Keyakinan oleh YM. Sri Pannavaro, Mahathera

Sabtu, September 9th 2017. | Artikel

Saddha (Pali) atau sradha (Sansekerta) memiliki arti keyakinan. Mendengarkan Dhamma perlu disertai dengan perhati an. Ajaran Buddha Gotama ti dak hanya menyodorkan pilihan hitam atau puti h. Dhamma mengajak kita untuk mengerti , lalu mengambil keputusan tidak memilih dengan membuta.
Salah satu unsur yang terpenti ng untuk mencapai kemajuan sebagai seorang umat Buddha adalah keyakinan. Juga penti ng pada semua agama yang dikenal dengan sebutan ‘iman’. Tetapi, dalam dunia Buddhis lebih dikenal keyakinan (faith), untuk menerjemahkan saddha. Keyakinan dalam pengerti an Dhamma seperti yang dijelaskan Asanga seorang pemikir Buddhis bukanlah hanya percaya. Keyakinan yang mengacu pada saddha, bukan hanya percaya begitu saja, bukan hanya dari segi emosi semata.

Saya pernah berbicara dengan pakar ‘behaviour’ tentang perlunya harmoni dalam kehidupan berkeluarga. Pembicara ini menggunakan isti lah yang sederhana, yang sejalan dengan Asanga yamg berbicara tentang keyakinan, yakni mengenai tiga faktor. Tiga faktor ini bersifat umum atau universal. Para pendidik seharusnya sudah ‘familier’ dan mengerti dengan benar.
Tiga faktor tersebut adalah:
1. Faktor kogniti f atau aspek rasio (faktor ‘Mengerti ’)
Kogniti f berarti pengerti an atau pengetahuan yang berhubungan dengan intelektualitas kita. Demikian juga keyakinan umat Buddha harus ditopang dengan pengerti an terhadap yang diyakini. Apa dan siapa yang kita yakini? Kita harus tahu dan yakin tanpa keraguan. Agar ti dak ti mbul keraguan, maka kita harus menambah pengetahuan tentang yang kita yakini itu. Dalam masyarakat dikenal ungkapan, “Jangan membeli kucing dalam karung.” Tetapi faktor pengetahuan ini saja ti dak cukup. Karena banyak orang yang memuji agama Buddha karena mereka sudah mengerti ajaran agama Buddha, tetapi dia ti dak menjadi umat yang sesungguhnya, yang sebenarnya.
2. Faktor afekti f atau aspek emosi (faktor ‘Menerima’)
Mana yang lebih dulu muncul Bhante, menerima dulu atau mengerti dulu? Bisa dua-duanya. Semula orang ti dak mengerti ajaran Buddha Gotama, dia membaca buku, bertamu di rumah teman—membaca buku-bukunya, membaca terus. Baca lagi, pengetahuannya bertambah dan bertambah. Dia mulai menerima keti ka merasa cocok, dan mengaku menjadi umat Buddha, dan kemudian dia ikut wisuda upasaka atau upasika, berarti faktor yang ke-2, yakni ‘menerima’ sudah muncul. Kalau ekstrim: menjadi ‘memiliki’, tetapi Anda ti dak perlu memiliki ‘menerima’ saja sudah cukup. Namun bisa sebaliknya, orang belum mengerti , tetapi sudah menerima. Mungkin karena orang- tuanya Buddhis, sering melihat bhikkhu, melihat patung Buddha yang apabila ia melihat patung Buddha, rasanya tentram. Tetapi dua unsur ini belum lengkap. Mengerti tanpa menerima ti dak akan menimbulkan keyakinan, sedangkan menerima tanpa mengerti akan menimbulkan keyakinan yang membuta. Misalnya ada seseorang yang menganggap Buddha itu Maha Dewa, kemudian dia meminta-minta dan berharap berkah. Ada penerimaan, tetapi pengerti annya kurang. Yang ideal, mengerti dulu, lalu menerima. Tetapi apabila menerima dulu, maka penerimaannya itu harus dilandasi pengerti an. Jangan menerima tanpa mengerti .
3. Faktor psikomotorik atau aspek kehendak (faktor ‘Melaksanakan’)
Mengerti dan menerima tanpa dilaksanakan, tidak akan membawa manfaat. Menerima dengan kesungguhan, mengerti dengan jelas, tetapi tidak melaksanakan atau tidak praktik; tidak bisa disebut mempunyai keyakinan. Umumnya kita mempunyai pengertian bahwa pokoknya yang penting percaya, tidak tergoncangkan, tidak ingin berpindah ke keyakinan yang lain; maka dia mempunyai keyakinan yang kuat. Perilakunya baik atau buruk, apakah orang itu praktik atau tidak, tidak dihitung tidak menjadi ukuran.
Banyak orang yang mengaku beragama, tetapi berkelakuan buruk, tidak sedikit jumlahnya. Dalam pengertian Dhamma, dia tidak mempunyai saddha, dia tidak beriman dengan benar. Apalagi kalau keyakinannya ini digunakan untuk mengganggu yang lain, “Kalau Anda tidak cocok dengan cara saya, saya akan menggiring Anda supaya Anda akhirnya menjadi seperti saya.” Sedangkan praktik yang harus dilakukan malah diabaikan. Apakah dia masih layak disebut mempunyai keyakinan? Karena banyak orang mengaku sudah beragama tetapi belum tentu beriman. Masih banyak orang yang menyatakan beragama tetapi malahan melakukan perilaku-perilaku yang sangat tercela. Yang penting itu adalah ber‘iman’-nya, bukan ber‘agama’-nya.
Beragama itu seperti formalitas. Mengerti ayat, mengerti ajaran, mempunyai keyakinan, bahkan sampai fanatik, tetapi perilakunya tetap buruk.
Sebenarnya orang seperti itu disebut tidak beriman. Karena keyakinan atau iman harus mempunyai unsur yang ke3, yaitu: ‘melaksanakan’.
Tidak hanya mengerti dan menerima, tidak hanya mengerti dan mempercayai, tetapi juga melaksanakan. Kalau hanya mengerti dan menerima berarti ilmu. Agama Buddha yang dipelajari di dunia akademik disebut kognitif belum tentu ada unsur menerima. Siapa pun bisa mempelajari, bukan umat Buddha pun bisa mempelajarinya, dan dengan mempelajari dia bisa mengerti tetapi dia tidak menerima karena dia sudah beragama yang lain.

Mengerti tidak menerima, tidak mungkin melaksanakan. Idealnya mengerti , menerima, kemudian melaksanakan. Kalau melaksanakan tanpa menerima dan mengerti , bagaimana Bhante? Itu namanya untung-untungan. Kadang-kadang berbuat baik, kadang-kadang tidak baik—karena tidak ada tuntunannya, tidak ada polanya, seperti orang berjalan tanpa peta dan dia tidak mengerti tujuan yang akan dituju. Mungkin bisa nyasar, mungkin jalan buntu. Mengerti itu seperti membaca peta, belajar Dhamma dan mendengarkan ceramah seperti belajar peta. Kemudian, karena orang yang mengajarkan peta tersebut mengajar dengan pengalaman yang benar, maka Anda mengatakan bahwa ajaran ini benar, orang ini ti dak membohongi. Cukup? Kalau Anda cukup di sini, maka Anda ti dak akan pernah sampai ke tujuan. Mendekati tujuan saja ti dak. Dari melaksanakan akan ti mbul keyakinan yang kuat, meskipun Anda belum mencapai tujuan. Kalau Anda melangkah untuk melaksanakan, apa yang dipelajari dari kogniti f, yang Saudara terima, kini menjadi kenyataan, meskipun kenyataan yang kita alami itu baru sebagian. Mengalami sebagian kenyataan itu memperkuat penerimaan kita. Lebih kuat dibandingkan menerima karena mengerti . Kalau Anda mengalami sendiri, melihat sendiri, akan menimbulkan penerimaan yang kuat sekali. Kalau hanya mengerti , hanya akan menjadi wacana. Contohnya: dia mengerti kalau sakit dia ti dak bisa mengobati dirinya sendiri, lalu dia teringat mempunyai kenalan dokter yang baik. Tetapi jika dia ti dak mempunyai kehendak, dia ti dak berjalan menuju ke tempat dokter prakti k, ti dak tekun mengonsumsi obatnya, tentu dia ti dak akan sembuh. Jadi, prakti k itu memperkuat saddha atau keyakinan kita. Tanpa prakti k maka selain saddha kita lemah, kita juga ti dak akan mendapatkan manfaat. Secara garis besar, apakah yang diajarkan oleh Guru Agung kita? Hal itu terserah Saudara mampu melihat ajaran Guru Agung kita dari sudut mana. Kalau Dhamma itu mau dipandang dari satu sudut pandang, bisa! Dua macam, juga bisa. Lho, bukan Empat Kesunyataan Mulia, Bhante? Nanti dulu. Tiga aspek atau ti ga macam, juga bisa. Empat Kebenaran Ariya, bisa. Tujuh macam – satt a bojjhanga, juga bisa. Delapan aspek, bisa. Tiga puluh tujuh aspek bisa. Delapan puluh empat ribu aspek, bisa. Tergantung Anda mau menggunakan pendekatan dari mana, mau belajar Dhamma dari mana. Yang satu aspek apa Bhante? Lenyapnya penderitaan. Itulah tujuan ajaran Guru Agung kita. Semua ajaran Guru Agung kita mempunyai rasa sama, yaitu kebebasan dari penderitaan. Beliau pernah mengucapkan, “Para bhikkhu, maha samudra mempunyai satu rasa, yaitu rasa asin; demikian juga Dhamma Vinaya ini, rasanya juga satu, yaitu rasa kebebasan.” Di situ Guru Agung kita tidak menyinggung dukkha, sebabnya dukkha, cara lenyapnya dukkha. Guru Agung kita hanya mengatakan bebas dari penderitaan sebagai satu-satunya rasa yang Beliau ajarkan. Ini ti dak salah, ini benar. Kalau dua itu apa Bhante?
Sering dikatakan Ajaran Guru Agung kita ini mempunyai dua aspek, yaitu Dhamma dan Vinaya.

Secara teori, Dhamma itu khotbah-khotbah Beliau, instruksi-instruksi Beliau, dan Vinaya itu adalah peraturan untuk para bhikkhu. Pada waktu Guru Agung kita masih hidup, Beliau sering menggunakan kalimat, Dhamma Vinayo. “Dhamma dan aturan yang Kuajarkan ini, rasanya satu yaitu rasa kebebasan.” Lalu, ti ga aspek apa, Bhante? Kalau ti ga aspek banyak. Ajaran Guru Agung kita ini dapat dimengerti dengan Triratna. Kalau Anda mengerti Triratna, Anda mengerti seluruh ajaran Guru Agung kita. Tetapi ti ga aspek yang lain juga ada. Dhamma itu mempunyai ti ga aspek, yaitu ‘teori’, ‘pelaksanaan’, dan ‘pencapaian’. Tidak hanya melaksanakan tanpa teori, ti dak hanya teori tanpa pelaksanaan. Tetapi teori, pelaksanaan, dan pencapaian. Ada ti ga aspek yang lain, yaitu anicca, dukkha, anatt a. Kalau Anda mengerti anicca, dukkha, anatt a dengan baikti dak hanya mengerti secara kogniti f (intelektual), maka Anda akan bebas dari penderitaan. Pada waktu kita menyebutkan anicca, dukkha, anatt a, kita ti dak menyebutkan Empat Kebenaran Ariya, Jalan Ariya Berunsur Delapan, sila – samadhi – pañña, ti dak.

Tetapi ajaran Guru Agung kita sebagai jalan juga mempunyai aspek ti ga, yaitu ti ga lati han yang terdiri atas sila, samadhi, dan pañña. Kalau yang empat? Ada Empat Kebenaran Ariya yaitu adanya dukkha, sebab dukkha, lenyapnya dukkha, dan bagaimana cara melenyapkan dukkha. Yang aspek tujuh, satt a bojjhanga – tujuh faktor untuk pencerahan. Pencerahan adalah kata lain dari kebebasan. Orang yang mencapai pencerahan adalah orang yang bebas dari penderitaan. Faktor sembilan, yaitu sembilan faktor lokutt ara. Faktor ti ga puluh tujuh, yaitu bodhipakkhiya Dhamma. Faktor empat puluh delapan ribu  ‘lha’ saya ti dak hafal. Tiga puluh tujuh saja saya ti dak hafal, kecuali mahasiswa STAB yang baru lulus, mungkin ti ga puluh tujuh faktor Bodhipakkhiya Dhamma mereka hafal, tetapi saya ti dak hafal. Jadi Anda bisa mendapatkan pengetahuan (unsur kogniti f) Dhamma—bisa didapatkan dengan pendekatan yang mana, satu aspek, dua aspek, atau banyak aspek.

Tetapi tetap, itu adalah pengerti an. Pengetahuan yang bisa Anda dapatkan dari mendengar, membaca, berdiskusi, bertukar pikiran, Dhammasakaccha, Dhammasavana; dan harus ada faktor menerima. Tetapi kalau Anda membantah terus, maka kapan menerimanya? Dari menerima itulah kemudian mulai melakukan prakti k. Mengerti , menerima, dan melakukan. Ingat Tiga ‘M’! Sering juga ajaran Guru Agung kita ti dak disebutkan sebagai lati han sila, samadhi, dan pañña. Tetapi dijelaskan sebagai ti ga rangkaian perbuatan baik. Tentu ini menuntut pelaksanaan. Tanpa pelaksanaan, itu hanya sebagai wacana perbuatan baik saja. Itu adalah dana, sila, dan bhavana. Kalau sila, samadhi, dan pañña adalah ringkasan Jalan Ariya Berunsur Delapan. Di kesempatan lain, Guru Agung kita juga sering memakai rangkaian yang lain. Mengapa Bhante, rangkaian-rangkaian itu ti dak sama pada waktu Guru Agung kita mengajarkan Dhamma? Karena kemampuan orang yang dihadapi, yang mendengar, yang menerima; ti dak sama, dan Guru Agung kita jarang memberikan khotbah Dhamma secara massal di depan lima ratus orang, seribu orang. Kalau toh Guru Agung kita memberikan Dhamma di depan banyak orang, semuanya telah mencapai ti ngkat kesucian sotapanna, atau yang lebih ti nggi. Kalau mereka belum mencapai ti ngkat kesucian, biasanya Beliau hanya berbicara berdua, berti ga, bahkan kadangkadang berdialog dengan satu orang.

Dalam berdialog dengan seorang, Beliau dapat mengerti persis kemampuan menangkap orang tersebut, dan Beliau bisa meramu apa yang akan Beliau sampaikan sesuai dengan daya tangkapnya. Kalau lima orang yang mendengar, maka daya tangkap serta kemampuan untuk menerima lima orang itu berbeda-beda. Apalagi sekarang yang mendengar sekian banyak orang. Nanti Anda pulang selesai menghadiri Dhammaclass ini, kalau ditanya di rumah, “Tadi Bhante Pannya cerita apa?” “3 M.” “Apa itu?” “Ya begitulah ‘3 M’.” Dan nanti kalau ada cerita yang lucu-lucu, ‘lha’ itu yang disimpan karena akan diceritakan lagi. Kemampuan mengerti saja ti dak sama bagi ti ap orang, apalagi kesiapan menerima.

Dalam bahasa Jawa, ti dak bisa di-gebyah uyah. Sepuluh orang ti dak mempunyai penerimaan yang sama, oleh karena itu lebih efekti f kalau Guru Agung kita berbicara dengan pendengar yang lebih kecil jumlahnya—dan Beliau bisa memberikan terapi. Laksana dokter, Beliau memberikan terapi yang sesuai dengan penyakit pasiennya. Kalau sepuluh orang diberikan obat yang sama, ya ti dak cocok, karena mereka mempunyai penyakit berbedabeda. Apalagi kalau semuanya hanya diberi vitamin saja. Tentu, penyakit mereka ti dak akan sembuh. Pada banyak kesempatan, Guru Agung kita menjelaskan dengan ti ga rangkaian, yaitu bukan rangkaian tentang sila, samadhi, dan pañña; tetapi dana, sila, bhavana sebagai kebajikan.

Dan Beliau sering menggunakan ti ga rangkaian ini kalau Beliau berhadapan dengan umat awam—bukan bhikkhu, bukan orang yang meninggalkan keduniawian, tetapi orang yang masih hidup di masyarakat, berkeluarga. Bhavana di sini dapat disinonimkan dengan samadhi (meditasi). Hampir semua mengerti dana, sila, bhavana; tetapi saya akan mengulas kembali secara singkat tentang dana, sila, dan bhavana. Dana, sila, dan bhavana adalah kebajikan utama yang kalau diuraikan, maka dari dana, sila, bhavana itu berkembang menjadi dasa punnakiriyavatt hu atau sepuluh macam perbuatan bajik. Kalau nanti punya catatan buku Dhamma, ada sepuluh perbuatan bajik, nah itu kalau diringkas menjadi ti ga ini: dana, sila, dan bhavana.
1. Dana
Dana adalah memberi, menolong, membantu. Saudarasaudara kita umat beragama lain mengatakan beramal dengan materi, dengan nasehat, dengan obat, dengan segala macam. Penjelasannya ti dak hanya sederhana seperti itu. Orang berdana, orang membantu atau orang menolong ini pun berti ngkatti ngkat—pelaksanaannya berti ngkat-ti ngkat, sesuai dengan kondisi bati nnya. Yang umum apa, Bhante? Beramal sedikit, minta pahala banyak. Itu yang umum di semua agama, termasuk dalam agama Buddha. Dana sedikit nanti buah karma-nya akan banyak, berlipat-lipat. Yah, apa gunanya berdana seperti itu? Sebenarnya dia ti dak memberi, tetapi melipatgandakan. Tetapi, apakah itu ti dak baik? Ya baik, daripada membuat bom. Meskipun dia berdana dengan pamrih yang luar biasa, yang kasar sekalipun, misal: ingin dikenal, ingin disanjung, ingin populer, ingin ada pencalonan dirinya sebagai ketua, dan sebagainya. Ya masih baik, dia mau memberi, dia ti dak mengganggu. Kecuali kalau dengan ancaman, itu sudah menjadi kejahatan. Dia ti dak menghancurkan, dia hanya memberi meskipun pamrihnya luar biasa. Pamrih sekarang, pamrih kemudian, pamrih masuk surga sekalian—itu pamrih-pamrih semua. Itu kebaikan? Ya, itu kebaikan, tetapi ti dak menjurus pada vimutti , ti dak menjurus pada kebebasan. Kebajikan, kebaikan, memang benar, tetapi ‘rasa’-nya bukan rasa Sang Buddha.

Karena rasa Guru Agung kita itu hanya satu—seperti laut, kalau bukan asin maka bukan air laut, ini air sumur atau air ledeng. Kalau asin ada kemungkinan air laut, dan air laut selalu asin. Kalau perbuatan baik ti dak menjurus pada kebebasan dari penderitaan, itu bukan ajaran Guru Agung kita. Kebaikan sih kebaikan, tetapi ti dak semua kebaikan termasuk Dhamma. Lho, ti dak semua kebaikan termasuk Dhamma, Bhante? Ya, hanya kebaikan yang membawa pada kebebasan, yaitu bebas dari penderitaan, itulah yang termasuk Dhamma. Kalau berbuat kebaikan sedikit dan mengharapkan pahala banyak itu namanya keserakahan (lobha). Kalau keserakahannya bertambah, maka penderitaannya pun akan bertambah.

Karena penderitaan itu salah satu akarnya adalah keserakahan. Lawan kata dari malam adalah siang, bersih adalah kotor, keras adalah lunak, ti nggi adalah rendah, kaya? Bukan miskin. Lawan kata kaya adalah serakah. Jadi kalau Anda serakah, masih mencari, mencari, mencari; itu namanya belum kaya. Kalau sudah ti dak mencari lagi, melepas, melepas, melepas: dia betul-betul kaya. Lho mengapa? Karena dia ti dak mencari lagi. Lha, kalau masih mencari terus khan arti nya dia masih miskin.

Jadi menurut ajaran Guru Agung kita, berdanalah yang benar. Benar dalam arti membawa pada kebebasan dari penderitaan. Berdana dengan tujuan melati h diri untuk melepas, ti dak mengharapkan imbalan, buah karma, pahala, balasan, dan sebagainya. Moti vasi kita harus benar. Dari mana Bhante, moti vasi itu didapat? Kogniti f. Kalau ti dak pernah belajar bagaimana berdana yang benar, bagaimana dia bisa melakukan perbuatan bajik berdana dengan benar? Meskipun dia berbuat baik, ti dak mengganggu, ti dak membunuh, ti dak menyakiti ; tetapi dia bisa melakukan kebajikan itu dengan ti dak benar atau dia hanya ikutikutan saja dengan yang lain—kalau ti dak mempunyai arah yang benar—sehuingga ti dak ada moti vasi yang benar.

Tetapi dana yang diberikan itu tetap bermanfaat, Bhante? Ooo, tetap bermanfaat. Sekali lagi daripada berbuat jahat, lebih baik berdana dengan pamrih yang luar biasa. Itu masih baik, masih ada nilai kebaikannya. Meskipun ti dak membawa pada kebebasan. Kami pernah berbincang-bincang dengan seseorang, “Bhante, orang menyokong itu kan lebih cepat lebih baik. Lebih cepat, lebih banyak, lebih baik.” Dia mengatakan seperti itu dan menambahkan, “Ikhlas, Bhante.” Saya mengatakan, “Nanti dulu Pak, ikhlasnya itu belakangan saja.” “Lho, gimana Bhante, kalau orang itu mau berdana lebih cepat, lebih banyak, tetapi ti dak ikhlas, apakah baik, Bhante?” Baik, daripada sedikit tetapi ti dak ikhlas. Kalau saya ditanya, “Bhante kalau berdana sedikit tetapi ti dak ikhlas dibandingkan dengan banyak ti dak ikhlas, Bhante pilih yang mana?” Oo, saya pilih banyak walaupun ti dak ikhlas. “Lho, mengapa Bhante?” Biarin saja, terusin saja, berdana ti dak ikhlas terusin saja, nanti lama-lama kan jadi ikhlas.

Sambil diajari di Dhammaclass ini. Yah, dimulai dari ti dak ikhlas dulu toh, daripada ti dak berdana sama sekali. Kalau karena ti dak ikhlas, lalu ti dak jadi menolong, ti dak jadi memberi, lha, lebih-lebih lagi. Tidak ada orang yang mendapat manfaat, dia juga ti dak melakukan kebaikan. Biar saja ti dak ikhlas, lati han. Pelan-pelan diberitahu, dikhotbahi, diceramahi, nanti lama-lama akan ikhlas, moti vasinya akan menjadi benar. Anak-anak bisa jalan dimulai dari jatuh dulu, ti dak bisa langsung lari. Pelan-pelan seiring dengan fi siknya yang bertambah kuat, belajar mencari keseimbangan. Naik sepeda saja jatuh berkali-kali.

Tidak apa-apa. Kalau takut jatuh ti dak akan bisa naik sepeda. Sama seperti berdana yang ti dak ikhlas. Tidak apa-apa, terusin saja, lebih banyak lebih baik. Tidak ikhlas, Bhante? Tidak apa-apa, nanti diajari, lamalama akan ikhlas. Daripada ti dak berdana sama sekali. Iya, ya, benar juga! Tidak mungkin orang ‘ujug-ujug’, ti ba-ti ba bisa berdana dengan ikhlas. Itu ideal memang, memberi banyak dan ikhlas, ideal. Kalau kita ti dak bisa mendapatkan kualitas nomor satu, kualitas di bawahnya ti dak apa. Lati hanlah berbuat baik, daripada kita berbuat jahat—mencuri, menyolong—lebih baik kita menolong walau dengan seribu satu macam keinginan. Kalau bisa, keinginannya itu dibuang. Karena melati h melepas itu lebih berharga daripada buah yang nanti dipeti k. Buah yang dipeti k itu juga ti dak kekal.

Apa toh hidup sejahtera, wajah canti k, suara merdu, semua karena buah beramal, berbuat baik. Termasuk sehat, tampan: apakah akan sehat selamanya? Apakah akan tampan selamanya? Apakah wajah canti k selamanya? Apakah pangkat selamanya? Apakah umur panjang ti dak akan mati ? Semua hanyalah sementara. Kita mendapatkan wajah canti k, makmur, sejahtera, ti dak kekurangan, kedudukan ti nggi, semua adalah buah dari amal, dari kebaikan kita. Menurut hukum karma: benar, tetapi apakah itu kekal? Tidak! Apakah di dunia ini ada yang kekal? Anda sudah siap menghadapi keti dakkekalan itu?

Belum, karena Anda selalu ingin mendapat, dapat, dapat, nyari, dapat, dapat, terus nyari, dapat, dapat—kalau ti dak dapat, kecewa; kalau dapat sedikit, kecewa; kalau dapat banyak, bahagia, senang; terus menerus seperti itulah pola hidup Anda. Kapan Anda belajar untuk melepas? Padahal di dunia ini ti dak mungkin orang mendapat terus, jaya terus, sukses terus, maju terus. Suatu saat harus melepas. Senang ti dak senang, Anda harus bisa melepas. Pergi ke Yogya melepas keluarga, waktu berangkat saling bertangis-tangisan.

Nanti kalau sudah di Yogya, liburan tengah tahun pulang lagi ke sana, balik lagi ke Yogya. Mau ti dak mau kita harus melepas—melepas suasana, melepas keadaan yang kita senangi, melepas teman-teman, melepas keinginan-keinginan yang sering kita turuti ; sekarang di sini ti dak bisa dituruti lagi; dan masih banyak lagi. Kalau Bapak, Ibu, Saudara sudah mempunyai lati han melepas, maka kalau terjadi perubahan, ti dak akan menggetarkan, ti dak akan menggoncangkan, ti dak membuat penderitaan. Biar perubahan terjadi, aku ti dak menderita. Karena aku mengerti semua berubah dan aku bisa menerima perubahan.

Aku juga bisa melati h untuk bisa menerima perubahan dengan berdana, ikhlas, rela. Kalau berdana, menolong, beramal, ti dak digunakan sebagai lati han untuk melepas, lalu untuk apa? Tidak ada gunanya. Guru Agung kita mengatakan, “Jangan meremehkan perbuatan baik meskipun kecil.” Karena apabila itu digunakan sebagai sarana lati han yang benar, itu prakti k Dhamma yang benar. Termasuk memberikan makan kepada seekor anjing. Itu ada nilainya. Jangan mengatakan, “Apa gunanya sih memberi makan anjing?”

Tentu saja ada gunanya jika Anda mempunyai pengerti an yang cukup, kemudian kesempatan itu Anda gunakan untuk prakti k pengerti an yang sudah Anda punyai, itu akan memberikan manfaat. Ada yang sering memberikan makan pada anjing yang ti dak tahu siapa pemiliknya, yang dekil anjingnya; mengatakan, “Nanti kalau aku dilahirkan jadi anjing, biar ada yang kasih makan.” Ada juga yang punya pemikiran seperti itu. Tidak perlu begitu!! Tetapi masih lebih baik daripada anjingnya disiram dengan air panas. Masih baik, meskipun berpamrih itu bukan prakti k Dhamma yang benar.
2. Sila
Melakukan kebajikan itu ti dak hanya dengan memberi, menolong: dengan materi, makanan, obat, dan sebagainya; sehingga ada orang yang berpikir kalau ti dak memberi, ti dak bisa berbuat baik terhadap orang lain. Ada yang berpikiran seperti itu. Jadi hanya orang-orang kaya saja yang mempunyai kewajiban memberi. Sedangkan kita ini masih miskin, bagaimana kita mau memberi? Kita kan hanya menerima kebaikan, kita belum mampu berbuat kebaikan. Kebaikan yang kedua adalah sila, yaitu mengendalikan diri dari perilaku yang buruk, ti dak gampang emosi, ti dak mudah naik darah, punya pengendalian diri.

Dikatakan sekarang IQ bukan jaminan untuk sukses. Bukan! Meskipun dia brilian, otaknya encer, kreati f; tetapi emosinya juga kreati f—dia ti dak mudah mengendalikan emosinya, marah ya marah, pukul meja—orang ini ti dak bisa maju, apalagi jadi pimpinan. Hancur nanti jadinya. Kita mau mengambil sebagai karyawan saja, nanti dulu. EQ diperlukan, ti dak lagi IQ. IQ ti dak menjadi jaminan hidup akan sukses. Orang-orang yang pandai, dan pandai menghancurkan, juga banyak. Pembuat-pembuat bom yang susah ditangkap itu juga bukan orang-orang yang bodoh, mungkin IQ-nya luar biasa.

Kalau Anda sekalian bisa mengendalikan diri, ti dak berbuat yang jahat, itu lati han Dhamma juga. Membebaskan diri kita dari kebencian, dari keserakahan, menuju ke kebebasan juga. Tetapi untuk ti dak berbuat jahat itu juga ada samādāna virati , tekad pengendalian diri, kemudian ada kesungguhan.

Orang ti dak bisa menghenti kan kejahatan dengan meminta-mintaminta—minta kepada Yang Maha Kuasa, minta kepada Mahadewa, minta kepada Bodhisatt va, minta kepada Sang Buddha, “Berikanlah hambamu ini kemampuan jangan sampai berbuat jahat lagi.” Ya ti dak bisa! Kalau Anda ti dak mau berbuat jahat ya harus stop. Saya mengumpamakan mobil. Anda mau berhenti , ya harus injak remnya. Kalau ti dak diinjak remnya, ya ti dak mungkin mobilnya berhenti meskipun teriak-teriak. Mobilnya mau masuk jurang, Anda malah berteriak, “Tolong… tolong….” Injak remnya! Kalau remnya ti dak diinjak, akan masuk jurang.

Teriakan-teriakan Anda ti dak akan bisa menghenti kan mobil. Kalau Anda ingin stop berbuat jahat, supaya ti dak mendapat masalah, ya Anda harus injak rem untuk stop berbuat jahat. Tidak dengan memintaminta. Sekali lagi, hanya dengan tekad, dengan kesungguhan, stop kejahatan—ti dak berbuat jahat. Tidak ada jalan lain. Saya cerita di beberapa tempat, di Parakan mungkin ya. Kalau di Mendut itu banyak turis masuk vihara. Ada kentongan seperti bel, tetapi dari kayu. Di dalamnya ada kayunya, kalau ditarik akan bunyi “Dung…dung…dung….” Anak-anak senang menarik-narik itu. Lalu ada anak orang Barat narik-narik bel itu, hingga jatuh pemukulnya. Ayahnya dengan susah payah mengembalikan, tetapi sulit karena harus ditali di dalam genta. Tetapi dia berusaha keras supaya pemukulnya nempel lagi. Anaknya melihat. Itu merupakan contoh yang baik untuk anaknya bukan?

Ooo, kalau merusakkan itu harus bertanggung-jawab memperbaiki, meskipun ti dak sempurna. Tetapi kalau turis domesti k lain lagi. Anaknya pukul-pukul genta dan pemukulnya jatuh, ia lari cepatcepat, jangan sampai nanti ketahuan yang punya. Masih mending kalau ditaruh di atas lalu bertemu dengan penjaga, dan minta maaf kalau anaknya telah menjatuhkan pemukul genta dan juga mengatakan ti dak bisa memperbaiki. Tidak apa-apa kalau seperti itu. Tapi kalau cepat-cepat lari, lha anaknya kan juga melihat. Oo, kalau merusakkan barang harus cepat-cepat pergi?! Banyak macam kalau cerita untuk itu. Kalau di Singapura mencari taksi itu mesti mengantri dan semua dapat giliran. Sabar, ti dak ada yang desak-desakan. Tetapi orang yang sama datang di Cengkareng airport, ngantri chek-in ti ket pesawat. Dia ada di tengah-tengah antrian, langsung nyelonong pindah ke depan sana. Orang-orang Barat mengatakan, “Di sini memang selalu begitu!” Kita malu mendengar komentar itu. Bukankah itu perbuatan buruk? Jadi perbuatan buruk itu ti dak hanya nyolong, korupsi kelas kakap, berzinah, membunuh. Apa yang saya contohkan itu juga merupakan perbuatan yang buruk. Kalau Saudara mau melakukan hal yang baik, mencegah yang buruk, itu sangat berguna.

Membiasakan kita untuk ti dak berbuat buruk, membiasakan kita untuk bertanggung-jawab, jika salah minta maaf. Sehingga nanti apabila kita melakukan perbuatan yang salah, lalu kita mau lari, rasanya ti dak enak “di sini” (di dalam nurani). Kami pernah mengantar bhiksu dari Jepang—sekarang beliau sudah meninggal, yang memberikan patung Buddha puti h di Mendut—bersama dengan temannya melihat candi-candi. Pada waktu selesai melihat candi-candi, kami hendak kembali naik mobil.

Temannya itu sudah mau naik mobil, tapi turun lagi, cari sana cari sini. Kami tanya, “Cari apa?” “Cari tong sampah”, sahutnya. Karena dia mau membuang sampah itu secara sembangan, ti dak enak. Sopir kami tertawa, “Lha, tong sampah sebesar ini kok ti dak kelihatan, sekian besar, mobil kita ini di dalamnya. Halaman ini kan tong sampah. Buat apa cari tong sampah ke mana-mana.” Dia terbiasa di negaranya untuk ti dak buang sampah sembarangan. Kalau kita, biasa buang sampah sembarangan. Tidak salah, wong kita berada di dalam tong sampah?! Saudara-saudara, mumpung umur Saudara belum banyak coba mulai dari kebiasaan baik yang kecil-kecil. Buang sampah ti dak sembarangan; pada saat pergi, listrik-listrik yang ti dak digunakan dimati kan.

Saya di kost bayar kok, keluar sebentar listrik kok harus dimati kan? Ya bayar sih bayar, tetapi nanti menjadi kebiasaan. Kalau Anda sudah biasa begitu sampai besok, maka Anda ti dak akan pernah memati kan listrik kalau ti dak terpaksa banget. Seperti buang sampah sembarangan, AC ti dak berguna ti dak dimati kan, apalagi TV sampai terti dur pun tetap dihidupkan terus. Siapa yang akan nonton televisi itu? Makhluk halus? Sampai nanti bangun, Oo, apa ini, sinetron semut-semut. Kalau habis program kan sinetron semut-semut keluar. Kalau semut-semut sudah keluar baru dimati kan. Kan itu bukan kejahatan, Bhante?

Ya, kelihatannya bukan kejahatan; tetapi hal-hal yang semacam itu bisa menghancurkan lingkungan, bisa merugikan orang lain. Apalagi kalau nanti Saudara-saudara sudah punya anak, anak Saudara apakah ti dak mencontoh hal-hal yang seperti itu? Lha, kalau saya menjadi bhikkhu bagaimana, Bhante? Ya, kan punya murid, punya umat. Apa mereka ti dak mencontoh nanti nya. Tetapi di sini ti dak biasa, Bhante, orang menyediakan tong sampah. Tidak biasa. Mau mencari tong sampah di vihara ini juga sulit. Sampahnya bagaimana? Bawa pulang saja sampahnya! Dikasih snack, diberi minuman, ‘masa’ vihara ini malah dikasih sampah. Anda ti dak perlu membayar di sini. Sudah dapat Dhamma selama satu sampai dua jam, dapat makanan dan minuman, sampahnya dibawa pulang saja. Nanti cari tong sampah, baru sampah itu dibuang. Itu kebajikan juga.
3. Bhavana (meditasi)
Saya ti dak akan banyak-banyak membahas meditasi. Cobalah melakukan meditasi yang sederhana saja, mett a bhavana, mengembangkan cinta kasih. Itu kan perenungan, Bhante, bukan vipassana? Iyalah, ti dak apa-apa. Perenungan memang— daripada ti dak mau perenungan, vipassana juga ti dak mau. Syukur mulai lati han memperhati kan nafas (anapanasati ). Umat beragama lain banyak yang belajar meditasi. Di vihara-vihara kita, kalau ada meditati on course, umat beragama lain jumlahnya yang paling banyak, umat Buddha ti dak pernah menjadi nomor satu. Kalau di Vihara Mendut ada meditasi, yang nomor satu adalah umat Katolik atau Islam.

Kalau ti dak Islam, ya Katolik. Buddhis nomor ti ga. Kadang-kadang dari dua puluh atau ti ga puluh orang, Buddhis-nya hanya dua atau ti ga orang saja, kecuali meditasi satu minggu pada akhir tahun—umat Buddhisnya paling banyak. Mereka bukan sekadar mau tahu, mau prakti k dengan kesungguhan. Meditasi itulah yang membersihkan pikiran. Dan kita tahu pikiran itu yang menggerakkan ucapan, ti ndakan, perbuatan—semua perilaku kita dimulai dari pikiran kita. Kalau pikiran kita bersih, baik, otomati s sila kita baik. Tidak perlu berbicara tentang sila apabila Anda sudah mempunyai lati han meditasi yang baik, menjaga pikiran dengan kesadaran dengan baik. Dan meditasi bukan wacana, meditasi harus dilakukan, amat berbeda dengan wacana. Tadi dijelaskan bahwa wacana itu ti dak sekadar mengerti , tetapi juga menerima.

Tidak sekadar menerima, tetapi juga melaksanakan. Ada seorang pertapa yang bertapa di tempat yang sepi selama bertahun-tahun. Suatu hari ada seorang penggembala datang ke tempat pertapa tersebut. Penggembala itu bertanya, “Bapak sedang apa di sini?” “Sedang semedi”, sahut sang pertapa. “Apa semedi itu?” tanya si penggembala lagi. “Merenungkan, berusaha untuk tahu keti dakkekalan (anicca), penderitaan (dukkha), ti dak ada aku, hanyalah perpaduan (anatt a). Kalau kita bisa mengerti dan melihat itu, kita menjadi orang suci—bebas dari penderitaan, ti dak menderita lagi”, sambung sang pertapa. “Berapa lama bapak bersemedi (meditasi) di sini?” “Kira-kira hampir dua puluh tahun.” Penggembala ini sedikit nakal, lalu ia mengatakan kepada pertapa bahwa jenggot yang dimiliki oleh kambingnya lebih baik dibandingkan dengan jenggot si pertapa.

Spontan pertapa itu ngamuk, “Apa maksudmu?! Ke sini cuma mau mengolok-olok orang tua. Jenggot saya dikatakan lebih jelek dibandingkan jenggot kambing. Pergi kamu.” Lantas sang penggembala berpikir, “Kok begitu ya? Meditasi selama dua puluh tahun, dikatakan jenggotnya lebih jelek dibandingkan jenggot kambing saya langsung ngamuk.” Sederhana sekali, sangat sederhana. Kepancing begitu saja langsung ngamuk sang pertapa itu. Kalau di buku Ajahn Bram ‘Membuka Pintu Hati ’ itu kan ada cerita lain lagi. Ada seorang bhiksu yang merasa sudah mencapai kesucian, dia membuat syair. Saya ti dak ingat persis syair tersebut. Kira-kira bunyinya seperti ini, “Kalau yang bertentangan sudah diatasi, maka bati n akan menjadi hening.

Batin hening bebas dari ikatan, bebas dari ikatan adalah kesucian.” Syair tersebut diberikan kepada gurunya. Zaman dulu, apabila ada yang mencapai kesucian, maka membuat syair. Gurunya membaca lalu menambahkan ke dalam syair tersebut, “Kalau bebas dari yang bertentangan kentut, bati n ti dak terikat kentut, bati n menjadi suci kentut, bati n menjadi suci sudah bebas kentut.” Lalu syair tersebut dikembalikan kepada muridnya. Ngamuklah sang murid yang membuat syair itu. “Guru ini kurang ajar, ti dak menghargai murid, apa ini, orang sudah susah-susah bikin syair, keluar dari pencapaian, malah ditulisi dengan kata-kata kentut, kentut, kentut.” Gurunya tertawa dan mengatakan, “Orang suci kok kalah sama kentut!” Katanya mengerti anatt a, sunyata, tanpa aku; kok dikatakan kentut saja sudah ngamuk. Jadi kogniti f berbeda sekali, berbeda jauh dengan pelaksanaan. Jadi kalau Saudara-saudara mau belajar Dhamma adalah sangat baik. Tidak harus menjadi rohaniwan – seorang bhikkhu, tetapi yang Anda pelajari ini berguna bagi Anda sendiri nanti apabila menghadapi masalah. Namun harus mulai prakti k dari sekarang. Kalau ti dak prakti k sekarang, banyak teori nanti malah bingung sendiri. Ada juga saya menengarai alumni Vidyāsenā sini yang sampai sekarang bingung terus. Saya bilang mbok kamu jangan window shopping terus. Window shopping itu, kalau di Malioboro, masuk toko ini ga jadi, masuk toko itu ga jadi.

Padahal mau mencari kain satu potong saja untuk hem; semua toko dimasuki ga jadi, ga jadi, ga jadi. Sampai malam pulang dan ditanya, “Sudah beli kain untuk hemnya?” Belum. “Lha tadi ke mana?” Tadi cuma lihat-lihat. Besok lagi, masuk toko India, masuk toko Bombay, toko bati k, bolak-balik mengulang lagi. Sudah beli? Belum lagi. Kalau window shopping terus bagaimana? Prakti klah. Kan banyak, Bhante, cara bermeditasi bermacam-macam. Kan kita perlu coba-coba dulu. Ya, itu window shopping, tetapi setelah window shopping sebanyak empat atau lima toko, beli—bawa pulang kainnya. Kalau ingin mencoba teori ini, Sayadaw ini, Ajahn ini, Vipassana itu, mencoba, silahkan. Kalau sudah dicoba, ambil salah satu untuk prakti k. Kalau coba-coba terus, ya ti dak akan maju. Coba ini, coba itu ti dak jadi; ada Rinpoche datang dicoba, ga jadi; Sayadaw datang coba, ga jadi; Ajahn ini datang coba, ga jadi. Ambil salah satu yang Anda cocok, kemudian berlati h dengan tekun. Tanpa prakti k ti dak akan ada manfaat. Saya akan menutup dengan satu cerita. Betapa keyakinan itu kalau tanpa prakti k dan tanpa pengerti an akan menjadi berbahaya. Tidak hanya membuta. Membuta saja itu sudah berbahaya, Saudara. Bisa nabrak-nabrak. Iman yang membuta itu bukan hanya sekadar ti dak berharga, tetapi berbahaya! Ada seorang pemuja Kongco Kuan Kong—Dewa Kejujuran yang naik kuda, yang menjadi tokoh kejujuran, keberanian, ti dak senang dengan kejahatan, suka menolong. Berbakti sekali dia, bersembahyang seti ap hari, sangat percaya.

Suatu hari rumahnya kebanjiran. Air semakin naik dan naik. Dia naik ke atas, naik ke atas lagi, sampai ti nggal atap rumahnya yang ti dak kebanjiran. Dia naik ke atap. Dia berdoa minta tolong pada Kongco Kuan Kong untuk datang menyelamatkannya. “Bhante ini mau menghina Kuang Kong.” Tidak. Jangan negati ve thinking dulu. Ikuti cerita ini sampai selesai. Waktu dia sampai di atap itu ada perahu lewat, penyelamat SAR mengatakan, “Ayo, ayo, ikut. Bahaya ini, air mau naik.” “Tidak,” teriaknya. “Lho kenapa?” “Kongco Kuan Kong akan datang menyelamatkan saya.” “Wah, ti dak mungkin. Ayo capat, ikut saya.” “Tidak, saya punya keyakinan.” Air naik terus, dia naik terus, naik lagi sampai di bumbungan itu. Datang lagi perahu yang agak besar. “Ei, ikut, ikut, ikut. Bahaya! Air di sana sudah naik.” “Ndak, Kongco Kuan Kong akan datang menyelamatkan saya.” “Orang-orang bilang mati nanti kamu, kalau seperti ini terus!” “Tidak. Saya punya keyakinan, punya iman.” Airnya naik terus sampai dia pegangan ke ti ang listrik. Sekarang helikopter yang datang dan bawa pengeras suara, “Ayo! Tangkap talinya. Bahaya jika kamu ti dak ambil tali ini.” “Tidak. Saya yakin Kongco Kuan Kong akan datang menyelamatkan saya”, jawab dia. Bagaimana akhir dari keyakinan yang membuta seperti itu? Jatuh dia, kedinginan, kelaparan, gemetaran, dan mati . Di alam sana dia beremu dengan Kongco Kuan Kong.

Protes dia, bahwa dia memuja Kwan Kong, ya berarti bertemu dengan Kuan Kong, “Saya memuja Yang Mulia, ti ap hari, ti am hio pakai teh. Kenapa Kongco ti dak menolong saya, sampai saya kecebur mati tenggelam?” Kongco Kuan Kong tersenyum, “Siapa bilang saya ti dak menolong kamu?” “Mana? Kapan?”, tanyanya. “Saya kirim ti ga utusan. Yang pertama perahu karet, tetapi kamu menolak. Kedua perahu agak besar, kamu menolak. Yang keti ga saya mengirim helikopter, kamu juga menolak. Siapa bilang saya ti dak menolong kamu? Saya mengirim ti ga utusan dan semuanya kamu tolak. Siapa yang salah?” Itu cerita orang yang ti dak memakai pengerti an, yakin, percaya membuta. Saya cerita ini, Bhante Utt amo mendengar dan melanjutkan ceritanya, karena katamya cerita itu belum selesai dan masih ada lanjutannya. Lanjutan cerita dari Bhante Utt amo, Kongco Kuan Kong mengatakan, “Bagaimana kudaku bisa jalan kalau banjir kayak gitu? Kamu ti dak pakai otak. Aku kirim perahu karet, aku kirim perahu agak besar, dan aku kirim helikopter, tetapi kamu menolak. Kamu pikir aku datang naik kuda? Tidak mungkin!” Dan lain-lain, Bhante Utt amo bisa meneruskan sampai bermacam-macam. Itu kan cerita rekaan, Bhante. Ya, tetapi kejadian yang mirip-mirip seperti ini banyak terjadi di masyarakat.

Kalau Anda beragama, atu Anda percaya apa sajalah. Jangan hanya percaya saja, tanpa kogniti f, tanpa mengerti , tanpa belajar, kecewa nanti . Kalau mau ujian, mau ulangan, sembahyang Buddha kan ti dak bisa menolong, lalu mengundang-undang Bodhisatt va, engkong, emaknya yang sudah meninggal. Tidak benar. Di Buddhis ti dak ada yang seperti itu. Metafi sis-metafi sis seperti itu ti dak ada. Lalu bagaimana, Bhante? Ya belajar. Kalau Anda belajar, ya Anda siap, ti dak was-was. Sudah belajar tetapi meleset, yah, karma yang lampau. Yang dipelajari ti dak keluar, yang keluar ti dak dipelajari. Tidak ada hubungannya dengan ti dak berdoa, atau yang lulus itu doanya banyak. Dalam Buddhis ti dak mengenal itu. Ada persiapan, ada kesungguhan, ada usaha, ada karma baik yang dilakukan; semuanya akan jalan. Oleh karena itu, mari ‘3 M’: Menerima, Mengerti , dan Melaksanakan. Atau mengerti , lalu menerima dan melaksanakan. Terima kasih.

 

Sumber:

MELIHAT DHAMMA
Kumpulan ceramah Sri Pannyavaro Mahathera

Vidyāsenā Production
Vihāra Vidyāloka

 

NB : Mohon Maaf masih banyak format tulisan yang tidak benar.

tags: , , , , , , ,

Related For Keyakinan oleh YM. Sri Pannavaro, Mahathera