Sekat di Antara Manusia. Oleh YM. Bhante Sri Pannavaro Mahathera.

Rabu, Oktober 25th 2017. | Artikel

Kalau kita mau menyadari kehidupan ini dan mau dengan jujur melihat masyarakat di sekitar kita, seringkali antara manusia yang satu sulit untuk bergaul dengan manusia yang lain. Apakah yang menjadi penghalang? Pemisah atau penyekat itu memang tidak kasat mata, tidak mampu di deteksi dengan mata, tetapi mampu memisahkan manusia yang satu dengan yang lain.

Apakah “pemisah” itu? Yang kadang-kadang amat jahat dan mungkin amat pekat untuk diterobos, yang mengalahkan persaudaraan, mengalahkan budi baik, hubungan baik, mengalahkan yang lain-lain; sehingga membuat kita sulit untuk bergaul dengan yang lain.

Pemisah atau penyekat itu tidak lain adalah predikat-predikat atau status-status yang kita punyai. Kalau saya menyebutkan bahwa saya umat beragama A maka saya sudah membuat penyekat dengan umat beragama lain. Saya umat dari agama A dan Anda umat beragama B, saya biarawan dan Anda umat awam, saya pimpinan dan Anda karyawan, saya murid dan Anda guru, saya orang mampu dan Anda bawahan saja. Sangat banyak dan banyak lagi ! Kalau kita menuliskan predikat-predikat ini, mungkin lebih tebal dari buku telephone yang kita punyai. Saya ibu, saya ayah, saya anak, saya karyawan, saya majikan, saya pimpinan…….sedangkan Anda bukan ! Begitu saya menyadari saya umat beragama A, maka saya merasa berbeda dengan umat beragama lain. Begitu saya menyadari bahwa saya adalah biarawan, maka saya menganggap Anda berbeda dengan saya.

Memang predikat-predikat itu diperlukan dalam tata kehidupan bermasyarakat. Tetapi, untuk kepentingan batin kita, untuk pembentukkan mental kita yang sehat, kalau suatu saat kita mau menyingkirkan semua predikat itu untuk sementara, apakah yang kita lihat? Kalau kita mau sesaat menyingkirkan predikat-predikat yang merupakan pagar, yang merupakan penyekat yang dahsyat itu, maka kita akan melihat akar yang sama pada setiap orang.

Apakah itu? Tidak lain bahwa kita semua adalah manusia. Saya adalah manusia, demikian juga Anda, pimpinan kita adalah manusia, Anda pun manusia. Anda menjadi pimpinan adalah manusia dan Anda pimpin itu juga manusia seperti Anda.

Kesadaran akan hakikat kita sebagai manusia inilah yang kadang-kadang dibungkus dan masih ditambah lagi dengan sekat berupa bermacam-macam predikat. Kalau kita sudah maju dan sukses, berhasil menjadi pimpinan, mempunyai jabatan tinggi tertentu, merasa menjadi atau mempunyai peran tertentu; maka kadang-kadang kita berpikir seolah-olah kita sudah bukan manusia biasa lagi, bahkan kita memandang yang lain menjadi bukan manusia lagi.

Sumber : https://www.facebook.com/TS2C2/

 

tags: , , , ,

Related For Sekat di Antara Manusia. Oleh YM. Bhante Sri Pannavaro Mahathera.