Tahun Baru Semangat Baru oleh YM. Bhikkhu Khemadhiro

Senin, Januari 1st 2018. | Artikel

Tahun Baru Semangat Baru

Semangat Meninggalkan KejahatanMeningkatkan & Mempertahankan Kebajikan

Seseorang yang meninggalkan perbuatan jahat dan menggantikannya dengan perbuatan baik, maka ia akan menerangi seluruh dunia seperti bulan yang tidak lagi tertutup oleh awan.

Dhammapada – Loka vagga, 173

 

 

Masih dalam suasana tahun baru, karena puja bakti pada hari minggu ini adalah minggu pertama di bulan Januari tahun 2018. Tidak terasa satu tahun atau kurang lebih 365 hari sudah kita lewati bersama. Tentunya di tahun yang baru ini kita mengharapkan kehidupan yang jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Semoga apa yang menjadi harapan dan cita-cita kita semua yang belum tercapai di tahun 2017 yang lalu, dapat diperoleh di tahun 2018 ini.

Pergantian tahun memang selalu ditunggu-tunggu dan disambut dengan meriah oleh semua orang. Buktinya pada hari ini tanggal 31 Desember di malam pergantian tahun kemarin, semua orang merayakan dan memeriahkannya dengan berbagai macam hiburan, pesta kembang api, dll. Sebenarnya apa yang baru di tahun baru? Tidak lain dan tidak bukan adalah kalender baru (ganti penanggalan baru). Kalau kemarin tanggal 31 Desember 2017, kemudian sekarang ganti kalender baru yaitu dimulai pada tanggal 1 Januari 2018.

Sebagai seorang umat Buddha, bagaimana kita memaknai tahun baru? Kalau dalam dunia dagang atau bisnis, selama satu tahun ada hitung-hitungan untung dan ruginya. Begitu pula kita sebagai umat Buddha, dalam satu tahun yang sudah kita lewati bersama ini hendaknya melakukan perenungan dan perhitungan tentang baik dan buruk dalam berperilaku, berucap dan berpikir. Jika dalam satu tahun ini banyak perbuatan buruk yang sudah dilakukan, bisa dikatakan ini adalah kerugian, maka hendaknya berusaha untuk mengurangi, meninggalkan, dan jangan sampai mengulanginya lagi. Sebaliknya jika dalam satu tahun ini banyak perbuatan baik yang sudah dilakukan, maka ini adalah merupakan keuntungan, maka hendaknya untuk dipertahankan, dikembangkan, ditingkatkan dan terus dilakukan.

Pada intinya kita harus menjadi lebih bersemangat di tahun yang baru ini untuk meningkatkan kebajikan dan mengurangi kejahatan yang sudah dilakukan. Karena dengan adanya perubahan perilaku, ucapan dan cara berpikir ke arah yang baik dan menjadi lebih baik, maka kita sudah mendapatkan manfaat (keuntungan) menjadi seorang umat Buddha.

Selain bersemangat dalam mempertahankan dan me- ngembangkan kebajikan, kita hendaknya juga mempertahankan dan mengembangkan keberhasilan, keuntungan, dan kebahagiaan yang sudah diperoleh. Seperti misalnya dalam keluarga, jika sudah rukun, harmonis, tidak pernah ada pertengkaran, dan bahagia, maka hendaknya untuk dipertahankan dan dikembangkan lagi supaya lebih harmonis dan bahagia. Dalam sebuah persahabatan atau pertemanan yang sudah akrab, rukun, dan harmonis, dalam sekolah jika sudah mendapatkan prestasi dan juara, dalam berbisnis atau bekerja jika sudah lancar, untung dan berhasil, maka hendaknya untuk dipertahankan dan dikembangkan supaya lebih berhasil dan sukses.

Selanjutnya dalam melakukan perbuatan baik, apakah kebaikan itu dilakukan lewat perilaku badan jasmani, ucapan dan pikiran. Atau dilakukan dengan cara berdana, membantu dan menghormati orangtua, menjalankan sila, melaksanakan aṭṭhasīla di hari uposatha, rajin bermeditasi, selalu sabar, tidak pernah marah, jujur, melaksanakan puja bakti, membaca paritta, mendengarkan Dhamma, rajin datang ke Vihara, dll. Hendaknya untuk tetap dipertahankan dan dikembangkan supaya lebih rajin dan ber- semangat dalam melakukan perbuatan baik. Jangan sampai hal-hal yang sudah baik menurun dan yang buruk meningkat.

Sesuai dengan pernyataan Buddha kepada para bhikkhu, sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci Aṅguttara Nikāya II, ii, 9, yaitu hendaknya seseorang harus berjuang dan berusaha untuk meninggalkan kejahatan dan mengembangkan kebajikan. Karena dengan meninggalkan kejahatan dan mengembangkan kebajikan, maka kebahagiaan akan diperoleh. Pernyataan dalam Sutta yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Tinggalkanlah kejahatan o para bhikkhu! Para bhikkhu, manusia dapat meninggalkan kejahatan. Seandainya saja manusia tidak mungkin meninggalkan kejahatan, aku tidak akan menyuruh kalian melakukannya. Tetapi karena hal itu dapat dilakukan, maka kukatakan. “Tinggalkanlah kejahatan!”

Seandainya saja meninggalkan kejahatan ini akan membawa kerugian dan penderitaan, aku tidak akan menyuruh kalian meninggalkan kejahatan. Tetapi karena meninggalkan kejahatan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan, maka kukatakan. “Tinggalkanlah kejahatan!.”

Kembangkanlah kebaikan, o para bhikkhu! Para bhikkhu, manusia dapat mengembangkan kebaikan. Seandainya saja manusia tidak mungkin mengembangkan kebaikan, maka aku tidak akan menyuruh kalian melakukannya. Tetapi karena hal itu dapat dilakukan, maka kukatakan. “Kembangkanlah kebaikan!.”

Seandainya saja pengembangan kebaikan ini akan membawa kerugian dan penderitaan, aku tidak akan menyuruh kalian mengembangkannya. Tetapi karena mengembangkan kebaikan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan, maka kukatakan, “Kembangkanlah kebaikan!.”

 

Dualisme Buruk dan Baik

Dalam usaha untuk meninggalkan yang buruk dan mengembangkan yang baik, maka perlu kita ketahui apa saja yang termasuk dalam hal-hal yang buruk/jahat dan apa saja yang termasuk dalam hal yang baik itu. Dalam ajaran Buddha, perbedaan antara yang baik dan yang buruk sangat sederhana: semua tindakan yang memiliki akar dalam ke- serakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin (moha) tindakan ini tercela atau buruk. Hal ini disebut akusala kamma. Semua tindakan yang berakar dalam kedermawanan, kewelasan, dan kebijaksanaan adalah mulia, kusala kamma. Kriteria baik dan buruk berlaku pada aksi pikiran, perkataan, dan perbuatan. Dalam Aṅguttara Nikāya X, 178-197, Buddha berujar sebagai berikut:

Dan apa, para bhikkhu, yang buruk itu? Menghancurkan kehidupan makhluk lain, mengambil apa yang tidak diberikan, perilaku seksual yang salah, ucapan yang tidak benar, ucapan yang memecah belah, ucapan yang kasar, obrolan yang tidak penting, ketamakan, memiliki niat jahat, dan memiliki pandangan salah. Inilah yang disebut buruk. (Keburukan-keburukan ini bisa dilakukan melalui tiga pintu yaitu: jasmani, ucapan, dan pikiran. Inilah kejahatan yang hendaknya dikurangi, ditinggalkan, dan tidak diulangi lagi).

Dan apa, para bhikkhu, yang baik itu? Tidak menghancurkan kehidupan makhluk lain, tidak mengambil apa yang tidak diberikan, tidak berperilaku seksual yang salah, tidak berucap yang tidak benar, tidak berucap memecah belah, tidak berucap yang kasar, tidak mengobrol yang tidak penting, tidak tamak, memiliki niat baik dan memiliki pandangan benar. inilah yang disebut baik. (Kebaikan ini bisa dilakukan melalui tiga pintu yaitu: jasmani, ucapan, dan pikiran. Inilah kebaikan yang hendaknya selalu dipertahankan, dikembangkan, dan terus dilakukan).

Lebih lanjut, ada sepuluh macam perbuatan baik (dasa puññakiriyavatthu) yang hendaknya dilakukan dan dikembangkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Buddha mengajarkan sepuluh macam perbuatan baik ini untuk kita lakukan agar memperoleh kehidupan yang bahagia dan damai, serta mengembangkan pengetahuan dan pemahaman. Sepuluh perbuatan baik itu adalah sebagai berikut:

  • Dāna: memberi yang bersifat materi maupun non materi. Seperti misalnya memberi makanan, pakaian, uang, tempat tinggal, obat-obatan, donor darah, memberi nasihat-nasihat yang baik sesuai Dhamma, memberi buku-buku Dhamma atau kaset-kaset ceramah Dhamma, memberi maaf, memberi senyuman atau memberikan bantuan tenaga dengan cara membantu mengangkat barang, menyapu, membersihkan vihara dll.
  • Sīla: moralitas. Moralitas adalah pengendalian ucapan dan tingkah laku. Kemoralan yang paling dasar adalah dengan menghindari pembunuhan makhluk hidup, pencurian, perbuatan asusila (selingkuh), berbohong, dan mabuk-mabukan.
  • Bhāvana: pengembangan batin atau meditasi.
  • Apacāyana: menghormati kepada orang yang lebih tua atau orang suci. Seperti misalnya dengan cara bersikap anjali dan ber-namaskara atau bersujud.
  • Veyyavacca: melayani, menolong, dan membantu melakukan perbuatan baik yang bermanfaat bagi orang lain.
  • Pattidāna: pelimpahan jasa, khususnya kepada makhlukmakhluk di alam menderita yang memiliki hubungan kamma dengan kita.
  • Pattānumodāna: bergembira atas kebaikan yang dilakukan orang lain.
  • Dhammassavana: mendengarkan Dhamma. Apakah secara langsung atau mendengarkan Dhamma lewat kaset ceramah CD/DVD. Hal ini adalah merupakan perbuatan baik.
  • Dhammadesanā: mengajar atau membabarkan Dhamma yang merupakan ajaran kebenaran dari Buddha.
  • Diṭṭhijukamma: membenarkan dan meluruskan pandangan salah seseorang. Misalnya saja ada seseorang yang tadinya tidak percaya dan tidak berkeyakinan sehingga menjadi berkeyakinan terhadap Buddha Dhamma. Mendorong dan membenarkan seseorang yang tadinya tidak bermoral menjadi bermoral. Mendorong dan membenarkan seseorang yang tadinya kikir, membiasakan dan mengukuhkan mereka menjadi bermurah hati atau dermawan dan mendorong, mem- benarkan seseorang yang tadinya bodoh batinnya, mem- biasakan dan mengukuhkan mereka di dalam kebijaksanaan.

 

Inilah hal-hal yang baik yang jika dilakukan tidak hanya akan memberikan hasil yang baik atau menguntungkan bagi diri sendiri, tetapi juga orang lain. Menjalani sila akan menguntungkan semua makhluk yang berhubungan dengannya. Pengembangan batin membawa damai dan menginspirasi orang lain untuk menjalani Dhamma. Rasa hormat menghasilkan keharmonisan dalam masyarakat, sedangkan pelayanan meningkatkan kehidupan orang lain. Melimpahkan jasa kepada orang lain menunjukkan bahwa seseorang memperhatikan kesejahteraan orang lain; sedangkan mensyukuri jasa orang lain akan mendorong orang lain untuk melakukan lebih banyak kebaikan. Mendengarkan dan membabarkan kebenaran adalah faktor penting bagi kebahagiaan, baik pengajar maupun pendengarnya, juga mendorong keduanya untuk terus hidup sesuai dengan ajaran Buddha. Meluruskan pandangan yang keliru memungkinkan seseorang untuk menunjukkan kepada orang lain akan keindahan dhamma. Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya.

Di tahun yang baru ini, marilah kita bersemangat untuk meninggalkan kejahatan dan mengembangkan hal-hal yang baik ini. Kemudian bersemangat untuk mempertahankan hal-hal yang sudah baik tersebut yang sudah dilakukan selama ini. Dalam usaha untuk mempertahankan sifat-sifat yang baik di dalam diri, kita membutuhkan daya upaya yang benar.

Dalam Saṁyutta Nikāya – Sammappadhana Saṁyutta, Buddha menjelaskan ada empat hal yang bisa kita lakukan:

  1. Usaha yang rajin untuk mencegah timbulnya perbuatan buruk yang belum muncul.
  2. Usaha yang rajin untuk meninggalkan perbuatan buruk yang sudah muncul.
  3. Usaha yang rajin untuk memunculkan perbuatan baik yang belum muncul.
  4. Usaha yang rajin untuk mempertahankan dan mengembangkan perbuatan baik yang sudah muncul.

Lebih lanjut Buddha menjelaskan di dalam Kitab Suci Aṅgguttara Nikāya V, 6. Ada lima hal yang perlu kita miliki dan kita kembangkan untuk mempertahankan hal-hal yang baik.

Lima hal itu adalah:

  1. Saddha: Keyakinan Pengertian keyakinan disini adalah meyakini sesuatu yang memang patut untuk diyakini. Sebagai umat Buddha, kita hendaknya memiliki keyakinan terhadap empat hal berikut:
  • Tathāgatabodhi saddha: keyakinan terhadap pencapaian penerangan sempurna Sang Buddha. Buddha adalah yang maha suci, yang telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak tanduknya, sempurna menempuh jalan ke Nibbana, pengetahu segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar, yang patut dimuliakan.
  • Kamma saddha: keyakinan terhadap hukum kamma (perbuatan).
  • Vipaka saddha: keyakinan terhadap akibat dari hukum kamma.
  • Kammasakata saddha: keyakinan bahwa semua makhluk mempunyai kamma dan bertanggung jawab terhadap perbuatannya masing-masing.
  1. Hiri: Malu berbuat jahat Pengartian malu disini adalah bukan malu seperti misalnya ketika di suruh maju ke depan kelas untuk menyanyi oleh ibu guru atau malu ketika diejek atau dijelek-jelekkan sama teman-temannya. Tetapi malu dalam hal ini adalah malu ketika akan melakukan perbuatan jahat, baik itu lewat ucapan, pikiran maupun perbuatan badan jasmani.
  2. Ottappa: Takut akan akibat dari perbuatan jahat Pengertian takut disini adalah bukan takut seperti misalnya ketika di rumah sendirian atau takut ketika berjalan di tempat yang gelap, takut pada ketinggian, takut jatuh, takut digigit anjing dan sebagainya. Akan tetapi, pengertian takut disini adalah takut jika akan melakukan perbuatan yang jahat karena mengerti dan memahami akibat dari kejahatan yang akan dilakukan melalui pikiran, ucapan, maupun perbuatan badan jasmani akan berakibat penderitaan baik dalam kehidupan ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.
  3. Viriya: Semangat Pengertian semangat disini adalah selalu bersemangat untuk melenyapkan hal-hal yang buruk yang sudah ada di dalam diri dan semangat untuk tidak membiarkan hal-hal yang buruk yang belum muncul menjadi ada. Selalu bersemangat untuk memunculkan hal-hal yang baik yang belum muncul dan bersemangat mengembangkan hal-hal yang baik yang sudah ada di dalam diri.
  4. Pañña: Kebijaksanaan Memiliki kebijaksanaan yaitu mampu mengetahui dan membedakan perbuatan mana yang baik dan yang buruk, yang bermanfaat dan yang merugikan. Mengerti perbuatan yang memang harus dilakukan yang tidak harus dilakukan. Memahami perbuatan mana yang ketika dilakukan memberi manfaat bagi dirinya sendiri, tidak menimbulkan penyesalan dan juga memberikan manfaat serta kebahagiaan untuk orang lain dan tidak melanggar hukum, sehingga dalam hal ini seseorang akan menjadi lebih berhati-hati, tidak sembrono dalam setiap tindakan atau ucapan yang akan dilakukan dan mampu memilih hal-hal yang baik-baik saja yang akan dilakukan.

Selama seseorang memiliki Saddha, Hiri, Ottappa, Viriya dan Pañña di dalam dirinya serta mengembangkan Sammappadhana (daya upaya benar), maka sifat-sifat baik yang sudah dimiliki di dalam diri dan sudah dilakukan, akan dapat dipertahankan dan terus menerus dilakukan sehingga akan menjadi suatu kebiasaan. Karena pada saat, sebelum, dan sesudah melakukan kebaikan sesuai Dhamma, disertai dengan tidak melanggar hukum, maka dalam diri seseorang tidak ada penyesalan setelah melakukannya. Dengan kebaikan yang telah dilakukan akan membuat orang lain berbahagia, diri sendiri juga bahagia.

Dengan penuh semangat, marilah kita berusaha dan berjuang untuk meninggalkan kejahatan, melakukan dan juga mengembangkan banyak kebajikan, dengan demikian orang lain atau makhluk lain, masyarakat yang ada disekitar kita juga akan hidup damai, harmonis, tenteram, rukun, aman, nyaman dan bahagia. Demikian pula diri sendiri pasti akan memperoleh buah kebahagiaan dengan kebaikan yang telah dilakukan, baik dalam kehidupan ini maupun dalam kehidupan yang akan datang.

Selamat tahun baru 2018. Dengan kekuatan tekad dan semangat yang baru, mari kita berusaha untuk meningkatkan, mengembangkan dan mempertahankan hal-hal yang sudah baik yang telah kita lakukan. Meninggalkan hal-hal yang buruk yang sudah dilakukan dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi di tahun yang baru ini.

Sebagai penutup dan perenungan bagi kita semua, mari kita mengingat pesan Buddha dalam Kitab Suci Dhammapada – Papa Vagga, syair 118, berikut ini;

Apabila seseorang telah melakukan perbuatan baik,

ia hendaknya mengulangi perbuatan baik tersebut,

ia merasa berbahagia dengan perbuatan baik,

oleh karena kebaikan akan membawa kebahagiaan.

 

Sumber bacaan:

  • Aṅguttara Nikāya (Petikan). Klaten: Vihāra Bodhivaṁsa, 2003.
  • Dhammapada. Jakarta: Yayasan Abdi Dhamma Indonesia, 2004.
  • Dhamma Vibhāga. Yogyakarta: Vidyāsenā Vihāra Vidyāloka, 2002.

tags: , , , , , ,

Related For Tahun Baru Semangat Baru oleh YM. Bhikkhu Khemadhiro