Rasa Aman, Hormat dan Tanggung Jawab dalam Keluarga by Ven K. Sri Dhammananda

Rabu, Januari 17th 2018. | Artikel

Rasa Tidak Aman

Di masa lalu, tidak ada hal-hal seperti pendaftaran resmi pernikahan. Seorang pria dan wanita secara bersama ditentukan sebagai suami dan istri dan setelahnya mereka hidup bersama.

Pernikahan mereka diberitahukan di hadapan masyarakat, dan perpisahan jarang sekali terjadi. Hal terpenting adalah bahwa mereka mengembangkan cinta sejati mereka dan menghormati tanggung jawab bersama mereka. Pendaftaran resmi pernikahan penting dewasa ini untuk menjamin keamanan dan untuk melindungi harta dan anak-anak.

Atas dasar rasa tidak aman ini, sepasang pengantin melangsungkan pernikahan resmi untuk memastikan bahwa mereka dibatasi secara hukum untuk tidak melalaikan tugas mereka dan untuk tidak menyakiti satu sama lainnya. Saat ini, beberapa pasangan bahkan menyusun sebuah perjanjian resmi tentang apa yang akan terjadi terhadap harta bersama mereka jika mereka bercerai.

 

Suami dan Istri

Berdasarkan ajaran Buddha, dalam sebuah pernikahan, sang suami dapat mengharapkan kualitas-kualitas berikut dari sang istri:

  • Cinta kasih
  • Perhatian
  • Kewajiban keluarga
  • Kesetiaan
  • Mengasuh anak
  • Berhemat
  • Menyediakan makanan
  • Untuk menenangkan sang suami ketika ia marah
  • Ramah dalam segala hal

Sebaliknya, harapan sang istri dari suami adalah sebagai berikut:

  • Kelembutan hati
  • Rasa hormat
  • Keramahan
  • Rasa aman
  • Keadilan
  • Kesetiaan
  • Kejujuran
  • Sahabat baik
  • Dukungan moral

 

Di samping faktor-faktor emosional dan sensual, pasangan tersebut harus mengatasi kondisi hidup sehari-hari, keuangan keluarga dan kewajiban sosial. Karenanya, perundingan bersama antara suami dan istri dalam segala permasalahan keluarga akan membantu dalam menciptakan suasana nyaman dan pemahaman dalam menyelesaikan segala persoalan yang dapat timbul.

 

Nasehat Sang Buddha kepada Pasangan Suami Istri

Sang Istri

Dalam nasehatnya kepada para wanita mengenai peranan mereka dalam kehidupan rumah tangga, sang Buddha menyadari bahwa kedamaian dan keharmonisan dalam sebuah rumah tergantung sepenuhnya kepada para wanita.

Nasehat-nasehatnya realistis dan praktis saat beliau menjelaskan sejumlah karakteristik yang baik yang seorang wanita mesti ataupun tidak kembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam berbagai kesempatan, sang Buddha menasehati bahwa seorang istri haruslah:

  • Tidak menyimpan pikiran buruk terhadap suaminya
  • Tidak menjadi kejam, kasar atau terlalu dominan
  • Tidak menjadi tukang boros namun haruslah berhemat dan hidup sesuai kemampuannya
  • Menjaga dan melindungi pendapatan dan harta benda suaminya yang diperoleh dengan susah payah
  • Selalu berhati-hatidan murni dalam pikiran dan tindakannya
  • Harus setia dan tidak menyimpan pikiran-pikiran kotor
  • Menjaga ucapan dan sopan dalam tindakan
  • Baik hati, tekun dan bekerja keras
  • Bijaksana dan memberikan kasih sayang kepada suaminya, dan tindakannya semestinya seperticinta kasih seorang ibu yang selalu melindungi putra tunggalnya
  • Rendah hatidan menghormati
  • Tenang, seimbang dan memahami – melayani tidak hanya sebagai seorang istri namun juga sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang pemberi nasehat saat dibutuhkan.

Pada masa kehidupan sang Buddha, guru-guru spiritual lain juga membicarakan tentang tugas dan kewajiban seorang istri terhadap suaminya – khususnya menekankan pada tugas seorang istri dalam melahirkan seorang penerus keturunan bagi suaminya, memberi pelayanan sepenuhnya dan memberikan kebahagiaan suami istri.

Beberapa masyarakat sangat memberikan perhatian mengenai kehadiran seorang anak laki-laki dalam keluarga. Mereka percaya bahwa seorang putra sangatlah penting dalam mempersiapkan upacara kematian mereka sehingga kehidupan mereka setelah kematian akan menjadi baik. Kegagalan untuk memperoleh seorang putra dari istri pertama, memberi kebebasan bagi seorang pria untuk memiliki istri lainnya untuk dapat memperoleh seorang putra. Ajaran Buddha tidak menyetujui kepercayaan ini. Berdasarkan apa yang sang Buddha ajarkan mengenai hukum Karma, seseorang bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri begitu pula dengan akibat-akibatnya. Yang terlahir adalah seorang putra atau putri bukanlah ditentukan oleh si ayah ataupun ibu melainkan pada karma anak itu sendiri.

Dan kesejahteraan seorang ayah maupun seorang kakek tidak tergantung pada tindakan anak maupun cucunya. Setiap orang bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Jadi, tidaklah benar bagi seorang pria untuk menyalahkan istrinya atau merasa kurang ketika ia tidak memiliki anak laki-laki. Ajaran cerdas dan luhur sepertiinilah yang akan membantu memperbaiki pandangan banyak orang dan juga membantu mengurangi kegelisahan para wanita yang tidak bisa menghasilkan seorang putra untuk menjalankan “tatacara para leluhur.”

Dalam Sigalovada Sutta, sang Buddha dengan jelas memberitahukan tugas-tugas seorang suami terhadap istrinya dan begitu pula sebaliknya.

Sang Suami

Sang Buddha, dalam jawabannya atas pertanyaan seorang perumah tangga mengenai bagaimana seorang suami harus berlaku terhadap istrinya menyatakan bahwa seorang suami haruslah selalu menghormati dan menghargai istrinya, dengan selalu setia pada istrinya, dengan memberikan istrinya hak yang dibutuhkan untuk mengatur urusan rumah tangga dan dengan memberikan istrinya perhiasan-perhiasan yang sesuai.

Nasehat ini, yang diberikan lebih dari dua puluh lima abad yang lalu, masih dapat diterima hingga sekarang. Mengetahui sifat psikologis seorang pria yang cenderung menganggap dirinya lebih tinggi derajatnya, Sang Buddha membuat sebuah perubahan yang nyata dan meningkatkan kedudukan seorang wanita dengan suatu nasehat sederhana bahwa seorang suami haruslah menghormati dan menghargai istrinya.

Seorang suami haruslah setia pada istrinya, yang berarti seorang suami harus memenuhi dan mempertahankan kewajiban-kewajiban pernikahannya terhadap istrinya sehingga dapat menyokong keutuhan rumah tangga dalam setiap makna katanya. Sang suami, menjadi sang pencari nafkah, kerap kali akan jauh dari rumah, karenanya ia harus mempercayakan tugas-tugas domestik atau rumah tangga kepada istrinya yang harus dianggap sebagai sang penjaga yang membagi kebutuhan rumah tangga serta mengatur ekonomi rumah.

Pemberian perhiasan-perhiasan yang sesuai kepada istrinya haruslah menjadi simbol dari cinta kasih, perhatian dan kasih sayang sang suami kepada istrinya. Praktek simbolis ini telah dijalankan sejak zaman dahulu dalam masyarakat Buddhis.

Sayangnya, praktek-praktek ini terancam menghilang oleh pengaruh kebudayaan modern.

 

 

Masa Lampau

Di masa lalu, karena struktur sosial dalam banyak komunitas masyarakat berbeda dari apa yang kita jumpai sekarang, seorang suami dan istri saling tergantung satu sama lainnya. Terdapat pemahaman bersama, dan hubungannya stabil karena setiap pasangan mengetahui dengan tepat apa peranannya masingmasing dalam hubungan kerja sama tersebut. “Cinta” yang oleh beberapa pasangan suami istri coba tunjukkan dengan berangkulan di depan khalayak ramai tidak berarti menunjukkan cinta sejati atau saling pengertian. Di masa lalu, meskipun pasangan suami istri tidak menunjukkan cinta atau perasaan terdalam mereka di depan khalayak ramai, mereka memiliki suatu pemahaman yang mendalam dan rasa penghormatan yang sama antara satu dengan yang lainnya.

Adat-adat kuno yang dimiliki oleh masyarakat di beberapa negara bahwa sang istri harus mengorbankan dirinya setelah kematian suaminya dan juga adat yang melarang seorang janda untuk menikah kembali adalah asing bagi ajaran Buddha. Ajaran Buddha tidak menganggap seorang istri lebih rendah derajatnya dibandingkan sang suami.

 

Masyarakat Modern

Beberapa wanita merasa bahwa tugas untuk mengasuh keluarga bagi mereka merupakan hal yang merendahkan dan kuno. Memang benar bahwa di masa lampau para wanita telah diperlakukan dengan sangat buruk, namun hal ini lebih disebabkan oleh kekelirutahuan para pria ketimbang kekurangan dari konsep bahwa wanita bertugas mengasuh anak-anaknya.

Para wanita telah berjuang selama bertahun-tahun untuk memperoleh kesetaraan dengan para pria dalam bidang pendidikan, pekerjaan, politik dan kesempatan-kesempatan lainnya.

Sekarang mereka memiliki kesetaraan dengan pria hingga tingkat tertinggi. Laki-laki cenderung lebih agresif dalam sifat alamiahnya dan perempuan cenderung lebih emosional. Dalam rumah tangga, terutama di Timur, laki-laki lebih dominan sebagai kepala keluarga sementara perempuan cenderung bertahan sebagai pasangan yang pasif. Tolong dicatat, “pasif” di sini tidak berarti“lemah.” Pasif lebih berartikualitas positif dari “kelembutan” dan “kehalusan.”

Jika seorang pria dan wanita mempertahankan sikap maskulin dan feminin mereka yang alamiah dan mengenali kekuatan mereka masing-masing, maka, sikap tersebut dapat berkontribusi baik terhadap pemahaman bersama yang menyenangkan di antara mereka.

Gandhi berkata: “Saya percaya tentang pendidikan yang layak bagi wanita. Namun saya juga percaya bahwa wanita tidak akan memberikan kontribusinya kepada dunia dengan cuma meniru atau berlomba dengan pria. Wanita dapat saja berlomba, namun ia tidak akan mencapai puncak tertinggi dari kapasitaspenuhnya kalau hanya dengan meniru pria. Ia mestinya dapat melengkapi pria.”

 

Kewajiban Orang tua

Dasar dari seluruh komunitas masyarakat adalah hubungan yang rumit antara orangtua dan anak-anaknya. Tugas seorang ibu adalah untuk mencintai, merawat dan melindungi anak-anaknya, bahkan dengan pengorbanan sebesar apapun. Inilah cinta tanpa mementingkan diri sendiri yang diajarkan oleh sang Buddha. Ia dapat dilatih, dirawat dan mulia dan tanpa mementingkan diri sendiri. Umat Buddha diajarkan bahwa orangtua harus merawat anak-anaknya seperti bumi yang merawat semua tanaman dan makhluk hidup di dalamnya. Orangtua bertanggung jawab atas kesejahteraan dan tumbuh kembang anak-anaknya. Jika sang anak tumbuh menjadi warga masyarakat yang kuat, sehat dan berguna, ini merupakan hasil dari usaha orang tuanya.

Jika sang anak tumbuh menjadi penjahat, orangtua harus memikul tanggung jawab itu. Seseorang tidak sepatutnya menyalahkan orang lain atau masyarakat jika anak-anaknya tersesat. Merupakan tugas orangtua untuk menuntun anak-anaknya dalam jalan yang benar. Seorang anak, dalam usia tumbuh kembangnya yang paling dominan, memerlukan cinta kasih, asuhan dan perhatian yang tepat dari orangtuanya. Tanpa cinta dan bimbingan orangtua, sang anak akan terhalangi dan menemukan bahwa dunia ini merupakan tempat yang seram untuk hidup.

Namun demikian, memperlihatkan cinta kasih, asuhan dan perhatian orangtua tidak berarti menuruti seluruh keinginan sang anak, baik beralasan maupun tidak. Terlalu memanjakan akan merusak sang anak. Sang ibu, dalam memberikan cinta dan perhatiannya, juga harus tegas dan keras dalam menangani kemarahan tuntutan sang anak.

Menjadi tegas dan keras tidak berartiberlaku kasar terhadap sang anak. Tunjukkan cintamu, namun tertibkan dengan tangan yang disiplin – sang anak akan mengerti. Sayangnya, di antara para orangtua sekarang, cinta orangtua terus berkurang. Kebutuhan mendesak untuk peningkatan materi, pergerakan kebebasan dan aspirasi kesetaraan telah menyebabkan banyak ibu ikut-ikutan suaminya, menghabiskan waktu kerja mereka di kantor-kantor atau toko-toko, daripada berdiam di rumah merawat anak-anaknya. Sang anak, ditinggal untuk diasuh oleh kerabat atau pelayan, menjadi kacau atas ketiadaan cinta dan perhatian ibu.

Sang ibu, merasa bersalah atas kurangnya perhatian darinya, berusaha untuk menenangkan sang anak dengan memberikan segala macam permintaan dari sang anak. Tindakan seperti demikian dapat merusak sang anak. Memberikan sang anak berbagai macam mainan modern seperti mainan tank, senjata mesin, pistol, pedang dan perlengkapan lainnya sepertiitu sebagai penenang bukanlah hal yang baik secara psikologis.

Melengkapi sang anak dengan mainan-mainan seperti itu bukanlah pengganti cinta dan kasih sayang ibu. Tanpa kasih sayang dan bimbingan orangtua, tidaklah mengejutkan bila sang anak kemudian tumbuh menjadi tidak baik.

Lalu, siapakah yang patut disalahkan jika sang anak tumbuh menjadi tidak patuh? Sang orangtua tentunya! Ibu yang bekerja, terutama setelah hari kerja yang sibuk seharian di kantor lalu diikutidengan berbagai pekerjaan rumah tangga, sulit menemukan waktu bagi anaknya yang rindu akan kasih dan perhatian sang ibu.

Orangtua yang tidak memiliki waktu bagi anak-anaknya semestinya tidak mengeluh ketika anak-anak ini juga tidak memiliki waktu bagi mereka di saat mereka telah tua nantinya. Orangtua yang menyatakan bahwa mereka telah menghabiskan banyak uang bagi anak-anaknya namun terlalu sibuk semestinya tidak mengeluh ketika anak-anak mereka yang “sibuk” juga akan meninggalkan mereka di sebuah PantiJompo yang mahal.

Banyak wanita yang bekerja saat ini sehingga keluarganya dapat menikmatikeuntungan materi yang berlebih. Mereka harus mempertimbangkan dengan serius nasehat Gandhi bagi para pria agar mencari kebebasan dari keserakahan ketimbang kebebasan dari kebutuhan. Tentu saja, mengingat posisi ekonomi saat ini kita tidak dapat menyangkal bahwa beberapa ibu terpaksa turut bekerja.

Dalam kasus sepertidemikian, sang ayah dan ibu harus memberikan pengorbanan yang lebih besar atas waktu mereka untuk menggantiwaktu yang hilang bagi anak-anaknya saat mereka pergi bekerja. Jika kedua orangtua menghabiskan waktu luang mereka di rumah bersama dengan anak-anak mereka, akan timbul pemahaman yang lebih baik antara orangtua dan anak-anak mereka.

Dalam khotbah-khotbahnya, sang Buddha telah memberikan tugas dan fungsi-fungsi utama tertentu sebagai panduan penting bagi orangtua untuk dilaksanakan. Salah satu dari panduan utama tersebut adalah, melalui ajaran, latihan dan tindakan, mengarahkan sang anak agar jauh dari hal-hal yang tidak baik dan melalui bujukan yang tepat, membimbing anak-anak mereka untuk melakukan segala hal yang baik bagi keluarganya, bagi masyarakatnya dan bagi negaranya.

Sehubungan dengan hal ini, orangtua harus melatih perhatian besar dalam menangani anak-anak mereka. Ini bukan apa yang orangtua akui namun lebih menyangkut apa yang benar-benar mereka lakukan, yang diserap oleh sang anak tanpa sadar dan penuh kasih.

Hal yang diterima oleh sang anak atas dunia ini dibentuk dengan meniru kebiasaan orangtuanya. Ini berlaku bahwa yang baik berakibat baik dan yang buruk berakibat buruk. Orangtua yang menghabiskan banyak waktu dengan anak-anak mereka secara halus akan menurunkan karakter mereka kepada anakanaknya.

 

Tugas Orangtua

Merupakan tugas orangtua untuk memperhatikan kesejahteraan anak-anak mereka. Sesungguhnya orangtua yang bertanggung jawab dan penuh kasih mestinya akan memanggul tanggung jawab tersebut dengan senang hati. Untuk mengarahkan sang anak pada jalan yang benar, pertama orangtua harus memberikan contoh dan menjalankan hidup yang ideal. Hampir mustahil untuk mengharapkan anak yang baik dari orangtua yang tidak baik.

Di samping kecenderungan Karma yang diteruskan sang anak dari kelahiran-kelahiran sebelumnya, mereka tanpa kecuali juga menerima keburukan dan kebaikan dari orangtua. Orangtua yang bertanggung jawab harus mengambil setiap tindakan pencegahan agar tidak menurunkan kecenderungan buruk terhadap anak-anak mereka.

Berdasarkan Sigalovada Sutta, terdapat lima tugas yang mesti dijalankan oleh orangtua:

  1. Tugas pertama adalah untuk melarang sang anak melakukan perbuatan buruk Rumah adalah sekolah pertama, dan orangtua adalah guru-guru pertama. Anak-anak biasanya menerima pelajaran dasar mengenai baik dan buruk dari orangtua mereka. Orangtua yang ceroboh secara langsung maupun tidak langsung menanamkan pengetahuan dasar dalam berbohong, menipu, tidak jujur, menghujat, membalas dendam, tidak tahu malu dan tidak takut akan perbuatan jahat dan perbuatan tidak bermoral lainnya kepada anakanak mereka selama masa kanak-kanaknya. Orangtua mestimenunjukkan tingkah laku yang patut dicontoh dan tidak menurunkan perbuatan buruk sepertidi atas ke dalam pola pikiran anak-anak mereka.

 

  1. Tugas kedua adalah untuk mengajak mereka melakukan perbuatan baik Orangtua adalah guru di rumah; guru adalah orangtua di sekolah. Baik orangtua maupun guru bertanggung jawab atas masa depan sang anak kelak, yang akan menjadi sebagaimana mereka diajarkan. Mereka, dan mereka akan jadi, apa yang diajarkan orang dewasa. Mereka duduk di atas pangkuan orang dewasa selama masa emas mereka. Mereka menerima apa yang diberikan orang dewasa. Mereka mengikutijejak orang dewasa. Mereka dipengaruhi oleh pemikiran, ucapan dan perbuatan orang dewasa. Oleh karenanya merupakan tugas orangtua untuk menciptakan kondisi yang paling sesuai baik di rumah maupun di sekolah. Kesederhanaan, kepatuhan, kerja sama, kesatuan, keberanian, pengorbanan diri, kejujuran, terus terang, pelayanan, percaya diri, kebaikan, hemat, kepuasan, sikap baik, semangat religius dan nilai-nilai kebajikan lainnya harus ditanamkan dalam pikiran remaja mereka tahap demi tahap. Bibit yang sepertidemikian ditanam akan tumbuh menjadi pohon buah yang ranum.

 

  1. Tugas ketiga adalah untuk memberikan sang anak pendidikan yang baik Pendidikan yang baik adalah warisan terbaik yang dapat orangtua wariskan kepada anak-anaknya. Tidak ada harta yang lebih berharga lainnya. Inilah berkah terbaik yang dapat orangtua anugerahkan kepada anak-anaknya. Pendidikan harus ditanamkan kepada mereka, lebih dini lebih baik, dalam kondisi yang religius. Hal ini akan memberikan pengaruh jangka panjang dalam hidup mereka.

 

  1. Tugas keempat adalah untuk melihat mereka menikah dengan pasangan yang tepat Pernikahan merupakan upacara yang sakral yang berpengaruh seumur hidup; penyatuan ini mestinya jangan menjadi suatu hal yang mudah bubar. Karenanya, pernikahan harus dilihat dari berbagai sudut pandang dan dalam seluruh aspeknya terhadap kepuasan semua pihak sebelum pernikahan dilangsungkan. Menurut budaya Buddhis, tugas mendahului hak. Biarlah kedua pihak tidak mengalah, namun gunakan kebijaksanaan mereka dan capailah keputusan yang terbaik. Jika tidak, akan timbul saling mengutuk dan penolakan-penolakan lainnya. Dan lebih sering lagi hal ini juga diturunkan kepada anak-anak mereka.

 

  1. Tugas terakhir adalah untuk mewariskan pada anak-anak mereka, pada saat yang tepat, warisan mereka Orangtua tidak hanya mencintai dan merawat anakanak mereka selama anak-anaknya masih berada dalam pengawasan mereka, namun mereka juga membuat persiapan bagi kenyamanan dan kebahagiaan masa depan anak-anaknya. Mereka menabung harta dengan susah payah dan dengan sukarela mewariskannya kepada anakanak mereka

 

 

 

 

Ajaran Cinta Kasih Ajaran

Buddha merupakan ajaran cinta kasih, dan orangtua tidak boleh lupa untuk memperlihatkan kepada anak-anaknya sepertidemikian.

Sang Buddha mengajarkan Dhamma atas dasar cinta kasih pada dunia. Orangtua harus melaksanakan “Empat Kediaman Luhur Pikiran” yang diajarkan oleh sang Buddha dalam membesarkan anak-anak mereka. Keempat Kediaman tersebut adalah:

  1. Metta – cinta kasih atau kehendak baik
  2. Karuna – kasih sayang
  3. Mudita – kesenangan simpati
  4. Upekkha – keseimbangan atau “pikiran yang tenang”

 

Keempat Kediaman Luhur ini, jika dilatih dengan baik akan membantu orangtua tetap tenang dalam menghadapi masa-masa sulit saat membesarkan anak. Inilah cara yang benar atau ideal dalam bertingkah laku terhadap makhluk hidup.

Keempat sikap pikiran ini memberikan kerangka pikiran bagi segala situasi yang muncul dari hubungan sosial.

Mereka merupakan pemecah kebekuan yang baik bagi ketegangan, pencipta kedamaian yang baik dalam konfl ik sosial, obat yang baik bagi luka yang diderita dalam usaha bertahan hidup; penyeimbang bagi jurang sosial, pembangun komunitas yang harmonis, alarm bagi kebajikan yang telah lama tertidur, penghidup kebahagiaan dan harapan yang telah lama dibuang, penyokong bagi persaudaraan manusia melawan dorongan egoisme.

Mungkin tantangan terbesar yang harus dihadapi oleh pasangan suami istri adalah cara membesarkan anak yang baik. Ini merupakan aspek lain yang membedakan kita dari binatang.

Saat seekor binatang merawat anaknya dengan pengorbanan yang besar, orangtua manusia memiliki tanggung jawab yang lebih besar, yakni membentuk watak anaknya.

Sang Buddha telah berkata bahwa tantangan terbesar manusia adalah untuk mengendalikan pikirannya. Bahkan sejak seorang anak dilahirkan, dari balita menuju remaja hingga dewasa, orangtua bertanggung jawab penuh dalam perkembangan pikiran sang anak. Baik seorang pribadi manusia menjadi seorang warga masyarakat yang baik atau tidak sepenuhnya tergantung pada tingkatan yang mana pikirannya telah berkembang.

Dalam ajaran Buddha, orangtua yang baik dapat melatih empat kebajikan luhur untuk menopangnya dan untuk menyelesaikan frustasi yang besar yang sangat berkaitan dengan hubungan orangtua. Ketika seorang anak masih balita, tidak dapat menjelaskan keinginannya, cukup sering ia ekspresikan dengan marah dan menangis. Orangtua yang melaksanakan kebajikan pertama yakni cinta kasih dapat mempertahankan ketenangan dalam dirinya untuk terus mencintai anak-anaknya di saat-saat yang paling sulit.

Seorang anak yang menerima pengaruh cinta kasih ini akan dengan sendirinya belajar untuk memancarkannya pada orang lain secara spontan. Saat anak beranjak remaja, orangtua harus melatih Karuna atau kasih sayang terhadapnya.

Masa remaja merupakan masa yang sangat sulit bagi anak-anak. Mereka mulai beranjak dewasa dan karenanya cenderung memberontak, dengan sejumlah besar kemarahan dan frustasi diarahkan pada orangtua mereka.

Dengan memberikan kasih sayang, orangtua akan mengertibahwa pemberontakan ini merupakan bagian alami dalam masa pertumbuhan anak dan bahwa sang anak tidak bermaksud untuk benar-benar melukai orangtuanya. Seorang anak yang telah menerima cinta kasih dan kasih sayang akan dengan sendirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak mengarahkan kebencian dalam dirinya sendiri, sang anak hanya akan memancarkan cinta kasih dan kasih sayang kepada orang lain. Sesaat sebelum beranjak dewasa, seorang anak mungkin akan mendapatkan beberapa keberhasilan dalam ujian dan kegiatan-kegiatan lainnya di luar rumah. Inilah saatnya bagi orangtua untuk melatih kebahagiaan simpatik.

Terlalu banyak orangtua dalam masyarakat modern yang menggunakan anakanaknya untuk bersaing dengan kerabat-kerabatnya. Mereka menginginkan anaknya melakukan yang terbaik atas dasar ego; semuanya ini karena mereka ingin orang lain berpikiran yang baik tentang mereka. Dengan melatih kebahagiaan simpatik, orangtua akan turut gembira dalam keberhasilan dan kebahagiaan anak-anaknya tanpa maksud tersembunyi.

Mereka bahagia hanya karena anak-anaknya bahagia! Seorang anak yang telah diberikan pengaruh kebahagiaan simpatik ini akan dengan sendirinya menjadi seorang pribadi yang tidak iri dengan orang lain dan tidak terlalu bersaing dengan berlebihan. Pribadi sepertidemikian tidak akan memiliki ruangan dalam hatinya untuk egoisme, keserakahan maupun kebencian.

 

Orangtua dalam Masyarakat Modern

Salah satu hal yang paling menyedihkan dalam masyarakat modern adalah kurangnya cinta kasih orangtua yang diderita oleh anak-anak di negara-negara maju. Ketika sepasang kekasih menikah, mereka biasanya berencana untuk memiliki sejumlah anak.

Dan ketika sang anak lahir, orangtua secara moral wajib untuk merawatnya dengan segenap kemampuan mereka.

Orangtua bertanggung jawab tidak hanya dalam pemenuhan kebutuhan materi sang anak saja; namun aspek spiritual dan psikologis juga sangatlah penting. Pemenuhan kenyamanan materi merupakan hal kedua terpenting jika dibandingkan dengan pemenuhan cinta kasih dan perhatian orangtua. Kita mengenal banyak orangtua dari keluarga yang kurang mampu yang telah membesarkan anakanak mereka dengan baik dan penuh cinta kasih. Sebaliknya, banyak keluarga kaya raya yang telah memenuhi segala kenyamanan materi bagi anak-anaknya namun telah melupakan cinta kasih orangtua pada anak-anaknya. Anak-anak sepertidemikian hanya akan tumbuh tanpa disertai perkembangan psikologis dan moral yang memadai. Seorang ibu harus mempertimbangkan masak-masak apakah ia akan tetap berkarir sebagai ibu pekerja atau menjadi seorang ibu rumah tangga yang memberikan segala kasih sayang dan perhatian demi tumbuh kembang anaknya. (Anehnya, beberapa ibu modern juga dilatih untuk memegang senjata dan senjata mematikan lainnya saat mereka harus mengemong anakanaknya dan melatih mereka untuk menjadi masyarakat yang baik dan taat pada hukum.) Tren dan sikap modern dari ibu-ibu pekerja terhadap anakanak mereka juga cenderung mengikis sikap-sikap saleh yang diharapkan dapat ditunjukkan oleh anak-anak kepada orangtua mereka. Penggantian pemberian ASI (air susu ibu) dengan botol susu juga dapat menjadi faktor lain yang telah berpengaruh dalam pengikisan kasih sayang antara ibu dan anak.

Ketika seorang ibu menyusui anaknya dan menggendong anak-anaknya dalam pangkuannya, kasih sayang antara ibu dan anak akan lebih besar dan pengaruh yang dimiliki sang ibu demi tumbuh kembang anaknya, akan lebih nyata.

Dalam lingkungan sepertiitu, sikap saleh anak, keutuhan keluarga dan kepatuhan anak akan terus terpupuk. Cara tradisional ini adalah demi kebaikan dan kesejahteraan sang anak. Semuanya kembali pada sang orangtua, terutama sang ibu, untuk melakukannya. Sang ibu bertanggung jawab dalam tumbuh kembang anaknya apakah menjadi baik atau sebaliknya. Ibu dapat mengurangi kenakalan remaja!

 

Pengawasan Orangtua

Banyak orangtua yang berusaha tetap mengawasi anakanak mereka yang telah menikah. Mereka tidak memberikan kebebasan terhadap anak-anaknya dan cenderung untuk ikut campur dalam kehidupan pasangan suami istri muda.

Ketika orangtua berusaha untuk mengendalikan anak mereka yang telah menikah dan menginginkan anak mereka untuk mengikutijalan kehidupan mereka dengan sama persis, hal ini akan menimbulkan banyak kesalahpahaman antara dua generasi dan demikian pula ketidaknyamanan antara kedua pasangan.

Orangtua mungkin melakukannya dalam niat yang baik berdasarkan pada cinta dan kemelekatan mereka dengan anakanaknya, namun dengan melakukan hal sepertiitu, mereka mengundang lebih banyak masalah ke dalam diri mereka dan anak-anaknya.

Orangtua harus mengizinkan anak-anak mereka untuk memikul tanggung jawab atas kehidupan dan keluarga mereka sendiri. Sebagai contoh: jika beberapa benih ditanam di bawah sebuah pohon, tanaman dapat tumbuh setelah beberapa saat. Namun jika Anda ingin agar tanaman-tanaman itu tumbuh dengan subur dan independen, Anda harus menanam benihnya di lapangan terbuka agar dapat tumbuh terpisah, sehingga mereka tidak terhalangi oleh bayangan sang pohon induk.

Orangtua semestinya tidak mengabaikan kebijakan kuno yang didasarkan pada nasehat yang diberikan oleh guru-guru spiritual, orang-orang bijak dan para tetua yang telah mengembangkan pengetahuan dunia melalui kehidupan mereka sendiri.

 

Perceraian

Perceraian merupakan isu kontroversial di antara para pengikut berbagai ajaran agama yang berbeda. Beberapa orang percaya bahwa pernikahan telah diatur dalam surga, sehingga tidaklah benar untuk mengakui suatu perceraian. Namun, jika seorang suami dan istri benar-benar tidak dapat hidup bersama, daripada menjalani hidup yang menyedihkan dan menutupi lebih banyak kecemburuan, kemarahan dan kebencian, mereka semestinya memiliki kebebasan untuk berpisah dan hidup dengan damai.

 

Tanggung Jawab Terhadap Sang Anak

Bagaimanapun juga, perpisahan sepasang suami istri harus dilakukan dalam kondisi saling memahami dengan mengambil solusi-solusi yang rasional dan tidak dengan menciptakan lebih banyak kebencian. Jika sepasang suami istri memiliki anak, mereka harus berusaha untuk membuat perceraian tidak menyebabkan trauma mendalam bagi sang anak dan membantu mereka untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru.

Dan sangatlah penting untuk memastikan bahwa masa depan dan kesejahteraan anak-anak mereka akan dipenuhi.

Bukanlah sikap manusiawi jika sepasang suami istri meninggalkan anak anak mereka dan membiarkan mereka menjalani kehidupan yang menyedihkan.

 

Pandangan Agama Buddha

Dalam agama Buddha, tidak ada hukum yang menyatakan bahwa seorang suami dan istri tidak boleh berpisah jika mereka tidak dapat hidup bersama dengan harmonis. Tetapi, jika orangorang mengikutinasehat yang diberikan sang Buddha untuk memenuhi tugas mereka satu sama lainnya, maka, kejadian yang tidak diinginkan sepertiperceraian atau perpisahan tidak akan pernah terjadi.

Di masa lalu, di mana nilai-nilai religius sangat dihormati, terdapat usaha yang lebih besar dari sepasang suami istri – di Timur sebagaimana pula di Barat – untuk mencapai suatu pemahaman bersama untuk menciptakan hubungan bahagia berdasarkan pada rasa saling menghormati, cinta, dan penghargaan satu sama lainnya.

Para pasangan suami istri mengembangkan dan menjadikan pernikahan mereka sebagai hal yang istimewa yang mereka hargai dalam hati mereka. Kasus-kasus perceraian sangatlah jarang dijumpai, dan dianggap memalukan karena hal itu menunjukkan keegoisan salah satu pihak atau yang lainnya.

Merupakan kenyataan bahwa hingga saat ini kasus-kasus perceraian masih jarang dijumpai di dalam negara-negara Buddhis. Hal ini terutama dikarenakan para pasangan suami istri mempertimbangkan tugas dan kewajibannya satu sama lainnya, dan juga pada dasarnya perceraian tidak diterima oleh komunitas masyarakat secara keseluruhan.

Dalam banyak kasus, ketika pasangan suami istri dalam permasalahan, para tetua masyarakat biasanya berkumpul dan memainkan peranan penting dalam penyelesaian masalah tersebut. Sayangnya, dalam masyarakat modern saat ini, perceraian telah menjadi hal yang lazim.

Di beberapa negara hal ini bahkan menjadi suatu tren kebiasaan. Daripada melihat perceraian sebagai suatu hal yang memalukan atau suatu kegagalan dalam menjalani hidup mereka, beberapa pasangan muda kelihatannya bangga akan perceraian itu.

Penyebab utama kegagalan pernikahan dalam masyarakat modern adalah penyalahgunaan dan terlalu banyak kebebasan serta sikap individualisme pasangan masing-masing. Harus ada batasan dalam kehidupan pribadi mereka, atau baik sang suami maupun sang istri akan tersasar dengan mudah.

 

Sumber :

RUMAH TANGGA BAHAGIA
Dalam Sudut Pandang Agama Buddha
Alih Bahasa : Upa. Sasanasanto Seng Hansun

Vidyāsenā Production
Vihāra Vidyāloka

tags: , , , ,

Related For Rasa Aman, Hormat dan Tanggung Jawab dalam Keluarga by Ven K. Sri Dhammananda