4 Faktor Pendorong Untuk Pencapaian Sotapanna (tingkat kesucian pertama)

Sabtu, Februari 11th 2017. | Artikel, Berita

kesucian dalam agama buddha share by tisarana dot net media umat buddha indonesia

Artikel Kiriman dari : Nanda Lim

Pergaulan dengan orang-orang mulia.

Dahulu waktu dijaman Buddha masih hidup untuk bergaul dengan orang mulia kita tidak akan mengalami kesulitan sama sekali. Karena ajaran asli sang Buddha waktu itu belum tercampur .Tetapi kita yang sekarang ini mau menentukan mana yang benar-benar orang mulia yang patut kita dekati kita akan mengalami kesulitan untuk memilihnya. Karena setiap guru jaman sekarang mengakui bahwa beliau berlatih sesuai ajaran Sang Buddha. Tetapi kita perhatikan sendiri kadang ajaran mereka saling bertentangan satu sama lain. Maka untuk amannya setiap kali kita berbuat hal baik kita buat aspirasi supaya jasa yang telah kita kumpulkan dapat mengkondisikan kita untuk dapat belajar dari guru yang benar yang bisa kita umpamakan kalau Sang Buddha masih hidup maka beliau akan menunjuk guru itu untuk mengajar kita.
Mendengar Dhamma yang sejati.
Ini ada hubungannya dengan mencari guru. Karena sebagian besar dari kita tidak mungkin hanya dengan mendengar/membaca Tipitaka saja lalu bisa mencapai tingkat kesucian pertama(Sotapanna). Ketika di jaman Sang Buddha masih ada itu adalah hal yang biasa terjadi. Tetapi sekarang ini kita tidak bisa mengandalkan dari mendengar/membaca saja kita juga memerlukan penjelasan lebih lanjut tentang cara untuk mereliasasikan tingkat kesucian pertama(sotapanna). Karena untuk mereliasasikan sotapanna kita memerlukan 3 latihan yaitu Sila(moralitas), Samadhi(konsentrasi), Panna(kebijaksanaan). Dan itu memerlukan bimbingan dari seorang guru. Dan jika kita mempunyai guru yang mempunyai persepsi sendiri tentang Dhamma sejati itu yang seperti begini atau begitu. Karena setiap guru juga meyakini ajaran yang beliau praktekan sesuai dengan Dhamma yang sejati. Maka supaya kita bisa mempunyai kesempatan mendengar Dhamma yang sejati ini pun harus dengan setiap saat kita melakukan jasa kebaikan apapun kita buat aspirasi agar kita bisa bertemu dengan ajaran yang benar-benar dari Sang buddha. Seperti yang terjadi pada Bhante Sariputta. Dahulu diwaktu jaman Sang Buddha masih hidup kita mengetahui bahwa Bhante Sariputta setelah beliau belajar dari gurunya yaitu Sanjaya belaputta. Lalu karena beliau rasa ajaran darinya tidak seperti yang beliau ingin cari. Maka setelah itu beliau pergi berkeliling keseluruh India sampai akhirnya beliau bertemu dengan Bhante Assaji. Kalau kita juga mempunyai Jasa kebajikan yang cukup untuk pencapaian kesucian. Kita juga akan terkondisi untuk mencari Dhamma yang sejati yang seperti Bhante Sariputta lakukan.
Dijaman sekarang pun ada 2 kisah yang saya tahu.
1. Yaitu 1 guru besar yang sangat dihormati dinegaranya membawa sekelompok muridnya untuk belajar dari guru aliran yang lain. Beliau tidak mempedulikan status dan kedudukan beliau, yang beliau mau hanyalah Dhamma yang sejati.
Yang ke 2. Yaitu 1 guru besar juga sangat pandai berceramah dhamma dan terkenal. Beliau pun lebih senior. Dan beliau juga pergi belajar dari guru aliran yang lain. Mereka ini demi mendapatkan Dhamma yang sejati rela mengobarkan apapun.
Perhatian yang bijaksana. Ada 2 contoh tentang perhatian bijaksana ini.
1. Ini cerita dari buku 1 no.1 Apannaka jataka(kehidupan masa lampau Bodhisatta). Ketika itu beliau terlahir dalam sebuah keluarga saudagar. Setelah dewasa ia senantiasa melakukan perjalanan untuk berdagang dengan membawa lima ratus buah gerobak , menempuh perjalanan dari timur ke barat dan sebaliknya. Di kota Benares yang lain juga terdapat seorang saudagar muda lainnnya yang dungu dan pendek akal.
Kembali kekisah ketika Bodhisatta yang siap untuk memulai perjalanannya setelah mengisi kelima ratus buah gerobaknya dengan barang barang-barang bernilai tinggi yang dihasilkan oleh penduduk Benares. Sama halnya dengan saudagar muda yang dungu itu. Saat itu Bodhisatta berpikir,”Jika si dungu ini berjalan bersamaku sepanjang perjalanan, akan ada seribu gerobak yang beriringan di jalan yang sama. Jalanan akan penuh sesak oleh iringan gerobak. Sulit untuk mendapatkan baik kayu,air dan yang lainnya yang cukup untuk semua orang, maupun rumput untuk sapi-sapi. “Salah seorang dari kami harus berangkat terlebih dahulu .” Bodhisatta mendatangi dan menyampaikan pandangannya kepada saudagar dungu itu, dengan berkata,”Kita tidak dapat berangkat bersamaan; Kamu memilih berangkat terlebih dahulu atau belakangan ?” Saudagar dungu itu berpikir,” Akan ada banyak keuntungan yang bisa saya peroleh dengan berangkat terlebih dahulu. Jalanan masih bagus dan sapi-sapi akan mendapatkan rumput yang cukup. Para pelayanku akan mendapatakan rempah-rempah untuk kari, air yang masih jernih dan yang terakhir, sayalah yang menentukan harga saat tukar menukar barang dilakukan.” Maka ia menjawab,” Saya akan berangkat terlebih dahulu, Saudaraku.”
Di sisi lain, Bodhisatta melihat banyak keuntungan dengan berangkat belakangan, Bodhisatta berkata pada dirinya sendiri,”Mereka yang berangkat terlebih dahulu akan meratakan jalan yang berpermukaan tidak rata, barulah saya akan menempuh jalan yang telah mereka lewati; sapi mereka akan memakan rumput tua yang kasar,barulah sapi-sapi saya dapat menikmati rumput muda yang baru tumbuh di sepanjang jalan;para pengikut saya akan mendapatkan rempah-rempah segar yang baru tumbuh setelah tanaman tua dipetik oleh mereka; Jika tidak ada sumber air , mereka harus menggali sumur untuk mendapatkan air dan kami dapat minum air dari sumur yang telah ada. Tawar menawar adalah pekerjaan yang sangat melelahkan ,dengan berangkat belakangan saya dapat menukar barang bawaan saya dengan harga yang telah mereka sepakati sebelumnya.” Dengan pertimbangan tersebut ia berkata,”Engkau dapat berangkat terlebih dahulu,saudaraku.”
Dari contoh kisah ini kita dapat melihat bagaimana Bodhisatta mempratekkan perhatian bijaksananya.

Kisah ke 2 ini hanya cerita fiktif tetapi cerita ini dapat menggambarkan bagaimana kita seharusnya melihat sesuatu masalah dari segi yang lain. Yaitu kisah seorang Ibu yang mempunyai 2 orang anak yang berjualan. Anak yang pertama berjualan payung dan anak yang ke 2 berjualan es. Setiap hari hujan ibu itu menangis untuk anaknya yang berjualanan es, setiap hari panas ibu itu menagis untuk anaknya yang pertama yang berjualan payung. Kemudian pada suatu hari ada orang bijaksana yang menasehati beliau untuk tidak menangis lagi dan untuk mengingat ketika hujan kamu bergembira untuk anakmu yang berjualan payung. Dan ketika hari panas kamu bergembira untuk anakmu yang berjualan es.
Perhatian bijaksana ini kita latih semampu kita, karena kalau mau mempratekkan 100% mungkin agak sulit. Tetapi bukan tidak mungkin seperti kisah Maha-Sangharakkhita Thera berusia lebih dari 60 tahun, sedang terbaring pada ranjang kematiannya. Persaudaraan para Bhikkhu menanyai beliau tentang pencapaian keadaan kesuciannya.
Sang Thera berkata: ‘Saya tidak mempunyai keadaan kesucian’ . Kemudian Bhikkhu muda yang melayani beliau berkata: ‘Bhante, orang-orang telah datang sejauh 12 league, mereka berpikir bahwa anda telah mencapai Nibbana. Mereka semua akan kecewa jika anda meninggal sebagai orang biasa’. Beliau menjawab:’Kawan, karena berpikir untuk bertemu dengan Buddha Metteyya,saya tidak berusaha untuk mengembangkan pandangan terang. Jadi bantulah saya untuk duduk dan kemudian pergi keluar. Pada saat dia keluar, Sang Thera mencapai tingkat Arahat dan beliau memberi tanda bunyi dengan menyentakkan jari-jarinya. Para Bhikkhu berkumpul dan berkata kepada beliau ‘Bhante, anda telah melakukan hal yang sulit dalam mencapai kesucian pada jam menjelang kematian’. Itu tidak sulit, kawan. Tetapi saya akan mengatakan kepada kalian apa yang sulit. Kawan –kawan saya tidak melihat perbuatan yang dilakukan olehku tanpa perhatian murni dan ketidaktahuansejak saya meninggalkan keduniawian’. Mungkin dalam kisah contoh ini kisah bisa ikut bersimpati atas keberhasilan beliau. Mungkin suatu saat nanti kita juga bisa meniru beliau. Dan jika kita mau menilai praktik perhatian bijaksana kita ada berkembang atau tidak. Kita bisa melihat dari kondisi batin kita apakah kita semakin menjadi orang yang murah hati,sabar,belas kasih(mempunyai hati yang lembut),selalu bersimpati atas kebahagian orang lain dll. Ini menandakan praktik perhatian bijaksana kita sudah benar. Karena Sang Buddha selalu berkata bahwa Dhamma beliau itu indah di awalnya, indah dipertengahan, dan indah diakhirnya. Tetapi jika berubah menjadi egois, mudah marah, iri hati, kikir dll. Berarti praktik perhatian bijaksana kita ada yang salah. Dan itu mesti kita ubah cara pandang kita.
Praktik sesuai Dhamma. Ini dibagi menjadi 3 tahap. Yaitu:

1. Harus Dhamma yang sejati,
2. Sikap batin yang benar yaitu kita berlatih tidak berdasarkan nafsu keinginan, kesombongan, pandangan salah(adanya aku yang kekal). Tetapi jika kita mempunyai sikap batin yang seperti salah itu dan kita menyadarinya. Kita bisa merubah sikap batin kita dengan cara merenungi bahwa kalau kematian datang menghampiri kita apa yang kita lekati,apa yang kita sombongi, apa yang kita anggap ada satu aku yang kekal ini tidak berarti sama sekali.
3. Menggunakan cara yang benar untuk berlatih. Maksudnya adalah misalkan kita berlatih sesuai Dhamma yang sejati, sikap batin kita juga benar tetapi kita berlatih dengan pengertian yang salah tentang meditasi. Misalkan kita mau melatih Samadhi(konsentrasi) tetapi pengertian kita tentang Samadhi(konsentrasi) adalah berlawanan. Dalam melatih Samadhi(konsentrasi) kita berlatih dengan rileks dan nyaman dan batin dalam kondisi diam. Tetapi kebanyak orang ketika berlatih Samadhi(konsentrasi) berusah untuk membuat konsentrasi atau menggunakan tenaga untuk berlatih. Karena kebanyakan kita berpikir itu adalah cara yang benar. Maka kalau kondisinya seperti itu pun kita tidak bisa mencapai tujuan yang kita inginkan. Karena dari awal latihan meditasi baik Samatha(ketenangan) dan Vipasana(pandangan terang) kita melatihnya dengan batin yang lembut dan ringan.
Semoga kita semua bisa memenuhi semua faktor untuk pencapaian sotapanna ini dan bisa mereliasasikannya dalam kehidupan ini.

Incoming search terms:

  • sotapanna
tags: , , , , , ,

Related For 4 Faktor Pendorong Untuk Pencapaian Sotapanna (tingkat kesucian pertama)