Kisah Menaklukkan Diri Sendiri-Dhammapada 320-322

Kamis, Juni 30th 2016. | Artikel

 

 

dompet yang hilang by ajahn Chah di TisaranaDotNetSuatu saat ayah Magandiya, karena sangat tertarik dengan kepribadian dan penampilan Sang Buddha, telah mempersembahkan anak perempuannya yang sangat cantik untuk dijadikan istri Sang Buddha Gotama. Tetapi Sang Buddha menolak persembahan itu dan berkata bahwa Beliau tidak akan mau menyentuh hal itu yang penuh dengan kotoran, sekalipun dengan kakinya. Ketika mendengar kata-kata ini kedua ayah dan ibu Magandiya melihat kebenaran dalam kata-kata tersebut dan mencapai tingkat kesucian anagami. Tetapi Magandiya menganggap Sang Buddha sebagai musuh dan bertekad untuk membalas dendam kepada Beliau.

Kemudian ia menjadi salah satu dari tiga istri Raja Udena. Ketika Magandiya mendengar kabar bahwa Sang Buddha telah datang ke Kosambi, ia menyewa beberapa penduduk dan pelayan-pelayannya untuk mencaci maki Sang Buddha saat Beliau memasuki kota untuk berpindapatta. Orang-orang sewaan tersebut mengikuti Sang Buddha dan mencaci maki dengan menggunakan kata-kata yang kasar seperti `pencuri, bodoh, unta, keledai, yang pasti ke neraka`, dan sebagainya. Mendengar kata-kata yang kasar tersebut, Y.A.Ananda memohon kepada Sang Buddha untuk meninggalkan kota dan pergi ke tempat lain.

Tetapi Sang Buddha menolak dan berkata, “Di kota lain, kita juga mungkin dicaci maki dan tidak mungkin untuk selalu berpindah tempat setiap kali seseorang dicaci maki. Lebih baik menyelesaikan masalah di tempat terjadinya masalah. Tathagata seperti seekor gajah di medan perang; yang menahan panah-panah yang datang dari semua penjuru. Tathagata juga akan menahan dengan sabar caci maki yang datang dari orang-orang yang tidak memiliki moral.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut ini :

Seperti seekor gajah di medan perang dapat menahan serangan panah
yang dilepaskan dari busur,
begitu pula Tathagata tetap bersabar terhadap cacian;
sesungguhnya, sebagian besar orang mempunyai kelakuan rendah.

Hanya gajah atau kuda terlatih yang dibawa ke hadapan orang banyak. Raja hanya menunggangi yang terlatih. Di antara umat manusia, maka yang terbaik adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri dan dapat bersabar terhadap cacian.

Sungguh baik keledai-keledai yang terlatih, begitu juga kuda-kuda Sindhu
dan gajah-gajah perang milik para bangsawan;
tetapi yang jauh lebih baik dari semua itu
adalah orang yang telah dapat menaklukkan dirinya sendiri.

Pada akhir khotbah Dhamma tersebut, mereka yang telah mencaci maki Sang Buddha menyadari kesalahannya yang datang untuk menghormat Beliau, beberapa di antara mereka mencapai tingkat kesucian sotapatti.
——————————————————
Sadhu… Sadhu… Sadhu…
Nibbanasa Paccato Hotu
(semoga mengkondisikan kebahagiaan Nibbana)
Buddha Sasanan Ciran Titthatu
(semoga ajaran Buddha bertahan lama)
—————————————
Daftar broadcast Dhamma harian gratis.
WhatsApp “nama lengkap” ke
Ariya Magga 1 – 0812 1212 5182
Ariya Magga 2 – 0812 1212 5104
Line @ariyamagga (pakai @ ya)

Incoming search terms:

  • Dhammapada Attakatha syair 320-322
tags: , ,

Related For Kisah Menaklukkan Diri Sendiri-Dhammapada 320-322