Hidup Bersatu dalam Perbedaan Oleh: Bhikkhu Sujano Thera

Sabtu, Mei 6th 2017. | Artikel, Ceramah, Dhammadesana

Agama Buddha pernah jaya, dibuktikan dengan banyaknya candi-candi. Mengapa masa-masa keemasan itu bisa musnah? Tentu ada sebabnya. Agama Buddha menjadi menurun dan hancur, bisa karena dalam satu kelompok/organisasi tertentu memiliki banyak persoalan, perselisihan, dan lain sebagainya. Sangat tepat jika Sang Buddha menganjurkan bahwa para bhikkhu semestinya bisa saling membantu antara satu dengan yang lainnya, bisa mengutamakan kehidupan yang harmonis, damai. Begitu pula dengan kehidupan awam, jika dalam kehidupan rumah tangga tidak ada keharmonisan, tentu akan menjadi masalah. Bisa saja tampak luar nampak kuat, tetapi bagian dalamnya mungkin rapuh. Karena rapuh, itulah yang mengakibatkan perpecahan. Dalam kondisi rapuh, ketika musuh masuk, kita bisa terpecah belah.
Keharmonisan harus dikembangkan, harus terus dijaga. Orang yang punya kebijaksanaan semestinya bisa melihat ke masa depan, atau setidaknya punya bayangan apa yang mungkin terjadi di masa depan. Orang yang suka berselisih, bertengkar, tidak bisa membayangkan apa yang mungkin terjadi ke depannya. Jika ia tahu, tentu tidak akan berselisih, membuat pertengkaran, untuk apa? Yang sudah sering terjadi, dengan adanya perselisihan, pasti sebuah kelompok akan terpecah. Para bhikkhu pun seharusnya hidup dengan harmonis. Bahkan kadang sudah harmonis pun, masih bisa dipecah, seperti kehidupan Sangha pada jaman Sang Buddha dulu. Hati-hatilah dengan orang licik. Sehebat-hebatnya orang, masih punya kelemahan. Kita bisa saja ditipu org lain, diadu domba. Ketika adu domba itu berhasil, tentu kita kembali berselisih, bertengkar baik dengan teman atau orangtua. Pihak yang diuntungkan pasti orang yang mengadu domba. Ketika keharmonisan sudah terbentuk, gunakanlah untuk mengembangkan kehidupan luhur. Ada latihan yang bisa dilatih bersama-sama.

Perkembangan zaman semakin maju, semua serba mudah, namun ada nilai-nilai yang menurun. Melihat sejarah masa lampau, kenapa perguruan-perguruan, atau kerajaan mampu bertahan lama? Sebab mereka memiliki penasehat yang mempunyai wawasan luas, mengerti keadaan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Penasehat inilah yang membuat kerajaan jaya dan mampu bertahan lama.

Di saat ini mudah timbul perselisihan, namun jangan hanyut dalam perselisihan, sebab bisa menjadi awal kehancuran. Kebersamaan adalah dasar untuk mengembangkan kehidupan yang luhur.

 

Apakah Mara Masih Ada dalam Kehidupan Sekarang?
Oleh: Bhikkhu Sujano Thera

Menurut Sang Buddha tujuan kehidupan yang paling luhur adalah pencapaian kesucian. Lalu mengapa masih sedikit orang yang mempunyai cita-cita untuk mencapai kesucian sebagai tujuan paling luhur? Banyak hal-hal yang bisa diusahakan seperti tidak pernah membunuh, tidak menyakiti makhluk lain, tidak menyusahkan orang lain, maka tentu hasil dari pahala ini seseorang akan berusia panjang. Dalam hal materi tidak pernah kikir, dan selalu memberi maka hidupnya tidak akan kekurangan. Tentunya jika kehidupan ini dijalani akan memberikan pahala keduniawian yang sangat besar.

Orang yang benar-benar ingin menjadi orang yang baik akan berusaha meninggalkan hal-hal buruk, baik melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan jasmani. Orang yang benar-benar ingin menjadi orang baik pasti berusaha untuk meninggalkan perilaku-perilaku tercela, menjalankan kehidupan suci, tidak pernah melukai orang lain, tidak pernah memberikan usia pendek kepada makhluk lain, tidak pernah membuat susah orang lain. Pikiran buruk jangan sampai menguasai pikiran. Sebagian besar orang jika diajak menjalankan kehidupan yang bersih, suci, itu sulit. Kehidupan suci memang tidak menarik bagi yang masih punya kesenangan indria yang masih kuat. Ajaran Buddha adalah mengendalikan nafsu indria, bukan memuaskan. Jangan menuruti nafsu indria.

Apakah Mara itu masih ada? Saat ini Mara masih ada dalam kehidupan untuk merintangi jalan kita mencapai kesucian seperti kemalasan, kegelisahan. Dan ini semua adalah rintangan penghambat menuju kesucian. Sang Buddha mengatakan, bala tentara Mara itu salah satu bentuknya adalah selalu hanyut dalam nafsu indria. Suka malas, lesu, tidak semangat, suka marah. Orang yang kuat menurut Dhamma adalah orang yang bisa mengendalikan diri. Sang Buddha mengajarkan jika kita mau menjadi orang yang benar-benar baik, itu harus setahap demi setahap dalam berpraktek Dhamma. Jangankan meditasi, praktek sila saja rintangannya banyak. Saat ingin menjalankan Atthasila misalnya, ada kalanya terkendala, misalnya memikirkan apakah sanggup untuk tidak makan setelah tengah hari, atau apakah sanggup untuk tidak menonton hiburan. Rintangan-rintangan ini semua adalah keinginan untuk memuaskan kesenangan indria. Rintangan-rintangan ini bisa dibilang sebagai penghambat bagi kita. Kapanpun dan siapapun yang berjalan menuju jalan kesucian akan selalu mendapat rintangan. Namun bagi kita yang benar-benar memahami Dhamma semestinya memiliki cita-cita mencapai kesucian.

 

Sumber : https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=1112515825547398&id=744210529044598

Incoming search terms:

  • bhikkhu yang bisa melihat masa lampau
tags: , , , , , ,

Related For Hidup Bersatu dalam Perbedaan Oleh: Bhikkhu Sujano Thera