Perlindungan oleh YM. Bhikkhu Sri Pannavaro, Mahathera

Sabtu, Januari 20th 2018. | Artikel

Sumber Gambar : Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya 

Dua hari yang lalu, pada saat bulan purnama di bulan Juli, umat Buddha  memperingati hari raya Asadha. Kalau pada waktu Waisak Pangeran  Siddharta atau Pertapa Siddharta mencapai Kebuddhaan dan menjadi Buddha,  menemukan Dhamma atau Dharma, dua bulan kemudian Sang Buddha  membabarkan Dhamma yang telah beliau dapatkan kepada dunia. Untuk  yang pertama kali, kesempatan yang sulit itu memang tidak didengar oleh  banyak orang. Hanya lima orang, yang dulunya menjadi sahabat Pertapa  Siddharta sewaktu bertapa di Hutan Uruvela.

Sehari setelah bulan purnama di bulan Juli, para Bhikkhu mulai menjalani  masa Vassa selama tiga bulan. Biasanya masa vassa di India berlangsung  ditengah musim hujan. Musim hujan itu kalau panjang empat bulan, kalau  pendek tiga bulan. Di Indonesia, Juni, Juli sampai Agustus itu musim panas,  tetapi kali ini rasanya masa vassa itu seperti masa vassa yang tenanan, masa  vassa yang sungguh-sungguh karena masih turun hujan, mungkin nanti  sampai bulan Agustus masih turun hujan. Musim hujan dimulai bulan  September dan sebagaimana tiap-tiap tahun para Bhikkhu juga akan  memberikan bimbingan atau pelajaran Dhamma selama musim vassa.

 

Saudara-saudara, rasanya bimbingan Dhamma dalam masa vassa kali  ini akan menjadi istimewa, akan menjadi sangat membantu, karena kita penuh  dengan kesulitan-kesulitan, beras menjadi mahal, minyak goreng menjadi  mahal, banyak PHK, banyak kerusuhan-kerusuhan. Saya pikir ya kita semua  ini bersiap-siap sajalah, meskipun tidak di medan perang, negara kita memang  tidak dalam kedaan perang, tetapi kita bersiap-siap saja seperti kita  menghadapi perang.

 

Apa yang kita persiapkan? Ya memang, sekali lagi yah, sekali lagi…  sekali lagi bukan dalam keadaan perang… bukan sama sekali. Tetapi kesulitankesulitan  yang kita hadapi ini ya lebih baik kita bersiap-siap seperti kita  menghadapi keadaan yang perang begitu. Saudara-saudara, apa yang bisa  kita lakukan ya kita membuat persiapan, meskipun mungkin keadaan sudah  pulih, keamanan sudah pulih, barang-barang sudah tidak mahal.

Sesungguhnya juga kita diajarkan untuk bersiap-siap. Bersiap-siap  karena kematian itu bisa datang setiap saat. Bukan hanya kematian itu datang  kalau saudara sedang sulit, tetapi meskipun dalam keadaan aman, makmur,  kematian itu bisa juga datang setiap saat. Dalam beberapa kali kesempatan  Sang Buddha mengatakan kematian datang setiap saat, dan kalau kematian  itu sudah datang, maka tidak ada tawar-menawar dengan kematian. Kita  menawar kematian itu sulit yah. “Ah, nanti dululah, umur saya kan masih  muda, ya menikah saja belum, kok kematian mau datang ini bagaimana”.  Tidak mungkin! Kita tidak bisa negosiasi dengan kematian. Kalau kematian  itu datang… ya datang.

Tetapi Saudara, kita jangan terlalu takut dengan kematian. Kalau nanti  kita terlalu takut dengan kematian, kita akan mengisi pikiran kita dengan  kecemasan, kesedihan dan kekhawatiran. Kita perlu melakukan persiapan  karena kematian itu pasti datang, tetapi kita tidak perlu membuat bayangan  sendiri: “Jangan-jangan besok saya mati, jangan-jangan nanti malam saya  mati”. Bayangan atau prasangka kita itu tidak akan tepat, kecuali Sang  Buddha. Sang Buddha itu sudah bisa menentukan: tiga bulan kemudian Saya  akan meninggal, dan persis tiga bulan, tidak kurang sehari dan tidak lebih  sehari, Sang Buddha meninggal.

 

Saudara-saudara, persiapan apakah yang harus kita lakukan? Apalagi  dalam keadaan yang sulit seperti ini. Ada dua macam persiapan: persiapan  mental atau persiapan pikiran kita dan persiapan fisik. “Sekarang barangbarang  mahal, Bhante. apalagi alat-alat elektronik dan segala macam”.  Saudara, pandai seperti apapun kita, punya teori yang sangat jitu, atau mungkin  juga kita jadi pejabat, kita tidak bisa mengubah Indonesia ini pulih dalam  waktu satu minggu; apalagi dalam waktu dua, tiga hari. Sulit! Faktor  penyebabnya itu banyak sekali Apalagi kita orang kecil, tidak mempunyai  teori dan juga tidak mempunyai wewenang. Kita tidak mungkin mengubah  keadaan ini jadi beres.

 

Kalau kita tidak mungkin mengubah keadaan ini menjadi beres, lalu  bagaimana? Karena kita tidak mempunyai kemampuan untuk mengubah  keadaan ini menjadi segera beres sekarang, ya tidak ada pilihan lain, kita  harus menyesuaikan diri kita. Apa yang saya maksud dengan menyesuaikan?  Kalau memang barang-barang itu mahal, ya kita harus mengubah sikap. Kita  harus hemat. Kita harus hati-hati melakukan pengeluaran. Hati-hati  menggunakan telepon, misalnya. Menghemat listrik, makan sederhana. Karena kita tidak bisa mengubah keadaan, maka kita yang harus menyesuaikan diri  dengan keadaan. Kalau kita tidak mau menyesuaikan dengan keadaan, ya,  kita akan bertambah sengsara.

Memang sulit, sulit sekali. Kalau kita biasa menggoreng dengan minyak  Bimoli yang enak itu yah, terus sekarang pakai minyak kelapa bekas, sudah  tiga puluh tahun lupa dengan minyak itu. Sekarang balik lagi, ya sudah! Kita  harus menyesuaikan diri. Justru kekuatan manusia itu adalah mampu  beradaptasi. Bagaimana bisa mampu beradaptasi?

Manusia bisa mampu beradaptasi itu karena, dan akan cepat beradaptasi,  kalau dia mengerti Anicca —ketidak-kekalan. Kalau dia tidak mau menerima  perubahan, kalau dia mengingkari ketidakkekalan, dia sulit sekali melakukan  penyesuaian.

Seorang guru besar sosiologi memberitahukan kepada saya: “Apakah  kekuatan manusia yang paling besar, Bhikkhu, yang tidak dipunyai oleh  binatang?” Kekuatan manusia yang paling besar itu adalah manusia bisa  beradaptasi, binatang tidak bisa. Dan manusia yang bisa beradaptasi itu,  menyesuaikan diri, fisik dan mental. Coba sekarang saudara membawa  binatang dari Canada, sebelah Utara Amerika yang dingin. Saudara pelihara  di sini, ia akan mati. Tetapi manusia bisa beradaptasi, dari sini pindah ke  Amerika, pindah ke Canada, orang daerah dingin pindah ke Indonesia yang  panas, bisa! Meskipun sulit, bisa! Fisik manusia bisa beradaptasi, binatang  sulit! Ada yang bisa, tetapi tidak semua.

 

Mental kita juga bisa beradaptasi. Saya mendengar cerita zaman Belanda  begini-begini, zaman Jepang begini-begini, rakyat bisa beradaptasi. Itulah  kekuatan manusia yang terbesar. Beradaptasi itu gampangnya kata:  menyesuaikan diri. Sudah tentu kita mempunyai pedoman-pedoman di dalam  perbuatan kita. Bukan menyesuaikan diri melakukan kejahatan, melakukan  hal-hal yang tercela. Nah, saudara-saudara, kalau kita tidak bisa mengubah  lingkungan kita, tidak bisa mengubah negara ini sesegera mungkin, kita harus  menyesuaikan diri dan kita tidak usah ikut berteori bagaimana krisis moneter  ini kok menjadi krisis kepercayaan. Bagaimana arahnya reformasi ini, sudahlah  biar saja, itu urusannya satrio-satrio yang di Jakarta sana. Wong cilik ini  tidak usah berpikir begitu. Kita melakukan apa yang kita mampu untuk bisa  bertahan dan membantu sekeliling kita. Nanti kalau kita ikut-ikutan, wong  cilik ini bukan saja teorinya tidak cocok, nanti menyebutkannya saja sulit. “Bhante, katanya sekarang ini anu, lagi krisis monitor”. Ah monitor oh  ya, ya, ya krisis monitor memang sekarang ini. Maksudnya moneter, yang  diucapkan jadi monitor. Katanya: ”Anu, Bhante, sekarang ini orde baru sudah  tidak laku”. Sekarang ini katanya zaman informasi, oh iya, ya, ya, zaman  informasi. Maksudnya itu reformasi, tapi keliru menyebutkan informasi. Ya,  ya, ya, jadi kita tidak usahlah ikut-ikutan. Kita bukan Emil Salim, kita bukan  Kwik Kian Gie, ya, kalau kita hanya ikut baca ya tidak apa-apa, tetapi kalau  kita ikut membuat teori, ya nanti tidak cocok, nanti menyebutkan istilah yang  aneh-aneh itu saja kita keliru yah.

 

Korupsi, kolusi , nepotisme. Saudara-saudara, ini ya apa ini. Nepotisme  kok korupsi, kolusi, bahkan kalau yang tidak mengerti seperti pada waktu  perayaan Asadha di Mendut kita bisa berpikir korupsi, kolusi, itu hanya  orang-orang gede saja. Kita sendiri, rakyat kecil tidak. Apa betul kita sendiri  tidak korupsi, kolusi, nepotisme? “Yang korupsi itu pejabat-pejabat, Bhante.  Orang-orang gede saja, kita sih tidak”. Ambil untung sedikit-sedikit itu ya  korupsi. Itu korupsinya orang desa. Nanti kalau ada Panitia Waisak, peresmian  vihara, yang penting ya kerabatnya dulu, anak familinya maju dulu, tidak  peduli bisa kerja atau tidak, pokoknya kerabatnya dibawa dulu, itu nepotisme  juga. Ambil untuk itu juga korupsi.

 

Saudara-saudara, saya ingin menggunakan kesempatan ini dengan  memberikan pegangan kepada saudara-saudara: Apa yang karus kita punyai  dalam keadaan yang tidak menentu seperti sekarang ini.

Sebagai umat Buddha tidak ada lain karena saya seorang Bhikkhu tentu  yang saya tahu adalah ajaran Agama Buddha. Ajaran agama lain saya mengerti,  tetapi tidak banyak dan saya tidak pada tempatnya untuk menjelaskan agama  lain. Adalah kewajiban saya untuk menjelaskan agama Buddha. Apakah  pegangan yang dipunyai oleh, dan harus dipunyai oleh setiap umat Buddha  dalam menghadapi bermacam-macam masalah yang tidak menentu, yang  menimbulkan ketakutan, was-was, gelisah, khawatir, dan sebagainya. Tidak  lain adalah Triratna. Tidak ada pilihan lain, yaitu Buddha, Dhamma atau  Dharma dan Sangha.

Setiap umat Buddha melakukan sembahyang, berupacara. Pada waktu  kita akan mulai ber-Dhamma class, ini kita juga melakukan pembukaan singkat  sekali. Semuanya tidak lain ditujukan kepada Triratna —Buddha-Dhamma-  Sangha. Setiap umat Buddha juga hafal dengan Buddham Saranam Gacchami, Dhammam Saranam Gacchami, Sangham Saranam  Gachhami (Aku berlindung kepada Buddha-Dhamma-Sangha). Kalimat itu  jelas sekali. Aku berlindung kepada Buddha-Dhamma-Sangha. Dengan ingat  kepada pelindung kita.

Dengan menyatakan berlindung kepada pelindung kita secara psikologis,  secara kejiwaan, kita ini punya pelindung. Benar itu, Saudara, kita ini punya  pelindung, sehingga ada sesuatu yang kita miliki untuk menghadapi yang  mengkhawatirkan itu. Kita khawatir bermacam-macam masalah,  ketidakamanan, ketidaktentraman, bencana sampai mungkin mengancam  kehidupan kita. Ya, kita punya polisi, punya tentara, punya benteng, punya  gembok, punya kunci, punya teralis, itu pelindung fisik. Kita kan juga perlu  pelindung mental.

Mental kita perlu perlindungan. Buddha, Dhamma dan Sangha itulah  pelindung mental kita. Secara kejiwaan kita akan tenang. Aku ini punya  pelindung kok, bukan meraba-raba. Kita ini punya pelindung, Saudara.  Mengapa Buddha-Dhamma-Sangha itu dijadikan pelindung. Mengapa kok  tidak sesama manusia, mengapa Buddha-Dhamma-Sangha. Saudara, karena  Buddha-Dhamma-Sangha itu sudah bersih dari keserakahan, kebencian dan  kegelapan bathin. Dewa-dewa atau orang lain bisa melindungi kita, mungkin  saja dia melindungi dengan tulus, tetapi mungkin juga dia bisa melindungi  dengan pamrih, minta balasan. Paling tidak ya dia mengharapkan ucapan  terima kasih, pujian. Kalau dia tidak mendapatkan itu dia bisa kecewa karena  dia sudah berkorban melindungi yang harus dilindungi.

Karena mereka masih mempunyai keserakahan, meskipun mungkin tidak  besar, mereka juga mungkin masih mempunyai kebencian, masih mempunyai  pandangan-pandangan yang salah. Tetapi kalau Buddha, Dhamma, dan Sangha  tidak mempunyai keserakahan, tidak mempunyai kebencian, tidak mempunyai  pandangan yang salah. Buddha, Dhamma dan Sangha tidak membutuhkan  imbalan dari kita. Imbalan apapun, tidak butuh imbalan dipuji, juga tidak.  Nah nanti kalau tidak dipuji, ndak akan melindungi kita, tidak begitu. Apalagi  imbalan-imbalan yang kasar, seperti sesaji, kemudian persembahanpersembahan,  tidak sama sekali. Saudara-saudara, sekarang yang menjadi  persolalan adalah kalau kita sudah menyatakan berlindung kepada Buddha,  Dhamma, dan Sangha, Bhante, apakah kita juga sudah bebas dari  pendertitaan? Nyatanya banyak umat Buddha yang berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha masih belum bebas dari penderitaan.

 

Benar, Saudara, kalau saudara menyatakan berlindung pada Buddha,  Dhamma dan Sangha, secara kejiwaan Saudara mempunyai pelindung, paling  tidak, pikiran kita tidak dikuasai terus-menerus oleh kekhawatiran, was-was,  gelisah, jengkel, benci dan sebagainya karena kita mengalihkan pikiran kita  kepada Buddha-Dhamma-Sangha. Pada saat kita memikirkan Buddha-  Dhamma-Sangha, kebencian, kemarahan, kekhawatiran, kegelisahan itu  dilupakan sementara. Itulah artinya perlindungan mental. Mungkin di agama  lain ada yang mengingat Maria, ada yang mengingat Yesus, ada yang  mengingat Gusti Allah, ya silakan. Bagi umat Buddha yang diingat adalah  Buddha-Dhamma-Sangha. Alasannya Buddha-Dhamma-Sangha ini tidak akan  meminta imbalan, bersih dari keserakahan, kebencian, pandangan salah, dan  sebagainya.

Mental kita mempunyai tameng, mempunyai obyek yang lain, yang mulia  sehingga mental kita tidak hanya dikuasai oleh marah, tidak menerima  kenyataan, benci, dan sebagainya. Makin sering kita memikirkan Buddha-  Dhamma-Sangha, Aku berlindung pada Buddha, Aku berlindung pada  Dhamma, Aku berlindung pada Sangha, kemarahan, kejengkelan itu  berkurang. Tetapi penderitaan kan belum selesai, Bhante. Ya, penderitan belum  selesai. Oleh karena itu Saudara, kita harus meningkatkan sikap berlindung  kita itu, tidak hanya sekedar: Aku berlindung pada Buddha, Aku berlindung  pada Dhamma, Aku berlindung pada Sangha. Kita harus meningkatkan lebih  tinggi lagi. Bagaimana caranya?

Caranya adalah belajar Dhamma. Apa yang diberikan oleh Triratna  kepada kita: Buddha sebagai seorang yang menemukan obat, Dhamma itulah  obat, Sangha itu seperti orang yang sudah mencoba obat itu, sudah sembuh  dan kemudian menjadi perawat untuk membantu kita-kita yang masih belum  sembuh.

Yang pertama mungkin saya menabung kedamainan, karena kalau saya  sakit, saya sudah kenal dokter spesialis. Dokternya itu Sang Triratna. Tetapi  itu tidak cukup! Tidak cukup hanya kenal dokter spesialis lalu damai dan  tenang. Memang itu perlu dan lebih baik dari pada tidak mengenal dokter  sama sekali. Nanti kalau betul-betul sakit, bisa kebingungan. Tetapi tidak  cukup begitu. Kita harus meningkatkan perlindungan itu dengan tidak hanya  kenal dokter saja. Kita suatu ketika harus cek, periksa, kesehatan kita. “Dok, darah saya bagaimana? Dok, kolesterol saya bagaimana?”. Dan suatu ketika  kita pasti sakit, tidak mungkin tidak, terhindar dari sakit.

Kita harus datang kepada dokter itu, mendengarkan nasihatnya dan  dokter kemudian memberikan nasihat, memberikan obat. Kita harus menurut.  Kalau kita hanya puas: wah saya sudah aman, saya kenal dokter spesialis itu.  Spesialis ginjal, spesialis penyakit dalam, spesialis hidung, telinga,  tenggorokan, spesialis apalagi yah, paru-paru dan sebagainya. Nah sekarang  kita meningkatkan tidak hanya kenal, tetapi datang tanya: “Umur saya ini  sudah kepala lima Dokter, apa yang harus saya perhatikan? Apa yang  harus saya lakukan, dan apa yang harus saya hindari?” Dokter akan  memberikan nasihat. Kita harus mendengar, mengerti dan kemudian berusaha  untuk menepati. Itulah berlindung pada Triratna. Tingkat yang selanjutnya.  mengerti apa yang diberikan Triratna.  Perasaan Saudara yang tidak senang adalah penderitaan.

 

Perasaan  Saudara yang senang itulah bahagia. Nah, perasaan senang atau tidak senang  itu kedua-duanya berbahaya. Meskipun perasaan senang itu didapat dari  berbuat baik, yang halal, yang dibenarkan oleh agama, itu juga berbahaya  karena perasaan senang hasil dari berbuat baik itu tidak kekal dan kalau tidak  disadari nanti akan membuat kita kecewa. Kecewa itu penderitaan yang baru,  buntutnya jengkel, marah. Nah, oleh karena itu sadar, sadarlah.

Merasa tidak senang, ya disadari. Merasa senang, ya disadari. “Kalau  tidak senang bagaimana Bhante?” Ya tidak usah kebakaran jenggot. Tidak  usah. Selagi tidak senang, ya sudah, kan akan hilang sendiri. Tidak usah cari  selingan pergi ke tempat yang tidak benar, tidak usah pergi ke tempat yang  remang-remang, minum-minum, tidak usah. Sadari saja. Nanti akan hilang  sendiri.

Demikian juga kalau lagi tidak puas, lagi gembira: wah lagi senang,  lagi bahagia. Meskipun itu tidak dari kejahatan, dari kebaikan. Sewaktu selesai  meditasi, rasanya bahagia, harus disadari. Bahagianya orang meditasi itu juga  tidak kekal. Jangan kaget nanti kalau hilang. Oleh karena itu Sang Buddha  mengatakan tujuan kita yang tertinggi itu bukan mencari bahagia. Memang  kita tidak ingin mendertia, ya lumrah. Orang tidak ingin menderita, ingin  bahagia Bhante. Iya, tapi bahagia itu tidak abadi. Bahagia itu hanya sepintas,  sepintas, sepintas, sebentar, sebentar, mengecewakan kita pada akhirnya.  Maka yang tertinggi itu bukan mencari kebahagiaan, tetapi mencari KEBEBASAN. Kebebasan itu mau bertindak seenaknya sendiri, bukan.  Bebas dari perangkap, tidak terperangkap oleh kebencian, tidak terperangkap  oleh kebahagiaan.

Kebencian itu bagaikan pancing, Saudara. Kalau tidak terpancing  bagaimana? Marah. Kalau menghadapi yang tidak disenangi itu: marah,  jengkel. Kalau sudah jengkel, muncul ucapan dan perbuatan yang tidak bisa  dikendalikan. Timbullah kejahatan. Itulah pancingan rasa tidak senang. Rasa  senang juga sebetulnya pancingan. Pancingannya rasa senang itu apa? Serakah,  ingin lagi, ingin lagi, ingin lagi. Wah, kalau bisa seperti begini terus, itu  pancingan kesenangan.

Pancingan yang tidak menyenangkan: kemarahan, kejengkelan,  kebencian. Pancingan yang menyenangkan: keserakahan, dua-duanya  berbahaya. Nah, Saudara-saudara sekalian, oleh karena itu marilah kita  mengasah menggunakan kesadaran. Memang susah sekali, sangat susah.  Tetapi kita harus latihan meditasi, belajar Dhamma. Pendeknya apa saja yang  kontak pada pikiran, perasaan; itu diketahui/disadari dengan dilandasi  pengertian ‘ini tidak kekal’, ‘ini tidak abadi’, ‘ini hanya sebentar’.

Selesai mendengarkan khotbah, “Wah saya mengerti, senang saya  rasanya”. Harus disadari senang itu juga tidak kekal meskipun senang itu  yang timbul dari mendengarkan khotbah. Itu juga tidak kekal, sebentar saja,  nanti akan timbul masalah lain dan hilang sudah senangnya.

Memelihara dan menjaga kesadaran, meskipun tidak bisa setiap detik,  itu sangat perlu dari kita bangun pagi sampai nanti tidur kembali. Sebanyakbanyaknya  kita menggunakan kesadaran, kita akan menyadari apa saja yang  muncul pada pikiran, perasaan kita. Itulah arti berlindung pada Buddha-  Dhamma-Sangha yang tertinggi.

 

Jadi tidak nyebut-nyebut nama Buddha-Dhamma-Sangha, Buddha-  Dhamma-Sangha, Buddha-Dhamma-Sangha. Tidak Saudara,tidak! Malah  tidak usah diingat-ingat apa yang akan dikerjakan itu. Yang dikerjakan:  mengawasi pikiran, perasaannya sendiri, itu, sebanyak mungkin. Syukur bisa  setiap saat. Supaya kita tidak terpancing, karena kalau terpancing yang tidak  menyenangkan akan timbul marah, panas. Kalau terpancing yang  menyenangkan akan timbul serakah, panas juga, sama saja.

 

Nah, kalau kita bisa menyadari dengan pengertian ketidakkekalan kita akan bebas meskipun kita belum mencapai kesucian. Detik-detik itu kita menjadi  manusia bebas. Meskipun cuman satu detik, itu berharga sekali. Satu saat  saya merasa sedih, tapi begitu ingat kesadaran, saya sadari: oh perasaan  saya sedih, ini tidak kekal. Begitu saya menyadari, saya menjadi orang bebas;  merasakan kebebasan meskipun sesaat. Jengkel saya rasanya, kok tidak enak,  wah buru-buru disadari: oh ini perasaan tidak senang sedang muncul, tetapi  ini juga tidak kekal, nanti juga lenyap. Pada saat kita menyadari itu, kita  merasa ringan, enteng dan bebas. Detik itu pula kita bebas dari kemarahan  dan kebencian. Nah, suatu ketika kita makan enak, atau angin sepoi-sepoi  menyejukkan; waduh kalau begini kok rasanya enak. Eh, hati-hati! Disadari  rasa enak ini juga tidak kekal. Pada saat itu kita bebas dari keserakahan.  Detik itu kita adalah orang yang bebas.

 

Nah, kalau Saudara bisa mempertahankan detik-detik ini terus, itulah  yang sesunggguhnya dikatakan Nibbana atau Nirvana. Kebebasan, ya memang  sukar Bhante, ya tidak apa. Meskipun kita tidak bisa menikmati Nibbana  dalam waktu yang agak lama, minimal dalam saat-saat tertentu. Di saat-saat  tertentu itu kita mencicipi apa yang dikatakan Sang Buddha sebagai Nibbhana.  Kebebasan itu seperti yang saya jelaskan itu. Itulah KEBEBASAN, tujuan  umat Buddha yang tertinggi dan itulah arti berlindung pada Triratna yang  sesungguhnya, bukan kita pakai tasbih, Buddha-Dhamma-Sangha, Buddha-  Dhamma-Sangha, Buddha-Dhamma-Sangha. Menyebut Buddha-Dhamma-  Sangha itu memang baik, tapi itu perlindungan kelas nol. Kelas nol memang  baik, dari pada tidak sekolah. Daripada memikirkan kejahatan, kegelisahan,  perkosaan, kekhawatiran, ‘kan lebih baik membawa tasbih, Buddha-Dhamma-  Sangha, Buddha-Dhamma-Sangha. Pelindung saya Buddha-Dhamma-  Sangha. Perasaan kita tenteram, tetapi kita belum bebas dari penderitaan.  Lebih lanjut, belajar Dhamma, mengurangi kejahatan, menghindari kejahatan,  berbuat kebaikan sebanyak mungkin karena ingat hukum karma. Itulah  berlindung yang lebih baik. Meskipun demikian, penderitaan masih belum  selesai karena untuk menyelesaikan penderitaan itu bukan hanya dengan  berbuat baik. Meskipun Anda berbuat baik setinggi langit, penderitaan tidak  akan terhapus. Hapusnya penderitaaaan itu adalah bagian dari kesadaran,  supaya tidak terpancing oleh perasaan yang menyenangkan. Dengan  kesadaran itulah penderitaan akan terhapuskan dan kita memperoleh  kebebasan. Itulah arti berlindung pada Triratna yang sesungguhnya.

 

Dalam keadaaan krisis seperti ini, cobalah kita meningkatkan latihan spiritual kita. Wah, nanti tahu-tahu saya ikut jadi korban mati. Bagaimana  Bhante? Bukankah kita sudah punya bekal. Bekalnya berlindung pada Triratna  dengan cara yang benar. Tahap permulaan, tahap pertengahan dan  mengembangkan kesadaran. Tidak usah khawatir. Kita mulai. Selain itu kalau  memang kita masih belum mati, mungkin matinya nanti diumur 70 atau 80,  kan kita sudah beruntung karena sekarang kita sudah mengerti bagaimana  cara berlindung yang benar; selain menghindari kejahatan, menambah  kebaikan, mempertajam kesadaran dan kewaspadaan untuk merasakan,  mencicipi kebebasan dari hawa nafsu, dari kebencian, dari keserakahan dan  sebagainya.

 

Itulah yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini. Jadi kalau umat  Buddha itu berdoa, bagaimana? Caranya ya menyadari itu tadi. Meskipun  didalam kamar kecil atau dimana saja, waktu mandi, waktu makan, rasa senang  yang muncul itu disadari, rasa yang tidak senang muncul juga disadari. Ini  akan membuat kita tenang, seimbang. Kalau senang muncul juga tidak  menggebu-gebu, kalau senang tidak muncul juga tidak sedih yang luar biasa.  “Jadi bagaimana, Bhante, kalau nonton bioskop, nonton TV?” Boleh,  Saudara. “Nonton bola bagaimana?” Boleh, boleh. “Jagonya kalah, sedih.  Bagaimana Bhante?” Ya disadari, disadari perasaan tidak senang itu. Jagonya  menang bagaimana? Wah senangnya sampai jingkrak-jingkrak. Itu juga  disadari. Senang… senang …, tidak abadi, tidak kekal. Itulah caranya kita  membebaskan diri kita.

 

Demikian juga kenangan-kenangan masa lalu yang pahit-pahit, yang  sangat pahit. Kadang-kadang kenangan/ingatan itu muncul. “Wah, kita sedih  sekali kalau teringat hal itu. Sedih sekali, Bhante”. Nah, sadari itu. Ini hanya  ingatan, ulahnya pikiran. Saya merasa sedih, rasa sedih ini tidak kekal, tidak  kekal. Maka akan mudah sekali kita membebaskan dari nostalgia-nostalgia  yang nakal-nakal itu. Kita tidak menjadi orang yang dikuasai oleh ingataningatan  dan kesan-kesan yang tidak baik. Demikianlah Saudara, cara  membebaskan pikiran kita dari gangguan-gangguan, dari problem-problem  persoalan-persoalan.***

 

Sumber :
KumpulanDhammadesana
Bhikkhu SriPannavaro Mahathera
Editor: Bhikkhu Sukhemo Mahâthera
Tahun 2001

tags: , , , , ,

Related For Perlindungan oleh YM. Bhikkhu Sri Pannavaro, Mahathera