar makanan. Begitulah ibukota kerajaan Kusavati yang kuno itu.
Kota Kusavati, suasananya sangat ramai dan meriah, tiada hentinya siang dan malam orang bersuka ria, disertai sepuluh macam suara bunyi-bunyian, suara terompet, gajah, ringkikan kuda, gemerincingnya kereta-kereta, suara kendang-tambur dan rebana, serta irama lagu-lagu yang sangat merdu, diiringi tepuk tangan dan teriakan-teriakan yang nyaring, mengajak dengan berseru: “Mari makan, mari minum, mari bergembira, ayo makanlah minumlah mari bergembira.”

PARA SUKU MALLA

19. “Pergilah sekarang, Ananda, ke Kusinara dan umumkanlah kepada suku Malla: ‘Hari ini, para Vassetha, pada jam-jam terakhir malam ini, Parinibbana Sang Tathagata akan tiba. Kunjungilah, para Vassetha dan dekatilah beliau. Supaya jangan menyesal di belakang hari dan berkata dalam hati: ‘Di daerah kamilah terjadi Parinibbana Sang Tathagata tetapi kami menyesal karena pada saat terakhir, tidak melihatnya.’ ”
“Baiklah, bhante” kemudian Ananda dengan membawa jubah serta patta, pergi ke Kusinara, dengan seorang kawannya.

20. Pada saat itu suku Malla sedang berkumpul dalam ruang persidangan, untuk merundingkan kepentingan umum. Ananda mendekati mereka lalu berkata: “Para Vassetha, hari ini pada saat-saat terakhir dari malam ini, Parinibbana Sang Tathagata akan tiba. Kunjungilah dekatilah beliau. Supaya jangan menyesal di kemudian hari, dengan berkata dalam hati: ‘Di daerah kamilah terjadi Parinibbana Sang Tathagata tetapi kami sangat menyesal karena pada saat-saat terakhir, tidak dapat melihatnya.’

21. Ketika mereka mendengar Ananda mengucapkan kata-kata itu, suku Malla beserta anak-anak, para isteri dan semua menantu-menantunya menjadi sangat sedih, berduka cita dan bersusah hati, ada di antaranya dengan rambut yang kusut, dan dengan menengadah menangis kesedihan sambil menyebut-nyebut Beliau. Ada pula yang mambanting dirinya di atas tanah dan berguling-guling kian kemari sambil meratap: “Terlalu cepatlah Sang Tathagata Parinibbana. Terlalu cepatlah Sang Sugata Parinibbana. Terlalu cepatlah Sang Guru Jagat lenyap dari pandangan,”
Dengan sedih dan penuh duka cita pergilah suku Malla itu beserta anak-anak, isteri dan semua menantu menuju ke Hutan Sala, ke taman hiburan dari suku Malla itu, di mana bhikkhu Ananda berada.

22. Timbullah pikiran pada diri Ananda “Apabila saya mengijinkan suku Malla ini menyampaikan penghormatan kepada Sang Bhagava, satu demi satu, maka akan terlalu lama, waktu akan habis, dan malam akan menjadi fajar belum juga mereka semua dapat menghadap Sang Bhagava. Oleh karena itu biarlah aku membagi mereka menurut golongan-golongan, tiap keluarga dalam rombongan, dan dengan demikian mereka bersama-sama akan menghadap kepada Sang Bhagava. “Bhante, suku Malla dengan nama-nama ini beserta istri, anak-anak, para pelayan dan kawan-kawan, menghaturkan hormat mereka kepada Sang Bhagava.”
Kemudian Ananda membagi-bagikan suku Malla itu menurut golongan, keluarga dijadikan satu rombongan, kemudian mereka dibawa menghadap kepada Sang Bhagava.
Dengan demikian maka Ananda telah dapat mengatur suku Malla dari Kusinara itu menghadap Sang Bhagava, dengan berombongan, tiap-tiap keluarga dalam satu rombongan, sehingga pada jam pertama dari malam itu, mereka dapat menghadap semuanya.

ORANG TERAKHIR YANG DITAHBISKAN

23. Ketika itu seorang petapa pengembara bernama Subhadda sedang berdiam di Kusinara. Subhadda, petapa yang pengembara itu mendengar kabar : “Hari ini, pada jam ketiga pada malam ini, Parinibbana Sang Gautama akan terjadi.” Karena itu timbullah pikirannya: “Aku pernah mendengar dari para petapa yang tua-tua dan mulia, dari para guru, bahwa munculnya para Tathagata Arahat Samma Sambuddha, adalah kejadian yang jarang sekali di dunia. Pada hari ini, pada jam-jam terakhir malam ini juga Parinibbana Sang Gautama akan terjadi. Kini pada diriku ada suatu keragu-raguan dan dalam hal ini aku mempunyai kepercayaan pada petapa Gautama itu, ia akan dapat mengajarkan Dhamma kepadaku untuk menghilangkan keraguan-raguanku.”

24. Kemudian petapa pengembara Subhadda menuju ke Hutan Sala, taman hiburan milik Suku Malla itu, dan menemui Ananda, lalu menceritakan maksudnya kepada Ananda. Ia berkata kepada Ananda: “Kawan Ananda, alangkah baiknya bagi saya diperbolehkan menghadap petapa Gautama.” Tetapi Ananda menjawab; “Cukuplah kawan Subhadda, janganlah mengganggu Sang Tathagata. Sang Bhagava sedang payah.”
Meskipun begitu sampai pada permintaan ketiga kalinya petapa pengembara itu mengulangi lagi permohonannya, untuk kedua dan ketiga kalinya Ananda tetap menolaknya.

25. Sang Bhagava mendengar percakapan antara kedua orang itu, lalu Beliau memanggil Ananda dan berkata: “Ananda, jangan menolak Subhadda. Perbolehkanlah ia menghadap Sang Tathagata, karena apa saja yang akan ditanyakan kepadaku hal itu demi kepentingan pengetahuan dan bukan sebagai suatu pelanggaran. Jawaban yang akan aku berikan kepadanya, ia siap untuk memahaminya.”
Oleh karena itu Ananda berkata kepada petapa pengembara Subhadda: “Silahkanlah, kawan Subhadda, Sang Bhagava memperbolehkan saudara menghadap.”

26. Kemudian petapa pengembara Subhadda itu, mendekati Sang Bhagava dan menghormat dengan sopan santun dan setelah itu, petapa pengembara Subhadda, duduk di salah satu sisi lalu berkata kepada Sang Bhagava: “Yang Mulia Gautama, ada para petapa dan brahmana yang memimpin sejumlah besar siswa yang mempunyai banyak pengiring, yang memimpin perguruan-perguruan yang terkenal dan termasyur dan mendapat penghormatan yang tinggi oleh khalayak ramai, guru-guru demikian itu adalah seperti: Purana Kassapa, Makkhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakudha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, Nigantha-Nataputta. Apakah mereka itu semuanya telah mencapai kebebasan, seperti yang dikatakan oleh orang-orang itu, atau apakah tak seorang dari mereka yang mencapai kebebasan atau apakah hanya beberapa saja telah mencapai, dan yang lainnya tidak?”
“Cukuplah Subhadda. Biarkanlah apa yang dikatakan mereka, apakah semua dari mereka itu telah mencapai pembebasan, seperti yang disiarkan orang-orang itu, atau tidak ada seorangpun dari mereka itu yang mencapai kebebasan, atau hanya beberapa saja dari mereka itu yang mencapai kebebasan yang lain tidak. Hal itu tidak perlu dirundingkan. Kini, aku akan mengajarkan kebenaran kepadamu, Subhadda, dengar dan perhatikanlah benar-benar, aku akan berbicara.”
“Baiklah, bhante,” jawab Subhadda. Kemudian Sang Bhagava berkata:

RAUNGAN SANG SINGA

27. “Subhadda, dalam dhamma dan vinaya mana pun, jika tidak terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka di sana pun tidak akan terdapat seorang petapa sejati yang telah mencapai tingkat pertama, kedua, ketiga atau keempat. Tetapi dalam dhamma dan vinaya yang mana pun, jika terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan, maka di sana pun akan terdapat petapa yang sejati yang telah mencapai tingkat pertama, kedua, ketiga atau keempat. Kini, dalam dhamma dan vinaya yang kami ajarkan terdapat Jalan Mulia Berunsur Delapan itu, maka dengan sendirinya juga terdapat petapa-petapa sejati yang telah mencapai tingkat pertama, kedua, ketiga atau keempat.
Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah kosong dan bukan petapa yang sejati. Subhadda, jika para bhikkhu ini hidup dengan baik menurut dhamma dan vinaya, maka dunia ini tidak akan kekosongan Arahat.
Subhadda, sejak kami berumur duapuluh sembilan tahun, kami telah meninggalkan kehidupan duniawi untuk mencari kebaikan. Subhadda, kini telah lewat limapuluh satu tahun, dan sepanjang waktu itu, kami telah berkelana dalam suasana kebajikan dan kebenaran, waktu itu di luar tidak ada manusia suci. Juga tidak dari tingkat kedua, ketiga ataupun tingkat kesucian keempat. Ajaran guru-guru lainnya yang tidak memiliki Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah kosong dan bukan petapa yang sejati. Subhadda, jika para bhikkhu ini hidup dengan baik menurut dhamma dan vinaya, maka dunia ini tidak akan kekosongan Arahat.”

28. Ketika hal ini telah dikatakan oleh Sang Bhagava lalu petapa pengembara Subhadda, berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, luar biasa, sangat tepat dan sungguh luar biasa. Hal ini adalah ibarat orang yang menegakkan kembali sesuatu yang telah tumbang, atau memperlihatkan sesuatu yang telah tersembunyi, atau menunjukkan jalan kepada seseorang yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan, sehingga mereka yang mempunyai mata dapat melihat, di samping itu bahkan Sang Bhagava telah mengutarakan Dhammanya dalam berbagai cara. Maka dengan ini, saya mencari perlindungan pada Sang Bhagava, Dhamma dan Sangha. Semoga kiranya saya dapat diperkenankan oleh Sang Bhagava untuk memasuki Sangha, dan juga diperkenankan menerima penabisan kebhikkhuan.”
“Subhadda, siapa saja yang dahulunya telah menjadi pengikut suatu ajaran yang lain, kalau ingin masuk dan ditabiskan menjadi bhikkhu, di dalam dhamma vinaya yang kuajarkan ini, haruslah ia menempuh masa percobaan lebih dahulu selama empat bulan. Kemudian pada akhir bulan yang keempat itu, para mahatera akan berkenan menerimanya lalu ditabiskan menjadi seorang bhikkhu. Tetapi dalam hal ini aku sendiri dapat melihat perbedaan-perbedaan kesanggupan pribadi dari tiap-tiap orang.”

29. “Bhante, kalau demikian, orang yang dahulunya telah menjadi pengikut suatu ajaran lain, kalau ingin masuk dan ditabiskan menjadi bhikkhu di dalam dhamma vinaya yang diajarkan oleh bhante ini, harus menempuh masa percobaan lebih dahulu selama empat bulan. Kemudian pada akhir bulan yang keempat itu, maka para mahathera berkenan akan menerimanya lalu ditabiskan menjadi seorang bhikkhu. Saya juga akan sanggup, menempuh masa percobaan yang empat bulan. Pada akhir bulan yang keempat itu, terserahlah pada kebijaksanaan para mahathera itu, berkenan menerima saya dan menabiskan menjadi seorang bhikkhu.” Tetapi ketika itu, Sang Bhagava memanggil Ananda, dan berkata kepadanya: “Ananda, kalau demikian izinkanlah Subhadda ini memasuki persaudaraan sebagai anggota Sangha.” Ananda menjawab: “Baiklah, Bhante.”

30. Lalu petapa pengembara Subhadda itu berkata kepada Ananda: “Suatu keuntungan bagi Anda, sesungguhnya suatu berkah, bahwa di hadapan Sang Guru sendiri Anda telah diperkenankan menerima penabisan saya sebagai seorang siswa.”
Demikianlah telah terjadi, bahwa pertapa pengembara Subhadda telah diterima dan ditabiskan menjadi bhikkhu, di hadapan Sang Bhagava sendiri. Ia pun tekun, rajin dan sungguh-sungguh. Maka ia mencapai tujuan, sebagai orang yang dihormati, yang hidup berkelana, meninggalkan keduniawian, menuju kehidupan yang suci, dan setelah capai kebijaksanaan yang tinggi, ia hidup di dalam kesucian. Hancurlah belengu-belengu kelahiran, kehidupan suci telah tercapai, tak ada lagi sesuatu yang harus dikerjakan, dan dalam kehidupan ini tak ada lagi sesuatu yang tertinggal.” Demikianlah ia telah menyadarinya.
Bhikkhu Subhadda menjadi salah seorang di antara para Arahat dan ia adalah siswa terakhir yang diterima Sang Bhagava.

BAB VI
NASEHAT-NASEHAT TERAKHIR DARI SANG BHAGAVA

1. Kini Sang Bhagava berkata kepada Ananda : “Ananda, ada kemungkinan bahwa beberapa di antara bhikkhu ini akan ada yang berpikir : ‘Berakhirlah kata-kata Sang Guru, kita tak mempunyai seorang guru lagi’ tetapi janganlah sampai terjadi anggapan demikian, karena apa yang telah Aku nyatakan dan ajarkan yaitu Dhamma itulah yang akan menjadi gurumu, apabila Aku sudah wafat.”

2. Ananda, sebagaimana pada saat ini para bhikkhu saling menegur satu dengan yang lainnya sebagai “Avuso”, namun janganlah demikian apabila Aku telah tidak ada.
Para bhikkhu yang lebih tua, bolehlah menegur kepada yang lebih muda dengan menyebut namanya, atau nama keluarganya, atau dengan sebutan avuso, sedangkan bhikkhu yang lebih muda seharusnya berkata kepada yang lebih tua dengan sebutan “Bhante”.

3. “Ananda, apabila dikehendaki Sangha dapat menghapus peraturan-peraturan kecil (Khuddaka sikkhapada) setelah Aku meninggal.”

4. “Ananda, untuk bhikkhu Channa, setelah Aku meninggal, kenakanlah hukuman brahma (brahma danda) kepadanya.” “Bhante, tetapi apakah yang dimaksud dengan brahma danda itu?”
“Ananda, bhikkhu Channa dapat berkata apa saja yang diinginkannya, tetapi para bhikkhu tidak perlu bercakap-cakap dengan dia, tidak perlu menegur atau pun memperingatkannya.”

5. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu demikian : “Para bhikkhu, ada kemungkinan bahwa salah seorang di antara kalian merasa ragu atau bimbang terhadap Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, jalannya atau pelaksanaannya. Maka itu tanyakanlah sekarang, para bhikkhu. Janganlah sampai ada yang menyesal nanti di kemudian hari, dengan pikiran: “Tatkala Sang Guru berada di tengah-tengah kami, berhadap-hadapan dengan kami, tetapi kami tidak bertanya apa-apa kepada Beliau.” Walaupun hal ini telah dikatakan, tetapi para bhikkhu itu tetap diam saja.
Kemudian diulangi lagi untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya Sang Bhagava berkata kepada mereka : “Ada kemungkinan, para bhikkhu, bahwa salah seorang di antara kalian merasa ragu-ragu atau bimbang terhadap Sang Buddha, Dhamma dan Sangha, jalannya atau pelaksanaannya. Maka itu tanyakanlah sekarang, para bhikkhu. Janganlah sampai ada yang menyesal nanti di kemudian hari, dengan pikiran : “Takkala Sang Guru masih ada di tengah-tengah kami, berhadap-hadapan dengan kami, tetapi kami tidak bertanya apa-apa kepada Beliau.”
“Untuk kedua dan ketiga kalinya para bhikkhu, karena kalian merasa hormat atau segan kepada Sang Guru, maka kalian tidak mau mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kalau begitu, baiklah kalian berunding bersama teman-teman lebih dulu, tentang apa yang akan ditanyakan dan kemudian salah satu di antaranya menjadi wakil untuk menanyakan pertanyaan itu kepadaKu.”
Tetapi para bhikkhu itu masih tetap diam saja.

6. Akhirnya Ananda berkata kepada Sang Bhagava demikian “Bhante, sungguh mengherankan, sangat luar biasa. Kami mempunyai keyakinan yang besar terhadap persaudaraan para bhikkhu ini, bahwa tak seorang bhikkhu pun yang merasa ragu-ragu atau bimbang terhadap Sang Buddha, Dhamma, Sangha, jalannya atau pun pelaksanaannya.”
“Karena keyakinanlah Ananda, kamu berbicara begitu. Dalam hal ini Sang Tathagata mengetahui dengan pasti bahwa di antara persaudaraan para bhikkhu ini tiada seorang bhikkhu pun yang merasa ragu-ragu dan bimbang terhadap Sang Buddha, Dhamma dan Sangha mengenai jalannya atau pelaksanaannya.
Ananda, karena di antara lima ratus bhikkhu ini, yang terendah pun adalah sotapanna, yang tak mungkin terlahir kembali di alam penderitaan, yang pasti akan mencapai penerangan sempurna (bodhi) di kemudian hari.”

7. Kemudian Sang Bhagava berkata kepada para bhikkhu : “Para bhikkhu, perhatikanlah nasehat ini : ‘Segala sesuatu adalah tidak kekal. Berusahalah dengan sungguh-sungguh.’ (Vaya dhamma sankhara, appamadena sampadetha).”
Inilah kata-kata terakhir Sang Tathagata.

PARINIBBANA SANG BHAGAVA

8. Mula-mula Sang Bhagava memasuki Jhana pertama.
Bangkit dari Jhana pertama, beliau memasuki Jhana kedua. Bangkit dari Jhana kedua beliau memasuki Jhana ketiga. Bangkit dari Jhana ketiga, beliau memasuki Jhana keempat. Bangkit dari Jhana keempat, beliau memasuki keadaan Ruang Tak Terbatas. Bangkit dari keadaan Ruang Tak Terbatas, beliau memasuki keadaan Kesadaran Tak Terbatas. Bangkit dari keadaan Kesadaran Tak Terbatas, beliau memasuki keadaan Kekosongan. Bangkit dari keadaan kekosongan, beliau memasuki keadaan Bukan Pencerapan maupun Tidak Bukan Pencerapan. Bangkit dari Keadaan Bukan Pencerapan maupun Tidak Bukan Pencerapan, beliau memasuki Keadaan Penghentian dari Pencerapan dan Perasaan.
Kemudian Ananda berkata demikian : “Anuruddha kiranya Sang Bhagava telah mangkat.”
“Tidak, saudara Ananda, Sang Bhagava belum mangkat, Beliau memasuki keadaan Penghentian dari Pencerapan dan Perasaan.”

9. Kemudian Sang Bhagava, bangkit dari keadaan Penghentian dari Pencerapan dan Perasaan, lalu kembali lagi memasuki keadaan Bukan Pencerapan maupun Tidak Bukan Pencernaan. Bangkit dari keadaan Bukan Pencerapan maupun Tidak Bukan Pencerapan, beliau memasuki keadaan Kekosongan, beliau memasuki keadaan Kesedaran Tak Terbatas. Bangkit dari Keadaan Kesadaran Tak Terbatas, beliau memasuki keadaan Ruang Tak Terbatas. Bangkit dari keadaan Ruang Tak Terbatas, beliau memasuki Jhana keempat. Bangkit dari Jhana keempat, beliau memasuki Jhana ketiga. Bangkit dari Jhana ketiga, beliau memasuki Jhana kedua. Bangkit dari Jhana kedua, beliau memasuki Jhana pertama.
Bangkit dari Jhana pertama, beliau memasuki Jhana kedua. Bangkit dari Jhana kedua, beliau memasuki Jhana ketiga. Bangkit dari Jhana ketiga, beliau memasuki Jhana keempat. Dan bangkit dari Jhana keempat, lalu mangkatlah, Sang Bhagava – Parinibbana.
Demikianlah ketika Sang Bhagava telah Parinibbana, tepat bersamaan dengan saat parinibbanaNya, maka terjadilah gempa bumi yang sangat dahsyat, menakutkan, mengerikan, dan mengejutkan disertai halilintar sambar-menyambar di angkasa.
Ketika Sang Bhagava parinibbana, pada saat parinibbana itu, dewa Brahma Sahampati mengucapkan syair ini:

Mereka semua, semua makhluk hidup akan melepaskan bentuk kehidupan mereka kelompok batin dan jasmani.
Walaupun Ia seorang Guru Jagad seperti Beliau, yang tiada taranya, yang perkasa Tathagata Sambuddha Parinibbana juga.Ketika Sang Bhagava parinibbana, pada saat parinibbana itu, dewa Sakka, raja para dewa, mengucapkan syair ini: “Segala yang berbentuk tidak kekal adanya, bersifat timbul dan tenggelam,
Setelah timbul akan hancur dan lenyap,
Bahagia timbul setelah gelisah lenyap.”Ketika Sang Bhagava parinibbana, pada saat parinibbana itu, bhikkhu Anuruddha mengucapkan syair ini: Tanpa menggerakkan napas, namun dengan keteguhan batin, bebas dari keinginan dan segala ikatan, demikianlah Sang Bijaksana mengakhiri hidupnya.
Walaupun menghadapi saat maut, Beliau tak gentar, batinnya tetap tenang.
Bagaikan padamnya nyala lampu’
Beliau mencapai kebebasan.Ketika Sang Bhagava parinibbana, pada saat parinibbana itu, Ananda mengucapkan syair ini: “Maka terjadilah kegemparan sehingga bulu roma berdiri, ketika Sang Buddha parinibbana.”Demikianlah, ketika Sang Bhagava meninggal, beberapa bhikkhu yang belum melenyapkan kesenangan napsu dengan mengangkat tangan mereka menangis, membanting diri di tanah sambil berguling-guling kian ke mari. Mereka meratap sambil berkata: “Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat Sang Guru jagad parinibbana dan lenyap dari pandangan.”
Tetapi para bhikkhu yang telah bebas dari hawa nafsu dengan penuh kesadaran dan pengertian yang benar, merenung dalam batin: “Segala sesuatu adalah tidak kekal, bersifat sementara. Bagaimanakah yang akan terjadi, jika tidak terjadi demikian?”

11. Kemudian bhikkhu Anurudha berkata kepada para bhikkhu: “Cukuplah para avuso! Janganlah berduka cita, janganlah meratap! Karena bukankah Sang Bhagava dahulu telah menyatakan bahwa segala sesuatu yang disayangi dan yang dicintai itu tidaklah kekal, pastilah ada perobahan, pergeseran serta perpisahan ? Apa yang timbul dalam perwujudan, kelahiran sebagai makhluk dalam bentuk yang berpaduan itu, pasti akan mengalami kelapukan; maka hal ini tidak lenyap. Para dewa juga sangat berduka cita.”
“Tetapi, para dewa manakah yang disadarkan oleh bhante?” tanya Ananda.
“Ananda, para dewa angkasa dan bumi yang masih cenderung pada kesenangan nafsu, dengan rambut kusut sambil mengangkat tangan, mereka menangis, membanting diri di tanah sambil berguling-guling kian ke mari. Mereka meratap sambil berkata : “Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat Sang Guru Jagad parinibbana dan akan lenyap dari pandangan.”
“Tetapi para dewa yang telah bebas dari hawa nafsu, dengan penuh kesadaran dan pengertian yang benar, merenung: “Segala sesuatu adalah tidak kekal bersifat sementara. Bagaimanakah yang akan terjadi jika tidak demikian?”

12. Kini Anurudha dan Ananda selama satu malam suntuk memperbincangkan Dhamma. Kemudian Anurudha berkata kepada Ananda : “Ananda, sekarang pergilah ke Kusinara, umumkanlah kepada suku Malla : “Vasetha, ketahuilah bahwa Sang Bhagava telah mangkat. Sekarang terserahlah kepada saudara-saudara sekalian.” “Baiklah bhante.”
Lalu Ananda dengan seorang kawannya mempersiapkan diri sebelum tengah hari dan sambil membawa patta serta jubahnya menuju ke Kusinara.
Pada saat itu suku Malla dari Kusinara sedang berkumpul dalam ruang persidangan untuk merundingkan soal itu juga. Takala Ananda menemui mereka, lalu mengumumkan : “Vasetha, ketahuilah bahwa Sang Bhagava telah mangkat. Sekarang terserahlah kepada saudara-saudara sekalian.”
Demikianlah, ketika mereka mendengar kata-kata Ananda, suku Malla dengan semua anak, istri, menantu mereka menjadi sedih, berduka cita dan sangat susah kelihatannya, ada di antara mereka dengan rambut yang kusut serta mengangkat tangan mereka menangis, membanting diri di tanah sambil berguling-guling kian ke mari. Mereka meratap sambil berkata : “Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat Sang Sugata parinibbana, terlalu cepat Sang Guru Jagad parinibbana dan lenyap dari pandangan.”

PENGHORMATAN TERHADAP PENINGGALAN SANG BHAGAVA

13. Kemudian suku Malla dari Kusinara itu memerintahkan kepada orang-orangnya demikian : “Kumpulkanlah sekarang semua wangi-wangian, bunga-bungaan dan para pemain musik dan apa saja yang ada di Kusinara ini.” Suku Malla dengan wewangian, bunga-bungaan dan para pemain musik, dengan membawa lima ratus perangkat pakaian, pergi ke hutan Sala, ke taman hiburan suku Malla, menuju tempat jenasah Sang Bhagava. Setelah sampai di sana, mereka lalu memberi hormat terhadap jenasah Sang Bhagava, serta menyajikan tari-tarian, nyanyi-nyanyian dan lagu kebaktian, serta mempersembahkan bunga-bungaan, wangi-wangian dan segala sesuatu yang dibawanya; lalu mereka mendirikan kemah-kemah dan kubu-kubu untuk bernaung selama mereka ada di sana, melakukan upacara penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava itu. Kemudian mereka berunding: “Kini matahari sudah tinggi, hari sudah siang, sudah terlambat kiranya untuk memperabukan layon Sang Bhagava. Sebaiknya kita laksanakan pada hari-hari berikutnya saja.”
Pada hari-hari yang kedua, ketiga, keempat, kelima dan keenam mereka terus menerus mengadakan kebaktian dan penghormatan kepada jenasah Sang Bhagava dengan bermacam tari-tarian lagu-lagu kebaktian diserta bunyi gamelan dengan musik dengan tak henti-hentinya; di samping itu mereka menyajikan bunga-bunga, kembang rampai, wangi-wangian yang baunya harum semerbak meliputi seluruh tempat tersebut.

14. Tetapi pada hari ketujuh mereka lalu berunding : “Kita telah melakukan upacara kebaktian dan penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava dengan tari-tarian, nyanyi-nyanyian, lagu-lagu kebaktian disertai gamelan dan musik keagamaan; menyajikan segala macam kembang serta wangi-wangian dan melakukan puja-bakti untuk menghormati jenasah Sang Bhagava. Sekarang marilah kita, mengangkat dan mengusung jenasah Beliau ke arah Selatan, dan di sana di sebelah Selatan kota kita melakukan perabuan jenasah Sang Bhagava.”
Kemudian delapan orang suku Malla dari keluarga yang terkemuka, setelah mandi dan berkeramas dengan bersih serta mengenakan pakaian yang baru, dengan pikiran : “Kita akan mengangkat jenasah Sang Bhagava” mereka pun lalu berusaha mengerjakan hal itu, tetapi mereka tak dapat mengangkatnya.
Demikianlah diceritakan bahwa suku Malla itu bertanya kepada Anurudha demikian: “Bhante, karena apa dan apakah sebabnya, delapan orang dari suku Malla dari keluarga yang terkemuka ini, yang telah mandi dan berkeramas dengan bersih, serta mengenakan pakaian yang baru, dengan pikiran : “Kita akan mengangkat jenasah Sang Bhagava, lalu mereka berusaha melakukan hal itu tetapi mereka tidak dapat mengangkatnya?”
“Saudara-saudara Vasettha, ketahuilah bahwa kalian mempunyai sesuatu maksud tetapi para dewa pun mempunyai maksud yang lain.”

15. “Bhante, apakah maksud para dewa itu?”
“Saudara-saudara Vasettha, maksud para dewa bahwa kalian telah melakukan upacara kebaktian penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava, dengan tari-tarian, nyanyi-nyanyian, lagu kebaktian disertai gamelan dan musik keagamaan; dan menyajikan segala macam kembang serta wangi-wangian dan melakukan puji-pujian untuk menghormati Sang Bhagava. Lalu berkata : “Marilah mengangkat dan mengusung jenasah Beliau ke arah Selatan; dan di sana, di sebelah Selatan kota kita melakukan perabuan jenasah Sang Bhagava.”
Vasettha, sedangkan maksud Para dewa adalah: “Kita telah melakukan upacara kebaktian dan penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava dengan tari-tarian, nyanyi-nyanyian dan lagu dari surga serta musik dari surga; menyajikan segala macam kembang serta wangi-wangian dari surga, dan melakukan puja untuk menghormati jenasah Sang Bhagava. Sekarang marilah kita membawa jenasah Sang Bhagava ke arah Utara di sebelah Utara kota dan setelah sampai di sana, dengan melalui pintu gerbang kita lalu menuju ke pusat kota; dan dari situ kita lalu menuju ke Timur; dengan melalui pintu gerbang di Timur lalu kita menuju ke Cetiya dari suku Malla, Makutta Bhandana, dan di sanalah kita perabukan jenasah Sang Bhagava.”
“Bhante, kalau begitu, baiklah apa yang dikehendaki oleh para dewa itu, kita lakukan.”

16. Dengan demikian seluruh Kusinara, di segala pelosok ditimbuni penuh dengan bunga-bungaan Mandarawa; sampai setengah lutut. Demikian kebaktian dan penghormatan terhadap jenasah Sang Bhagava itu telah dilakukan oleh Para dewa dan oleh suku Malla dari Kusinara. Dengan tari-tarian, lagu-lagu, musik; bunga-bungaan dan wangi-wangian dari kedua pihak, dewa dan manusia, semuanya melakukan penghormatan, kebaktian serta pemujaan dengan hidmat tulus ikhlas. Dengan hidmat dan tertib mereka mengusung jenasah Sang Bhagava itu ke arah Utara, ke bagian Utara dari kota, dan sesudah melalui pintu gerbang Utara, lalu menuju ke pusat kota, dan sesudah melewati pintu gerbang sebelah Timur mereka menuju ke Cetiya dari suku Malla, Makuta-bhandhana, dan di sanalah jenasah Sang Bhagava dibaringkan.

17. Lalu suku Malla dari Kusinara itu berkata kepada Ananda demikian : “Bagaimana seharusnya kita melakukan penghormatan dalam memperabukan jenasah Sang Bhagava?”
“Vasetha, sama seperti cara menghormati jenasah seorang Raja Jagad.”
“Tetapi bagaimanakah seharusnya kita berlaku untuk menghormati Raja Jagad itu?”
“Jenasah seorang Raja Jagad itu pertama-tama di bungkus seluruhnya dengan kain linen yang baru, dan kemudian dengan kain katun wool baru pula.
Sesudah itu dibungkus lagi seluruhnya dengan kain linen yang baru, dan lagi dengan kain katun wool yang telah dipersiapkan. Dan begitulah selanjutnya dilakukan sampai lima ratus lapisan kain linen dan lima ratus kain katun wool. Setelah itu dikerjakan jenasah Raja Jagad dibaringkan dalam suatu peti dengan dicat meni, lalu dimasukkan lagi ke dalam peti dengan dicat meni, dan suatu Pancaka (tempat perabuan) didirikan dari berbagai macam kayu wangi-wangian; di situlah jenasah seorang Raja Jagad diperabukan, dan pada perempatan (pertemuan empat jalan) didirikan sebuah stupa bagi Raja Jagad itu. Demikianlah hal itu seharusnya dilaksanakan.”
“Vasetha, demikianlah sama seperti halnya jenasah seorang Raja Jagad begitu pula harus dilakukan pada jenasah Sang Tathagata. Dan barang siapa yang datang ke tempat itu membawa bunga-bungaan, atau dupa, atau serbuk cendana dan melakukan kebaktian serta penghormatan di sana mereka akan memperoleh kebahagian, untuk suatu waktu yang lama.”

18. Kemudian suku Malla memberi perintah kepada orang-orangnya demikian : “Kumpulkanlah sekarang segala kain katun wool yang baru dari suku Malla.” Lalu suku Malla dari Kusinara itu membungkus jenasah Sang Bhagava seluruhnya dengan kain linen baru, lalu dengan kain katun wool yang telah disiapkan; dan demikian seterusnya sehingga lima ratus lapisan kain linen dan lima ratus lapisan kain katun wool. Setelah itu dikerjakan, mereka membaringkan jenasah Sang Bhagava di dalam sebuah peti dengan dicat meni yang ditaruh lagi di dalam sebuah peti yang dicat meni yang ditaruh lagi di dalam peti yang dicat meni lainnya, kemudian mereka mendirikan pancaka pembakaran yang dibuat dari segala macam kayu-kayuan wangi-wangian dan di atas pancaka itulah jenasah Sang Bhagava ditempatkan.

19. Ketika itu Maha Kassapa sedang dalam perjalanan dari Pava ke Kusinara, bersama serombongan besar para bhikkhu yang berjumlah sampai lima ratus orang. Dalam perjalanan itu, Maha Kassapa menepi dari jalan raya dan duduk di bawah sebatang pohon.
Demikian, suku Ajivaka telah datang di tempat itu, dalam perjalanan ke Pava; dan ia membawa setangkai bunga Mandarawa dari Kusinara. Maha Kassapa melihat Ajivaka itu datang; ketika ia sudah dekat maka beliau berkata kepadanya : “Apakah Anda mengetahui tentang Guru kita?”
“Ya, saya mengetahui bahwa hari ini adalah hari yang ketujuh dari wafatnya Pertapa Gotama. Di sana kami telah memungut bunga Mandarava ini.”
Mendengar jawaban itu, beberapa bhikkhu yang belum melenyapkan kesenangan nafsu, mengangkat tangan mereka menangis, membanting diri di tanah sambil berguling-guling kian ke mari. Mereka meratap sambil berkata : “Terlalu cepat Sang Tathagata parinibbana, terlalu cepat Sang Sugata parinibbana, terlalu cepat Sang Guru Jagad parinibbana dan lenyap dari pandangan.” Tetapi para bhikkhu yang telah bebas dari hawa nafsu, dengan penuh kesadaran dan pengertian yang benar, merenung: “Segala sesuatu adalah tidak kekal bersifat sementara. Bagaimanakah yang akan terjadi jika tidak demikian?”

20. Ketika itu, seorang bernama Subhadda, yang telah mengundurkan diri dari keduniawian setelah umurnya lanjut. Ia pun terdapat di antara sekelompok bhikkhu itu, di mana ia berkata kepada mereka demikian : “Cukuplah saudara-saudara, janganlah berduka cita, janganlah meratap. Sekarang kita telah bebas dari Pertapa yang Maha Besar itu. Sudah terlalu lama, kita telah ditekan dengan kata-kata : ‘Ini cocok bagimu, itu tidak baik bagimu.’ Sekarang kita akan dapat berbuat apa saja yang kita kehendaki, dan melepaskan apa yang kita tidak senangi, tidak ada yang akan melarangnya.”
Tetapi Maha Kassapa menegur para bhikkhu : “Cukuplah, saudara-saudara! Janganlah berduka cita, janganlah meratap! Karena bukankah Sang Bhagava dahulu telah mengatakan bahwa segala yang baik dan yang kita cintai pastilah akan mengalami perubahan, pergeseran, dan perpisahan?” Karena segala sesuatu yang timbul menjadi wujud, terlahir dalam perpaduan bentuk-bentuk tertentu akan mengalami kelapukan; bagaimana seseorang dapat berkata : “Semoga ia tidak sampai pada peleburannya.”

21. Dikisahkan pada waktu itu, di tempat perabuan, tempat orang suku Malla asal dari keluarga yang terkemuka telah mandi dan berkemas dengan bersih lalu mengenakan pakaian-pakaian yang baru dengan pikiran: “Kita akan menyalakan api perabuan Sang Bhagava itu.” Lalu mereka berusaha mengerjakan hal itu, tetapi mereka tak dapat. Setelah itu suku Malla berkata kepada Anuruddha demikian: “Bhante Anuruddha, mengapa keempat orang dari keluarga yang terkemuka, yang telah mandi dan berkeramas dengan bersih serta mengenakan pakaian-pakaian baru mempunyai pikiran: ‘Kita akan menyalakan api perabuan Sang Bhagava.’ Mereka berusaha melakukan hal itu, tetapi tak dapat.”
“Vasettha, kamu mempunyai satu maksud tetapi para dewa mempunyai maksud lain.” “Bhante, apakah maksud para dewa itu?”
“Maksud dari para dewa adalah demikian: “Bhikkhu Maha Kassapa sedang dalam perjalanan dari Pava ke Kusinara, bersama serombongan para bhikkhu yang berjumlah sampai lima ratus orang. Jangan nyalakan api perabuan Sang Bhagava itu, sebelum bhikkhu Maha Kassapa tiba untuk menghormati jenasah Sang Bhagava.”
” Kalau demikian, apa yang dikehendaki para dewa itu, biarkanlah terlaksana.”

22. Kemudian rombongan Maha Kassapa tiba di tempat pancaka Sang Bhagava di Cetiya dari suku Malla, Makuta-bandhana, di Kusinara. Beliau lalu mengatur jubahnya pada salah satu bahunya, dan dengan tangan tercakup di muka, beliau menghormat Sang Bhagava; beliau berjalan mengitari pancaka tiga kali, kemudian menghadap pada jenasah Sang Bhagava, lalu beliau berlutut menghormat pada jenasah Sang Bhagava. Hal yang serupa itu, juga dilakukan oleh kelima ratus bhikkhu itu.
Demikianlah setelah dilakukan penghormatan oleh Maha Kassapa beserta kelima ratus bhikkhu itu, maka di pancaka Sang Bhagava lalu terlihat api menyala dengan sendirinya dan membakar seluruhnya.

23. Demikanlah terjadi takkala jenasah Sang Bhagava mulai dibakar; yang mula-mula terbakar adalah kulitnya, jaringan daging, urat-urat dan cairan-cairan semua itu tiada yang nampak, abu maupun bagian-bagiannya, hanya tulang-tulanglah yang tertinggal. Tepat sama seperti lemak atau minyak kalau dibakar tidak meninggalkan bagian-bagiannya atau debu-debunya, demikian pula dengan jenazah Sang Bhagava setelah terbakar, apa yang dinamakan kulit, jaringan, daging, urat-uratan serta cairan, tiada nampak debunya atau bagian-bagiannya, hanya tulang-tulanglah yang tertinggal. Dari kelima ratus lapisan kain linen pembungkusnya, hanya dua yang tidak musnah, yaitu yang paling dalam dan yang paling luar.
Demikianlah ketika jenazah Sang Bhagava telah habis terbakar maka air seperti dicurahkan dari langit memadamkan api perabuan itu. Dari pohon Sala juga keluar air menyiramnya, suku Malla dari Kusinara juga membawa air yang telah diisi dengan berbagai wangi-wangian dan mereka juga menyirami api perabuan Sang Bhagava itu.
Kemudian suku Malla dari Kusinara, mengambil relik (sisa jasmani) Sang Bhagava, lalu ditempatkan di tengah-tengah ruangan sidang mereka, yang kemudian dipagari sekelilingnya dengan anyaman tombak-tombak, lalu dilapisi lagi dengan pagar dari panah dan busur-busur.
Di sanalah mereka mengadakan upacara puja bakti selama tujuh hari. Untuk menghormati relik Sang Bhagava dengan tari-tarian, nyanyian dan lagu-lagu kebaktian, serta mempersembahkan bunga-bungaan dan wangi-wangian, melakukan puja bakti terhadap relik Sang Bhagava.

PEMBAGIAN RELIK-RELIK (BENDA-BENDA PENINGGALAN) SANG BHAGAVA

24. Kemudian Raja Magadha, Ajatasattu, putera Ratu Videhi, mendengar bahwa Sang Bhagava telah mangkat di Kusinara. Ia mengirim utusan pada suku Malla di Kusinara dan menyatakan: “Dari kesatria asal Sang Bhagava; demikianlah pula saya. Karena itu saya sangat perlu untuk menerima sebagian relik Sang Bhagava. Untuk relik Sang Bhagava itu saya akan dirikan sebuah stupa; dan untuk menghormatiNya, saya akan mengadakan suatu kebaktian dan perayaan.”
Orang Licchavi dari Vesali setelah mendengar bahwa Sang Bhagava telah wafat di Kusinara. Mereka lalu mengirim utusan pada suku Malla di Kusinara dan mengatakan: “Dari Kesatria asal Sang Bhagava; demikianlah pula kami. Kami sangat perlu untuk menerima sebagian dari relik Sang Bhagava. Untuk relik Sang Bhagava itu kami akan mendirikan sebuah stupa. Kami akan mengadakan perayaan dan kebaktian, untuk menghormati Beliau.”
Suku Sakya dari Kapilavasthu juga setelah mendengar bahwa Sang Bhagava telah wafat di Kusinara. Maka mereka mengirim utusan kepada suku Malla di Kusinara dan menyatakan: “Sang Bhagava adalah keluarga kami. Berhargalah bagi kami untuk menerima sebagian dari relik Sang Bhagava. Untuk relik Sang Bhagava kami akan mendirikan sebuah stupa, dan untuk menghormati Beliau, kami akan mengadakan perayaan dan kebaktian.”
Suku Buli dari Allakappa mendengar pula bahwa Sang Bhagava telah wafat di Kusinara. Mereka mengirim utusan pada suku Malla di Kusinara dan mengatakan: “Dari Kesatria asal Sang Bhagava; dan demikian pula kami. Berhargalah kami untuk menerima sebagian dari relik Sang Bhagava. Untuk relik Sang Bhagava itu kami akan mendirikan stupa, dan untuk menghormati Beliau, kami akan mengadakan perayaan dan kebaktian.”
Suku Koli dari Ramagama mendengar bahwa Sang Bhagava telah wafat di Kusinara. Mereka mengirim suatu utusan pada suku Malla di Kusinara dan menyatakan: “Dari Kesatria asalnya Sang Bhagava, dan demikian pula kami. Berhargalah kami untuk menerima sebagian dari relik Sang Bhagava. Untuk relik Sang Bhagava itu kami akan mendirikan stupa, dan untuk menghormati Beliau, kami akan mengadakan perayaan dan kebaktian.”
Brahmana Vethadipa mendengar bahwa Sang Bhagava telah wafat di Kusinara. Ia mengirim suatu utusan pada suku Malla di Kusinara dan menyatakan: “Dari Kesatria asalnya Sang Bhagava dan saya adalah seorang brahmana. Berharga bagi saya untuk menerima sebagian dari relik Sang Bhagava. Untuk relik Sang Bhagava itu saya akan mendirikan sebuah stupa, dan untuk menghormati Beliau, saya akan mengadakan perayaan dan kebaktian.”
Suku Malla dari Pava mendengar bahwa Sang Bhagava telah wafat di Kusinara, dan mereka mengirim suatu utusan pada suku Malla di Kusinara dan menyatakan: “Dari Kesatria asalnya Sang Bhagava, dan demikian pulalah kami. Berharga bagi kami untuk menerima sebagian dari relik Sang Bhagava. Untuk relik Sang Bhagava, kami akan mendirikan sebuah stupa, dan sebagai penghormatan, kami akan mengadakan perayaan kebaktian.”

25. Tetapi ketika mereka menerima pernyataan-pernyataan ini, suku Malla di Kusinara, mengadakan sidang dan menyatakan demikian: “Di kota kitalah Sang Bhagava telah wafat. Kita yang berhak atas semua relik dari Sang Bhagava.” Kemudian Brahmana Dona berkata kepada sidang dengan rangkaian sajak sebagai berikut :

“Wahai saudara-saudara dengarlah sepatah kata dariku,
Sang Buddha, Maha Guru yang kita junjung tinggi,
Telah mengajarkan, agar kita selalu bersabar,
Sungguh tak layak, jika timbul ketegangan nanti,
Timbul perkelahian, peperangan karena
Relik Beliau, Manusia Agung yang tak ternilai,
Marilah kita bersama, wahai para hadirin,
Dalam suasana persaudaraan yang rukun dan damai,
Membagi menjadi delapan, peninggalan yang suci ini,
Sehingga setiap penjuru, jauh tersebar di sana sini,
Terdapat stupa-stupa yang megah menjulang tinggi,
Dan jika melihat semua itu, lalu timbul dalam sanubari,
suatu keyakinan yang teguh terhadap Beliau.” “Kalau begitu baiklah, Brahmana. Silahkan Brahmana membagi relik itu dalam ke delapan bagian.” Brahmana Dona berkata kepada sidang: “Baiklah para hadirin.”
Kemudian dia membagi dengan adil, dalam delapan bagian yang sama, semua peninggalan Sang Bhagava itu. Setelah selesai membagi itu, ia berkata kepada sidang demikian: “Biarlah tempayan ini, saudara-saudara berikan kepadaku. Untuk tempayan ini akan kudirikan sebuah stupa, dan sebagai penghormatan, aku akan mengadakan perayaan dan kebaktian.” Tempayan itu lalu diberikan kepada Brahmana Dona.

26. Kemudian suku Moriya dari Pippalivana mengetahui bahwa Sang Bhagava telah wafat di Kusinara.
Mereka mengirim suatu utusan pada kaum Malla dari Kusinara, dan menyatakan: “Dari Kesatria asalnya Sang Bhagava, dan demikian jugalah kami. Berharga bagi kami untuk menerima sebagian dari relik Sang Bhagava. Untuk relik Sang Bhagava kami akan mendirikan sebuah stupa, dan sebagai penghormatan, kami akan mengadakan perayaan dan kebaktian.”
Tetapi oleh karena relik sudah habis terbagi, maka ia dianjurkan demikian: “Tidak ada bagian dari relik Sang Bhagava yang masih tertinggal lagi. Sudah terbagi habis relik Sang Bhagava itu. Tetapi saudara dapat mengambil abu-abu dari peninggalan Sang Bhagava.” Mereka mengambil abu-abu dari Sang Bhagava, lalu dibawa pulang ke kotanya.

27. Kemudian raja dari Magadha, Ajatasattu, putera dari ratu Videhi, mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava, di Rajagaha, dan sebagai penghormatan diadakan suatu perayaan dan kebaktian.
Orang Licchavi dari Vesali mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava di Vesali, dan sebagai penghormatan diadakan suatu perayaan dan kebaktian.
Suku Sakya dari Kapilavasthu mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava di Kapilavasthu, dan sebagai penghormatan diadakan suatu perayaan dan kebaktian.
Suku Buli dari Allakappa mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava di Allakappa, dan sebagai penghormatan diadakan suatu perayaan dan kebaktian.
Suku Koli dari Ramagama telah mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava di Vethadipa, dan sebagai penghormatan diadakan suatu perayaan dan kebaktian.
Kaum Malla dari Pava telah mendirikan sebuah stupa untuk relik Sang Bhagava di Pava, dan sebagai penghormatan diadakan suatu perayaan dan kebaktian.
Brahmana Dona telah mendirikan sebuah stupa untuk Tempayan (bekas tempat relik Sang Bhagava), dan sebagai penghormatan diadakan suatu perayaan dan kebaktian.
Suku Moriya dari Pipphalivana mendirikan sebuah stupa untuk abu Sang Bhagava di Pipphalivana, dan sebagai penghormatan diadakan suatu perayaan dan kebaktian.
Demikian maka terdapat delapan stupa untuk relik Sang Bhagava dan stupa yang kesembilan untuk tempayan dan stupa yang kesepuluh untuk abu Sang Bhagava.
Demikianlah telah terjadi pada waktu yang lalu.

28. Terbagi delapan relik Sang Bhagava
Beliau Yang Maha Tahu, kembangnya manusia,
Tujuh bagian, di Jambudipa dipuja orang,
Satu bagian, di Ramagama,
Dipuja oleh raja naga,
Sebuah gigi dipuja di surga Tavatimsa.
Sebuah gigi lagi dipuja di Kalingga oleh raja naga.
Karena pancaran cinta kasih yang tak terbatas,
Tanah air ini mendapat berkah yang melimpah.
Karena itu relik-relik Beliau dijaga dengan baik,
oleh mereka yang turut memujanya, para dewa, para naga dan oleh manusia bijaksana.
Beliaulah yang paling tinggi dipuja.
Maka itu hormatilah Dia dengan anjali,
karena sungguh sulit adanya, mungkin
ratusan Kappa belum tentu bertemu dengan seorang Buddha.

Sumber :

Maha Parinibbana Sutta

 

tags: , , , ,

Related For MAHA PARINIBBANA SUTTA