“Instropeksi Diri” by Bhikkhu Thitavamso Thera

Kamis, Mei 12th 2016. | Artikel, Ceramah

instropeksi-diri-bhikkhu thitavamso thera tisaranaDotNet

Oleh: Bhikkhu Thitavamso Thera.

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Baik kita senang atau tidak senang tak terasa detik berganti detik, menit berganti menit, hari berganti hari, tahun berganti tahun, waktu tetap berjalan tidak memedulikan seperti apa kondisi kita saat ini, ketika kita merasa bahagia waktu terasa cepat, saat kita mengalami penderitaan waktu terasa lambat,mengapa demikian?.  dan semua ini tidak kekal adanya baik itu penderitaan maupun kebahagiaan semua akan berubah sesuai dengan waktunya. Kadang ketika saat merasa bahagia melupakan penderitaan yang pernah dialaminya begitu juga tidak menyadarinya kalau bahagia sudah tidak dirasakan maka akan berubah menjadi derita, tetapi saat penderitaa yang datang yang  diharapkan selalu kebahagiaan, mengapa saya tidak bahagia, mengapa dia tidak mengerti saya, mengapa dia tidak menghargai saya, mengapa merasa bosan, mengapa susah tidur, gelisah, mengapa selalu menderita dan merasa hidupnya selalu tidak berarti, bahkan yang lebih parah lagi untuk mengakiri hidupnya. Ketika ditanya sebenarnya apa yang menyebabkan seperti ini, jawabanya tidak tau. Atau ada yang mengatakan sudah jalan buntu karena sudah terlalu besar permasalahan yang dihadapinya. Ingat ini semua tidak kekal adanya.

Sesungguhnya akar dari permasalahn ini terletak ada pada diri kita sendiri, bukan ada pada kondisi yang diluar kita, pikiran kita lah yang mengondisikian keadaan kita saat ini, seperti apa yang telah tertuang didalam dhammapada Yamaka vagga syair pertama:. manopubbangama dhamma, manosettha manomaya, manasa ce padutthena, bhasati va karoti va, tato nam dukkhamanveti, cakkhamva vahato padam. Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk, bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya, bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya. Tetapi kalau kita selalu berbicara dan berbuat dengan pikiran baik makan kebahagiaan lah yang akan mengikutinya.

Seseorang  mungkin pernah mengalami hal seperti ini yang membuat menderita, coba mengintropeksi diri, berpikirlah sejenak kembali kemasa lalu melihat apa yang selama ini kita kerjakan. Sudah kah pekerjaan yang kita kerjakan semua selesai dengan puas hati? Jika belum ini lah sesungguhnya akar dari permasalahannya, sekali mungkin tidak masalah, tetapi kalau terlalu sering maka pikiran akan menjadi lelah, lebih- lebih apabila pekerjaan yang dikerjakan dengan pikiran jahat maka akan sangat sulit untuk mendapat kedamaian

Semua ini bisa kita jalankan dalam kehidupan kita sehari-hari untuk membuat diri kita menjadi lebih berarti dengan mengkonsentrasikan pikiran terhadap apa yang kita kerjakan, misalnya saat kita makan taruh lah pikiran kita di makanan, saat di toko taruh lah pikiran ditoko, saat dikantor taruh pikiran dikantor, saat bersama keluarga taruh lah pikiran bersama keluarga, jangan sampai terbalik kalau ingin mendapatkan hasil yang maksimal, seperti apa yang telah dikatakan oleh achan cha; curahkanlah isi hatimu dengan apa yang engkau kerjakan, dengan demikian maka kita akan menyenangi setiap langkah yang kita kerjakan dan bagi yang gemar dalam meditasi ini sangat membantu untuk meningkatkan konsentrasi saat bermeditasi.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia. Sadhu Sadhu Sadhu.

 

Sumber :
http://harian.analisadaily.com/mimbar-agama-buddha/news/instropeksi-diri/236155/2016/05/12

 

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For “Instropeksi Diri” by Bhikkhu Thitavamso Thera