Paticca Samuppada, Kunci Emas Ajaran Buddha

Rabu, Juli 18th 2018. | Artikel

Paticca Samuppada
(Sebab Akibat Yg Saling Bergantungan)

1. Avijja atau kebodohan (kegelapan batin) mempunyai arti ketidaktahuan secara spiritual. Meskipun Dharma itu adalah transeden, (dan yang transeden itu, karena berada di atas semua yang pembenaran) tidak mempunyai sisi yang berlawanan, dari sudut pandang keduniawian kebodohan dapat dianggap sebagai antitesis (lawan) dari Bodhi (Penerangan).
Karena Penerangan atau Kebijaksanaan Tertinggi adalah tujuan dari pengikut Ajaran, keberadaan dalam kebodohan-
dalam kerusakan Bodhi-dengan sendirinya adalah titik awal dari seluruh ajaran.
Ävijja tidak hanya berada dalam keadaan perampasan umum dari Bodhi; avijja juga secara khusus berarti ketidaktahuan pada keadaan yang saling bergantungan, Empat Kebenaran Mulia, serta prinsip-prinsip pokok ajaran Buddha-dan secara skolastik selalu didefinisikan demikian.

2. Hubungan antara avijja dan sankhära
mata rantai kedua, dapat diumpamakan sebagai hubungan antara keadaan mabuk yang menyebabkan seseorang lupa daratan dengan perbuatan-perbuatan merusak yang dilakukannya dalam
keadaan demikian.
Sankhara berarti kondisi yang diperlukan untuk menimbulkan suatu hasil tertentu-dalam hal ini agregat dari kondisi-kondisi mental yang di bawah Hukum Karma bertanggung jawab bagi terbentuknya momen pertama dari kesadaran pada kehidupan berikutnya.
Pada dasarnya, sankhara mewakili kemauan yang berasosiasi dengan suatu tingkat khusus dari pikiran. Dan karena
alasan ini, sankhara telah diterjemahkan sebagai tindakan-dengan-kehendak.
Tindakan-dengan-kehendak ini dapat berupa tindakan jasmani, ucapan, atau hanya pikiran. Tindakan-dengan-kehendak dapat berdiri sebagai yang memberikan pahala, dalam arti timbul
dari niat baik dan membawa kelahiran kembali yang baik. Atau dapat juga memberikan akibat buruk, dalam arti dilakukan dengan niat buruk dan menyebabkan kelahiran kembali yang tidak baik.
Tindakan-dengan-kehendak yang diasosiasikan dengan keadaan mental yang netral-dari sudut pandang moral-dari kaum Arahat (Skt. Arhat, P. Arahant) tidak merupakan kondisi yang akan menyebabkan timbulnya kelahiran kembali dalam lingkungan keberadaan fenomena.

3. Bergantung pada bentuk-bentuk karma dari kelahiran sebelumnya timbullah keadaan bersebab ketiga (vinñäna), atau kesadaran. Kesadaran merupakan mata rantai pertama yang menjadi milik dari kehidupan sekarang (kebodohan dan bentuk-bentuk mental merupakan mata rantai kehidupan yang lalu).
Menurut filsafat Buddha, pembuahan terjadi hanya jika penggabungan dari tiga hal berikut terjadi: ‘pertemuan’ antara
ayah dan ibu, ibu dalam masa subur, dan adanya kesadaran saat terakhir dari kehidupan sebelumnya.
Apa yang dilahirkan kembali Mengatakan bahwa sesuatu yang dilahirkan kembali itu sama dengan sesuatu yang baru
saja mati dari kehidupan sebelumnya, akan berarti eternalisme.
Mengatakan bahwa mereka adalah dua individu yang berbeda, adalah nihilisme.
Menghindari dua ekstrem ini, Buddha Gautama mengajarkan Jalan Tengah, yakni Hukum Sebab Musabab: dengan adanya ini, itu menjelma: dengan munculnya ini, itu muncul, dan
seterusnya-kelahiran pun kembali terjadi.
Kesadaran yang mulai berfungsi seketika pada pembuahan, terdiri dari kesadaran penglihatan, pendengaran, penciuman,
pengecapan, kesadaran tubuh, dan kesadaran mental. Perlu diingat, bahwa kesadaran ini adalah netral secara karma.

4. Bergantung pada kesadaran (vinñăna) muncul nama-rupa yang terdiri dari tubuh jasmani (rupa) dan tiga tumpukan mental (nama), yaitu perasaan (vedanã), pencerapan atau (sanñã), dan bentuk-bentuk mental (sankhara). Kesadaran, setelah diperhitungkan sebagai sebab’ (mata rantai ketiga), tidak dapat lagi diperinci sebagai ‘akibat’ (mata rantai keempat)

5. Bergantung pada nãma-rüpa muncul Salayatana, yaitu indra. Indra di sini terdiri dari panca indra (mata, hidung, dan sebagainya) ditambah dengan pikiran. Formulasi yang kelihatan sederhana ini menyembunyikan kerumitan dari suatu jaringan kondisi-kondisi. Näma dan pikiran, nama dan lima indra fisik, rūpa dan pikiran, dan rūpa dan lima indra fisik, semuanya berhubungan satu sama lain dengan sangat banyak cara.

6. Bergantung pada şadãyatana muncul kontak atau kesan (phassa). Nidana (mata rantai) keenam ini, yang terdiri dari enam jenis kontak mata, kontak telinga dan seterusnya), masing, masing jenisnya berisikan kombinasi dari organ pencerapan (indra), objeknya, dan kesan, hal ini tentunya suatu psikologi dasar yang mudah dimengerti.

7. Bergantung pada kesan muncul perasaan (vedana), atau sensasi, Seperti juga nidâna sebelumnya, perasaan juga terdiri dari enam jenis: hasil dari kontak mata, hasil dari kontak telinga
dan seterusnya. Nidana ketujuh ini merupakan hasil dari karma Karenanya ia dapat muncul sebagai yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan

8. Bergantung pada perasaan hasil dari karma muncul (tanha), ‘kehausan’ atau nafsu keinginan.
Enam objek ‘kehausan’ atau kerinduan adalah lima objek indra fisik ditambah dengan objek dan pikiran, Kerinduan inl
ada tiga jenis. Kerinduan pada bentuk, suatu tertentu, dan sebagainya, yang, muncul bersamaan dengan nafsu (kama-tanha), Kerinduan yang muncul berasosiasi dengan pandangan keliru
tentang keberadaan suatu diri yang kekal (bhava-tanha), Dan vibháva-tanha, kerinduan berkenaan dengan pandangan keliru bahwa diri lenyap setelah kematian.
Seperti yang akan kita lihat nanti, nidana-nidana terdiri dua Jenis: milik proses karma (karma bhava), dan milik
kelahiran kembali (utpati-bhava),
proses Kelima nidana dari kesadaran hingga ke perasaan mewakili proses kelahiran kembali dari kehidupan saat ini. Sebagai hasil proses karma dari penjelman sebelumnya, kelima nidana ini adalah dari sudut pandang moral-netral pada kehidupan sekarang: dalam arti tidak berpengaruh pada kehidupan mendatang.
Dari tanha dimulailah proses karma dari kehidupan saat ini-yang menentukan proses kelahiran kembali dari penjelmaan yang akan datang. Karena alasan ini, nidãna kedelapan juga
muncul sebagai Kebenaran Mulia Kedua: sebab dari duka.

“Wahai Biksu, apakah sebab duka itu? ‘Kehausan’ (tanhã) inilah yang menghasilkan kelahiran dan
penjelmaan kembali, yang padanya terikat nafsu dan kesenangan-kesenangan, di sana dan di sini.”
(Digha-Nikãya XXII)

Peralihan dari perasaan ke kerinduan, dari perasaan pasif ke nafsu aktif, merupakan fakta psikologis yang berdiri di belakang apa yang disebut orang Kristen sebagai kejatuhan manusia ke
dalam dosa.
Selang di antara kedua nidana ini merupakan medan pertempuran dari kehidupan spiritual. Mengalami perasaan
tetapi juga mengendalikan nafsu adalah kemenangan atas diri sendiri, yang oleh Buddha Gautama dinyatakan lebih agung dari penaklukan atas seribu orang lain seribu kali.
Menurut perumpamaan yang lain, kecanduan adalah panah beracun yang menancap di jantung, dan yang mesti dicabut terlebih dahulu sebelum seorang pengikut merestorasi dirinya ke tingkat kesucian spiritual sempurna Nirwana.

9. Jika panah tersebut tetap menancap kuat pada tempatnya, maka tingkat sebab musabab berikutnya, tak terhindarkan,
akan mengikuti: bergantung pada tanha muncul kemelekatan(upädâna).
Kemelekatan ini Ada Empat jenis: kemelekatan pada kesenangan-kesenangan indra, kemelekatan pada pandangan-pandangan, konsep-konsep, yang mellputi kepercayaan membuta,
Pendapat – pendapat tanpa dasar, dan dogma; kemelekatan pada etika(sila) Dan ketaatan eksternal (sila) dan virata itu sendiri Dan kemelekatan pada kepercayaan keliru pada keberadaan suatu diri.
Ada Hal penting Yang dibawa oleh tingkat sebab akibat ini. Melalui berbagai jenis kemelekatan intelek semuanya
merupakan turunan dari ketidaktahuan asal yang mendasari seluruh proses samsära -nidana ini menggarisbawahi teramat pentingnya Pandangan Benar, atau penalaran yang benar tentang
Dharma

1o. Bergantung pada kemelekatan muncul bhäva (menjadi) dalam arti hidup dalam, atau dilahirkan ke dalam ‘lapisan
keberadaan fenomena.
Lapisan’ atau tempat ini ada tiga, Yang terdiri dari nafsu(karma) meliputi kehadiran dari raksasa-raksasa, binatang
manusia, makhluk-makhluk neraka, hantu-hantu kelaparan dan dewa-dewa dari bidang-bidang surgawi sebelah barat. Dunia berbentuk (rüpabhava), terdiri dari kehidupan di dalam surga lapisan menengah, Dan dunia tanpa bentuk (arüpabháva), terdiri dari kehidupan dalam puncak piramida dan keberadaan surgawi tertinggi.
Harus diperhatikan bahwa “surga tertinggi” pada dunia tanpa bentuk masih berada di dalam kehidupan fenomena
Dan dengan demikian bukanlah tujuan akhir dari pengikut Ajaran.
lstilah bháva sering dipakai untuk mengartikan pembuahan,
karena dari mata rantai sebab-akibat ini dimulal kehidupan dimasa yang akan datang.

11. Bergantung pada ‘menjadi (hasil dari karma), muncul kelahiran (jati), disini tidak diartikan sebagai proses melahirkan yang sebenarnya, tetapi sebagai kemunculan dari kelima
skandha -yakni, materi/jasmani, perasaan, pencerapan, bentuk
bentuk mental, dan kesadaran sekaligus di dalam peranakan seorang ibu.

12. Bergantung pada kelahiran muncul peluruhan dan kematian (jara-marana), dengan penderitaan, kesedihan,
rasa sakit, kesengsaraan, dan keputusasaan berada dalam jajarannya.

Dikutip dari buku Sari Ajaran Buddha
Tim Penulis PVVD penerbit Dian Dharma
Edisi kedua oktober 2017.
Sumber utama : A survey of Buddhism : it’s Doctrine and method through the ages by mahasthavira sangharakshita

Download POSTER jelasnya di:
http://medancharitygroup.com/download/ Klik disini untuk download ukuran A3 (42 x 30 cm) = 9,5 MB
http://medancharitygroup.com/wp-content/uploads/2017/11/PaticcaSamuppada-A3.jpg Klik disini untuk download ukuran A4 (30 x 21 cm) = 6 MB
http://medancharitygroup.com/wp-content/uploads/2017/11/PaticcaSamuppada-A4.jpg Klik disini untuk download ukuran kecil (20 x 15 cm) = 3,5 MB
http://medancharitygroup.com/wp-content/uploads/2017/11/PaticcaSamuppada-small.jpg

Incoming search terms:

  • karena kegelapan batin munculah bentuk bentuk karma
tags: , , , , ,

Related For Paticca Samuppada, Kunci Emas Ajaran Buddha