Pengetahuan Sejati. Ven Ajahn Chah.

Selasa, Maret 14th 2017. | Artikel, Berita

ven ajahn chah pengetahuan sejati share by tisarana.net

Pengetahuan Sejati.
Ven Ajahn Chah.


Sewaktu pertama kalinya seorang bocah kota pergi ke perdesaan, ia akan melihat berbagai hal yang belum pernah dia lihat dan tahu sebelumnya. Sewaktu melihat bebek, ia bertanya, “Papa, apa itu?” Sewaktu melihat kerbau, ia berteriak, “Mama, lihat hewan besar itu!” Ia terus bertingkah seperti ini terhadap apa pun yang dilihatnya, sampai orang tuanya letih menjawabnya. Apa pun penjelasan mereka, si anak akan terus bertanya karena belum pernah ia melihat hal-hal itu sebelumnya. Ia terkesima. Akhirnya, orang tuanya cuma menjawab dengan gerutu. Namun si anak tidak kapok dan terus bertanya. “Apa ini? Apa benda itu? Kok hewan ini bisa begitu?” Rasa ingin tahu dan pertanyaan itu tiada habisnya. tetapi setelah tumbuh dewasa, ia akna tahu semua hal ini, dan smeuanya ini tak akan lagi menjadi misteri baginya.

Meditasi itu persis seperti ini. Dahulu saya juga seperti ini. Tetapi setelah muncul pemahaman sejati, pertanyaan pun berhenti. Lewat pematangan dalam praktik dan dengan membiasakan batin pada penyelidikan, orang akan mampu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu dengan sendirinya.

Jadi kalian harus senantiasa mengamati diri sendiri. Masing-masing kalaian harus melihat dengan cermat untuk sadar seberapa jujurnya kalian terhadap diri sendiri dan untuk tahu saat kalian menipu diri kalian sendiri.

Pemikiran hanyalah penggagasan dan pembuatan. Jika kita tidak sadar sepenuhnya, kita mulai akan meyakininya sebagai suatu kebijaksanaan. Lalu kita mengikutinya, sampai terbentur pada ketidakpuasan dan derita. Seandainya pemikiran itu benar-benar kebijaksanaan, akankah pemikiran menyebabkan penderitaan?

Namun pemikiran adalah sesuatu yang dapat mengarah pada kebijaksanaan, sesuatu yang bisa membuat kita melihat dan mengetahui. Janganlah berpikir bahwa keduanya itu jauh terpisah. Dimana pun ada penggagasan, di situlah ada kebijaksanaan. Di mana pun ada yang tercipta, di situlah ada yang tak tercipta. Yang tak tercipta itu adalah keterbebasan dari penggagasan. Yang tercipta adalah penggagasan.

Ini ditunjukkan melalui berbagai cara oleh berbagai guru. Dalam Zen, misalnya, mereka punya cara khas untuk menyampaikan kebijaksanaan. Kalian ditanyai satu pertanyaan, dan ketika kalian menjawab, mereka akan memukul kalian. Gedebuk! Mereka akan bertanya lagi. Kali ini kalian tidak menjawab. Namun mereka memukul kalian lagi. “Hmmmm….apa gerangan yang terjadi? Aku bisa mati karenanya. Bagiamana aku harus menjawabnya? Apa yang mesti aku lakukan? Maju kena, mundur kena. Tetap diam dan tak menjawab juga salah.

Apa pun yang kalian coba, kalian cuma dipukuli. Timbul semacam perasaan, lalu kalian mulai mencari jawabannya yang lebih mendalam. Inilah metode Zen yang pernah saya baca. Bikin penasaran bukan?

Bagaimana pun kalian menjawab atau tidak menjawab, kalian dipukuli, kalian akan kehilangan semua gagasan tentang yang benar dan yang salah. Kalian tidak boleh bergerak, kalian juga tidak boleh hanya diam. Apa yang mestinya kalian lakukan? Kalian kehabisan akal, namun masih ada yang harus dilakukan. Jadi batin ini terus menyelidiki sendiri untuk menemukan jalan keluarnya. Saya rasa metode mereka ini sangat bagus. Misterius. Namun untuk kita, ada banyak pemikiran dan dugaan tentang hidup yang sesungguhnya. Kita tahu sesuatu, namun yang kita ketahui itu cuma apa yang orang lain bilang. Alhasil, akan selalu ada yang perlu ditanyakan dan dipelajari, dan akan selalu ada keraguan. Semakin sesuatu dijelaskan, semakin kita jauh dari pemahaman. Mengapa demikian? Apa yang menghalangi kita? Pengetahuan itu sendirilah yang menghalangi kita. Ingatlah itu.

Jadi kalian benar-benar perlu mencari ke dalam. Sewaktu terus mencari, pemahaman kalian akan semakin halus. Kesadaran halus ini akan tampak seperti sangat bagus. Tetapi guru Zen tidak menerimanya. “Buang yang halus itu! Aku tidak butuh itu!” Dan kalian dipukuli lagi. Sewaktu yang halus itu masih ada, kalian harus mengeluarkannya. Kalian tidak tahu apa yang mesti dilakukan, diam atau pergi, dan kalain akan kehabisan pilihan. Lebih baik semuanya itu dilempar jauh-jauh.

Telah diajarkan bahwa semua pemikiran dan perasaan kita hanyalah dunia fantasi dari ramuan batin. Itu bukan pengetahuan sejati. Itu ciptaan dari berfantasi, tapi kita merasa itulah pengetahuan sejati. Ini pengetahuan tanpa pelepasan. Dengan pengetahuan sejati, kita melepas.

Sumber :
https://www.facebook.com/744210529044598/photos/a.744215425710775.1073741828.744210529044598/1073067626158885/?type=3&theater

 

tags: , , , , ,

Related For Pengetahuan Sejati. Ven Ajahn Chah.