Tiga Tingkatan Berdana Ven YM. Bhante Sri Pannavaro Mahathera

Kamis, Agustus 3rd 2017. | Artikel

Ada tiga tingkat berdana. Saya akan menggunakan kalimat tingkat bukan kelas.

Mengapa kita memberi?
Mengapa kita menolong?
Mengapa kita berdana?
Mengapa kita menyumbang?
Mengapa kita beramal?

Manfaat yang paling rendah adalah aktualisasi diri, menjaga relasi, mendapatkan nama baik. Dalam bahasa Pali disebutkan Dadam Piyo Hoti ‘orang yang memberi itu akan dicintai’. Itulah manfaat yang paling rendah atau manfaat tingkat pertama dari orang yang suka memberi.

Ayurarogya sampatti. Manfaat yang lain adalah ayu dan arogya ‘panjang umur dan sehat’. Karena orang yang bisa memberi itu adalah orang yang bahagia.

Dalam Nidhikanda Sutta dituliskan bahwa kekuatan dari memberi itu mengabulkan segala keinginan; wajah cantik, suara merdu, kekuasaan sebagai manusia, dan kebahagiaan sebagai dewa.

Orang yang mengendalikan dirinya dari perbuatan buruk dan suka berdana, setelah kematian tidak akan dilahirkan di alam yang sengsara. Melainkan dilahirkan dialam para dewa, di alam surga. Sagga Sampatti. Inilah manfaat dari berdana tingkat kedua.

Tingkat pertama adalah nama baik, dicintai, badannya sehat, panjang usia, wajahnya berseri-seri.

Tingkat kedua adalah setelah kematian, orang yang suka berdana ini akan terlahir di alam surga ‘Sagga Sampatti.’

Tetapi apakah sudah cukup?

Mungkin inilah kelebihan ajaran Guru Agung kita. Mungkin inilah kelebihan agama Buddha. Guru Agung kita mengingatkan,;
“Tidak cukup.” Ada manfaat dari berdana tingkat ketiga.
“Mengapa tidak cukup, Bhante?’
“Tidak cukup, Saudara.”

Marilah kita renungkan. Benar kita memerlukan nama baik. Benar kita ingin dicintai oleh yang lain. Kita tidak ingin dibenci.
Benar sekali. Benar kita ingin sehat, hidup sejahtera, panjang umur, termasuk wajah cantik, suara merdu. Para ibu-ibu pasti pada suka. Meskipun usia sudah lanjut tetapi pasti juga ingin mempunyai wajah cantik, suara merdu. Benar. Tidak bisa dipungkiri Anda menginginkan itu.

Akan tetapi, , apakah wajah cantik itu bertahan selamanya? Tidak.
Apakah kekayaan dan kesejahteraan itu abadi? Tidak.
Apakah sehat itu bisa selamanya? Tidak.
Apakah umur panjang itu selamanya, tidak bisa mati? Tidak juga.

Di dunia ini belum pernah ada orang yang tidak mati. Jadi apa pun hasil dari perbuatan baik, saya mengulang kalimat ini, apa pun hasil dari perbuatan baik, baik itu kesejahteraan, kecukupan, kesehatan, sifatnya hanya sementara, semuanya pasti akan lewat.

Disanjung-sanjung; lewat.
Kedudukan tinggi; lewat.
Badan yang sehat; lewat.
Umur panjang; juga lewat.
kekayaan; lewat juga.
Kesuksesan pati juga lewat.
Sebentar, sebentar, sebentar.

Hidup kita juga tidak lama. Sudahkah Anda bersiap-siap menghadapi ini? Kita harus bersiap-siap menghadapi perubahan. Ketika kesejahteraan itu lewat, sehat itu berakhir, umur panjang selesai, jika Anda tidak pernah melakukan persiapan, nanti Anda akan sangat menderita.

Oleh karena itu ada manfaat berdana yang tingkat ketiga ini. Bukan sekedar berdana untuk dicintai. Bukan sekedar beramal, berbuat baik supaya hidup sejahtera, tidak kekurangan. Tidak sekadar itu. Karena menjadi dewa juga tidak abadi. Tidak sekadar stelah meninggal kemudian dilahirkan di alam para dewa. Tetapi ada manfaat berbuat baik yang tingkat ketiga, berdana dengan pikiran; “SAYA MEMBERI, SAYA BERDANA UNTUK MEMBERSIH KEKOTORAN BATIN.”

Karena yang membuat penderitaan itu adalah kotoran batin. Bukan karena kekurangan materi. Meskipun materi berlebihan, kalau keserakahan, kebencian membakar diri seseorang, apakah orang ini bisa hidup tentram? Apakah orang ini bisa bahagia? TIDAK.

Oleh karena itu berdana yang paling baik adalah berdana untuk tujuan tingkat tiga, yaitu dengan niat: “Saya memberi untuk membersihkan kotoran-kotoran yang di dalam, supaya saya bebas dari penderitaan untuk selama-lamanya.”

Apabila berdana hanya untuk mencari nama baik, pujian, hidup sejahtera, yang didapatkan hanya itu saja. Mencari yang tingkat satu yang diperoleh hanya tingkat satu saja. Dan kalau Anda berdana supaya setelah kematian nanti Anda tidak sengsara, maka Anda akan memperoleh manfaat berdana tingkat dua. SELESAI.

Tujuan berdana, berbuat baik yang paling tinggi adalah tingkat tiga ini: “SAYA MEMBERI UNTUK MEMBERSIHKAN BATIN SAYA. FULL STOP, titik, tidak ada embel-embel yang alin lagi.

Berdana tingkat tiga inilah yang dikatakan CAGA “Berdana untuk melepas.’ Tidak sekadar berdana untuk memberi, melainkan berdana untuk melepas. Melepas keterikatan. Jelasnya adalah untuk membersihkan kotoran batin. Meskipun kecil.

Memberikan tanah, memberikan bangunan, mendirikan sekolah, rumah sakit; bagus sekali. Bulan Kathina mempersembahkan jubah dan kebutuhan kepada Sangha; sangat terpuji. Tetapi, menolong anak-anak yang tidak bisa sekolah, korban bencana banjir, bencana alam, tanah longsor, gunung meletus,; itu semua juga merupakan kebajikan.

Bahakn dikatakan memberikan makan pada seekor anjing juga adalah perbuatan bajik. Bukan perbuatan sia-sia. Kalau perbuatan yang kecil itu dilakukan dengan tujuan tingkat tiga, perbuatan itu akan sangat berharga.

“SAYA MELAKUKAN KEBAJIKAN MESKIPUN KECIL. BUKAN HANYA TINGKAT PERTAMA, BUKAN HANYA TINGKAT KEDUA. SEMUA KEBAJIKAN SAYA, SAYA LAKUKAN INI UNTUK TINGKAT TIGA, UNTUK MEMBERSIHKAN KOTORAN BATIN.”

Agar mudah dipahami, saya akan memberikan perumpamaan. Perumpamaan ini mudah diingat. Ini adalag cara untuk menanamkan, mengingatkan Dahmma kepada kita. Cobalah perhatikan.

Apabila seorang anak masuk SMA, hanya sampai kelas satu dia keluar. Maka anak ini hanya akan mendapatkan ilmu SMA kelas satu saja. Anak yang lain masuk SMA sampai kelas dua lalu dia keluar. Maka anak ini hanya mendapatkan ilmu sampai kelas dua saja. Tetapi, ada anak yang masuk SMA, bertekad: Saya masuk SMA sampai lulus. Maka anak ini mendapatkan ilmu dari kelas satu sampai kelas tiga.

Kalau ditanya kepada Anda, ‘Berdana tingkat mana yang diinginkan?’

“Saya ingin semuanya, Bhante. Nama baik juga mau. Banyak dicintai juga mau. Hidup sehat siapa pun pasti mau. Panjang umur sangat mau. Wajah cantik pasti mau sekali. Setelah meninggal masuk surga, apa lagi pasti sangat perlu. Dan juga saya mau bebas dari penderitaan. Saya semuanya mau.”

Nanti dulu. Kalau seorang anak masuk SMA, dia ditanya,
“Tujuanmu masuk SMA sampai mana?’
“Aku mau kelas satu, mau kelas dua, mau kelas tiga.”
Tidak perlu seperti itu, terlalu panjang.

“Lalu bagaimana yang benar, Bhante?”
“Aku masuk SMA sampai lulus.”Selesai. Karena kalau sampai lulus dia pasti mendapatkan kelas satu, mendapatkan kelas dua dan mendapatkan kelas tiga.

“Aku mau masuk SMA sampai lulus kelas tiga.” Full Stop. Titik. Kelas satu dan kelas dua tidak usah diucapkan, terlalu panjang. Kalau seorang anak lulus SMA kelas tiga, sudah tentu dia melewati kelas satu dan mendaptkan kelas dua.

“AKU BERDANA UNTUK TINGKAT TIGA. Selesai. Maka Anda akan mendapatkan kelas dua dan kelas satunya.

OTOMATIS!

Meskipun dana itu kecil, memberikan makan pada seekor anjing, tetapi kalau bertujuan; Saya berdana pada seekor anjing ini untuk mencapai tingkat tiga, membersihkan kotoran batin. Maka kebajikan itu memberikan manfaat sampai tingkat tiga.

 

Sumber : Ali Angga Dharma -Group WA Dhamma Inspiration

tags: , , , , ,

Related For Tiga Tingkatan Berdana Ven YM. Bhante Sri Pannavaro Mahathera