Pertanyaan seorang petugas Keamanan Parkir

Kamis, Desember 14th 2017. | Artikel

Sebagai pembimbing spiritual, saya terbuka berdiskusi dengan siapa saja. Tidak memandang status, suku, ataupun agamanya. Bantuan pengertian ini semata hanya bertujuan, agar mereka mendapatkan jawaban permasalahan hidupnya, sesuai kebenaran.

Ketika itu saya audiensi dengan Bapak Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal untuk gema Waisak. Karena panitia diterima setelah makan siang, sesampainya disana tidak dapat parkir. Akhirnya, umat mencari parkir di gedung sebelahnya.

Karena belum mengetahui medan parkir, akhirnya mobil diberhentikan di pinggir. Kami tidak turun dari mobil. Sambil menunggu, panitia hanya berbincang saja di dalam mobil, mengenai gema Waisak. Kami menggunakan mobil dengan kaca yang cukup gelap. Mungkin orang akan kesulitan melihat dari luar, tapi dari dalam kami dapat melihat.

Saat kami sedang berbincang, ada umat yang terheran-heran. Menurutnya, ada seorang petugas keamanan parkir yang terus menempel di pintu tempat di mana saya duduk. Saya duduk di depan, samping umat yang menyetir. Menurut pantauan umat, petugas ini mondar-mandir sambil melirik terus ke arah saya. Mendapat cerita ini, umat yang menyetirkan mobil, mengira karena kesalahan parkir. Maka ia membuka kaca mobil. Petugas itu menghampirinya.

Umat itu bertanya, “Pak, parkir di sini boleh?”

Petugas itu menjawab, spontan, “oh, boleh, boleh, pak!” lalu petugas itu berkata lagi, sambil kepalanya merunduk ke arah dalam mobil, dan menyapa saya, “Maaf, pak, Bapak Sang Buddha ya?”

Mendapat teguran seperti itu, rasanya ingin tertawa. Tapi kemudian saya paham yang dimaksud itu adalah Bhikkhu Buddha.

Saya menjawab, “Iya, ada apa Pak?”

“Anu, Pak. Apa boleh saya bertanya? Mau tukar pikiran gitu, Pak.” kata petugas itu dengan logat jawanya. Lantas saya menjawab, “Iya, boleh silahkan.” petugas itupun lantas berputar menuju sisi mobil, tempat saya duduk. Dan, kaca pun terbuka. Kami dapat berkomunikasi lebih dekat.

Bapak petugas keamanan parkir itu memulai percakapan dengan kalimat, “Begini Pak. Saya itu selalu diikuti makhluk halus, makhluknya jahat. Saya harus bagaimana, Pak?”

Inilah pertanyaan umum yang terjadi di masyarakat. Saya mesti menjawab, tapi dengan bahasa yang masuk di pikirannya.

“Gini ya mas, panggil mas aja ya, dari Jawa juga kan?”

“Inggih pak,” jawabnya.

“Perasaan bahwa ada makhluk yang mengikuti kita itu sebenarnya yang jahat, mas. Belum tentu ada makhluk yang mengikuti kita.” baru berkata seperti ini, langsung dibantah,

“Tapi bener itu Pak, katanya naga.”

Saya menambahkan, “Kalaupun itu benar, mas, ada makhluk yang mengikuti, belum tentu jahat. Apalagi mau menjahati kita. Itu belum tentu.”

Sampai di sini, dia mengangguk-angguk.

Penjelasanpun disambung, “Kalo mas mau caranya supaya makhluk itu tidak jahat dengan kita, saya kasih tahu caranya.”

Petugas itu terlihat antusias sekali, “Iya, Pak. Mau..!”

“Begini, mas. Pertama, jangan takut. Setelah tidak takut, diri kita akan tenang. Sesekali, kalau ada waktu, mas rileks kan seluruh tubuh dan pikiran. Beri waktu untuk rileks, terutama buat pikiran. Jangan bebani pikiran dengan macam-macam keinginan yang belum terjadi, dan jangan mengingat masalah yang sudah terjadi. Setelah fisik ini rileks, pikiran juga rileks, rasa rileks itu akan membuang ketegangan. Kita jadi tenang berpikir, jernih melihat masalah. Kalau sudah tenang, setiap mas berbuat baik, entah habis shalat atau sedekah, coba mas merenung dalam diri. dan mengarahkan pikiran dengan berpikir, semoga semua makhluk berbahagia. Kalau ini dilakukan terus menerus, makhluk seram seperti apapun tidak berani menjahati kita. Kita jangan menuduh dulu dia jahat. Karena tidak semua makhluk itu jahat. Ada yang baik juga, mas.” begitu penjelasan saya.

Petugas itu berkata, “Oh, gitu ya, berarti yang pertama tidak boleh takut ya, Pak. Tapi bener ndak, Pak? Kalau makhluk yang ikut saya itu, tidak jahat.”

Mengatasi orang dalam kondisi labil, harus diberi penegasan.

Saya katakan, “Tidak, Mas…! Malah kalau orang tertentu kan mengatakan naga itu bagus…, masak makhluknya aja belum tentu ada, sudah dikatakan jahat toh mas?”

Petugas itu pun tersenyum, sambil mengucapkan terima kasih.

Itulah fakta di dalam hidup ini, manusia kadang menakut-nakuti dirinya sendiri…

✍🏼 Bhante Abhakaro

tags: , ,

Related For Pertanyaan seorang petugas Keamanan Parkir