Siapakah Sosok Buddha Gautama itu ?

Rabu, April 6th 2016. | Artikel

gautama-buddha-TISARANADOTNET
Oleh Bhikkhu Bodhi, Ph.D

Buddhisme diawali dengan seorang Pangeran India yang dikenal kemudian sebagai Buddha, yang mengajar di India bagian timur laut pada abad ke-5 BC. Dua abad kemudian, dengan dukungan Kaisar Asoka, Buddhisme menyebar ke bagian yang lebih luas dari India dan dari sana menyebar jauh ke banyak negara di benua Asia. Dalam beberapa gelombang pasang-surut dari semangat misionari ia muncul dari negerinya India dan daerahdaerah subur lainnya, memberikan kepada orang-orang yang di antaranya menjadikan ia sebagai satu fondasi yang solid dari keyakinan dan kebijaksanaan untuk membangun di atasnya kehidupan mereka dan satu sumber inspirasi untuk mewujudkan pengharapan mereka. Mengenai hal-hal yang berbeda dalam sejarah, Buddhisme telah memerintahkan para pengikutnya di berbagai negara yang berbeda secara geografis, etnis dan kultural seperti Afganistan dan Jepang, Siberia dan Kamboja (Kampuchea), Korea dan Sri Lanka, tetapi semua tertuju pada orang suci India yang sama (Buddha) sebagai guru mereka.

Meskipun karena alasan-alasan historis Buddhisme akhirnya lenyap dari India selama kurang lebih 12 abad, sebelum hilang ia telah telah sangat mempengaruhi Hinduisme. Pada zaman kita sekarang para pemikir India yang berbeda seperti Swami Vivekananda, Tagore, Gandhi dan Nehru memandang Buddha sebagai model (panutan). Pada abad ke 12 pula, sementara Buddhisme telah kehilangan banyak pengikutnya di Timur, ia mengalami dampak pertumbuhan dengan meningkatnya jumlah pengikut di Barat, dan dengan caranya yang damai ia berakar kuat di beberpa negara di belahan bumi Barat.

Dalam perjalanan sejarahnya yang panjang Buddhisme telah mengambil berbagai bentuk yang banyak. Dikarenakan karakternya yang damai dan tidak dogmatis, ia selalu beradaptasi dengan mudah dengan berbagai budaya yang telah ada sebelumnya dan praktik-praktik keagamaan di antara orang-orang di tempat ia menyebar, pada gilirannya menjadi sumber budaya baru dan pandangan dunia yang baru. Jadi, Buddhisme telah sukses penuh dalam mengintegrasikan dirinya dengan budaya asli satu negeri sehingga sering sulit bagi kita untuk melihat benang (jalinan) yang sama yang mengikat bersama-sama bentuk-bentuk Buddhisme yang berbeda sebagai cabang-cabang dari agama yang sama. Permukaan luar sangat berbeda: dari Buddhisme Theravada Sri Lanka dan Asia Tenggara yang lembut dan seremonial, menuju praktik-praktik kontemplatif dan devosional dari Buddhisme Mahayana Timur Jauh, ke ritualisme misterius dari Buddhisme Vajrayana Tibetan. Namun, meski permukaan luar dari berbagai aliran Buddhis tersebut mungkin berbeda secara drastik, mereka semua tetap berakar pada satu sumber yang sama, kehidupan dan ajaran dari satu orang yang kita kenal sebagai Buddha.

Menakjubkan, meskipun Buddha berjarak waktu sangat jauh dari kita, lebih jauh daripada guru-guru berikutnya yang muncul untuk keagungan dalam sungai sejarah Buddhis, suaraNyalah yang paling banyak bicara kepada kita secara langsung, dengan bahasa yang dapat kita mengerti secara langsung, dengan kata-kata, gambaran-gambaran, dan gagasan yang dapat kita respons dengan segera. Jika kita dapat menempatkan sisi demi sisi teks-teks dari Upanishad Chandogya dan Ceramah Buddha tentang Empat Kebenaran Mulia, yang mungkin berjarak waktu sekitar seratus tahun, yang pertama tampaknya datang dari lingkungan pergaulan kultural dan spiritual yang begitu jauh sehingga kita hampir tidak dapat memahaminya, sedangkan suara yang kedua seakan-akan seperti diucapkan minggu lalu di Bombay, London, atau New York. Buddha datang begitu dekat kepada kita dalam sikap dan perspektif. Sulit untuk percaya bahwa Beliau terpisah dari kita oleh jarak waktu 26 abad.

Bahwa ajaran Buddha akan selalu tetap relevan sepanjang era sejarah umat manusia yang terus berubah, bahwa pesannya tidak akan menjadi suram oleh bagian zaman yang curam, sudah tersirat di dalam gelar yang dengannya Beliau paling lazim dikenal. Karena kata “Buddha”, sebagaimana yang sangat dikenal, bukan satu nama yang tetapi sebuah gelar kehormatan yang berarti “Orang yang Tercerahkan”, “Orang yang Bangkit (Bangun)”.
Gelar ini diberikan kepada Beliau karena Beliau telah bangun dari tidur ketidaktahuan yang dalam dimana ketenangan dunia terserap; karena Beliau telah menembus kebenaran terdalam tentang kondisi manusia; dan karena Beliau mengumumkan kebenaran-kebenaran tersebut dengan tujuan untuk membangunkan orang-orang lain dan memampukan mereka untuk membagikan realisasi tersebut. Meskipun skenario-skenario sejarah sepanjang lebih dari 25 abad berubah, meskipun pandangan dunia dan pola pikir berubah-ubah dari satu zaman ke zaman berikutn ya, kebenaran yang mendasar tentang kehidupan manusia tidak berubah. Kebenaran tersebut tetap konstan, dan dapat dikenali. Orang-orang yang cukup dewasa dapat merenungkan kebenaran itu dan orang-orang yang cukup cerdas dapat mengerti kebenaran itu. Karena alasan ini, bahkan pada zaman kita sekarang dengan jet travel, teknologi komputer, dan genetic engineering kita, maka tepat sekali jika Yang Telah Bangun (Buddha) berbicara kepada kita dengan kata-kata yang berpengaruh, meyakinkan, terang sama seperti ketika kata kata itu diproklamirkan pada masa lampau yang jauh di kota-kota dan desa-desa di India bagian timur laut.


KEHIDUPAN BUDDHA

Meskipun kita tidak dapat menentukan dengan ketepatan yang persis masa kehidupan Buddha, banyak sarjana sependapat bahwa Beliau pernah hidup sekitar 563-483 BC, angka yang berkembang dari para sarjana yang mengikuti kronologi yang berbeda yang menempatkan tanggal-tanggal sekitar 80 tahun sesudahnya (sebelumnya diprediksi 623 BC- 543 BC -Red). Sebagaimana layaknya seorang pemimpin spiritual yang membuat dampak kuat terhadap peradaban manusia, catatan tentang kehidupanNya yang telah sampai kepada kita telah disulam dengan mitos dan legenda, yang berperan untuk membawa keagungan dari ketinggian tingkat spiritualNya di hadapan mata batin kita. Meskipun demikian, menurut sumber-sumber tertua tentang kehidupan Buddha, Sutta Pitaka dari Kanon Pali, kita menemukan sejumlah teks yang darinya kita dapat menyusun sebuah gambaran yang benarbenar realistis tentang karirNya. Apa yang mencolok tentang gambaran yang diberikan oleh teks-teks tersebut adalah bahwa ia menunjukkan kehidupan Buddha sebagai satu rangkaian pelajaran yang nyata dan menyampaikan hal-hal yang esensial tentang ajaranNya. Dengan demikian, dalam kehidupanNya sendiri, orang dan pesan bergabung bersama dalam satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Guru dilahirkan di dalam suku Sakya di sebuah republik kecil yang terletak di kaki Pegunungan Himalaya, di sebuah daerah yang sekarang ini terletak di Nepal utara. Nama yang diberikan kepadaNya adalah Siddartha dan nama keluargaNya adalah Gautama. Legenda mengatakan bahwa Beliau adalah anak lakilaki seorang raja yang kuat, tetapi dalam kenyataan negeri Sakya merupakan sebuah republik oligarchic (pemerintahan oleh kelompok kecil), sehingga ayahNya mungkin adalah kepala perhimpunan para sesepuh yang memerintah. Pada zaman Buddha negeri Sakya telah menjadi bagian dari negeri Kosala yang kuat, yang berhubungan dengan Uttar Pradesh sekarang. Sutta paling tua pun menuturkan kepada kita bahwa kelahiran bayi diikuti dengan berbagai keajaiban. Tak lama setelah itu, seorang bijaksana bernama Asita datang mengunjungi bayi itu, dan mengenal tandatanda kebesaran di masa depan yang ada di tubuhnya, dia bersujud kepada anak itu dengan penuh hormat.  Sebagai pemuda istana, Pangeran Siddartha dinina-bobokkan dalam kemewahan. Ayahnya membangun untuknya tiga buah istana, satu istana untuk setiap musim dalam setahun, dan di sana dia sendiri menikmati bersama teman-temannya. Pada usia 16 dia menikahi sepupunya, putri Yasodhara yang cantik, dan menjalani hidup yang memuaskan di ibukota Sakya, Kapilavasthu; selama waktu itu mungkin dia berlatih dalam seni perang dan berbagai ketrampilan yang bersifat kenegaraan.

 

Namun, seiring dengan berlalunya sang waktu, ketika dia mendekati usia 30, pangeran menjadi semakin introspektif. Apa yang menjadi masalahnya ialah berbagai pokok persoalan yang sangat membakar yang secara umum kita pandang wajar –pertanyaan-pertanyaan mengenai tujuan dan arti hidup ini. Apakah
tujuan hidup kita adalah untuk menikmati kesenangan-kesenangan sensual (indrawi), memperoleh kekayaan dan status, memanfaatkan kekuasaan? Atau adakah sesuatu diluar semua itu, yang lebih nyata dan penuh? Semua itu pastilah merupakan petanyaan-pertanyaan yang berlintasan di benaknya, karena kita menemukan perenungannya sendiri yang dicatat untuk kita dalam sebuah ceramah yang disebut “The Noble Quest, Pencarian nan Luhur” (Majjhima Nikaya No. 26).

“Oh para bhikkhu, sebelum aku tercerahkan, diriku adalah subjek bagi kelahiran, usia tua, kesakitan dan kematian, subjek bagi penderitaan dan kekotoran batin, aku mencari apa yang merupakan subjek bagi kelahiran, usia tua, kesakitan dan kematian, subjek bagi penderitaan dan kekotoran batin.
“Kemudian aku merenung demikian: ‘Mengapa, menjadi subjek bagi kelahiran . . . bagi kekotoran batin, aku mencari apa yang merupakan subjek bagi kelahiran . . . dan kekotoran batin? Seandainya itu, diriku sendiri menjadi subjek bagi kelahiran, setelah mengerti bahaya dalam apa yang merupakan subjek bagi kelahiran, aku mencari yang tidak dilahirkan, keselamatan tertinggi dari belenggu: Nibbana. Seandainya, diriku menjadi subjek bagi usia tua, kesakitan dan kematian, bagi penderitaan dan kekotoran batin, aku mencari yang tidak menjadi tua, yang tanpa kesakitan, tanpa kematian, tanpa penderitaan dan keadaan yang tidak ternoda,  keselamatan tertinggi dari belenggu: Nibbana.” 

Demikianlah, pada usia 29, dalam kehidupan yang prima, dengan orang tuanya yang menangis, dia memotong rambut dan jenggotnya, mengenakan jubah saffron seorang petapa, dan memasuki kehidupan pertapaan yang tanpa rumah. Biografi Buddha yang berkembang menambahkan bahwa beliau meninggalkan istana tepat pada hari istrinya melahirkan bagi mereka anak laki-laki semata wayang yang bernama Rahula.

Setelah meninggalkan rumah dan keluarganya, Bodhisattva atau “pencari pencerahan” (sebagaimana kita menyebut dia sekarang) berjalan ke selatan menuju Magadha (sekarang Bihar), di tempat dimana kelompokkelompok kecil para pencari kebenaran benarbenar mengejar pencarian mereka akan penerangan spiritual, yang biasanya dibawah bimbingan seorang guru. Pada waktu itu India bagian utara dapat membanggakan sejumlah guru besar ulung yang terkenal karena sistem filosofi mereka dan pencapaian mereka dalam meditasi. Pangeran Siddhartha mencari dua dari mereka yang paling menonjol: Alara Kalama dan Uddaka Ramaputra. Dari mereka dia mempelajari sistem meditasi yang mana, dari gambaran-gambaran di dalam teks, kelihatannya telah menjadi Raja Yoga yang unggul. Bodhisattva menguasai ajaran-ajaran dan sistem meditasi mereka, tetapi meskipun dia mencapai tingkat-tingkat konsentrasi yang mulia (samadhi), dia menemukan bahwa ajaran mereka belum cukup, karena tidak membimbing
menuju tujuan yang sedang dia cari: pencerahan sempurna dan realisasi Nibbana,
yang membebaskan makhluk-makhluk hidup dari berbagai penderitaan.

 

Setelah meninggalkan kedua gurunya, Bodhisattva menempuh satu jalan yang
berbeda, satu jalan yang terkenal di India zaman dahulu dan masih memiliki pengikut hingga kini: jalan asketisme, jalan penyiksaan diri, yang mencari dengan keyakinan bahwa kebebasan dimenangkan dengan menyakiti tubuh dengan kesakitan diluar batas normal yang dapat ditanggung. Selama enam tahun
Bodhisatatva mengikuti metode ini dengan kebulatan tekad yang tak tergoyahkan. Dia berpuasa selama berhari-hari hingga tubuhnya tampak seperti skeleton (kerangka) yang terbungkus di dalam kulit; dia mengekspos dirinya di terik mentari tengah hari dan hawa dingin malam hari; dia memperlakukan tubuhnya dengan siksaan-siksaan yang sedemikian rupa sehingga dia hampir memasuki gerbang kematian. Namun dia menemukan bahwa ketekunan dan ketulusannya dalam pertapaan itu sia-sia belaka. Kemudian dia mengatakan bahwa dia mengambil jalan penyiksaan diri yang lebih berat daripada semua petapa yang lain, tetapi jalan itu tidak membimbing menuju kebijaksanaan yang lebih tinggi dan pencerahan tetapi hanyalah mendapatkan kelemahan fisik dan kemunduran kecakapankecakapan mental.

Tak lama kemudian dia mencari jalan lain menuju pencerahan, jalan yang
menyeimbangkan perhatian benar terhadap tubuh dengan kontemplasi yang berkesinambungan dan penyelidikan yang dalam. Beliau nantinya akan menamakan jalan ini “jalan tengah” karena ia menghindari kedua ekstrim: menuruti kesenangan hawa nafsu dan penyiksaan diri. Beliau telah mengalami kedua ekstrim tersebut. Ekstrim pertama sebagai pangeran. Ekstrim kedua sebagai seorang asketik (petapa), dan beliau mengetahui kedua ekstrim itu merupakan tepi-tepi (ujung-ujung) yang pada akhirnya mematikan. Namun, dengan mengikuti jalan tengah, beliau menyadari bahwa pertama-tama yang harus beliau dapatkan kembali adalah kekuatan jasmaninya. Demikianlah dia menghentikan praktik penyiksaan diri dan kembali mengambil makanan bergizi. Pada waktu itu kelima petapa lain yang telah hidup bersama Bodhisattva berharap agar jika dia mencapai pencerahan dan akan melayani sebagai pembimbing mereka. Namun ketika mereka melihat dia mengambil makanan-makanan substansial (bergizi), mereka menjadi jijik dengan dia dan meninggalkannya, karena berpikir bahwa petapa yang pangeran itu telah menghentikan perjuangannya dan berbalik ke kehidupan mewah.

Sekarang dia telah sendiri, dan kesunyian yang penuh membolehkan dia untuk mengupayakan pencariannya tanpa terganggu. Suatu hari, ketika kesehatan jasmaninya telah pulih, dia mendekati sebuah tempat indah di Uruvela dekat tepi Sungai Neranjara. Di sanalah beliau mempersiapkan sebuah tempat duduk di bawah sebatang pohon asvattha (kemudian disebut Pohon Bodhi) dan duduk dengan kaki saling bersilang, membuat satu kebulatan tekad yang kuat bahwa dirinya tidak akan pernah bangun dari tempat duduk itu sebelum dirinya memenangkan cita-citanya. Tatkala malam turun dia memasuki tingkat tingkat meditasi yang lebih dalam dan semakin dalam hingga pikirannya tenang dan damai sepenuhnya. Selanjutnya, catatan-catatan memberitahukan kepada kita, pada waktu jaga pertama malam itu dia mengarahkan pikirannya yang terpusat ke ingatan akan kehidupan kehidupannya yang lampau. Pelahan-lahan di sana terbuka di hadapan pandangannya yang dalam pengalamanpengalamannya dalam banyak kelahiran lampau, bahkan selama banyak masa dunia; pada waktu jaga kedua di malam itu dia mengembangkan “mata-sempurna” yang mana dengannya dia dapat melihat makhluk-makhluk berlalu dan mengalami kelahiran kembali sesuai dengan karma mereka, perbuatan mereka; dan pada waktu jaga terakhir di malam itu dia menembus kebenaran terdalam tentang kehidupan, hukum-hukum yang paling mendasar tentang realitas, dan dengan demikian noda-noda batin yang paling halus terbuang dari pikirannya. Tatkala fajar menyingsing, figur yang duduk di bawah pohon bukan lagi seorang Bodhisattva, seorang pencari pencerahan, melainkan seorang Buddha, seorang Yang Tercerahkan secara Sempurna, orang yang telah mencapai keadaan tanpa-Kematian dalam kehidupan sekarang juga.

Selama beberapa minggu Buddha yang baru saja tercerahkan itu tetap di sekitar Pohon Bodhi merenungkan Dhamma –Kebenaran yang dia temukan- dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Kemudian Beliau datang ke persimpangan jalan yang baru dalam karier spiritualnya: Apakah dirinya harus mengajar, mencoba membagikan hasil realisasinya kepada orang lain, atau sebaliknya tetap di hutan dengan tenang, menikmati seorang diri kebahagiaan dalam kebebasan?

 

Pada mulanya pikirannya cenderung untuk menjaga ketenangan; karena beliau berpikir kebenaran yang telah direalisasinya itu benar-benar terlalu dalam bagi orang lain untuk mengerti, terlalu sulit untuk diekspresikan dalam kata-kata, dan beliau mempertimbangkan bahwa mencoba menyampaikan realisasinya kepada orang lain hanya akan melelahkan dirinya. Tetapi kemudian berbagai teks memperkenalkan sebuah elemen dramatis ke dalam sejarah. Tepat pada saat Buddha memutuskan untuk tetap diam, satu makhluk dewata tingkat tinggi bernama Brahma Sahampati, Penguasa Seribu Dunia, menyadari bahwa jika sang Guru tetap diam maka dunia akan kehilangan, kehilangan jalan yang tanpa noda untuk mencapai kebebasan dari derita. Karena itu dia turun ke bumi, bersujud dalam dalam di hadapan Yang Tercerahkan, dan dengan rendah hati memohon kepadaNya untuk mengajarkan Dhamma “demi kepentingan makhluk-makhluk dengan sedikit
debu di mata (yang kotoran batinnya sedikit)”.

Kemudian Buddha menatap dunia dengan pandanganNya yang dalam. Beliau melihat bahwa orang-orang itu ibarat teratai di sebuah kolam dengan tingkat-tingkat pertumbuhan yang berbeda, dan beliau mengerti bahwa sebagaimana sebagian teratai yang mekar di permukaan air hanya membutuhkan sinar mentari untuk muncul di atas permukaan air dan mekar sepenuhnya, demikian pula ada sebagian orang yang benar-benar butuh mendengar ajaran yang mulia untuk memenangkan pencerahan dan memperoleh kebebasan batin yang sempurna. Ketika Beliau mengetahui hal ini hatinya digerakkan oleh belas kasih yang dalam, dan beliau
memutuskan kembali ke dalam dunia dan mengajarkan Dhamma kepada orang-orang yang siap untuk mendengar.

Orang-orang pertama yang beliau dekati adalah teman-temannya yang dahulu, lima
petapa yang telah meninggalkan beliau beberapa bulan yang lalu dan yang sekarang berdiam di taman rusa di Sarnath dekat Benares (sekarang Varanasi). Beliau menerangkan kepada mereka kebenarankebenaran yang baru saja beliau temukan, dan ketika mendengar ceramahnya mereka mencapai pandangan terang di dalam Dhamma, menjadi siswa-siswanya yang pertama. Dalam beberapa bulan berikutnya para pengikutnya melonjak dan membengkak karena para perumahtangga dan para asketik (petapa) mendengarkan pesan yang membebaskan, melepaskan keyakinan semula, dan menyatakan diri mereka sebagai para siswa dari Yang Tercerahkan (Buddha).

Masih tetap bertahan sekarang ini. Mungkin (bersama dengan ordo Jain) merupakan institusi tertua yang masih ada di dunia ini. Beliau juga menarik banyak pengikut awam yang menjadi para pendukung setia sang Guru dan Sanghanya.

Setiap tahun, bahkan dalam usianya yang lanjut, beliau terus mengembara di desa-desa, kota-kota kecil, dan kota-kota besar di dataran Gangga, mengajarkan kepada semua orang yang “bertelinga”, beliau akan istirahat hanya selama tiga bulan musim hujan (yang lazim disebut masa vassa), dan kemudian melanjutkan pengembaraannya, yang beliau mulai dari Delhi sekarang bahkan sejauh Bengala timur. Beliau membentuk sebuah Sangha, Ordo para bhikkhu dan bhikkhuni, yang untuknya beliau meletakkan pokok-pokok peraturan dan ketentuan-ketentuan yang unik.
Ordo ini masih tetap bertahan sekarang ini. Mungkin (bersama dengan ordo Jain) merupakan institusi tertua yang masih ada di dunia ini. Beliau juga menarik banyak pengikut awam yang menjadi para pendukung setia sang Guru dan Sanghanya meneruskan perjalanannya ke kota Kusinara di utara. Di sana, dikelilingi oleh banyak siswa, beliau memasuki “Nibbana dengan tidak ada elemen dari kehidupan berkondisi yang tersisa,” yang memutuskan ikatannya pada siklus kelahiran kembali untuk selamalamanya.

Di atas telah saya katakan bahwa setiap kejadian utama dalam kehidupan Buddha memberikan kepada kita satu pelajaran utuh yang khusus dalam ajarannya. Sekarang saya ingin menggambarkan pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh peristiwa-per istiwa tersebut.

Pertama, kesadaran Bodhisattva terhadap realitas-realitas yang kasar dalam kehidupan manusia –penemuannya tentang keterikatan kita pada usia tua, kesakitan (penyakit), dan kematian- mengajarkan kepada kita pentingnya perenungan yang dalam dan pikiran yang kritis. Kesadarannya mengingatkan kepada kita akan ketidaksadaran dimana kita biasanya hidup, tenggelam dalam aneka kesenangan dan perkara-perkara yang rendah, terlena pada “keasyikan besar” yang menggoda di hadapan kita pada setiap saat dalam kehidupan kita.

Kesadarannya mengingatkan kita bahwa kita sendiri harus keluar dari kokon (“rumah” yang membungkus ulat sutra) ketidaktahuan yang nyaman tetapi berbahaya dimana kita telah berdiam; bahwa kita harus keluar dari keterlenaan pada usia muda, kesehatan, dan vitalitas; bahwa kita harus naik ke level yang baru dari pengertian yang dewasa yang akan memampukan kita untuk mencapai kemenangan gemilang dalam perang kita yang tak dapat dielakkan dengan Raja Kematian.

Kepergian Bodhisattva dari istana, “pelepasan agung”-nya menyajikan kepada kita pelajaran yang berharga. Hal tersebut menunjukkan kepada kita bahwa dari antara jajaran luas nilai-nilai yang dapat kita tarik untuk mengatur kehidupan kita, pencarian terhadap pencerahan dan kebebasan harus diposisikan di tempat teratas. Sasaran ini ber peringkat jauh di atas kesenangan, kekayaan, dan kekuasaan yang biasanya kita beri prioritas, bahkan di atas panggilan tugas sosial dan tanggungjawab yang semestinya. Tentu saja ini tidak berarti bahwa setiap orang yang ingin mengikuti jalan Buddha harus siap untuk meninggalkan rumah dan keluarga dan mengambil gaya hidup seorang bhikkhu atau bhikkhuni. Komunitas para siswa Buddha meliputi para umat awam atau perumahtangga (lazim disebut para upasaka dan upasika ) dan juga para bhikkhu dan para bhikkhuni, para umat awam laki-laki dan perempuan yang taat yang telah mencapai tataran-tataran tinggi dalam kesadaran sementara menjalani kehidupan yang aktif di dunia ini. Namun keteladanan Buddha menunjukkan kepada kita bahwa kita semua harus mengurutkan nilai-nilai kita sesuai dengan skala yang memberikan tempat tertinggi pada tujuan yang paling berharga, tujuan yang paling nyata di antara semua realitas: Nibbana, dan kita jangan pernah mengizinkan klaim dari tanggungjawab umum menjauhkan kita dari perjuangan aspirasi kita.

Berikutnya, enam tahun perjuangan Bodhisattva menunjukkan kepada kita bahwa pencarian tujuan tertinggi adalah satu perjuangan berat yang membutuhkan dedikasi yang tinggi dan usaha yang tak kenal lelah. Untunglah, Bodhisattva menemukan bahwa praktik penyiksaan diri merupakan satu latihan yang sia-sia, dan dengan demikian kita tidak perlu mengikuti beliau dengan cara ini. Namun pengejarannya akan kebenaran yang tanpa kenal kompromi menggarisbawahi tingkat usaha yang dibutuhkan untuk mencari pencerahan, dan orang-orang yang mencari sasaran tersebut dengan kesungguhan yang penuh harus siap untuk menghadapi perjalanan latihan yang sulit dan keras. Pencerahan Buddha mengajarkan kepada kita bahwa kebijaksanaan dan kebebasan tertinggi dari penderitaan adalah sebuah potensi nyata yang inheren di dalam manusia, satu hal yang dapat kita sadari untuk diri kita tanpa bantuan atau pemberian anugerah dari
seorang juru selamat eksternal (dari luar).

Pencerahannya juga menyinarkan gagasan tentang kesederhanaan yang sehat, “Jalan tengah,” yang mencirikan Buddhisme sepanjang sejarahnya yang panjang. Mencari kebenaran mungkin merupakan sebuah perjuangan yang sulit, satu hal yang merupakan tuntutan yang keras bagi kita, tetapi tidak meminta kita untuk merendahkan diri kita sendiri untuk menebus dosa dan menghukum diri kita sendiri.
Kemenangan akhir harus dicapai, bukan dengan menyiksa tubuh, tetapi dengan mengembangkan pikiran, dan hal ini terjadi melalui satu perjalanan latihan yang menyeimbangkan perhatian terhadap tubuh dengan pengembangan kecakapan kecakapan spiritual kita yang lebih tinggi.

Keputusan yang Buddha buat setelah pencerahannya menyuguhkan pelajaran lain kepada kita. Pada titik kritis ini, ketika beliau berhadapan dengan pilihan untuk mempertahankan pencerahannya bagi diri sendiri atau mengambil tantangan untuk mengajar kepada orang lain, mandat belas kasih menang di dalam hatinya. Meninggalkan ketenangan hutan, beliau mengambil bagi dirinya beban untuk membimbing umat manusia yang tersesat menempuh jalan kebebasan. Pilihan ini telah mendatangkan dampak kuat yang luar biasa bagi perkembangan Buddhisme selanjutnya, karena sepanjang sejarahnya yang panjang semangat belas kasih telah menjadi denyut nadi dari dispensasi Buddha, semangat animasinya yang paling dalam. Adalah teladan belas kasih Buddha yang memotivasi para rahib Buddhis untuk melintasi laut, pegunungan, dan gurun pasir, dengan mempertaruhkan hidup mereka, untuk membagikan berkah-berkah Dhamma kepada mereka-mereka yang masih ada di dalam kegelapan. Contoh inilah yang mengilhami banyak kaum Buddhis dewasa ini, dengan pelbagai macam cara yang banyak, bahkan kemudian mereka dapat mengekspresikan belas kasih mereka dengan tindakan-tindakan sederhana dari kebaikan hati dan menaruh perhatian kepada mereka-mereka yang kurang beruntung daripada diri mereka sendiri.

Pada akhirnya, kepergian Buddha, pencapaiann ya dalam Nibbana akhir, mengajarkan kepada kita sekali lagi bahwa segala sesuatu yang berkondisi pasti berakhir, bahwa segala susunan (bentuk) bersifat tidak abadi, bahwa guru-guru spiritual yang terbesar pun tidak ada perkecualian terhadap hukum yang sering beliau nyatakan itu. Kepergian beliau juga mengajarkan kepada kita bahwa kebahagiaan dan kedamaian tertinggi hanya terjadi dengan melepaskan semuanya,
melalui pembebasan dari segala sesuatu yang berkondisi. Karena ini merupakan jalan masuk terakhir untuk mencapai Yang Tidak Berkondisi, Yang Tanpa Kematian: Nibbana.

 

Sumber :
Dhamma Citta
Perpustakaan eBook Buddhis
http://www.DhammaCitta.org

 

 

Incoming search terms:

  • ceramah yg cerdas dan tercerahkan
tags: , , , , , , , , ,

Related For Siapakah Sosok Buddha Gautama itu ?