Meditasi dan Senyum! Ven Ajahn Brahm.

Jumat, Maret 17th 2017. | Artikel, Berita, Dhammadesana

meditasi dan senyum by ven Ajahn Brahm share oleh tisarana.net media informasi dan komunikai umat buddha indonesia

Bagi yang benar-benar gemar meditasi, kadang ketika saya melihat mereka bermeditasi, nyaris tak seorang pun yang berwajah tersenyum. Tak heran meditasi Anda tidak maju-maju. Jadi kebaikan Anda sendiri, tolonglah tersenyum ketika Anda bermeditasi. Sesungguhnya senyum menjadikan meditasi lebih mudah. Anda bisa mendapat lebih banyak energi, Anda bisa masuk ke dalam ketenangan lebih mendalam, dan Anda benar-benar menaruh kebahagiaan ke dalam meditasi Anda.

Anda tahu, kadang sebagian bhikkhu – bhikkhuni – bukan dari kelompok kami, sebab kami memiliki sistem kendali mutu yang baik sebelum kami membiarkan mereka mengajar – mengatakan, “Oh jangan. Jika Anda bahagia, Anda akan melekatinya.”Saya pikir, “Ya ampun. Apa yang orang-orang ini bicarakan? Sudah berapa lama Anda menjadi bhikkhu? Apakah Anda pernah membaca apa yang Buddha katakan?”

Anda seharusnya bahagia dalam meditasi ! Ajaran Buddha itu seharusnya mengurangi duka. Lalu, jika Anda dapat mengurangi duka, bukankah itu berarti Anda jadi lebih bahagia, makin bahagia, dan semakin bahagia?

Jika Anda lebih bahagia, Anda tak melekat kepada kebahagiaan itu, namun Anda melepas duka. Jadi, lakukanlah, makin bahagia makin bagus. Letakkan bahagia dalam meditasi Anda. Namun banyak orang berkata, “Ajahn Brahm, Anda hanya bicara dari pengalaman Anda sendiri, dari gagasan Anda sendiri. Bagaimana dengan ajaran Buddha tradisional!?”

Dalam salah satu pembabaran Tipitaka, dalam Majjhima Nikaya, Dhammachedi Sutta, atau pembabaran Monumen Dhamma, alkisah ada seorang raja penyokong utama Buddha bernama Raja Pasenadi.

Raja ini sudah menjelang ajal, dan ia hendak menemui Buddha untuk terakhir kalinya di vihara-Nya. Ketika tiba di kediaman Buddha, ia langsung bersujud kepada-Nya dan mulai menciumi kaki-Nya.

Buddha lalu bertanya, “Anda ini seorang raja. Apa yang Anda lakukan?”

Raja menjawab, “Saya sudah mengenal Anda seumur hidup saya, dan saya sangat mengasihi Anda. Ada ungkapan cinta yang begitu mendalam dalam ajaran Anda, dan Anda sudah begitu banyak membantu saya. Alasan lainnya, saya sekadar senang datang ke vihara ini.”

Buddha bertanya — inilah bagian penting dari pembabaran ini — “Mengapa Anda senang datang ke sini?”

Raja berkata, “Kapan pun saya datang mengunjungi vihara ini, tidak seperti tempat lain yang saya kunjungi, semua bhikkhu dan bhikkhuninya selalu berwajah senyum ramah dan begitu bahagia. Itu yang membuat saya bahagia, itulah sebabnya saya senang datang kemari.”

Ucapan itu memberi saya sebuah jendela wawasan yang baru mengenai bagaimana suasana vihara zaman Buddha. Para bhikkhu dan bhikkhuninya semuanya berwajah senyum. Itulah sebabnya orang senang untuk datang berkunjung kesana.

Jadi, jika Anda datang ke vihara dan melihat orang-orang disana tidak tersenyum, maka pasti ada yang salah disana.

Sumber :
https://www.facebook.com/744210529044598/photos/a.744215425710775.1073741828.744210529044598/1073956269403354/?type=3&theater

tags: , , , , ,

Related For Meditasi dan Senyum! Ven Ajahn Brahm.