MENGIKUTI CARA BUDDHA

Rabu, Desember 13th 2017. | Artikel

Ketika jari-jari ini terus menuliskan cerita, pikiran teringat kepada kejadian di tahun 1996, ketika di Vihara Dhammasoka, Banjarmasin, ketempatan menjadi tuan rumah bagi terselenggaranya acara dialog antara anggota DPR dari Jogyakarta, tokoh masyarakat, dan ulama. Mereka mengadakan studi banding di Kalimantan Selatan. Tema yang diangkat adalah mengenai kemajemukkan agama, budaya, dan etnis.

Dalam dialog itu, moderator membuka acara, dan saat tiba sesi tanya jawab, hadirin dipersilahkan bertanya. Karena diskusi di vihara, maka bila itu berkenaan dengan agama Buddha, saya diminta menjawab. Begitu pertanyaan dimulai, ternyata sosok seorang Bhikkhu ini menarik perhatian hadirin. Mungkin mahluk langka, aneh..!

Pertanyaan yang diajukan lucu-lucu. Kenapa bhikkhu itu dicukur sampai gundul? Mengapa pakai jubah? Apakah boleh berkeluarga? Jika tidak boleh, apakah selama menjadi bhikkhu tidak pernah ada perasaan terhadap lawan jenis? Dari mana biaya hidupnya? Dan, lain-lain yang lebih mengarah ke pribadi seorang bhikkhu.

Mungkin, karena bhikkhu memang langka jadi mereka ingin tahu. Singkatnya saya menjawab semua pertanyaan itu dengan logika, juga kebenaran. Sesekali tepuk tangan riuh terdengar, tanda setuju dengan pernyataan saya. Ada yang tersenyum-senyum, bahkan tertawa geli karena melihat ada orang yang memilih hidup tidak lazim dari umumnya. Yah..macam-macamlah reaksinya. Apa pembaca ingin tahu jawabannya? Ahh.. di kesempatan lain saja bertanya. Karena ini pribadi seorang bhikkhu, lho..! he he.

Mengapa menuliskan jawaba atas pertanyaan-pertanyaan itu saya tinggalkan? Karena pertanyaan itu kurang ada substansinya. Bila berminat, nanti kita bahas di vihara saja..!

Yang menarik dalam kejadian ini, adalah pertanyaan seperti ini, “Pak Bhikkhu, masyarakat Dayak yang berkepercayaan kaharingan, kan belum memeluk salah satu dari lima agama yang diakui negara. (Waktu itu belum ada Kong Hu Cu, jadi hanya lima yang diakui). Apakah pak bhikkhu ada usaha menjadikan mereka sebagai pemeluk agama Buddha?”

Ini kategori pertanyaan krisis tapi dilematis. Ini berhubungan dengan meng-agamakan orang. Apalagi yang bertanya adalah anggota Dewan. Misi saya sebagai pembina umat harus sesuai kebenaran. Jadi perlu hati-hati dan tidak boleh lepas dari subtansi dalam menjawab pertanyaan.

Saya menjawab begini, “Buddha mengajarkan ajaranNya tidak dengan cara orang itu mengaku menjadi penganutnya. Tujuan Buddha mengajarkan kebaikan dan kebenaran (Dhamma) adalah agar makhluk khususnya manusia, bebas dari penderitaan. Caranya dengan memahami kebenaran dan berbuat kebajikan dan membersihkan pikiran. Itulah ajaran para Buddha. Nah seperti yang diajarkan oleh Buddha, guru kami. Maka, para Bhikkhu mengikuti cara Buddha mengajar.”

Melihat penjelasan saya, wajah peserta terlihat serius. Untuk mencairkan suasana, sayapun berkata,”Sekarang ganti bapak-ibu, saya yang bertanya. Apakah bapak dan ibu ada upaya mencegah berbuat jahat?”

“Pasti”, begitu jawabnya.

“dan apa ada upaya berbuat baik terus-menerus?” saya bertanya lagi.

“Iya ada.” Mereka menjawab lagi.

Lalu saya tanya kembali, “apa ada juga usaha mencapai kesucian, kefitrian, kekudusan itu sendiri?”

Wah, semua dengan kompak menjawab, “adaaa”

Langsung saya menimpali jawaban mereka, “Nah, walaupun bapak dan ibu tidak menyatakan diri sebagai Buddhis, karena memang bukan umat Buddha, tapi bapak dan ibu sudah berbuat baik yang benar, itu sudah Buddhis secara alami.”

Ruangan itupun riuh, ada yang tertawa, ada yang berkomentar, lalu ada yang komentar. “Wah, bhiksu ini bisa saja jawabnya.”

Setelah mereka mengerti, barulah saya menjawab, “Buat apa saya menarik masyarakat khususnya masyarakat di Balangan menjadi Buddhis, jika tidak baik. Lebih baik mengajak berbuat baik agar menjadi manusia yang baik, itu akan lebih baik. Karena, sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha.”

Jawaban ini akan menyejukkan sebuah kebersamaan.

✍🏼 Bhante Abhakaro

tags: , , ,

Related For MENGIKUTI CARA BUDDHA