Tidak menjadi apa-apa II Ven Ajahn Chah

Rabu, Oktober 18th 2017. | Artikel

 

Kita lebih senang bergantung pada ‘menjadi’, pada pencengkeraman-diri, sejak dari kelahiran kita. Ketika seseorang berbicara mengenai ketiada-dirian, hal itu terdengar terlalu aneh; kita tidak bisa mengubah pandangan kita dengan mudah. Jadi kita perlu membuat batin melihat hal ini melalui praktik, dan barulah kita bisa memercayainya: “Oh ! Itu sungguh benar adanya !” (Ehipasiko).

Ketika orang-orang berpikir, “Ini milikku ! Ini milikku !” mereka merasa bahagia sekali. Tapi ketika hal yang menjadi “milikku” tadi hilang, maka mereka akan menangisinya. Inilah jalan duka yang akan muncul ketika kita kehilangan “Milikku”. Kita bisa mengamati ini, saat kini. Jika tidak ada “milikku” atau “aku”, maka kita bisa memanfaatkan segala sesuatu selama kita hidup, tanpa ada kelekatan pada mereka yang sebagai “milik kita”. Jika mereka hilang ataupun rusak, itu wajar saja, biasa saja; kita tidak melihatnya sebagai milikku, milik kita, atau milik siapa pun, dan kita tidak memunculkan diri sendiri atau diri orang lain yang menjadi pemilik ini dan itu.

Saya berpikir bahwa pada dasarnya orang-orang takut akan perubahan dan takut akan kematian. Sudah lahir, mereka tidak mau mati. Tapi apa itu logis? Ini seperti menuang air kedalam gelas, namun tidak menginginkan gelas itu tidak penuh. Namun orang lahir, dan tidak mau mati. Pikiran yang aneh ini. Jika orang lahir tapi tidak pernah mati, apakah itu akan membawa kebahagiaan? Jika tidak seorang pun yang datang ke dunia ini mati, segalanya akan menjadi lebih buruk lagi. Ujung-ujungnya kita semua mungkin akan makan kotoran ! Di mana kita semua akan tinggal? Ini seperti menuang air tanpa henti namun tetap tidak mau gelas itu penuh. Kita benar-benar harus merenungi segala sesuatunya secara menyeluruh. Jika kita benar-benar tidak mau mati, kita seharusnya merealisasi tanpa-kematian, seperti yang Buddha ajarkan. Apakah Anda tahu apa artinya tanpa-kematian?

Meskipun Anda mati, jika Anda memiliki kebijaksanaan menyadari anatta, ini seakan-akan Anda tidak mati. Tidak mati, tidak lahir—itulah dimana segala sesuatu bisa diselesaikan. Terlahir dan mendambakan kebahagiaan dan kenikmatan tanpa mati, sama sekali bukan suatu jalan yang benar. Namun itulah yang semua orang-orang ingini, jadi tidak ada akhir duka bagi mereka. Praktisi sejati tidak menderita. Praktisi biasa masih menderita karena mereka masih belum menuntaskan jalan praktik. Mereka masih terlahir dan terkena kematian.

Lahir dari rahim, bisakah kita menghindari kematian? Selain menyadari bahwa tidak ada diri sejati; tidak ada cara lain untuk menghindari kematian. “Aku” tidak mati; sankhara (fenomena terkondisi) mengalami tranformasi, mengikuti sifat alami mereka.

Ketika orang-orang lain melihat orang seperti itu dan mencoba memahaminya, mereka mungkin akan melihat seseorang yang tidak waras. Tapi ini bukan orang gila; ini seseorang yang tekun. Orang yang benar-benar tahu apa yang bermanfaat, dalam banyak cara yang berbeda.

Ketika orang-orang tercerahkan melihat orang-orang biasa, orang-orang duniawi, ia akan melihat mereka sebagai gelap batin, mereka seperti anak kecil. Ketika orang-orang duniawi memikirkan mengenai orang-orang tercerahkan, mereka berpikir kalau ia sudah kehilangan akal sehat dan sudah gila. Mahluk tercerahkan tidak memiliki minat akan segala sesuatu yang deminya orang duniawi hidup. Dengan kata lain, seorang araha dan seorang gila itu serupa. Jika Anda menyumpahinya, dia tidak akan peduli. Apa pun yang Anda katakan kepadanya, dia tidak akan bereaksi, seperti orang gila–namun gila tapi punya kesadaran. Orang yang benar-benar gila mungkin tidak marah ketika disumpahi, namun karena dia tidak tahu apa yang Anda katakan kepadanya. Seseorang yang mengamati araha dan orang gila mungkin melihat mereka itu sama. Namun yang paling gila adalah yang gila, hidup dalam kondisi mencintai-dirinya yang meluap-luap, sementara yang paling waras adalah araha, yang bebas dari semua gagasan dan kepedulian akan diri. Jika Anda melihat perwujudan luar mereka, mereka mungkin tampaknya serupa. Namun kesadaran batin mereka, indra mereka terhadap segala sesuatu, sangatlah jauh berbeda.

Pikiran seperti ini. Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang semestinya membuat Anda marah dan Anda hanya membiarkannya berlalu dan tidak bereaksi maupun berekspresi, orang pikir Anda sudah mulai gila. Jadi ketika Anda mengajari orang gila (duniawi) mengenai hal-hal ini, mereka tidak akan mudah memahaminya. Ini harus dijadikan bagian dari mereka dan dialami langsung oleh mereka (ehipasiko) agar mereka benar-benar memahaminya.

 

Sumber : https://www.facebook.com/TS2C2/

 

Incoming search terms:

  • apa ii
tags: , , , ,

Related For Tidak menjadi apa-apa II Ven Ajahn Chah