Sifat Dasar dari Cinta dan Kenikmatan by Ven. K.Sri Dhammananda

Sabtu, April 2nd 2016. | Artikel

cinta dan kenikmatan tisaranadotnet
CINTA
Terdapat berbagai jenis cinta, dan biasanya hal ini dibedakan sebagai rasa cinta ibu, rasa cinta saudara, cinta nafsu, cinta emosional, cinta seksual, cinta dengan ego, cinta tanpa ego, dan cinta universal.
Jika manusia hanya memupuk cinta ego dan jasmaniah mereka terhadap yang lainnya, maka jenis cinta seperti itu
tidak dapat bertahan lama. Dalam hubungan cinta yang sejati , seseorang tidak semesti nya bertanya seberapa banyak yang dapat diperolehnya, namun seberapa banyak yang dapat
diberikannya.
Ketika kecantikan, kejelitaan dan kemudaan telah memudar, seorang suami yang hanya melihat cinta dari aspek jasmani dapat berpikir untuk memiliki wanita muda lagi. Jenis cinta begini adalah jenis cinta binatang atau nafsu. Jika seorang pria benar-benar mengembangkan cinta sebagai suatu ekspresi dari perhatian manusia terhadap makhluk lainnya, ia tidak akan hanya memperhatikan kecantikan luar dan fisik dari pasangannya.
Kecantikan dan kejelitaan pasangannya semestinya berada di dalam hati dan pikirannya, bukan pada tampak luarnya.
Demikian pula, seorang istri yang mengikuti ajaran Buddha tidak akan pernah mengabaikan suaminya meskipun suaminya itu telah menjadi tua, miskin atau sakit.

“Saya punya kekhawatiran bahwa gadis modern dewasa ini ingin menjadi Juliet, untuk memiliki selusin Romeo. Ia suka petualangan…. Gadis modern mengenakan pakaian bukan lagi untuk melindungi tubuhnya dari angin, hujan dan terik matahari, tetapi untuk menarik perhatian. Ia memoles diri dengan dandanan dan agar terlihat menarik.”
– Gandhi

SEKS
Seks itu sendiri sesungguhnya tidaklah “jahat”, meskipun pesona serta pikatan terhadapnya memang mengganggu ketenangan pikiran, dan karenanya tidaklah mendukung perkembangan spiritual. Dalam situasi yang ideal, seks merupakan puncak kepuasan fisik dari hubungan emosional yang mendalam, di mana kedua pasangan saling memberi dan menerima secara sama. Gambaran cinta yang digambarkan oleh kelompok komersial melalui media massa yang kita sebut budaya “barat” bukanlah merupakan cinta “nyata”. Keti ka seekor hewan ingin melakukan hubungan seks, ia akan menunjukkan “cintanya”, namun setelah menikmati hubungan seks, ia akan segera melupakan cintanya. Bagi hewan, seks hanyalah merupakan sekedar dorongan naluri buat mempertahankan kelangsungan jenisnya. Namun seorang manusia memiliki lebih banyak hal yang dapat diberikan dalam konsep cinta. Tugas dan kewajiban merupakan unsur-unsur penti ng untuk mempertahankan kesatuan, keharmonisan dan saling pengerti an dalam suatu hubungan antar manusia. Seks bukanlah merupakan unsur paling penti ng bagi kebahagiaan kehidupan pernikahan. Mereka yang telah menjadi budak seks hanya akan menghancurkan cinta dan harkat kemanusiaan dalam pernikahan. Namun terpisah dari hal itu, seorang wanita sendiri musti berhenti menganggap kalau dirinya merupakan objek bagi nafsu berahi seorang pria. Jalan pemecahannya sesungguhnya lebih terletak pada di pihak wanita keti mbang di pihak si pria. Ia harus menolak untuk mendandani dirinya semata untuk menggairahkan laki-laki, meskipun andaikata laki-laki tersebut adalah suaminya. Jika ia ingin menjadi pasangan yang setara dengan seorang pria, ia harus berbusana sedemikian sehingga punya martabat, dan ia bukan menjadi suatu simbol seks. —
Pernikahan untuk kepuasan nafsu seksual bukanlah merupakan suatu pernikahan. Itu berahi belaka. (Gandhi)
Cinta dapat jadi merupakan produk dari seks, namun sebaliknya juga demikian: seks merupakan suatu ekspresi dari cinta. Dalam kehidupan pernikahan bahagia yang ideal, baik cinta maupun seks tidak dapat dipisahkan.

Penjelasan Sang Buddha

Kita dapat mempelajari ajaran Sang Buddha berkaitan dengan perasaan yang dimiliki oleh pria dan wanita satu sama lainnya. Sang Buddha berkata bahwa beliau tidak pernah melihat objek lainnya di dunia ini yang dapat menarik perhatian seorang pria lebih daripada gambaran seorang wanita. Begitu pula hal utama yang menarik seorang wanita tak lain adalah gambaran seorang pria. Hal ini berarti secara alamiah, wanita dan pria saling memberikan kenikmatan duniawi. Mereka tidak dapat memperoleh kebahagiaan sejenis ini dari objek lainnya. Ketika kita mengamatidengan seksama, kita menyadari bahwa di antara semua hal yang memberikan kenikmatan, tidak ada objek lainnya yang dapat memuaskan seluruh lima indera manusia pada saat bersamaan selain gambaran pria dan wanita.

Orang Yunani kuno paham benar tentang hal ini ketika mereka mengatakan bahwa pada awalnya pria dan wanita itu adalah satu. Mereka kemudian terpisah. Kedua bagian yang terpisah itu lalu terus menerus saling berusaha mencari satu sama lainnya untuk bersatu kembali sebagai pria dan wanita.

Kenikmatan

Orang muda pada dasarnya senang menuruti kenikmatan duniawi yang dapat meliputi hal-hal yang baik maupun yang buruk. Hal-hal baik, seperti kesenangan terhadap musik, puisi,  tarian, makanan enak, pakaian dan hal-hal serupa lainnya memang tidak mencelakakan bagi tubuh. Cuma hal-hal itu mengalihkan perhatian kita dalam melihat perubahan serta ketidakpastian hidup dan karenanya menghambat kita dalam memahami sifat sejati dari diri ini. Indera dan perasaan orang-orang muda sangatlah segar dan tajam; mereka sangat berhasrat untuk memuaskan seluruh kelima indera. Hampir setiap hari, mereka merencana dan mencari cara serta langkah untuk mengalami beberapa bentuk kenikmatan. Sejalan dengan sifat alamiah hidup ini, seseorang tidak akan pernah dapat puas dengan kenikmatan apapun yang dirasakannya dan akibatnya kecanduan hanya akan menciptakan lebih banyak kecemasan dan kegelisahan.

Ketika kita berpikir mendalam tentang hal ini, kita bisa memahami bahwa hidup sebenarnya bukanlah apa-apa selain sebuah mimpi. Pada akhirnya, apa yang kita peroleh dari kemelekatan terhadap hidup ini? Hanya lebih banyak kegelisahan, kekecewaan dan frustasi. Barangkali kita memang menikmatibeberapa saat yang menyenangkan, namun pada akhirnya, kita harus berusaha mencari tahu apa sih tujuan hidup kita sesungguhnya?

Ketika seseorang tak lagi dahaga akan kenikmatan sensual dan tidak mencari kenyamanan fi sik bersama dengan orang lain, maka kebutuhan untuk menikah tidak timbul. Penderitaan dan kenikmatan duniawi keduanya merupakan hasil kedahagaan,  kemelekatan dan emosi. Apabila kita malah berusaha untuk mengontrol dan menekan emosi kita dengan menerapkan caracara tak realistis, kita akan menciptakan kekacauan dalam pikiran dan tubuh fi sik kita. Oleh karena itu, kita harus tahu bagaimana cara menangani dan mengendalikan hasrat manusiawi kita. Tanpa menciderai atau menyalahgunakan hasrat ini, kita dapat menjinakkan keinginan kita dengan pemahaman yang tepat.

Sumber :

Vidyāsenā Production
Vihāra Vidyāloka

 

Incoming search terms:

  • sifat dasar cinta manusia
tags: , , , , , , ,

Related For Sifat Dasar dari Cinta dan Kenikmatan by Ven. K.Sri Dhammananda