Menjadi Umat Buddha Sejati oleh YM. Bhikkhu Khemmadhiro

Jumat, Desember 29th 2017. | Artikel

Kami berlindung kepada Sang Bhagavā.
Sang Bhagavā guru agung kami.
Dalam Dhamma Sang Bhagavā kami berbahagia.
Dengan persembahan ini,
kami memuja Sang Bhagavā, beserta Dhamma dan Sangha
(Pūjā Kathā, Kalimat Puja. Paritta Suci)
Pūjā ca pūjanīyānaṁ Etammaṅg alamuttamaṁ
Menghormat kepada orang yang patut dihormati adalah berkah utama.
(Maṅgala Sutta. Khuddakanikāya, Khuddhakapāṭha)

 

Tidak terasa satu tahun telah berlalu atau kurang lebih 365 hari telah kita lewati bersama. Kini tiba saatnya bagi kita umat Buddha kembali memperingati Hari Tri Suci Waisak (tahun baru Buddhis 2602). Tri Suci Waisak memperingati tiga peristiwa agung yang terjadi dalam kehidupan Guru Agung Buddha, yaitu peristiwa kelahiran Bodhisatta Siddhārtha di Taman Lumbini 623 SM yang kelak menjadi Buddha Gotama, kemudian pencapaian penerangan sempurna (Kebuddhaan) di Bodhgaya 588 SM dan saat wafatnya Buddha Gotama (Parinibbāna) di Kusinara 543 SM. Tiga peristiwa itu menjadi objek penghormatan (Pūjā) bagi umat Buddha dalam puja bakti Waisak di Candi, Vihāra maupun Cetiya di mana mereka berada.

Berkenaan dengan pelaksanaan puja bakti Waisak ini, saya akan menjelaskan bagaimana menjadi umat Buddha yang baik dalam melakukan penghormatan yang tertinggi kepada Buddha. Oleh karena itu, mari kita ikuti penjabaran Dhamma dalam artikel ini.

Dalam Agama Buddha terdapat empat kelompok umat Buddha (Parisā) yaitu:

  1. Bhikkhu
  2. Bhikkhuni
  3. Upāsaka
  4. Upāsika

 

Bhikkhu dan Bhikkhuni adalah umat Buddha yang melatih diri menjalankan kehidupan suci yang ditunjukkan Buddha untuk mengakhiri penderitaan. Mereka sering disebut sebagai umat Buddha Pabbajitā—yang meninggalkan kehidupan berumah tangga.

Sedangkan Upāsaka dan Upāsika adalah umat Buddha laki-laki dan perempuan yang menjalankan kehidupan keduniawian. Mereka sering disebut sebagai Gharāvāsa —umat awam perumah tangga. Ada yang menikah dan ada juga yang tidak menikah –Dalam agama Buddha seseorang tidak diwajibkan harus menikah atau harus menjadi Bhikkhu–, (semua ini tergantung pada pilihan hidup masing-masing orang).

Kata Upāsaka dan Upāsika memiliki pengertian orang yang mengenal dekat, “akrab” dengan Buddha, Dhamma dan Sangha.

Umat Buddha yang berkeyakinan kepada Tiratana dan menyatakan berlindung kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha:

Buddhaṁ saranaṁ g acchāmi,

Dhammaṁ saranaṁ g acchāmi,

Saṅghaṁ saranaṁ g acchāmi

Untuk menjadi seorang umat Buddha yang baik, bukan berarti ia harus hafal Paritta Suci, memiliki atau sering memakai aksesoris-aksesoris buddhis seperti memakai kalung liontin Buddha, kaos berlogo buddhis dan kemanapun pergi selalu membawa buku Paritta Suci, dll.

Ia hendaknya memiliki sifat dan tingkah laku yang baik. Ucapan yang ramah, sopan santun di manapun berada, memiliki pengendalian diri yang baik dalam ucapan, pikiran serta perbuatan badan jasmani. Punya malu berbuat jahat (Hiri) dan takut akan akibatnya (Ottappa).

Selain itu, sebagai umat Buddha yang baik hendaknya selalu bersemangat untuk mencegah timbulnya perbuatan buruk yang belum muncul, bersemangat untuk meninggalkan perbuatan buruk yang sudah muncul, semangat untuk memunculkan perbuatan baik yang belum mucul serta semangat untuk mempertahankan dan mengembangkan perbuatan baik yang sudah muncul.

Terus bersemangat dalam belajar dan melaksanakan Dhamma ajaran Buddha dalam keseharian. Seperti misalnya dengan rajin berdana, melaksanakan lima latihan sila (Pañcasīla) atau melaksanakan delapan sila (Aṭṭhasīla) pada saat hari Uposatha serta rajin melatih meditasi. Serta membersihkan kekotoran batin sendiri yang bersumber dari keserakahan (Loba), kebencian (Dosa) dan kegelapan batin (Moha). Dengan demikian kita menjadi seorang umat Buddha sejati.

Melakukan Pūjā yang Tertinggi

Pūjā dalam bahasa Pali berarti menghormat. Penghormatan yang dilakukan kepada orang yang patut dihormati adalah hal yang sangat baik dan merupakan berkah utama.

Sebagaimana dijelaskan di dalam khotbah tentang Berkah Utama (Maṅgala Sutta) oleh Guru Agung Buddha, yaitu:

Pūjā ca pūjanīyānaṁ Etammaṅg alamuttamaṁ

Menghormat kepada orang yang patut dihormati adalah berkah utama

Seperti misalnya menghormat kepada Buddha, Dhamma, Saṅgha, orangtua, guru, dll

(Pūjānīya-Puggala).

Dalam melakukan penghormatan kita bisa melakukannya dengan berbagai cara, seperti misalnya dengan:

  • Merangkapkan kedua tangan di depan dada (Añjalī)
  • Bersujud (Namaskāra)
  • Melakukan (Padakkhiṇā), yaitu memutari sebuah bangunan vihara, rupang Buddha, pohon Bodhi, stupa atau candi (pūjānīya-vatthu) tiga kali
  • Berdiri menyambut (Utthāna) sambil bersikap Añjalī
  • Melakukan penghormatan dengan menjaga tingkah laku (Sāmicikamma)

Melakukan hal tersebut, sebenarnya adalah latihan untuk menghilangkan “keakuan” (ego) di dalam diri sehingga menjadi orang yang rendah hati. Ia juga akan mendapatkan manfaat, berkah, dan kebahagiaan.

Ibarat seorang Petani menanam padi atau jagung di ladang, maka yang akan memetik hasil tanaman itu adalah petani itu sendiri, bukan ladangnya. Begitu pula, ibarat seorang yang berdandan menghias wajahnya di depan kaca, bukan kacanya yang akan menjadi cantik/tampan, tetapi orang yang berdandan itulah yang akan menjadi cantik/tampan dan indah.

Ada dua macam bentuk penghormatan yang Buddha ajarkan dalam Kitab Suci Aṅgutara Nikāya, yaitu: Amisa Pūjā dan Paṭi-patti Pūjā.

  1. Amisa Pūjā : Penghormatan dalam bentuk materi Hal ini bisa kita lakukan yaitu dengan memberikan persembahan berupa barang-barang materi. Seperti misalnya makanan, minuman, obat-obatan, lilin, dupa, air, bunga, dll.
  2. Paṭi-patti Pūjā: Penghormatan berupa praktik atau pelaksanaan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini bisa kita lakukan dengan melaksanakan ajaran Buddha, berlindung dengan penuh keyakinan kepada Tiratana, (Buddha, Dhamma, dan Sangha).

Bertekad untuk melenyapkan sifat-sifat jahat serta berjuang untuk mengembangkan sifat-sifat baik di dalam diri. Berdana, bertekat melaksanakan lima latihan kemoralan (Pañcasīla) atau bertekad melaksanakan delapan sila (Aṭṭhasīla), bermeditasi, melatih kesabaran, jujur, mengembangkan cinta kasih (Metta), kasih sayang (Karuna), simpati (Mudita), dan keseimbangan batin (Upekkha) yang merupakan ajaran Buddha.

Dari dua jenis penghormatan tersebut, Buddha menjelaskan bahwa bentuk penghormatan berupa praktik (Paṭi-patti  Pūjā) adalah yang tertinggi. Hal ini dijelaskan oleh Buddha dalam Mahāparinibbāna Sutta, demikian;

“Duhai Ananda, penghormatan, pengagungan, dan pemujaan dengan cara tertinggi bukanlah dilakukan dengan memberikan persembahan bunga, wewangian, nyanyian dan sebagainya. Akan tetapi Ananda, apabila seorang Bhikkhu, Bhikkhuni, Upāsaka, dan Upāsika berpegang teguh pada Dhamma, hidup sesuai dengan Dhamma, bertingkah laku selaras dengan Dhamma; maka orang seperti itulah yang sesungguhnya telah melakukan penghormatan, pengagungan, dan pemujaan dengan cara tertinggi. Karena itu, Ananda, berpegang teguhlah pada Dhamma, hiduplah sesuai dengan Dhamma dan bertingkah lakulah selaras dengan Dhamma. Den gan cara demikianlah engkau seharusnya melatih diri.”

Kita menghormati Buddha sebagai Guru yang memang pantas kita puja. Karena Buddha adalah yang Maha Suci, yang telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengeta huan serta tindak-tanduk-Nya, sempurna menempuh jalan ke Nibbana, pengetahu segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar, yang patut dimuliakan.

Umat Buddha menghormati Buddha sebagai guru mereka. Akan tetapi, rasa hormat ini tidak berarti kelekatan atau ketergantungan pada guru tersebut. Jenis hormat ini sesuai dengan ajarannya sendiri sebagai berikut:

“Wahai para Bhikkhu, walaupun seorang Bhikkhu memegang lipatan jubah-Ku dan berada di belakang-Ku selangkah demi selangkah, bila dia tamak akan objek-objek nafsu keinginan, kuat nafsunya, berpikir dengki, kotor buahbuah pikirnya, tidak memiliki perhatian, tidak mengerti, tidak terkonsentrasi, pikirannya mengembara dan indrianya tidak terkendali, maka dia berada jauh dari-Ku dan Aku jauh darinya.”

”Wahai para Bhikkhu, walaupun seorang Bhikkhu hidup seratus league (1 league = 4,8 km) dariku, namun bila dia tidak tamak akan objek-objek nafsu keinginan, tidak kuat ”Wahai para Bhikkhu, walaupun seorang Bhikkhu hidup seratus league (1 league = 4,8 km) dariku, namun bila dia tidak tamak akan objek-objek nafsu keinginan, tidak kuat nafsunya, tidak berpikiran dengki, tidak kotor buah-buah pikirnya, mantap perhatiannya, mengerti dengan jelas, terkonsentrasi, pikirannya memusat dan indrianya terkendali, maka dia dekat dengan-Ku dan Aku dekat denganya.”

— Itivuttaka 92

 

Jadi, cara mudah untuk melakukan Pūjā atau penghormatan yang tertinggi kepada Guru Agung Buddha adalah dengan cara mempraktikkan Dhamma. Lebih lanjut, dalam Aṅgutara Nikāy a kelompok lima dijelaskan bahwa:

Ada Lima hal yang merupakan sikap baik seorang umat Buddha dan ketika hal ini dilaksanakan berarti ia melakukan penghormatan yang tertinggi kepada Buddha. Lima hal itu adalah:

  1. Keyakinan kepada Tiratana
  2. Memiliki Sīla yang baik
  3. Tidak Percaya Pada Takhayul
  4. Tidak Mencari Kebenaran di Luar Dhamma
  5. Berbuat Kebajikan Sesuai Dhamma

 

 

Keyakinan Kepada Tiratana

Demikian telah dikatakan oleh Buddha dalam Itivuttaka, sebagai berikut:

“Wahai para Bhikkhu, ada tiga jenis keyakinan yang tertinggi. Apakah tiga jenis itu?”

Makhluk apa pun yang ada, yang tanpa kaki atau berkaki dua, empat atau berkaki banyak, yang memiliki bentuk atau tanpa bentuk, yang memahami atau yang tidak memahami atau yang bukan memahami pun bukan tidak memahami, dari semua ini, yang dikatakan tertinggi adalah Sang Tathagata, yang maha suci, yang telah mencapai penerangan sempurna.

Mereka yang memiliki keyakinan terhadap Sang Buddha, berarti memiliki keyakinan terhadap yang tertinggi. Dan bagi mereka yang memiliki keyakinan terhadap yang tertinggi, hasilnya pun terbaik.

Dari berbagai keadaan, baik yang tekondisi maupun yang tak terkondisi, sikap tidak melekat memliki nilai tertinggi, yaitu: berkurangnya kesombongan, hilangnya kehausan, lenyapnya ketergantungan, berhentinya lingkaran kelahiran kembali, hancurnya nafsu keinginan, tidak ada kemelekatan, berhentinya penderitaan, dan yang memiliki keyakinan terhadap Dhamma tentang ketidakme lekatan berarti memiliki keyakinan terhadap yang tertinggi, hasilnya pun terbaik.

Dari semua komunitas atau kelompok yang ada, Sangha siswa Sang Tathagata adalah yang tertinggi. Mereka adalah Ariya Sangha, yakni: makhlukmakhluk yang telah mencapai kesucian (Sotāpattimagga, Sotāpattiphala, Sakadāgāmimagga, Sakadāgāmiphala, Anāgāmimagga, Anāgāmiphala, Arahattamagga, Arahatta-phala).

Sangha siswa Sang Tathagata ini pantas menerima pemberian, perlakuan baik, persembahan, dan penghormatan. Mereka merupakan ladang kebaikan yang tiada bandingnya di dunia. Mereka yang memiliki keyakinan terhadap Sangha berarti memiliki keyakinan terhadap yang tertinggi. Dan mereka yang yakin terhadap yang tertinggi, hasilnya pun terbaik.

Di akhir pembabaran Dhamma, Buddha katakan;

“Wahai para Bhikkhu, itulah tiga jenis keyakinan tertinggi.”

 

Memiliki Sīla yang Baik

Dalam pelaksanaan Sīla, sebagai seorang umat Buddha perumah tangga dapat melaksanakan lima latihan kemoralan (Pañcasīla). Diantaranya adalah bertekat melatih diri untuk tidak membunuh makhluk hidup, tidak mencuri, tidak berbuat asusila/selingkuh, tidak berbohong dan tidak mabuk-mabukan serta meminumminuman beralkohol atau mengonsumsi obat-obatan terlarang.

Sedangkan para Bhikkhu berusaha untuk melaksanakan 227 Pāṭimokkhasīla. Seorang Bhikkhu diharapkan menjalani empat jenis moralitas utama yang secara keseluruhan disebut Sīla V isuddhi (kemurnian moralitas) .

Pertama Pāṭimokkha Sīla, pelanggaran besar yang berhubungan dengan perbuatan asusila, kekejaman, membahayakan, dan bersifat keakuan.

Kedua IndriyasaṁvaraSīla, moralitas yang berhubungan dengan penahanan indra.

Ketiga Ajīvapārisuddhi Sīla, moralitas yang berhubungan dengan kemurnian penghidu pan.

Keempat Paccayāsannissita Sīla, moralitas yang berhubungan dengan penggunaan syarat-syarat yang berhubungan dengan hidup.

 

Tidak Percaya Pada Ketakhayulan

Sebagai seorang umat Buddha yang baik hendaknya jangan percaya dengan hal-hal yang bersifat takhayul. Seperti misalnya mencari dukun atau peramal untuk mengubah nasib menjadi baik, untuk mendapat rejeki, dan supaya dapat jodoh.

Sebagai umat Buddha hendaknya kita meyakini halhal yang memang patut untuk kita yakini. Selain memiliki keyakinan kepada Tiratana, kita juga hendaknya memiliki keyakinan terhadap hukum kamma atau perbuatan, yaitu:

a. Kamma Saddhā

keyakinan terhadap akibat Hukum Kamma (perbuatan baik dan buruk).

b. V ipaka Saddhā

keyakinan terhadap akibat dari hukum kamma.

c. Kammasakata Saddha

keyakinan bahwa semua makhluk mempunyai Kamma masing-masing dan bertanggung jawab terhadap per buatannya.

 

Tidak Mencari Kebenaran dan Kebaikan di Luar

Dhamma Dhamma dikatakan indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya. Untuk mengetahui apakah yang merupkan Dhamma dan Vinaya, Sang Buddha dalam kitab suci Aṅguttara Nikāya VIII, 53 menjelaskan hal ini kepada Mahapajapati Gotami, yaitu sebagai berikut:

“Gotami, bila engkau mengetahui hal-hal secara pati: hal ini menuju pada nafsu, bukan pada tanpa nafsu, pada kemelekatan, bukan pada tanpa kemelekatan, pada pengumpulan, bukan pada pelepasan, pada memiliki banyak keinginan, bukan pada memiliki sedikit keinginan, pada ketidakpuasan, bukan pada kepuasan, pada suka berkumpul, bukan pada kesendirian, pada kelambanan, bukan pada kebangkitan semangat, pada kehidupan yang mewah, bukan pada kesederhanaan.”

“Tentang hal ini engkau bisa merasa pasti: ini bukan lah Dhamma, ini bukanlah Vinaya, ini bukanlah ajaran Sang Guru.”

“Tetapi, Gotami, bila engkau mengetahui halhal secara pasti: hal-hal ini menuju pada tanpa nafsu, tanpa kemelekatan, pada pelepasan, memiliki sedikit keinginan, pada kepuasan, pada kesendirian, pada kebangkitan semangat, pada kesederhanaan.”

“Tentang hal ini engkau bisa merasa pasti; ini adalah Dhamma, ini adalah Vinaya, ini adalah ajaran Sang Guru.”

 

Berbuat Kebajikan Sesuai Dhamma

Sebagai seorang umat Buddha yang baik, dalam melakukan penghormatan yang tertinggi kepada Buddha, salah satunya adalah dengan berbuat baik sesuai Dhamma.

Dalam Maṅgala Sutta (Khotbah Tentang Berkah Utama) berbuat baik sesuai dengan Dhamma adalah berkah utama.

Dalam berbuat baik hendaknya kebaikan itu dilakukan dengan niat yang baik, tulus, ikhlas, penuh cinta kasih, dan bijaksana. Kebaikan yang dilakukan hendaknya membuat diri sendiri menjadi senang, tenteram, bahagia, dan tidak menyesal setelah melakukannya. Kebaikan yang dilakukan juga membuat orang lain menjadi senang, tenteram, dan bahagia. Kebaikan itu dilakukan dengan tidak melanggar hukum maupun mengganggu lingkungan masyarakat.

Melakukan kebaikan adalah untuk mengikis keserakahan (Lobha), Kebencian (Dosa), dan Kegelapan Batin (Moha). Kebaikan yang diajarkan di dalam Dhamma diantaranya adalah berdana, melaksanakan Sīla, bermeditasi, mengembangkan cinta kasih, tidak serakah,tidak membenci, selalu sabar, jujur, rendah hati, tidak sombong, dan lain sebagainya yang masih banyak lagi kebaikan-kebaikan di dunia.

Selanjutnya, dalam Milinda Pañha dijelaskan ada 10 Kualitas Baik yang patut dikembangkan oleh seorang umat Buddha (Bhikkhu/Bhikkhuni dan Upāsaka/Upāsika) sebagai wujud penghormatan tertinggi kepada Buddha, diantaranya yaitu:

  1. Ia yang selalu menginginkan kesejahteraan Saṅgha dan menempatkan Dhamma sebagai yang utama dalam hidupnya.
  2. Ia yang memberi dengan penuh ketulusan.
  3. Jika ia melihat tanda kemunduran dari Ajaran Buddha, dengan sekuat tenaga ia membantu memajukannya.
  4. %3

    Incoming search terms:

    • materi materi kelompok umat buddha
    tags: , , ,

    Related For Menjadi Umat Buddha Sejati oleh YM. Bhikkhu Khemmadhiro