Sang Buddha Pelindungku 1

Kamis, Mei 26th 2016. | Artikel, Berita

sang Buddha Pelindungku oleh TisaranaDotNet

  1. Anak-Anak Mengunjungi Sang Buddha

Pada suatu ketika, ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vihara Jetavana, Savatthi, terdapat beberapa orang tua yang menjadi pengikut aliran yang sesat. Ketika mereka melihat anak-anak mereka bermain-main dengan anak-anak yang orang tuanya pengikut Sang Buddha, mereka marah dan tidak senang. Setelah anak-anak itu selesai bermain dan pulang ke rumah, mereka segera memarahi anak-anaknya :
“Mulai sekarang, kalau kamu bertemu dengan bhikkhu-bhikkhu pengikut Pangeran Sakya, kamu tidak usah memberi hormat, dan tidak boleh memasuki pertapaan mereka”. Anak-anaknya disuruh bersumpah, harus mentaati apa yang mereka katakan. Pada suatu hari, anak-anak pengikut aliran sesat itu sedang bermain-main di luar Vihara Jetavana, tempat Sang Buddha berdiam. Mereka bermain-main di depan pintu gerbang Vihara, setelah lelah bermain, mereka merasa amat haus dan ingin minum. mereka lalu menyuruh salah seorang temannya masuk ke dalam Vihara :
“Kamu masuk dulu ke dalam, mintalah air minum dan bawakan juga untuk kami”. Salah seorang anak laki-laki itu masuk ke Vihara, dan bertemu dengan Sang Buddha. Setelah memberi hormat, ia bercerita bahwa mereka sedang bermain-main di depan Vihara dan sekarang merasa haus, ingin minta air minum. Sang Buddha berkata :
“Kamu boleh minum air di sini, kalau sudah minum, kembalilah ke teman-temanmu, ajaklah mereka minum di sini”. Kemudian semua anak-anak itu masuk ke dalam Vihara untuk minum. Selesai minum, Sang Buddha mengumpulkan mereka, dan mengajarkan Hukum Alam Semesta dengan kata-kata yang mudah mereka pahami. Akhirnya mereka mengerti dan menjadi murid Sang Buddha.
Setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing, dan bercerita kepada orang tua mereka tentang Ajaran Sang Buddha. Beberapa orang tua yang menganut pandangan sesat itu bersedih hati dan menangis:
“Anak kami telah manganut pandangan sesat”.
Tetapi ada beberapa orang tua yang pandai dan mengerti Ajaran Sang Buddha. Ketika menyadari kekeliruannya, mereka mendatangi orang tua yang keliru itu dan menjelaskan Ajaran Sang Buddha. Akhirnya mereka semua mengerti akan Dhamma yang Sang Buddha ajarkan, mereka berkata:
“Kami akan menyuruh anak-anak kami melayani Sang Guru Agung kita”
Bersama dengan keluarga masing-masing, mereka berbondong-bondong mengunjungi Sang Buddha.
Sang Buddha yang mengetahui bahwa pikiran mereka sudah berubah, segera menerangkan kembali AjaranNya kepada mereka. Sang Buddha mengucapkan syair:
“Mereka yang menganggap tercela terhadap apa yang sebenarnya tidak tercela dan menganggap tidak tercela terhadap apa yang sebenarnya tercela, maka orang yang menganut pandangan salah seperti itu akan masuk ke alam sengsara”. (Dhammapada, Niraya Vagga no. 13)
“Mereka yang mengetahui apa yang tercela sebagai tercela, dan apa yang tidak tercela sebagai tidak tercela, maka orang yang menganut pandangan benar seperti itu akan masuk ke alam bahagia” (Dhammapada, Niraya Vagga no. 14)

 

  1. Mahadhana, Anak Seorang Jutawan

Kisah ini tentang seorang anak jutawan, anak orang yang amat kaya di Benares. Ia bernama Mahadhana. Ia terlahir di sebuah keluarga yang kaya raya. Mereka memiliki kekayaan sebanyak delapan ratus juta keping uang. Ayah dan ibu Mahadhana berpikir:

 

“Harta kami amat banyak, untuk apa anak kami bekerja lagi, lebih baik ia bersenang-senang”.

Kemudian mereka membiarkan anaknya bersenang-senang saja, dengan bernyanyi, menari dan bermain musik, setiap waktu.Di kota yang sama terdapat pula orang kaya lainnya. Ia juga mempunyai kekayaan sebanyak delapan ratus juta keping uang. Mereka mempunyai seorang anak gadis yang cantik. Mereka juga mempunyai pikiran yang sama, yaitu membiarkan anak gadisnya bersenang-senang saja. Ketika kedua anak ini dewasa, kedua orang tuanya mengawinkan anak mereka, seperti kebiasaan pada waktu itu. Beberapa waktu kemudian kedua orang tua itu meninggal dunia. Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, Mahadhana dan istrinya memperoleh warisan dari kedua orang tuanya. Harta mereka menjadi dua kali delapan ratus juta keping uang. Mahadhana mempunyai kebiasaan mengunjungi Raja tiga kali dalam satu hari. Di kota terdapat sekelompok orang yang kebiasaannya bermabuk-mabukkan dengan minum minuman keras. melihat Mahadhana, mereka berpikir alangkah baiknya kalau mereka dapat membuat Mahadhana bermabuk-mabukkan dan menghamburkan uangnya, dengan demikian mereka dapat ikut bersenang-senang. “Kalau anak jutawan ini menjadi pemabuk dan menjadi teman kita, dapat kita peras kekayaannya. Jadi kita harus memperlihatkan kepadanya, bagaimana caranya bermabukmabukkan”.

 

Mereka lalu menyediakan minuman keras, daging panggang, garam, tembakau dan gula yang disimpan di dalam kantong baju mereka. Kemudian mereka duduk di jalan yang biasa dilalui Mahadhana. Ketika Mahadhana mendekat, mereka segera minum minuman keras, memasukkan garam dan gula ke mulut dan juga mengunyah tembakau. Orang-orang itu berkata:

“Semoga tuanku, anak jutawan hidup seratus tahun! Dengan bantuanmu kami dapat makan dan minum sepuas hati! Cobalah minuman ini tuanku, enak sekali”.

 

Mendengar kata-kata mereka, Mahadhana bertanya kepada pelayan yang mengiringinya:

“Apa yang mereka minum?”

“Minuman istimewa tuanku”

“Enakkah rasanya?”

“Tuanku di dunia ini, tidak ada minuman yang lebih enak dari pada minuman ini”.

“Jadi!”, kata Mahadhana, “Saya harus mencoba”.

Kemudian ia menyuruh pelayannya mengambil minuman itu sedikit, dicobanya, lalu ia mengambil sedikit lagi, sedikit lagi, akhirnya ia menjadi mabuk. Tidak perlu waktu lama untuk membuat Mahadhana menjadi pemabuk. Orang-orang berkerumun mengelilingi Mahadhana yang menghamburkan uangnya, seratus atau dua ratus keping uang. Akhirnya perbuatan buruk itu menjadi kebiasaannya, setiap mabuk ia menghamburkan uangnya. Dengan meraup uang di tangannya, ia berteriak-teriak:

“Ambillah uang ini dan bawakan saya bunga! Ambillah uang ini bawakan saya minyak wangi!

Orang ini pandai bermain dadu, orang ini pandai bermain musik! Berikanlah orang ini seribu

keping dan orang itu dua ribu keping!”.

 

Dengan cara seperti itulah ia menghabiskan uang warisan orang tuanya. Ketika teman temannya tahu uangnya habis, mereka berkata kepada Mahadhana:

“Tuanku, hartamu sudah habis. Apakah istrimu punya uang?”.

“Oh ya, ia juga punya uang, ambillah uang istriku”. Kemudian ia pun menghabiskan uang istrinya dengan cara yang sama.

Setelah uangnya habis, Mahadhana menjual ladang, tanah dan kebun, juga kereta kudanya. Ia

menjual semua peralatan makannya, selimut, mantel dan tempat tidurnya. Akhirnya semua

hartanya habis terjual, ia jatuh miskin. Hidupnya tidak karuan lagi. Di usia tuanya ia menjual

hartanya yang terakhir yaitu rumahnya, tidak ada lagi harta yang tersisa sedikitpun, ia harus pergi dari rumahnya sendiri. Dengan istrinya, ia menemukan sebuah gubuk, yang menempel di sisi dinding tembok sebuah rumah. Dengan mangkuk yang pecah, ia menjadi pengemis meminta belas kasihan orang lain. Ia hanya makan makanan sisa yang dibuang orang.

Suatu hari ia berdiri di depan Vihara tempat Sang Buddha berdiam, untuk meminta makanan.

Samanera memberikan makanan kepada Mahadhana, anak jutawan yang sekarang menjadi

pengemis itu. Sang Buddha melihatnya lalu tersenyum. Yang Mulia Ananda bertanya mengapa Sang Buddha tersenyum. Sang Buddha lalu bercerita:

“Ananda, lihatlah anak jutawan itu! Di kota ia menghambur-hamburkan harta kekayaannya

sebanyak dua kali delapan ratus juta keping uang. Sekarang dengan istrinya, ia menjadi pengemis. Apabila dalam kehidupannya ini, ia tidak menghamburkan harta bendanya, tetapi menjalani usahanya dengan baik, ia akan menjadi orang yang terkaya di kota ini. Dan apabila ia pensiun dan menjadi bhikkhu, ia akan mencapai Tingkat Kesucian Arahat, dan istrinya akan mencapai Tingkat Kesucian ke Tiga (Anagami). Apabila di usia setengah bayanya ia tidak menghamburkan harta bendanya, tetapi menjalani usahanya, ia akan menjadi orang kaya nomor dua di kota ini. Bila ia pensiun dan menjadi seorang bhikkhu, ia akan mencapai Tingkat Kesucian ke Tiga (Anagami), dan istrinya akan mencapai Tingkat Kesucian ke Dua (Sakadagami). Dan apabila di usia tuanya ia tidak menghamburkan harta bendanya, tetapi menjalankan usahanya, ia akan menjadi orang kaya nomor tiga di kota ini. Bila is pensiun dan menjadi bhikkhu, ia akan mencapai Tingkat Kesucian ke Dua (Sakadagami), dan istrinya akan mencapai Tingkat Kesucian Pertama (Sotapana). Tetapi sekarang ia jatuh bangkrut dan ia juga tidak mengenal Dhamma, ia akan menjadi seekor bangau yang berdiam di danau kering”.

 

Setelah berkata demikian, Sang Buddha mengucapkan syair:

“Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci serta tidak mengumpulkan bekal (kekayaan) selagi masih muda, ia akan merana seperti bangau tua yang berdiam di kolam yang tidak ada ikannya”. (Dhammapada, Jara Vagga no. 10)

 

  1. Kesucian yang “Dibeli”

Kisah ini menceritakan tentang Kala, anak seorang jutawan yang bernama Anathapindika. Meskipun ayahnya amat gemar berdana dan percaya akan hasil dari perbuatan baik yang dilakukannya, Kala tidak pernah menunjukkan keinginannya untuk mengunjungi Sang Buddha atau menemui Sang Buddha apabila Beliau datang ke rumah ayahnya, atau mendengarkan Dhamma, ataupun melayani Anggota Sangha. Ayahnya selalu menasehatinya:

“Anakku, jangan berlaku begitu”.

Tetapi Kala tidak pernah memperhatikan nasehat ayahnya. Suatu ketika ayahnya berpikir:

“Kalau anakku ini tetap bertingkah laku seperti itu, apabila meninggal ia akan masuk ke

Neraka Avici. Bagaimana mungkin saya biarkan hal itu terjadi di depan mata saya?”.

“Tetapi, di dunia ini segala sesuatu dapat dilemahkan oleh hadiah”.

Ia berkata kepada anaknya: “Anakku, pergilah ke Vihara, dengarkanlah Dhamma yang di ajarkan oleh Sang Buddha,

setelah selesai pulanglah. Kalau kamu mau pergi ke Vihara, saya akan memberikan seratus keping uang”.

“Ayah, benarkah ayah akan memberikan saya seratus keping uang, kalau saya pergi ke Vihara?”.

“Benar, anakku”, jawab ayahnya.

Sesudah ayahnya berjanji tiga kali, Kala lalu pergi ke Vihara. Tetapi ia tidak mendengarkan

Dhamma, melainkan ia tidur nyenyak di tempat yang nyaman di Vihara, keesokkan harinya ia baru pulang.

 

Ayahnya berkata:

“Hari ini anakku sudah ke Vihara, cepat sediakan bubur dan makanan lainnya”.

Jutawan itu segera memberikan bubur dan makanan lain kepada anaknya dan menyuruhnya makan.

 

Tetapi Kala berkata:

“Saya tidak mau makan, kecuali diberi uang terlebih dahulu”.

Ia tidak mau menyentuh makanannya. Ayahnya tidak memaksanya untuk makan, tetapi ia memberi uang yang dijanjikannya. Setelah menerima uang, Kala makan makanan yang tersedia di hadapannya.

Keesokan harinya si ayah ingin anaknya pergi lagi ke Vihara, ia berkata:

“Anakku, saya akan berikan kamu seribu keping uang kalau kamu mau duduk di hadapan

Sang Buddha dan mendengarkan AjaranNya. Pulanglah setelah selesai”.

Kala segera pergi ke Vihara. Ia duduk di hadapan Sang Buddha. Dan ketika Sang Buddha

mengucapkan satu syair, ia tidak mengerti arti syair itu, tetapi ia tidak mau pulang. Ia berpikir:

“Saya pasti akan dapat mengerti arti syair”.

Karena penasaran ia tetap duduk dan mendengarkan Ajaran Sang Buddha, ia berusaha untuk

mengerti. Sang Buddha yang mengetahui sebab dari kedatangannya ke Vihara, sengaja

membuatnya tidak dapat mengerti dengan jelas arti syair itu.

“Saya harus mengerti arti syair itu”, pikir Kala. Jadi ia tetap tinggal dan mendengarkan Ajaran Sang Buddha, akhirnya ia mengerti dan mencapai Tingkat Kesucian.

Keesokan harinya, Kala bersama dengan para bhikkhu ikut menyertai Sang Buddha pergi ke

Savatthi. Ketika Anathapindika melihat anaknya, ia berkata:

“Hari ini, kelakuan anakku amat menyenangkan hatiku”.

Dan pada saat itu pula Kala berpikir:

“Saya harap ayah tidak memberikan saya uang yang dijanjikannya di hadapan Sang Buddha.

Saya harap ia tidak bercerita karena sejumlah uanglah saya mau pergi ke Vihara”. (Sang Buddha mengetahui bahwa karena sejumlah uang, Kala mau pergi ke Vihara).

Jutawan Anathapindika mempersembahkan bubur dan makanan lainnya kepada Sang Buddha

dan kepada bhikkhu Sangha, ia juga mempersembahkan makanan kepada anaknya. Kala duduk dengan diam, ia makan bubur dan makanan lainnya. Ketika Sang Buddha selesai makan, Jutawan itu memberikan sebuah dompet yang berisi seribu keping uang kepada anaknya, dan berkata:

“Anakku, tentu kamu masih ingat bahwa saya membujukmu untuk pergi ke Vihara, dengan janji akan memberimu seribu keping uang, ambillah uang ini”.

Ketika Kala melihat kepada Sang Buddha, ia merasa amat malu dan berkata:

“Saya tidak mau uang ini”.

“Ambillah, anakku”, kata ayahnya.

Tetapi Kala tetap menolaknya. Jutawan Anathapindika itu mengucapkan terima kasih kepada Sang Buddha, seraya berkata: “Yang Mulia, kelakuan anak saya pada hari ini amat menyenangkan saya”.

“Mengapa, saudara?”.

“Yang Mulia, kemarin dulu saya menyuruhnya pergi ke Vihara sambil berkata, ‘Saya akan

memberi kamu seratus keping uang’. Kemarin ia menolak untuk makan sebelum saya berikan

uang itu kepadanya. Tetapi pada hari ini, ketika saya berikan uang, ia malahan menolaknya”.

Sang Buddha berkata:

“Itulah yang telah terjadi, saudara. Hari ini ia telah mencapai Tingkat Kesucian, telah

mencapai Alam Surga dan Alam Brahma”.

Kemudian Sang Buddha mengucapkan syair:

“Ada yang lebih baik dari pada kekuasaan mutlak atas bumi, dari pada pergi ke Surga atau dari pada memerintah seluruh dunia, yakni hasil kemuliaan dari seorang Suci yang telah

memenangkan arus (Sotapattiphala)”. (Dhammapada, Loka Vagga no. 12)

 

 

  1. Sang Buddha Memberi Makan Orang Kelaparan

Pada suatu hari ketika Sang Buddha sedang duduk bermeditasi di Vihara Jetavana, dengan Mata Buddha-Nya, Sang Buddha melihat seorang laki-laki yang amat miskin tinggal di Alavi. Sang Buddha mengetahui bahwa orang itu mempunyai kemampuan untuk mencapai tingkat kesucian. Sang Buddha ingin membantu orang itu, lalu bersama dengan lima ratus orang

muridnya, Sang Buddha melakukan perjalanan menuju Alavi.

Penduduk Alavi setelah mengetahui kedatangan Sang Buddha, segera mengundang Sang

Guru Agung menjadi tamu mereka. Ketika orang miskin itu mendengar kedatangan Sang

Buddha, ia ingin sekali bertemu dengan Sang Buddha dan mendengar Ajarannya. Tetapi, pada hari itu seekor lembunya tersesat. Ia bimbang, “Apakah saya mencari lembu yang hilang itu ataukah saya pergi menemui Sang Buddha untuk mendengarkan AjaranNya?”.

 

Akhirnya ia memutuskan:

“Pertama-tama saya akan mencari lembu yang hilang itu terlebih dahulu, kemudian saya akan

pergi menemui Sang Buddha”.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia pergi ke hutan untuk mencari lembunya yang tersesat.

Penduduk desa Alavi mempersilahkan Sang Buddha beserta murid-muridnya untuk duduk di tempat yang telah mereka persiapkan, dan mempersembahkan bubur dan makanan lainnya

dengan penuh hormat. Sesudah makan, Sang Buddha biasanya mengucapkan terima kasih dengan membacakan Paritta Pemberkahan, tetapi kali ini Sang Buddha berkata:

“Ia yang menyebabkanKu datang ke sini bersama para bhikkhu sedang pergi ke hutan mencari lembunya yang hilang. Kita tunggu sampai dia kembali, setelah ia datang Aku akan

membabarkan Dhamma”.

Kemudian Sang Buddha duduk diam. Orang miskin itu setelah menemukan lembunya yang tersesat, segera menggiring lembunya kembali ke kandang. Ia lalu berpikir:

“Kalau tidak ada apa-apa lagi, saya harus segera pergi mengunjungi dan memberikan hormat

kepada Sang Buddha”.

 

Dengan menahan rasa lapar yang amat sangat, ia segera pergi menemui Sang Buddha. Setelah orang itu bernamaskara di hadapan Sang Buddha, ia lalu duduk diam-diam di salah satu sisi. Sang Buddha setelah melihat orang itu datang, segera berkata kepada orang yang

melayaninya:

“Apakah masih ada makanan?”.

“Masih ada Yang Mulia, masih banyak makanan”.

“Berikanlah makanan kepada orang ini”.

Kemudian orang itu diberikan bubur dan makanan lainnya. Setelah selesai makan, ia mencuci mulutnya lalu duduk dengan tenang. Kemudian Sang Buddha membabarkan Dhamma, menjelaskan Empat Kesunyataan Mulia. Pada akhir khotbah, orang itu mencapai Tingkat Kesucian Pertama (Sotapana). Setelah Sang Buddha selesai membabarkan Dhamma, Beliau lalu membacakan Paritta Pemberkahan dan segera meninggalkan desa itu.

Di perjalanan, para bhikkhu menyatakan keheranannya dengan apa yang Sang Buddha lakukan pada hari ini, mereka berkata:

 

“Saudaraku, Guru kita belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Tetapi melihat

orang itu kelaparan, Sang Guru meminta penduduk desa menyediakan makanan untuknya”.

Sang Buddha segera berhenti berjalan, berbalik dan bertanya:

“O, para bhikkhu, apa yang kalian bicarakan?”.

 

Setelah Sang Buddha mendengar apa yang mereka bicarakan, Beliau berkata:

“O, para bhikkhu, kadatanganKu kemari dengan melalui perjalanan yang berat dan jauh ini

adalah karena Aku melihat orang itu mempunyai kemampuan untuk mencapai Tingkat Kesucian.

Pagi-pagi sekali dengan menahan lapar, ia ke hutan mencari lembunya yang hilang. Jadi kalau Aku membabarkan AjaranKu kepada orang yang perutnya lapar, ia tidak akan dapat mengerti apa yang Kuajarkan. Karena itu Aku melakukan apa yang harus Kulakukan. O, para bhikkhu, kelaparan adalah penyakit yang paling berat”.

 

Sang Buddha lalu mengucapkan syair:

“Kelaparan merupakan penyakit yang paling berat. Segala sesuatu yang berkondisi merupakan penderitaan yang paling besar. Setelah mengetahui hal ini sebagaimana adanya, orang bijaksana memahami bahwa Nibbana merupakan kebahagiaan tertinggi” (Dhammapada, Sukha Vagga no. 7)

 

 

  1. Sopaka Yang Malang

Tersebutlah seorang anak bernama Sopaka. Ia berasal dari keluarga yang sangat miskin.

Ketika Sopaka berusia tujuh tahun, ayahnya meninggal dunia. Ibunya kawin lagi dengan seorang laki-laki yang amat kejam, jahat dan kasar. Ia selalu memukul, mencaci-maki dan membentak Sopaka kecil yang ramah, tidak berdosa dan baik hati itu. Ayah tirinya selalu berpikir:

“Anak ini selalu menyusahkan saja. Ia tidak ada gunanya. Saya amat membencinya tetapi

tidak dapat melakukan apa-apa kepadanya, karena ibunya amat mencintainya. Apa yang harus saya lakukan?”.

Pada suatu malam ia berkata kepada Sopaka:

“Anakku, marilah kita berjalan-jalan”.

Sopaka sangat heran karena ayah tirinya berbicara begitu ramah sehingga ia berpikir:

“Ayah tiriku tidak pernah berbicara begitu ramah kepadaku. Tetapi sekarang kelihatannya

amat baik. Mungkin ibuku yang memintanya untuk berlaku ramah kepadaku”.

Lalu ia ikut pergi bersama ayah tirinya.

 

Ayah tirinya membawanya ke kuburan yang banyak mayat berserakan. Lalu ia mengikat

Sopaka ke satu mayat dan meninggalkannya di sana. Sopaka segera menangis:

“Ayah, saya mohon ayah tidak mengikat saya ke mayat yang bau dan kotor ini. Saya mohon,

ayah. Saya amat takut, ayah”.

Sopaka menjerit sekerasnya. Tetapi ayah tirinya pergi tanpa memperdulikan Sopaka lagi.

Di sekitar tempat itu amat gelap, Sopaka amat ketakutan. Tak ada seorang pun di kuburan itu.

Karena Sopaka amat ketakutan, rambutnya berdiri dan keringat mulai menetes membasahi seluruh tubuhnya. Bajunya basah oleh keringat yang menetes. Apalagi ketika ia mendengar suara-suara harimau, serigala, macan tutul, dan binatang buas lainnya, Sopaka menangis dan menjerit sekeraskerasnya. Sopaka menyadari bahwa ia hanya seorang diri di situ dan tidak ada seorang pun yang dapat menolongnya.

 

Tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki yang berwajah amat mulia, tampan dan bersinar amat

terang mendatanginya. Sopaka mendengar ia berkata dengan suaranya yang amat lembut:

“Sopaka, janganlah menangis. Saya ada disini untuk menolongmu. Jangan takut!”.

Dan pada saat itu juga Sopaka dapat melepaskan ikatannya dan berdiri di hadapan Sang Buddha di Vihara Jetavana.

Sopaka tidak mempercayai penglihatan dan pendengarannya. Meskipun Sang Buddha berada

di tempat yang sangat jauh dari kuburan itu, tetapi Beliau mendengar tangisan Sopaka, dan

mengirimkan sinar terang ke depan Sopaka dan memutuskan tali ikatan dengan kekuatanNya.

sesampainya Sopaka yang malang di Vihara, Sang Buddha memandikan dan memakaikannya

jubah, lalu memberinya makanan, dan menghiburnya.

 

Ketika ayah tiri yang kejam tersebut pulang ke rumah, ibu Sopaka bertanya:

“Kemana anakku?”.

“Saya tidak tahu”, jawab laki-laki kejam itu.

“Ia pulang sebelum saya pulang. Saya pikir, ia sedang tidur”.

Ibu Sopaka lalu mencari-cari anaknya tetapi tidak ditemukannya. Ia tidak bisa tidur sepanjang

malam. Ia menangis dan menangis terus menerus memikirkan Sopaka.

 

Keesokan paginya ia berpikir:

“Sang Buddha pasti mengetahui semuanya, masa lampau, masa kini dan masa yang akan

datang. Saya harus ke Vihara menemui Sang Buddha, dan bertanya dimanakah anak saya

berada?”.

Dengan menangis dan bercucuran air mata, ia pergi ke Vihara.

Sang Buddha bertanya kepadanya:

“Mengapa engkau menangis?”.

“Oh, Sang Buddha”, kata ibu Sopaka, “Saya hanya mempunyai seorang anak laki-laki. Ia

hilang sejak semalam. Suami saya membawanya berjalan-jalan, ketika pulang ke rumah, ia

berkata bahwa ia tidak tahu apa yang terjadi dengan anak saya”.

“Jangan khawatir, anakmu selamat. Ia ada di sini”.

Setelah berkata demikian, Sang Buddha memanggil Sopaka, yang sekarang telah menjadi

samanera, bukan sebagai Sopaka yang dahulu lagi. Ibu Sopaka amat bahagia melihat anaknya

kembali.

Mendengar ajaran Sang Buddha, ibu Sopaka amat berbahagia, dan berterima kasih kepada

Sang Buddha yang telah menyelamatkan anaknya. Kemudian ia menjadi pengikut Sang Buddha.

 

  1. Kecantikan Hanya Setipis Kulit Batasnya

Permaisuri Raja Bimbisara bernama Ratu Khema, amat memuja kecantikan wajahnya. Ratu

Khema telah mengucapkan permohonannya di kaki Buddha Padumuttara, ia ingin sekali

mempunyai rupa dan wajah yang cantik. Tetapi ia mendengar bahwa Sang Buddha Gotama

mengatakan, kecantikan bukan merupakan hal yang utama. Pada kelahiran-kelahirannya yang

terdahulu, Ratu Khema selalu menjadi wanita yang amat cantik. Raja Bimbisara yang mengetahui bahwa istrinya amat mengagumi kecantikan wajahnya lalu meminta pengarang lagu untuk menciptakan lagu yang memuji keindahan hutan Veluvana. Lagu itu kemudian dinyanyikan oleh para penyanyi terkenal.

Ratu Khema ketika mendengar lagu tersebut penasaran, karena Veluvana digambarkan sebagai suatu tempat yang indah itu belum pernah ia dengar dan lihat sendiri.

“Kalian bernyanyi tentang hutan yang mana?”, tanyanya kepada para penyanyi.

“Paduka Ratu, kami bernyanyi tentang hutan Veluvana”, jawab mereka. Ratu Khema lalu

ingin sekali mengunjungi hutan Veluvana.

Sang Buddha yang ketika itu sedang berkumpul dengan murid-muridnya dan memberikan

Ajarannya, mengetahui kedatangan Ratu Khema, lalu menciptakan bayangan seorang wanita

muda yang amat cantik, berdiri di samping Sang Buddha. Ketika Ratu Khema mendekat, ia melihat bayangan wanita muda yang amat cantik, ia berpikir,

“Yang saya ketahui Sang Buddha selalu berkata bahwa kecantikan bukanlah hal yang utama.

Tetapi di sisi Sang Buddha sekarang berdiri seorang wanita yang kecantikannya luar biasa. Saya belum pernah melihat wanita secantik ini. Orang-orang itu pasti salah dalam menggambarkan pandangan Sang Buddha tentang kecantikan, betul-betul saya tidak mengira”.

 

Ia tidak mendengarkan kata-kata yang diucapkan Sang Buddha, pandangannya tetap tertuju

kepada bayangan wanita cantik di sisi Sang Buddha. Sang Buddha mengetahui bahwa Ratu Khema amat serius memperhatikan bayangan wanita cantik itu, lalu Sang Buddha mengubah bayangan wanita muda yang amat cantik itu perlahanlahan menjadi wanita tua, berubah terus sampai akhirnya yang tersisa hanyalah setumpuk tulangtulang di dalam sebuah kantong. Ratu Khema yang memperhatikan semua itu lalu berkesimpulan, “Pada suatu saat nanti wajah yang muda dan cantik itu akan berubah menjadi tua, rapuh lalu

mati. Ah, semua ini bukan kenyataan!”.

 

Sang Buddha mengetahui apa yang ada dalam pikirannya, lalu berkata:

“Khema, kamu salah. Inilah kenyataan perubahan dari kecantikan wajah! Sekarang lihatlah semua kenyataan ini”.

 

Sang Buddha lalu mengucapkan syair:

“Khema, lihatlah paduan unsur-unsur ini, berpenyakit, penuh kekotoran dan akhirnya

membusuk. Tipu daya dan kemelekatan adalah keinginan orang bodoh”.

 

Ketika Sang Buddha selesai mengucapkan syair ini Ratu Khema mencapai Tingkat Kesucian

Pertama (Sotapana). Kemudian Sang Buddha berkata kepadanya:

“Khema, semua makhluk di dunia ini, hanyut dalam nafsu indria, dipenuhi oleh rasa

kebencian, diperdaya oleh khayalan, mereka tidak dapat mencapai pantai bahagia, tetapi hanya hilir mudik di tepi sebelah sini saja”.

 

Sang Buddha lalu mengucapkan syair:

“Mereka yang bergembira dengan nafsu indria, akan jatuh ke dalam arus (kehidupan),

seperti laba-laba yang jatuh ke dalam jaring yang dibuatnya sendiri. Tetapi para

bijaksana dapat memutuskan belenggu itu, mereka meninggalkan kehidupan duniawi,

tanpa ikatan serta melepaskan kesenangan-kesenangan indria”.

(Dhammapada, Tanha Vagga no. 14)

 

Setelah Sang Buddha selesai mengucapkan syairnya, Khema mencapai Tingkat Kesucian Arahat. Sang Buddha lalu berkata kepada Raja Bimbisara, “Baginda, Khema lebih baik meninggalkan keduniawian ataukah mencapai Nibbana?”.

 

Raja Bimbisara menjawab:

“Yang Mulia, ijinkanlah ia memasuki Sangha Bhikkhuni, jangan dulu mencapai Nibbana!”. Khema meninggalkan keduniawian dan menjadi salah satu murid Sang Buddha yang terkemuka.

 

  1. Bhikkhu dan Makhluk Halus Penghuni Hutan

Ketika Sang Buddha sedang berdiam di Savatthi bersama dengan murid-muridnya, Sang

Buddha memerintahkan kelima ratus orang muridnya untuk berlatih diri, bermeditasi di hutan

untuk mencapai tingkat kesucian. Kelima ratus orang bhikkhu itu lalu pergi menuju ke suatu desa yang cukup besar. Penduduk desa yang ketika mengetahui murid-murid Sang Buddha mendatangi desa mereka, segera menyambutnya dengan menyiapkan tempat untuk beristirahat, dan mempersembahkan bubur dan makanan lainnya. Mereka lalu bertanya:

“Kemanakah Bhante akan pergi?”.

Para bhikkhu itu menjawab:

“Kami akan pergi ke suatu tempat yang nyaman”.

Penduduk desa itu menyarankan:

“Bhante, tinggallah di hutan di dekat desa kami ini selama tiga bulan, sehingga kami dapat

mempelajari Dhamma dibawah bimbinganmu”.

Para bhikkhu menyetujuinya, dan para penduduk berkata lagi:

“Bhante, di dekat desa kami ada hutan kecil, Bhante dapat tinggal di sana”.

Kelima ratus orang bhikkhu itu lalu pergi menuju hutan yang ditunjukkan penduduk desa.

Di dalam hutan itu banyak terdapat makhluk halus penghuni hutan, mereka mengetahui

kedatangan para bhikkhu, “Sekumpulan bhikkhu akan datang ke hutan ini, apabila para bhikkhu itu tinggal di sini, pasti tidak enak lagi kita berdiam di sini bersama anak dan istri”.

 

Mereka turun dari pohon dan duduk di bawah, mereka berpikir lagi:

“Kalau bhikkhu-bhikkhu itu tinggal di sini hanya satu malam, besok mereka pasti pergi dari

hutan ini”.

Mereka lalu duduk diam di bawah pohon. Tetapi keesokkan harinya setelah para bhikkhu

berpindapata ke desa di dekat hutan itu dan makan hasil pindapatanya, ternyata mereka kembali ke hutan itu. Para makhluk halus penghuni hutan itu berpikir:

“Besok, kalau ada yang mengundang mereka, mereka pasti pergi dari sini. Kalau hari ini

mereka tidak jadi pergi, besok mereka pasti pergi”. Setelah berpikir demikian, mereka duduk

kembali di bawah pohon sepanjang malam.

Makhluk halus penghuni hutan ragu-ragu, apakah para bhikkhu itu akan segera pergi dari

tempat tinggal mereka, lalu berpikir kembali:

“Apabila para bhikkhu ini tinggal di sini selama tiga bulan, pasti tidak enak lagi tinggal di sini, lagipula kita sudah lelah sekali duduk di bawah. Bagaimana yah, caranya supaya para bhikkhu ini pergi dari sini?”.

Karena merasa terganggu akhirnya makhluk halus penghuni hutan itu mengganggu para bhikkhu supaya mereka pergi dari tempat tinggal mereka. Siang dan malam hari para bhikkhu itu diganggu, ada yang melihat kepala-kepala beterbangan, ada pula yang melihat badan tanpa ada kepalanya berjalan-jalan, lalu terdengar suara-suara yang menyeramkan.

Pada waktu yang bersamaan, para bhikkhu itu banyak yang menderita bermacam-macam

penyakit, ada yang sakit batuk, pilek atau sakit-sakit lainnya. Mereka lalu saling bertanya:

“Saudaraku, kamu sakit apa?”.

“Saya sakit pilek”.

“Saya batuk-batuk”.

“Saudaraku, hari ini saya melihat banyak kepala beterbangan”.

“Saudaraku, di malam hari saya melihat badan tanpa kepala berjalan-jalan”.

“Saya mendengar suara-suara yang menyeramkan”.

“Saudaraku, kita harus meninggalkan tempat ini, tempat ini tidak cocok untuk kita. Mari kita

menemui Guru kita, Sang Buddha”.

 

Mereka meninggalkan hutan itu dan menemui Sang Buddha, setelah memberikan hormatnya

dengan bernamaskara, mereka lalu duduk dan menceritakan mengapa mereka kembali, Sang

Buddha lalu berkata:

“Bhikkhu, mengapa kalian tidak dapat tinggal di hutan itu?”.

Para bhikkhu menjawab:

“Yang Mulia, kami tidak dapat lagi tinggal di sana, tempat itu amat menyeramkan, banyak hal menakutkan yang kami lihat dan alami. Tempat itu tidak nyaman untuk kami, jadi kami

memutuskan untuk pergi dari sana dan kembali menemui Yang Mulia”.

“Bhikkhu, kamu harus kembali ke tempat itu”.

“Maaf Yang Mulia, kami tidak mau kembali ke sana”.

“Bhikkhu, ketika kamu pergi ke hutan itu untuk pertama kalinya, kamu tidak membawa

“senjata”. Dan sekarang kamu harus membawa “senjata” bila kamu kembali ke sana”.

“Senjata apakah itu Yang Mulia?”

Sang Buddha lalu menjawab,

“Aku akan memberikan senjata yang dapat kamu bawa kemana pun kamu pergi”.

Sang Buddha mengucapkan syair Karaniya Metta Sutta:

Inilah yang harus dilaksanakan

oleh mereka-mereka yang tekun dalam kebaikan.

Dan telah mencapai ketenangan bathin.

Ia harus pandai, jujur, sangat jujur.

 

Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong.

Merasa puas, mudah dirawat

Tiada sibuk, sederhana hidupnya

Tenang indrianya, selalu waspada

 

Tahu malu, tidak melekat pada keluarga

Tak berbuat kesalahan walaupun kecil

yang dapat dicela oleh para Bijaksana.

Hendaklah ia selalu berpikir:

“Semoga semua makhluk sejahtera dan damai,

semoga semua makhluk berbahagia”

Makhluk apapun juga

Baik yang lemah atau yang kuat tanpa kecuali

 

Yang panjang atau yang besar

yang sedang, pendek, kurus atau gemuk

Yang terlihat atau tidak terlihat

Yang jauh maupun yang dekat

Yang telah terlahir atau yang akan dilahirkan

 

Semoga semuanya berbahagia

Jangan menipu orang lain

Atau menghina siapa saja,

Janganlah karena marah dan benci

 

Mengharapkan orang lain mendapat celaka

Bagaikan seorang ibu mempertaruhkan nyawanya

Untuk melindungi anaknya yang tunggal

Demikianlah terhadap semua makhluk

 

Dipancarkannya pikiran kasih sayang tanpa batas

Hendaknya pikiran kasih sayang

Dipancarkannya ke seluruh penjuru alam,

ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling

 

Tanpa rintangan, tanpa benci, atau permusuhan

Sewaktu berdiri, berjalan, atau duduk

Atau berbaring sesaat sebelum tidur

Ia tekun mengembangkan kesadaran ini

Yang dinamakan “Kediaman Brahma”

 

Tidak berpegang pada pandangan yang salah

Tekun dalam sila dan memiliki kebijaksanaan,

Hingga bathinnya bersih dari segala nafsu indria

Maka ia tak akan lahir lagi dalam rahim manapun juga

 

Selesainya Sang Buddha mengucapkan syair Karaniya Metta Sutta, Sang Buddha berkata:

“Bhikkhu, bacakanlah Karaniya Metta Sutta ini, ketika kamu hendak masuk ke dalam hutan,

dan ketika hendak memasuki tempat meditasi”.

Setelah berkata demikian, Sang Buddha melepaskan para bhikkhu kembali ke hutan.

Para bhikkhu menghormat Sang Buddha dan kembali ke hutan dengan membawa “senjata”

yang telah Sang Buddha ajarkan. Dengan membacakan Karaniya Metta Sutta bersama-sama,

mereka masuk ke dalam hutan.

Makhluk halus penghuni hutan mendengar Karaniya Metta Sutta, yang menggambarkan cinta

kasih dan belas kasihan kepada semua makhluk. Sesudahnya mereka amat senang dan merasa

bersahabat dengan para bhikkhu. Kemudian mereka mendatangi para bhikkhu dan minta ijin agar diperbolehkan membawakan mangkok-mangkok dan jubah-jubah. Mereka membersihkan tangan dan kaki para bhikkhu, lalu menempatkan penjagaan yang kuat di sekelilingnya. Mereka duduk bersama-sama para bhikkhu, berjaga-jaga. Suara-suara dan bayangan-bayangan menakutkan tidak ada lagi, para bhikkhu menjadi tenang dan nyaman.

Mereka segera duduk bermeditasi, melatih diri pada siang dan malam hari, untuk mendapatkan Pandangan Terang. Dengan pikiran yang terpusat dan terkendali mereka merenungkan kematian, tentang tubuh yang mudah rusak dan membusuk, lalu mereka menarik kesimpulan, “Tubuh ini rapuh bagaikan tempayan”.

Mereka lalu mengembangkan Pandangan terang.

Sang Buddha yang sedang bermeditasi mengetahui bahwa murid-muridnya mulai

mengembangkan Pandangan Terang, lalu ia berbicara kepada mereka:

“Demikianlah bhikkhu. Tubuh ini rapuh bagaikan tempayan”.

Sambil berkata demikian, Sang Buddha mengirimkan bayangan dirinya yang dapat terlihat dengan jelas oleh murid-muridnya.

 

Meskipun Sang Buddha berada amat jauh, tetapi para bhikkhu dapat melihat Sang Buddha

dalam bentuk yang nyata, dengan memancarkan sinar yang amat terang, Sang Buddha

mengucapkan syair:

“Dengan menyadari bahwa tubuh ini rapuh bagaikan tempayan, maka hendaknya seseorang

memperkokoh pikirannya bagaikan benteng kota dan menyerang mara dengan senjata

kabijaksanaan”

(Dhammapada, Citta Vagga no. 8)

Ia harus menjaga apa yang telah ditaklukkannya dan tidak melekat pada apapun juga.

 

  1. Kebencian Jangan Dibalas Dengan Kebencian

Terdapatlah sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ibu yang tinggal bersama dengan seorang anak laki-lakinya. Ayahnya sudah meninggal, sehingga ia mengerjakan semua pekerjaan di ladang dan pekerjaan di rumah seorang diri. Ia juga merawat ibunya dengan penuh kasih. Pada suatu hari ibunya berkata:

“Anakku, saya akan mencarikan seorang gadis untuk dijadikan isterimu”.

“Ibu, janganlah seperti itu, saya akan menjagamu sepanjang hidupmu”.

“Anakku, saya kasihan melihatmu bekerja keras seorang diri di rumah dan di ladang. Jadi biarkanlah saya mencarikan seorang gadis untuk menjadi isterimu, sehingga ia dapat mambantumu”.

Anak itu menolak terus permintaan ibunya, sampai akhirnya ia diam saja.

Ibunya bermaksud pergi ke satu keluarga di desa dan meminta anak gadis keluarga itu untuk

dibawa pulang menjadi menantunya. Anaknya bertanya:

“Ibu hendak pergi ke keluarga mana?”.

Ibunya menjawab akan pergi ke keluarga yang mana saja. Si anak menganjurkan ibunya untuk pergi ke keluarga yang mempunyai seorang anak gadis yang disukainya. Ibunya lalu pergi ke keluarga yang dimaksud oleh anaknya. Setelah bertemu dengan gadis yang disukai anaknya, ia minta ijin kepada orang tua si gadis untuk membawa pulang anak gadisnya dan

menjadi menantunya. Orang tua gadis itu setuju, anak gadisnya dibawa pulang, kemudian si ibu berkata kepada anaknya: “Anakku, saya sudah membawa seorang gadis untuk menjadi

isterimu”.

Akhirnya anak tersebut kawin dengan gadis yang disukainya.

Sesudah beberapa tahun, mereka belum juga memperoleh seorang anak, padahal ibunya sangat mengharapkan seorang cucu.

 

Pada suatu hari ibunya berkata:

“Anakku, kamu harus mempunyai anak, kalau kamu tidak mempunyai anak maka keturunan

kita akan habis. kalau begitu lebih baik saya mencari gadis lain untuk menjadi isteri mudamu”.

“Ibu, janqan berkata seperti itu, sudah cukup hal itu ibu bicarakan berulang kali”, kata anaknya.

Tetapi ibunya tetap membicarakan hal itu terus menerus.

Isteri petani mendengar mertuanya membicarakan hal itu berulang-ulang, ia lalu berpikir:

“Kalau ibu mertua yang mencarikan gadis lain sebagai isteri muda suamiku, saya pasti akan

menjadi budak mereka. Lebih baik saya yang mencari gadis untuk dijadikan isteri muda suamiku,

sehingga ia patuh kepadaku”.

Isteri petani itu pergi mencari seorang gadis untuk dijadikan isteri muda suaminya. Ia

menjelaskan kepada orang tua gadis yang dipilihnya, bahwa suaminya mencari seorang gadis untuk dijadikan isteri mudanya, karena ia tidak bisa punya anak, sedangkan ibu mertuanya ingin sekali memperoleh keturunan. Akhirnya orang tua gadis itu menyetujui anak gadisnya dibawa pulang.

 

Tetapi selanjutnya isteri petani itu berpikir anak, pasti:

“Kalau saingan saya ini punya ia akan menjadi ratu rumah tangga, dan disayangi oleh suami dan ibu mertua. Saya harus menghalanginya supaya dia tidak bisa punya anak”.

Ia berkata kepada isteri muda:

“Kalau kamu mengandung, beritahu saya ya!”.

“Baiklah”, kata isteri muda.

Jadi setiap kali isteri muda itu hamil, ia segera memberitahukan kepada isteri tuanya, isteri tua lalu memberinya obat, sehingga kandungannya gugur, sampai dua kali ia kehilangan anaknya. Para tetangga bertanya mengapa ia keguguran terus, “Apakah sainganmu itu tidak menghalangimu untuk punya seorang anak?”.

Iapun menceritakan perjanjian mereka. Para tetangganya lalu menasehati untuk tidak

memberitahukan apabila ia hamil lagi.

Ketika ia hamil untuk ke tiga kalinya ia tidak memberitahukan isteri tua. Tetapi pada waktu

isteri tua mengetahui ia hamil lagi, ia berkata kepada isteri muda:

“Mengapa kamu tidak memberitahukan saya kalau kamu hamil lagi?”.

Isteri muda itu menjawab:

“Karena kalau saya beritahu, kamu akan memberi saya obat sehingga saya keguguran, mengapa saya harus memberitahukanmu?”.

isteri tua lalu mencari akal untuk menghalangi isteri mudanya melahirkan seorang anak. Pada

waktu melahirkan akan tiba, isteri tua lalu memberikan obat lagi kepada isteri muda, sehingga bayi dalam kandungan itu tidak dapat lahir. Isteri muda menderita kesakitan yang amat sangat, ia tidak tahan lagi. Ketika ia melihat isteri tua datang, ia amat ketakutan, lalu berteriak:

“Kamu membunuh saya! Kamu sangat jahat, kamu yang membawa saya kesini, kamu sendiri

yang membunuh ketiga anak saya dan sekarang saya juga akan mati. Kalau saya mati, saya akan menjadi raksasa dan akan saya makan anak-anakmu!”.

Sesudah mengucapkan sumpah, isteri muda meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai seekor kucing. Si suami yang mengetahui semua ini terjadi karena perbuatan isteri tuanya, amat marah: “Kamu menghancurkan keturunan saya!”.

Ia lalu memukuli isteri tuanya. Akibat pukulan suaminya, isteri tua menderita sakit lalu meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai seekor ayam betina.

 

Jadi isteri muda terlahir sebagai seekor kucing, isteri tua terlahir sebagai seekor ayam betina.

Setiap kali ayam betina itu bertelur, si kucing selalu makan telur ayam betina itu sampai yang

ketiga kalinya, ayam betina itu berkata:

“Tiga kali sudah kamu makan telur saya, sekarang kamu juga ingin makan saya, kalau saya

mati, saya akan memangsa kamu beserta keturunanmu”.

 

Sesudah ia mengucapkan sumpahnya, ia mati dan terlahir sebagai seekor macan tutul. Si kucing setelah mati terlahir sebagai seekor kijang betina.

Demikian pula macan tutul itu selalu memangsa anak kijang betina sampai ketiga kalinya,

kijang betina itu berkata:

“Hai makhluk jelek, tiga kali sudah kamu makan anak-anak saya, sekarang kamu ingin

memangsa saya juga. Kalau saya mati, saya akan memangsa kamu dan keturunanmu”.

 

 

Sesudah ia mengucapkan sumpahnya, ia mati dan terlahir sebagai raksasa. Si macan tutul mati dan terlahir sebagai wanita yang tinggal di Savatthi.

Jadi isteri muda yang kelahirannya yang terakhir sebagai kijang, terlahir kembali sebagai

raksasa, dan isteri tua yang pada kelahirannya yang terakhir sebagai macan tutul, terlahir kembali sebagai wanita muda.

 

Ketika wanita muda itu dewasa, ia menikah dengan seorang pemuda, dan tinggal bersama

keluarga suaminya. Tidak lama kemudian ia melahirkan seorang bayi laki-laki.

Raksasa itu mengetahui kalau musuhnya sudah mempunyai seorang anak, ia menyamar

menjadi teman wanita muda itu, dan berpura-pura mau menengoknya. Ia bertanya:

“Di mana teman saya?”.

“Di dalam kamar, ia baru saja melahirkan seorang bayi”.

“Bayinya laki-laki atau perempuan? Saya ingin melihatnya”.

Raksasa itu masuk ke kamar wanita tersebut. Ketika ia melihat bayi itu ia lalu memakannya,

kemudian ia pergi. Demikian pula ketika wanita muda itu melahirkan anak ke duanya, raksasa itu datang lagi dan memakan anaknya.

 

Ketika wanita itu hamil untuk ketiga kalinya ia mengajak suaminya untuk pulang ke rumah

ibunya dan melahirkan di sana. Raksasa yang mengetahui musuhnya itu hamil lagi, pergi mencari wanita muda itu ke rumahnya dan bertanya kepada keluarga suami wanita muda itu:

“Ke mana teman saya?”.

“Kamu tidak dapat menemuinya di rumah ini, karena disini ada raksasa yang selalu makan

anak-anaknya, jadi ia pulang ke rumah orang tuanya”.

“Ia boleh pergi ke mana saja ia suka. Tetapi ia tidak dapat melarikan diri dari saya”, kata si

raksasa itu dengan penuh rasa benci. Lalu ia pergi ke kota tempat wanita muda itu berada.

Setelah wanita muda itu melahirkan anaknya dan merasa sehat kembali, ia mengajak suaminya pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, mereka berhenti di tepi sebuah kolam yang airnya jernih, lalu mereka bergantian mandi.

 

Kolam itu berada dekat dengan Vihara tempat Sang Buddha berdiam. Pada saat suaminya

mandi di kolam, wanita muda itu melihat si raksasa mendekat. Ia mengenali raksasa yang selalu makan anak-anaknya. Dengan amat takut ia berteriak-teriak memanggil suaminya:

“Suamiku! Suamiku! Cepat kemari! Cepat kemari! Di sini ada raksasa!”.

Tanpa menunggu suaminya datang, ia cepat-cepat lari dengan menggendong anaknya, masuk ke Vihara.

 

Pada saat itu Sang Buddha sedang memberikan Ajaran kepada para muridnya. Wanita muda yang sedang ketakutan dan panik masuk ke Vihara lalu meletakkan bayinya di kaki Sang Buddha dan berkata:

“Yang Mulia, saya berikan anak ini, lindungilah anak saya, ada raksasa yang ingin

memakannya”.

Raksasa Sumana mengejarnya dan ingin masuk ke dalam Vihara. Sang Buddha meminta Yang Arya Ananda untuk membawa masuk raksasa itu:

“Pergilah Ananda, biarkanlah raksasa itu masuk”.

Raksasa itu masuk ke dalam Vihara, dan wanita muda amat ketakutan:

“Yang Mulia, dia datang ke sini!”.

 

Sang Buddha berkata:

“Jangan takut, biarkan ia masuk!”.

Ketika raksasa itu tiba, Sang Buddha bertanya:

“Samana, mengapa kamu berlaku seperti itu? Sekarang kamu berhadapan langsung dengan

seorang Buddha. Mengapa kamu memupuk rasa benci terhadap makhluk lain selama berabad-abad lamanya? Mengapa kebencian dibalas dengan kebencian? Kebencian akan berakhir apabila dibalas dengan cinta kasih”.

 

Sang Buddha lalu mengucapkan syair:

“Kebencian tidak akan pernah berakhir apabila dibalas

dengan kebencian. Tetapi kebencian akan berakhir bila

dibalas dengan tidak membenci. Inilah suatu hukum abadi”.

(Dhammapada, Yamaka Vagga no 5)

 

Setelah mendengar syair tersebut, bathin raksasa Sumana menjadi tenang, rasa bencinya hilang berganti dengan rasa cinta kasih. Sang Buddha berkata kepada wanita muda itu,

“Berikanlah anakmu kepada raksasa itu”.

“Saya takut, Yang Mulia”.

“Jangan takut. Kamu tidak perlu khawatir lagi terhadapnya”.

 

Wanita muda itu memberikan anaknya ke raksasa. Kemudian raksasa itu memeluk dan menciumi bayi itu dengan penuh kasih. Bayi itu dikembalikan kepada ibunya, dan ia menangis. Sang Buddha lalu bertanya:

“Mengapa kamu menangis?”.

“Yang Mulia, di masa yang lampau saya berusaha untuk bisa hidup tetapi selalu kelaparan”.

Sang Buddha lalu menghiburnya, dan berkata:

“Jangan khawatir, Sumana”.

Sang Buddha lalu berkata kepada wanita muda itu:

“Bawalah ia pulang ke rumahmu, ajaklah ia tinggal bersamamu, dan berikan bubur yang enak”.

Wanita muda tersebut mengajak raksasa itu pulang ke rumahnya, dan tinggal bersama mereka

di dalam rumah. Tetapi si raksasa tidak betah tinggal di dalam rumah, akhirnya ia tinggal di hutan dekat rumah wanita muda itu. Ia selalu membantu wanita muda itu dan juga penduduk di sekitar desa. Karena kebenciannya telah hilang dan berganti dengan cinta kasih, ia hidup bahagia di hutan.

 

  1. Seorang Pemburu Yang Dimangsa Oleh Anjing-anjingnya Sendiri

Pada suatu pagi, seorang pemburu bernama Koka, sedang dalam perjalanan menuju sebuah

hutan utnuk berburu binatang. Ia membawa busur panah di tangannya, diiringi sekelompok anjing pemburu. Dalam perjalanan ia bertemu dengan seorang bhikkhu yang sedang berjalan menuju desa untuk pindapata. Melihat bhikkhu itu, Pemburu Koka memendam rasa marah, sambil melanjutkan perjalanannya, ia berpikir:

“Pagi ini saya bertemu orang pembawa sial, hari ini pasti saya tidak mendapat apa-apa”.

Setelah selesai berpindapata maka bhikkhu itu pulang ke Viharanya kembali. Demikian pula

pemburu yang telah berkeliling di hutan dan tidak memperoleh binatang buruannya keluar dari hutan, untuk pulang ke rumahnya.

 

Dalam perjalanan pulang si pemburu bertemu kembali dengan bhikkhu yang dijumpainya

sebelum masuk ke hutan. Melihat bhikkhu itu lagi, ia menjadi amat marah dan pikirnya:

“Tadi pagi saya bertemu dengan si pembawa sial ini, lalu saya pergi ke hutan untuk berburu

binatang, ternyata saya tidak mendapat apa-apa, sekarang tiba-tiba ia muncul lagi di depan saya, lebih baik saya suruh anjing-anjing memakannya”.

Pemburu Koka segera memerintahkan anjing-anjingnya untuk menyerang bhikkhu itu. Bhikkhu tersebut memohon belas kasihannya dengan berkata:

“Jangan, jangan lepaskan anjing-anjing itu”.

 

Pemburu Koka menjawab:

“Hai, Orang Pembawa Sial, pagi hari ini saya bertemu denganmu, dan karena kamu membawa sial, saya tidak mendapat apa-apa di hutan. Sekarang kamu muncul lagi di depan mata saya, biar anjing-anjing saya memakanmu, hanya itu yang ingin saya katakan”.

Setelah berkata demikian, Pemburu Koka tanpa banyak bicara lagi segera melepas anjing-anjingnya dan memerintahkan untuk menyerang bhikkhu tersebut. Bhikkhu itu segera berlari dan memanjat pohon, dan duduk di cabang pohon. Anjing-anjing itu segera memburunya,

menggonggong dan menggeram-geram di bawah pohon, bersiap-siap untuk menerkam bhikkhu tersebut. Pemburu Koka yang mengikuti anjingnya, berdiri di bawah pohon sambil berkata:

“Kamu pikir kamu dapat melepaskan diri dari cengkeraman saya dengan naik ke pohon itu?”.

Ia segera memanah kaki bhikkhu yang tergantung itu dengan anak-anak panahnya. Bhikkhu itu sekali lagi memohon:

“Jangan panah saya, Saudara”.

Pemburu Koka tidak perduli dengan permohonan itu, ia tetap memanah kaki-kaki bhikkhu itu. ketika semakin banyak anak-anak panah menembus salah satu kakinya, bhikkhu itu menarik kakinya yang terluka, dan membiarkan kaki yang satunya tetap tergantung. tetapi anak-anak panah itu terus menerus menembus kakinya yang masih tergantung, karena kesakitan ia lalu menarik kakinya ke atas. Pemburu Koka tetap terus memanah kedua kaki bhikkhu tersebut. Akhirnya bhikkhu itu merasakan badannya panas seperti terbakar. Karena ia merasa amat sakit, ia tidak dapat lagi memusatkan pikirannya. Ia tidak tahu ketika jubahnya jatuh. Ternyata jubahnya jatuh menutupi

seluruh tubuh Pemburu Koka.

“Bhikkhu itu jatuh dari pohon”, pikir anjing-anjing itu. Dengan segera anjing-anjing itu

menyerang orang yang berada di bawah jubah, menyeret, merobek-robek dan memakan

majikannya sendiri. Akhirnya yang tersisa tinggal tulang-tulangnya saja.

Setelah itu, anjing-anjing itu duduk diam, menunggu perintah selanjutnya. Tidak lama

kemudian banyak anak panah berjatuhan dari atas pohon dan mengenai mereka, pada saat itu

mereka lalu melihat bhikkhu yang mereka kejar masih berada di atas pohon, mereka lalu berpikir, “Wah, kita makan majikan sendiri!”.

Menyadari hal itu mereka lari tunggang langgang. Bhikkhu itu amat kaget dan bingung melihat apa yang terjadi di bawah pohon, ia berpikir, “Pemburu itu kehilangan nyawanya karena jubah saya jatuh dan menutupinya, apakah kesucian

saya tidak ternoda?”.

 

Dengan pikiran yang berkecamuk, ia turun dari pohon, pergi menemui Sang Buddha dan

menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya, sejak dari awal.

“Yang Mulia, semua itu terjadi karena jubah saya, sehingga pemburu itu kehilangan nyawanya, apakah kesucian saya tidak ternoda? Apakah saya tetap dapat mempertahankan kesucian saya?”.

Setelah Sang Buddha mendengar seluruh cerita itu, Beliau menjawab:

“Bhikkhu, kesucianmu tidak ternoda, kamu tetap suci, barangsiapa yang berniat melukai orang lain yang tidak bersalah, ia akan menerima hukumannya. Lagi pula, hal seperti ini bukan yang pertama kalinya ia lakukan. Pada kehidupannya yang terdahulu, ia juga berniat melukai orang yang tidak bersalah dan menerima hukumannya”.

Sang Buddha lalu bercerita:

“Pada kehidupannya yang terdahulu, ia adalah seorang tabib yang berkeliling desa untuk

mencari pasien. Pada hari itu tidak ada seorang pasien pun yang datang padanya. Dengan amat lapar, ia keluar dari desa. Di pintu gerbang desa, ia melihat anak-anak yang sedang bermain. Dengan segera timbul pikiran jahatnya,

“Saya akan membawa seekor ular dan akan saya biarkan ular itu menggigit salah satu anak itu, sehinga ia terluka. Lalu saya obati, sehingga saya memperoleh uang untuk membeli makanan”.

Lalu ia mencari seekor ular dan meletakkannya di lubang pohon dekat tempat anak-anak bermain.

 

Kepala ular menyembul keluar dari lubang pohon, lalu ia berkata kepada anak-anak:

“Anak-anak, lihatlah ada seekor burung Salika, tangkaplah”.

Salah seorang anak segera memegang leher ular itu erat-erat, dan menariknya keluar dari lubang pohon. Tetapi ketika ia melihat yang dipegangnya itu ternyata seekor ular, ia menjerit ketakutan, berteriak-teriak lalu melempar ular itu ke atas. Ternyata ular itu jatuh tepat di atas kepala tabib itu. Dengan segera ular itu membelit leher si tabib dan menggigitnya keras-keras, akhirnya tabib itu mati.

 

“Jadi”, kata Sang Buddha, “Dalam kehidupannya yang terdahulu, pemburu Koka berniat

melukai orang yang tidak bersalah dan ia memperoleh hukumannya”.

Sang Buddha lalu mengucapkan syair:

“Barangsiapa yang berbuat jahat terhadap orang baik,

orang suci dan orang yang tidak bersalah maka kejahatan

akan berbalik menimpa orang bodoh itu bagaikan debu

yang dilempar melawan angin”.

(Dhammapada, Papa Vagga no. 10)

 

  1. Cunda si Pemotong Babi

Kisah ini menceritakan seorang lelaki bernama Cunda. Selama lima puluh tahun ia memotong babi untuk dimakan atau untuk dijual. Di belakang rumahnya terdapat sebidang tanah. Tanah itu diberi pagar dan dijadikan kandang untuk memelihara babi-babi. Babi-babi itu diberinya makanan berupa rumput-rumputan, sampah atau kotoran-kotoran.

 

Apabila Cunda ingin makan daging babi, ia mengambil salah seekor babinya untuk dipotong.

Babi itu diikatnya pada sebuah tonggak, badan babi itu dimasukkan ke dalam keranjang. Kemudian mulut babi itu dibuka dengan paksa, dan diganjal dengan sepotong kayu. Kemudian ia memasak air, air panas itu dituangkannya ke dalam mulut babi yang sudah terbuka. Air panas itu gunanya untuk membersihkan perut babi dari kotoran-kotoran yang masih tersisa. Air mengalir keluar melalui anus bersama dengan kotoran-kotoran, apabila air yang keluar dari anus sudah jernih, berarti perut babi sudah bersih. Air panas yang masih tersisa itu lalu disiramkannya ke punggung babi, supaya kulitnya mengelupas. Kemudian ia membakar bulu-bulu babi dengan sebuah obor. Setelah itu kepala babi dipotongnya dengan sebuah golok. Daging babi itu kemudian diberi bumbu-bumbu lalu dipanggangnya, untuk dimakan bersama anggota keluarganya. Apabila daging babi lebih, ia menjual daging itu ke pasar. Dengan cara seperti itulah Cunda menjalani kehidupannya selama lima puluh tahun.

Ketika itu Sang Buddha sedang berdiam di Vihara yang tidak jauh dari tempat tinggal Cunda.

Tetapi ia tidak pernah sekalipun mengunjungi Sang Buddha, dengan mempersembahkan bunga ataupun berdana makanan. Cunda tidak pernah melakukan kebaikan.

 

Pada suatu hari ia menderita sakit berat, karena perbuatan yang dilakukan selama hidupnya,

meskipun ia belum mati ia sudah merasakan panasnya Neraka Avici. Ketika siksaan Neraka itu sudah dirasakannya, sifatnya langsung berubah seperti seekor babi. Ia mulai mendengkur dan menjerit seperti seekor babi yang hendak dipotong. Ia merangkak dengan tangan dan kaki ke depan dan ke belakang rumah, persis seperti seekor babi. Keluarganya menyergap dan menyumpal mulutnya. Tetapi ia tetap mendengkur dan menjerit seperti seekor babi. Orang-orang di sekitar rumahnya tidak dapat tidur nyenyak. Karena ketakutan melihat tingkah laku Cunda, keluarganya lalu mengurungnya di dalam rumah, dan mereka berjaga-jaga di sekitar rumah. Setelah tujuh hari Cunda merasa siksaan Neraka Avici, ia meninggal dunia dan terlahir di Neraka Avici.

 

Beberapa orang bhikkhu yang melewati rumah Cunda, mendengar dengkuran dan jeritan babibabi, mereka kembali ke Vihara menghadap Sang Buddha dan menceritakan apa yang mereka lihat dan mereka dengar:

“Yang Mulia, selama tujuh hari ini rumah Cunda ditutup, pasti ia sedang berpesta. Berapa

banyak babi yang ia potong. Ia sama sekali tidak mempunyai cinta kasih dan belas kasihan kepada makhluk lain. Belum pernah kami menemukan orang yang sekejam dan sesadis Cunda ini”.

 

Sang Buddha menjawab:

“O para bhikkhu, ia tidak memotong babi selama tujuh hari ini. Sebagai hukuman atas apa yang dilakukannya selama ini meskipun ia belum meninggal ia sudah merasakan siksaan Neraka Avici.

Selama tujuh hari ini, ia merangkak ke sana ke mari di dalam rumahnya, mendengkur dan menjerit-jerit seperti seekor babi. Hari ini ia meninggal dunia dan terlahir di Neraka Avici”.

 

Para bhikkhu lalu menjawab:

“Yang Mulia, setelah menderita di dunia ini, ia akan pergi menuju tempat yang menderita dan

terlahir di sana”.

“Ya bhikkhu”, jawab Sang Buddha.

“Ia yang lengah, baik ia seorang umat ataupun seorang bhikkhu, akan menderita di kedua dunia”.

 

Sang Buddha lalu mengucapkan syair:

“Di dunia ini ia bersedih hati, di dunia sana ia bersedih hati, pelaku kejahatan akan bersedih

hati di kedua dunia itu. Ia bersedih hati dan meratap karena melihat perbuatannya sendiri yang tidak bersih”.

 

Sang Buddha Pelindungku I

Sumber: website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Sang Buddha Pelindungku 1