INTI SARI AJARAN AGAMA BUDDHA

Jumat, Mei 20th 2016. | Artikel

intisari ajaran agama buddha TisaranaDotNet

Penyusun : Pandita S. Widyadharma
NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO
SAMMA-SAMBUDDHASSA

Bab. I
PENDAHULUAN

1. RIWAYAT HIDUP BUDDHA GAUTAMA
Ayah dari Pangeran Siddharta adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan ibunya adalah
Sri Ratu Mahä Mäyä Dewi. Ibunda Ratu meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Sang Pangeran.
Setelah meninggal, beliau terlahir di alam Tusita, yaitu alam sorga luhur. Sejak itu maka yang merawat
Pangeran Siddharta adalah Mahä Pajäpati, bibinya yang juga menjadi isteri Raja Suddhodana.
Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 623 Sebelum Masehi di Taman Lumbini. Oleh para pertapa di
bawah pimpinan Asita Kaladewala diramalkan bahwa Pangeran Siddharta kelak akan menjadi Maharaja
Diraja atau akan menjadi Seorang Buddha. Hanya pertapa Kondañña yang dengan pasti meramalkan bahwa
Sang Pangeran kelak akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda menjadi cemas, karena
apabila Sang Pangeran menjadi Buddha, tidak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Oleh pertanyaan
Sang Raja, para pertapa itu menjelaskan agar Sang Pangeran jangan sampai melihat empat macam peristiwa,
atau ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha. Empat macam peristiwa itu adalah : 1. Orang tua, 2.
Orang sakit, 3. Orang mati, 4. Seorang pertapa.
Sejak kecil sudah terlihat bahwa Sang Pangeran adalah seorang anak yang cerdas dan sangat pandai,
selalu dilayani oleh pelayan-peolayan dan dayang-dayang yang masih muda dan cantik rupawan di istana
yang megah dan indah. Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang
dipersuntingnya setelah memenangkan berbagai sayembara. Ternyata akhirnya Sang Pangeran melihat empat
peristiwa yang selalu diusahakan agar tidak berada di dalam penglihatannya, setelah itu Pangeran Siddharta
tampak murung dan kecewa melihat kenyataan hidup yang penuh dengan derita ini.
Ketika beliau berusia 29 tahun, putera pertamanya lahir dan diberi nama Rahula. Setelah itu Pangeran
Siddharta meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari ilmu sejati yang dapat
membebaskan manusia dari usia tua, sakit dan mati.
Pertapa Siddharta berguru kepada Alära Käläma dan kemudian kepada Uddaka Ramäputra, tetapi tidak
merasa puas karena tidak memperoleh yang diharapkannya. Kemudian beliau bertapa menyiksa diri dengan
ditemani lima orang pertapa. Akhirnya beliau juga meninggalkan cara yang ekstrim itu dan bermeditasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan Penerangan Agung.
Dalam usia 35 tahun pertapa Siddharta memperoleh Penerangan Agung, menjadi Buddha di bawah pohon
Bodhi di hutan Uruvela (kini tempat tersebut disebut Buddha Gaya). Untuk pertama kalinya Beliau
mengajarkan Dhamma yang maha sempurna kepada lima orang pertapa kawan Beliau di Taman Rusa
Isipatana di dekat Benares. Adapun kelima orang pertapa itu adalah Kondañña, Bodhiya, Vappa, Mahanama
dan Assaji.
Setelah mendengarkan khotbah Sang Buddha, Kondañña, segera menjadi Sotapanna dan kemudian
menjadi Arahat. Yang lainnya pun menyusul menjadi Arahat. Khotbah pertama ini kemudian dikenal sebagai
Khotbah Pemutaran Roda Dhamma (Dhamma Cakka Pavattana Sutta). Selanjutnya Sang Buddha sangat giat
mengajarkan Dhamma kepada para siswaNya sampai Beliau mangkat di Kusinara dalam usia 80 tahun.
TIMBULNYA DUA ALIRAN BESAR
Segera setelah Buddha Gautama mencapai Pari-Nibbana, maka diadakanlah Sidang Agung (Sanghasamaya)
yang pertama di kota Rajagaha (543 S.M.). Sidang ini dipimpin oleh Y.A. Kassapa dan dihadiri oleh
500 orang bhikkhu yang semuanya telah mencapai tingkat Arahat.
Maksud dari sidang ini ialah untuk menghimpun Ajaran-ajaran dari Buddha Gautama yang diberikan di
tempat-tempat yang berlainan, kepada orang-orang yang berlainan dan pada waktu yang berlainan pula
selama 45 tahun. Dalam sidang tersebut Y.A. Upali mengulang tata-tertib bagi para bhikkhu dan bhikkhuni
(Vinaya) dan Y.A. Ananda mengulang khotbah-khotbah (Sutta) dari Buddha Gautama. Ajaran-ajaran dan
khotbah-khotbah ini dihafalkan di luar kepala dan diajarkan lagi kepada orang lain dari mulut ke mulut.
Sidang Agung ke-dua diadakan di kota Vesali lebih kurang 100 tahun kemudian (l.k. 443 S.M.). Sidang
ini diadakan untuk membicarakan tuntutan segolongan bhikkhu (golongan Mahasangika), yang menghendaki
agar beberapa peraturan tertentu dari Vinaya, yang dianggap terlalu keras, dirobah atau diperlunak. Dalam
sidang ini golongan Mahasangika dikalahkan dan sidang memutuskan untuk tidak merobah Vinaya yang
sudah ada.
Sidang Agung ke-tiga diadakan lebih kurang 230 tahun setelah Sidang Agung pertama (l.k. 313 S.M.), di
ibu kota kerajaan Asoka, yaitu Pataliputta. Sidang ini dipimpin oleh Y.A. Tissa Moggaliputta dan bertujuan
menertibkan beberapa perbedaan pendapat yang menyebabkan perpecahan di dalam Sangha. Di samping itu
sidang memeriksa kembali dan menyempurnakan Kanon (Kitab Suci) Pali. Di Sidang Agung ke-tiga ini
Ajaran Abidhamma diulang secara tersendiri, sehingga dengan demikian lengkaplah sudah Kanon Pali yang
terdiri dari tiga kelompok besar, meskipun masih belum dituliskan dalam kitab-kitab dan masih dihafal di
luar kepala. Golongan bhikkhu-bhikkhu yang terkena penertiban meninggalkan golongan Sthaviravada
(pendahulu dari golongan yang sekarang dikenal sebagai Theravada) dan mengungsi ke arah Utara.
Sidang Agung ke-empat diadakan di Srilangka pada 400 tahun setelah Buddha Gautama meninggal dunia
dan dipimpin oleh seorang anak dari Raja Asoka, yaitu Mahinda. Sidang ini berhasil untuk secara resmi
menulis Ajaran-Ajaran Buddha Gautama di daun-daun lontar yang kemudian dijadikan buku Tipitaka dalam
bahasa Pali.

Sidang Agung ke-lima diadakan di Kanishka oleh Raja Kanishka pada kurang lebih 600 tahun setelah
Buddha Gautama meninggal dunia. Sidang ini diadakan oleh mereka yang memisahkan diri dari golongan
Sthaviravada dan di sidang ini buku Tipitaka menurut pandangan golongan Mahayana secara resmi ditulis
dalam bahasa Sansekerta.
Catatan :
Buddha Gautama bukanlah Buddha yang pertama di dalam masa-dunia ini (masa-dunia atau kalpa ; satu
kalpa lamanya kurang lebih 4.320.000.000 tahun). Buddha-Buddha sebelumnya adalah Buddha Kakusandha,
Buddha Konagamana, Buddha Kassapa, Buddha yang akan datang adalah Buddha Mettaya (Maitreya).
Menurut Buddha Gautama, Ajaran Beliau akan dapat bertahan selama lebih kurang 5.000 tahun; setelah
itu Ajaran Beliau akan demikian diselewengkan, sehingga mungkin masih ada yang menggunakan nama
Agama Buddha, tetapi ajarannya akan jauh sekali berbeda dengan Ajaran Beliau yang asli. Karena itu akan
datang kembali Seorang Buddha lain yang akan dikenal sebagai Buddha Mettaya (Maitreya).
2. SEJARAH PERKEMBANGAN AGAMA BUDDHA DI INDONESIA
Pada jaman dahulu orang-orang di Indonesia menyembah dan memuja roh leluhurnya. Leluhur dianggap
sebagai yang telah berjasa dan mempunyai banyak pengalaman. Roh leluhur, Hyang atau Dahyang namanya,
menurut kepercayaan pada waktu itu dianggap mempunyai kekuatan gaib yang dapat digunakan oleh orangorang
yang masih hidup. Kekuatan gaib itu diperlukan jika orang akan memulai suatu pekerjaan yang
penting, misalnya akan berangkat perang, akan memulai mengerjakan tanah dan lain sebagainya.
Mereka juga percaya bahwa benda-benda seperti pohon besar, batu besar, gunung dan sebagainya dihuni
oleh roh-roh. Ada kalanya benda-benda senjata-senjata dianggap bertuah, sakti dan dijadikan jimat oleh
pemiliknya.
Upacara pemujaan roh leluhur harus diatur sebaik-baiknya agar restunya mudah diperoleh. Dan
pertunjukkan wayang, suatu bentuk kebudayaan Indonesia, erat hubungannya dengan upacara tersebut.
Kepercayaan kepada “HYANG” masih dapat juga kita lihat sampai saat ini.
Jaman Sriwijaya.
Sriwijaya bukan saja termashyur karena kekuatan angkatan perangnya, melainkan juga karena
merupakan pusat ilmu dan kebudayaan Buddha. Di sana terdapat banyak vihara yang dihuni oleh ribuan
bhikkhu. Pada Perguruan Tinggi Agama Buddha di Sriwijaya orang dapat mengikuti selain kuliah-kuliah
tentang Agama Buddha juga kuliah-kuliah tentang bahasa Sansekerta dan Bahasa Indonesia Kuno. Pujangga-
Pujangga Agama Buddha yang terkenal seperti Dharmapala dan Sakyakirti pernah mengajar di Perguruan
Tinggi tersebut. Pada waktu itu Sriwijaya merupakan mercusuar Agama Buddha di Asia Tenggara yang
memancarkan cahaya budaya manusia yang cemerlang.
Tentang Agama Buddha di Sriwijaya juga banyak diceritakan oleh seorang sarjana Agama Buddha dari
Tiongkok yang bernama I-Tsing. Dalam tahun 672 ia bertolak untuk berziarah ke tempat-tempat suci Agama
Buddha di India. Waktu pulang dalam tahun 685 ia singgah di Sriwijaya dan tinggal di sana sampai 10 tahun
lamanya untuk mempelajari dan menyalin buku-buku suci Agama Buddha dalam bahasa Sansekerta ke
dalam bahasa Tionghoa.

Sriwijaya yang berada di pulau Sumatera didirikan pada kira-kira abad ke-7 dan dapat bertahan terus
hingga tahun 1377.
Jaman Sailendra di Mataram.
Pada tahun 775 hingga tahun 850 di daerah Bagelen dan Yogyakarta berkuasalah raja-raja dari wangsa
Sailendra yang memeluk Agama Buddha. Jaman ini adalah jaman keemasan bagi Mataram, dan negara di
bawah pemerintahannya aman dan makmur. Ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan tentang Agama
Buddha sangat maju. Dan kesenian, terutama seni pahat, mencapai taraf yang sangat tinggi.
Pada waktu itu seniman-seniman bangsa Indonesia menghasilkan karya-karya seni yang mengagumkan.
Hingga sekarang pun masih dapat kita saksikan betapa indahnya candi-candi yang mereka buat misalnya :

  • Candi Kalasan. Candi ini terletak di sebelah timur laut kota Yogyakarta dan didirikan di tahun 778
    oleh Rakai Panakaran atas perintah Raja Sailendra.
  • Candi Sewu. Candi ini terletak di Prambanan (perbatasan Solo – Yogya) dan didirikan di tahun 800.
  • Candi-candi Borobudur, Pawon, Mendut. Candi-candi ini terletak dekat kota Muntilan dan didirikan
    di tahun 825 atas perintah Raja Sailendra yang bernama Samarotungga.
    Kecuali candi-candi tersebut di atas masih banyak lagi candi-candi yang didirikan atas perintah Raja-Raja
    Sailendra, tetapi yang paling besar dan paling indah adalah candi Borobudur. Setelah Raja Samarotungga
    meninggal dunia, Mataram kembali diperintah oleh raja-raja dari wangsa Sanjaya yang beragama Hindu,
    namun Agama Buddha dan Agama Hindu dapat berkembang terus berdampingan dengan rukun dan damai.
    Jaman Majapahit.
    Di dalam masa pemerintahan raja-raja Majapahit (tahun 1292 s/d tahun 1476), Agama Buddha
    berkembang dengan baik bersama-sama dengan Agama Hindu. Toleransi (saling harga-menghargai) di
    bidang keagamaan dijaga baik-baik, sehingga pertentangan agama tidak pernah terjadi.
    Di waktu pemerintahan Raja Hayam Wuruk, seorang pujangga terkenal, Mpu Tantular, telah menulis
    sebuah buku yang berjudul “Sutasoma”, di mana terdapat kalimat Bhinneka Tunggal Ika yang kini dijadikan
    lambang negara Republik Indonesia yang melambangkan motto toleransi dan persatuan. Setelah Majapahit
    runtuh pada tahun 1478, maka berangsur-angsur agama Buddha dan Hindu digeser kedudukannya oleh
    agama Islam.

Kebangkitan kembali Agama Buddha di Indonesia.
Agama Buddha mulai bangkit kembali di pulau Jawa dengan datangnya Bhikkhu Narada Thera dari Sri
Lanka (Ceylon) di bulan Maret tahun 1934. Selama berada di pulau Jawa, Bhikkhu Narada Thera antara lain
telah melakukan kegiatan-kegiatan sbb. :

  • Memberikan khotbah-khotbah dan pelajaran-pelajaran Buddha-Dhamma di beberapa tempat di
    Jakarta, Bogor, Jawa-Barat dan Jawa-Tengah.
  • Memberkahi penanaman pohon Bodhi di pekarangan candi Borobudur pada tanggal 10 Maret 1934.
  • Membantu dalam pendirian Java Buddhist Association (Perhimpunan agama Buddha yang pertama)
    di Bogor dan Jakarta.
  • Menjalin kerja-sama yang erat dengan bhikshu-bhikshu (hweshio-hweshio) dari kelenteng-kelenteng
    Kim Tek Ie, Kwan Im Tong dan Toeng San Tong di Jakarta, kelenteng Hok Tek Bio di Bogor, kelenteng Kwan Im Tong di Bandung, kelenteng Tin kok Sin di Solo dan perhimpunan-perhimpunan
    Theosofie di Jakarta, Bogor, Jawa-Barat dan Jawa-Tengah.
  • Melantik upasaka-upasaka dan upasika-upasika di tempat-tempat yang Beliau kunjungi. Bapak Maha
    Upasaka S. Mangunkowotjo, tokoh umat Buddha Jawa-Tengah dan anggota MPR telah dilantik
    menjadi upasaka di Yogyakarta oleh Bhikkhu Narada Thera pada tanggal 10 Maret 1934.

Nama-nama dari para perintis bangkitnya kembali Agama Buddha di pulau Jawa pada waktu itu adalah
antara lain :
1. Pandita Josias van Dienst, Deputy Director General Buddhist Mission, Java Section.
2. Kwee Tek Hoay, Direktur dan Redaktur Kepala dari Majalah Moestika Dharma, Jakarta.

 

 

Bab. II
AJARAN SANG BUDDHA

1. KITAB SUCI AGAMA BUDDHA
Kitab Suci Agama Buddha yang tertulis dalam Bahasa Pali adalah TIPITAKA, yang terdiri dari :
1. Vinaya Pitaka = Yang berisikan tata-tertib bagi para bhikkhu/bhikkhuni.
2. Sutta Pitaka = Yang berisikan khotbah-khotbah Sang Buddha
3. Abidhamma Pitaka = Yang berisikan Ajaran tentang metafisika dan ilmu kejiwaan.
Sedangkan yang tertulis dalam bahasa Sansekerta adalah :
1. Avatamsaka Sutra.
2. Lankavatara Sutra.
3. Saddharma Pundarika Sutra.
4. Vajracchendika Prajna Paramita Sutra (Kim Kong Keng), dan lain-lain.
2. KESUNYATAAN DAN KENYATAAN
a. Paramatha-sacca : Kebenaran mutlak (absolute truth), dan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Harus benar.
2. Tidak terikat oleh waktu ; waktu dulu, sekarang dan waktu yang akan datang sama saja.
3. Tidak terikat oleh tempat ; di sini, di Amerika ataupun di bulan sama saja.
b. Sammuti-sacca : Kebenaran relatif ; berarti bahwa sesuatu itu benar, tetapi masih terikat oleh waktu
dan tempat.

3. EHIPASSIKO
Ehipassiko berarti “datang dan alamilah sendiri”. Umat Buddha tidak diminta untuk percaya saja, tetapi
justru untuk mengalami sendiri segala sesuatu. Ini menunjukkan khas Buddhis, berbeda dengan apa yang
diajarkan oleh Agama-agama lain.
4. EMPAT KESUNYATAAN MULIA
I. Kesunyataan Mulia tentang Dukkha
Hidup dalam bentuk apa pun adalah dukkha (penderitaan) :
a. dilahirkan, usia tua, sakit, mati adalah penderitaan.
b. berhubungan dengan orang yang tidak disukai adalah penderitaan.
c. ditinggalkan oleh orang yang dicintai adalah penderitaan.
d. tidak memperoleh yang dicita-citakan adalah penderitaan.
e. masih memiliki lima khanda adalah penderitaan.

Dukkha dapat juga dibagi sbb. :
a. dukkha-dukkha – ialah penderitaan yang nyata, yang benar dirasakan sebagai penderitaan tubuh dan bathin, misalnya sakit kepala, sakit gigi, susah hati dll.
b. viparinäma-dukkha – merupakan fakta bahwa semua perasaan senang dan bahagia —
berdasarkan sifat ketidak-kekalan– di dalamnya mengandung benihbenih
kekecewaan, kekesalan dll.
c. sankhärä-dukkha – lima khanda adalah penderitaan ; selama masih ada lima khanda tak
mungkin terbebas dari sakit fisik.
II. Kesunyataan Mulia tentang asal mula Dukkha
Sumber dari penderitaan adalah tanhä, yaitu nafsu keinginan yang tidak ada habis-habisnya. Semakin diumbar semakin keras ia mencengkeram. Orang yang pasrah kepada tanhä sama saja dengan orang minum air asin untuk menghilangkan rasa hausnya. Rasa haus itu bukannya hilang, bahkan menjadi bertambah, karena air asin itu yang mengandung garam. Demikianlah, semakin orang pasrah kepada tanhä semakin keras tanhä itu mencengkeramnya.
Dikenal tiga macam tanhä, yaitu :

1. Kämatanhä : kehausan akan kesenangan indriya, ialah kehausan akan :
a. bentuk-bentuk (indah)
b. suara-suara (merdu)
c. wangi-wangian
d. rasa-rasa (nikmat)
e. sentuhan-sentuhan (lembut)
f. bentuk-bentuk pikiran
2. Bhavatanhä : kehausan untuk lahir kembali sebagai manusia berdasarkan kepercayaan tentang
adanya “atma (roh) yang kekal dan terpisah” (attavada).
3. Vibhavatanhä : kehausan untuk memusnahkan diri, berdasarkan kepercayaan, bahwa setelah
mati tamatlah riwayat tiap-tiap manusia (ucchedaväda).
III. Kesunyataan Mulia tentang lenyapnya Dukkha
Kalau tanhä dapat disingkirkan, maka kita akan berada dalam keadaan yang bahagia sekali, karena
terbebas dari semua penderitaan (bathin). Keadaan ini dinamakan Nibbana.
a. Sa-upadisesa-Nibbana = Nibbana masih bersisa. Dengan ‘sisa’ dimaksud bahwa lima khanda itu masih ada.
b. An-upadisesa-Nibbana = Setelah meninggal dunia, seorang Arahat akan mencapai anupadisesa-nibbana, ialah Nibbana tanpa sisa atau juga
dinamakan Pari-Nibbana. Sang Arahat telah beralih ke dalam
keadaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Misalnya, kalau api padam, kejurusan mana api itu pergi?
jawaban yang tepat : ‘tidak tahu’ Sebab api itu padam karena
kehabisan bahan bakar.
IV. Kesunyataan Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha
Delapan Jalan Utama (Jalan Utama Beruas Delapan) yang akan membawa kita ke Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha, yaitu :
Pañña
1. Pengertian Benar (sammä-ditthi)
2. Pikiran Benar (sammä-sankappa)
Sila
3. Ucapan Benar (sammä-väcä)
4. Perbuatan Benar (sammä-kammanta)
5. Pencaharian Benar (sammä-ajiva)

Samädhi
6. Daya-upaya Benar (sammä-väyäma)
7. Perhatian Benar (sammä-sati)
8. Konsentrasi Benar (sammä-samädhi)
Delapan Jalan Utama ini dapat lebih lanjut diperinci sbb. :
1. Pengertian Benar (sammä-ditthi)
menembus arti dari :
a. Empat Kesunyataan Mulia
b. Hukum Tilakkhana (Tiga Corak Umum)
c. Hukum Paticca-Samuppäda
d. Hukum Kamma
2. Pikiran Benar (sammä-sankappa)
a. Pikiran yang bebas dari nafsu-nafsu keduniawian(nekkhamma-sankappa).
b. Pikiran yang bebas dari kebencian (avyäpäda-sankappa)
c. Pikiran yang bebas dari kekejaman(avihimsä-sankappa)
3. Ucapan Benar (sammä-väcä)
Dapat dinamakan Ucapan Benar, jika dapat memenuhi empat syarat di bawah ini :
a. Ucapan itu benar
b. Ucapan itu beralasan
c. Ucapan itu berfaedah
d. Ucapan itu tepat pada waktunya
4. Perbuatan Benar (sammä-kammanta)
a. Menghindari pembunuhan
b. Menghindari pencurian
c. Menghindari perbuatan a-susila
5. Pencaharian Benar (sammä-ajiva)
Lima pencaharian salah harus dihindari (M. 117), yaitu :
a. Penipuan
b. Ketidak-setiaan
c. Penujuman
d. Kecurangan
e. Memungut bunga yang tinggi (praktek lintah darat)

Di samping itu seorang siswa harus pula menghindari lima macam perdagangan , yaitu :
a. Berdagang alat senjata
b. Berdagang mahluk hidup
c. Berdagang daging (atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan mahluk-mahluk hidup)
d. Berdagang minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan
e. Berdagang racun.

6. Daya-upaya Benar (sammä-väyäma)
a. Dengan sekuat tenaga mencegah munculnya unsur-unsur jahat dan tidak baik di dalam  bathin.
b. Dengan sekuat tenaga berusaha untuk memusnahkan unsur-unsur jahat dan tidak baik, yang sudah ada di dalam bathin.
c. Dengan sekuat tenaga berusaha untuk membangkitkan unsur-unsur baik dan sehat di dalam bathin.
d. Berusaha keras untuk mempernyata, mengembangkan dan memperkuat unsur-unsur baik dan sehat yang sudah ada di dalam bathin.
7. Perhatian Benar (sammä-sati)
Sammä-sati ini terdiri dari latihan-latihan Vipassanä-Bhävanä (meditasi untuk memperoleh
pandangan terang tentang hidup), yaitu :
a. Käyä-nupassanä = Perenungan terhadap tubuh
b. Vedanä-nupassanä = Perenungan terhadap perasaan.
c. Cittä-nupassanä = Perenungan terhadap kesadaran.
d. Dhammä-nupassanä = Perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran.
8. Konsentrasi Benar (sammä-samädhi)
Latihan meditasi untuk mencapai Jhäna-Jhäna.
Siswa yang telah berhasil melaksanakan Delapan Jalan Utama memperoleh :
1. Sila-visuddhi – Kesucian Sila sebagai hasil dari pelaksanaan Sila dan terkikis habisnya Kilesa.
2. Citta-visuddhi – Kesucian Bathin sebagai hasil dari pelaksanaan Samadhi dan terkikis habisnya Nivarana.
3. Ditthi-visuddhi – Kesucian Pandangan sebagai hasil dari pelaksanaan Pañña dan terkikis habisnya Anusaya.

 

BHAVANA
Agama Buddha mengenal 2 (dua) macam meditasi (Bhavana) :
I. Samatha-bhavana = Meditasi untuk mendapatkan ketenangan bathin melalui Jhäna-Jhäna.
a. Vitakka = Usaha dalam tingkat permulaan untuk memegang obyek.
b. Vicära = Pikiran yang berhasil memegang obyek dengan kuat.
c. Piti = Kegiuran
d. Sukha = Kebahagiaan.
Jhäna pertama :
e. Ekaggata = Pemusatan pikiran yang kuat.
Jhäna kedua : Vicära, Piti, Sukha, Ekaggata.
Jhäna ketiga : Piti, Sukha, Ekaggata.
Jhäna keempat : Sukha, Ekaggata.
Jhäna kelima : Ekaggata + keseimbangan bathin.
Meditasi Samatha-bhävanä yang sangat dipujikan ialah Brahma-Vihära-bhävanä yang terdiri dari :
1. Mettä-bhävanä = Usaha dalam tingkat permulaan untuk memegang obyek.
2. Karunä-bhävanä = Meditasi welas-asih terhadap semua mahluk yang sedang menderita.
3. Muditä-bhävanä = Meditasi yang mengandung simpati terhadap kebahagiaan orang lain.
4. Upekkhä-bhävanä = Meditasi keseimbangan bathin.
Brahmä-Vihära-bhävanä dapat juga dipakai untuk melemahkan kecenderungan-kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang tidak baik

Tiga Akar Perbuatan
Tiga hal yang di bawah ini dapat disebut sebagai tiga akar atau sumber untuk melakukan perbuatan, yaitu :
1. Lobha = Kemelekatan yang sangat terhadap sesuatu sehingga menimbulkan keserakahan.
2. Dosa = Penolakan yang sangat terhadap sesuatu sehingga menimbulkan kebencian.
3. Moha = Kebodohan ; tidak dapat menbeda-bedakan mana yang buruk dan mana yang
baik.
II. Vipassanä-bhävanä = Meditasi untuk memperoleh Pandangan Terang tentang hidup, tentang
hakikat sesungguhnya dari benda-benda.
Latihan-latihan Vipassanä-bhävanä sudah diterangkan sewaktu membahas Perhatian Benar (sammä-sati).
Tujuan dari latihan-latihan bhävanä ialah untuk menyingkirkan Nivarana (lihat pembahasan Asava) yang
dianggap sebagai rintangan untuk memperoleh ketenangan bathin maupun Pandangan Terang tentang
hidup dan hakekat sesungguhnya dari benda-benda.
Perincian dari Nivarana adalah sbb. :
1. Kämacchanda — nafsu keinginan
2. Vyäpäda — keinginan jahat, kebencian dan amarah.
3. Thina-middha — lamban, malas dan kesu.
4. Uddhacca-kukkucca — gelisah dan cemas.
5. Vicikicchä — keragu-raguan.
Dalam tingkat kesucian, umat Buddha dapat dibagi dalam dua golongan :
1. Puthujjana – Ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga yang belum mencapai tingkat kesucian.
2. Ariya-puggalä – Ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga

 

HUKUM TILAKKHANA (TIGA CORAK UMUM)
Hukum Tilakkhana ini termasuk Hukum Kesunyataan ; berarti bahwa Hukum ini berlaku di mana-mana dan
pada setiap waktu. Jadi tidak terikat oleh waktu dan tempat.
1. Sabbe sankhärä aniccä
Segala sesuatu dalam alam semesta ini yang terdiri dari paduan unsur-unsur adalah tidak kekal. Umat Buddha melihat segala sesuatu dalam alam semesta ini sebagai suatu proses yang selalu dalam keadaan
bergerak, yaitu :
Uppada (timbul)
Thiti (berlangsung)
Bhanga(berakhir/lenyap)
2. Sabbe sankhärä dukkha

Apa yang tidak kekal sebenarnya tidak memuaskan dan oleh karena itu adalah penderitaan.
3. Sabbe Dhammä Anattä
Segala sesuatu yang tercipta dan tidak tercipta adalah tanpa inti yang kekal/abadi.
Contoh dari sesuatu yang tidak tercipta adalah Nibbana.
Di samping paham anattä yang khas Buddhis terdapat juga dua paham lain yaitu :
1. Attaväda – Paham bahwa atma (roh) adalah kekal-abadi dan akan berlangsung sepanjang masa (tidak dibenarkan oleh Sang Buddha).
2. Ucchedaväda – Paham bahwa setelah mati atma (roh) itu pun akan turut lenyap (tidak dibenarkan oleh Sang Buddha).

 

LIMA KHANDHA
Dalam Agama Buddha diajarkan bahwa seorang manusia terdiri dari lima kelompok kehidupan/kegemaran (Khandha) yang saling bekerja-sama dengan erat sekali.
Ke lima kelompok kehidupan/kegemaran tersebut adalah :
1. Rupa – Bentuk, tubuh, badan jasmani.
2. Sañña – Pencerapan.
3. Sankhära – Pikiran, bentuk-bentuk mental.
4. Vedanä – Perasaan.
5. Viññana – Kesadaran.
Gabungan dari No. 2, 3, 4 dan 5 dapat juga dinamakan nama (bathin), sehingga seorang manusia dapat dikatakan
terdiri dari rupa dan nama.
Dalam menangkap rangsangan dari luar, maka bekerja-samanya lima khandha ini adalah sbb. :
1. Rupa – Kita menangkap suatu rangsangan melalui mata, telinga, hidung, lidah, tubuh yang merupakan bagian dari badan jasmani kita.
2. Viññana (citta) – Kita lalu akan menyadari bahwa bathin kita telah menangkap suatu rangsangan.
3. Sañña – Rangsangan tersebut mencerap ke dalam bathin kita melalui suatu bagian dari otak kita, mengenal obyek.
4. Sankhära – Rangsangan ini kita akan banding-bandingkan dengan pengalaman kita yang duludulu melalui gambaran-gambaran pikiran yang tersimpan dalam bathin kita.
5. Vedanä – Dengan membanding-bandingkan ini lalu timbul suatu perasaan senang (suka) atau tidak senang (tidak suka) terhadap rangsangan yang telah tertangkap melalui panca indera kita.
Proses mental ini berlangsung sbb. :
Kesadaran Pencerapan Pikiran Perasaan.
Menurut Ajaran Sang Buddha, di dalam diri seorang manusia hanya terdapat lima khandha ini dan tidak dapat
ditemukan suatu atma atau roh yang kekal dan abadi. Dengan cara ini, maka anattä diterangkan melalui analisa.
6. HUKUM PATICCA-SAMUPPADA
Paham anattä dapat pula diterangkan melalui cara sinthesa, yaitu melalui Hukum Paticca-Samuppada (Hukum
Sebab-musabab Yang Saling Bergantungan).
Prinsip dari Hukum ini diberikan dalam empat formula pendek, yaitu :
1. Imasming Sati Idang Hoti
Dengan adanya ini, maka terjadilah itu.
2. Imassuppädä Idang Uppajjati
Dengan timbulnya ini, maka timbullah itu.
3. Imasming Asati Idang Na Hoti
Dengan tidak adanya ini, maka tidak adalah itu.
4. Imassa Nirodhä Idang Nirujjati
Dengan terhentinya ini, maka terhentilah juga itu.
Berdasarkan prinsip dari saling menjadikan, relatifitas dan saling bergantungan ini, maka seluruh kelangsungan dan kelanjutan hidup dan juga berhentinya hidup dapat diterangkan dalam formula dari duabelas nidana (sebabmusabab):
1. Avijjä Paccayä Sankhära
Dengan adanya kebodohan (ketidak-tahuan), maka terjadilah bentuk-bentuk karma.
2. Sankhära Paccayä Viññänang
Dengan adanya bentuk-bentuk karma, maka terjadilah kesadaran.
3. Viññäna Paccayä Namarupang
Dengan adanya kesadaran, maka terjadilah bathin dan badan jasmani.
4. Namarupang Paccayä Saläyatanang.
Dengan adanya bathin dan badan jasmani, maka terjadilah enam indriya
5. Saläyatana Paccayä Phassa.
Dengan adanya enam indriya, maka terjadilah kesan-kesan.
6. Phassa Paccayä Vedanä.
Dengan adanya kesan-kesan, maka terjadilah perasaan.
7. Vedanä Paccayä Tanhä.
Dengan adanya perasaan, maka terjadilah tanhä (keinginan).
8. Tanhä Paccayä Upädänang.
Dengan adanya tanhä (keinginan), maka terjadilah kemelekatan.
9. Upädäna Paccayä Bhavo.
Dengan adanya kemelekatan, maka terjadilah proses tumimbal lahir.
10. Bhava Paccayä Jati.
Dengan adanya proses tumimbal lahir, maka terjadilah kelahiran kembali.
11. Jati Paccayä Jaramaranang.
Dengan adanya kelahiran kembali, maka terjadilah kelapukan, kematian, keluh-kesah, sakit dll.
12. Jaramarana.
Kelapukan, kematian, keluh-kesah, sakit dll. adalah akibat dari kelahiran kembali.
Demikianlah kehidupan itu timbul, berlangsung dan bersambung terus. Kalau kita mengambil rumus tersebut
dalam arti yang sebaliknya, maka kita akan sampai kepada penghentian dari proses itu. Dengan terhenti
seluruhnya dari kebodohan, maka terhenti pula bentuk-bentuk karma; dengan terhentinya bentuk-bentuk karma,
maka terhenti pulalah kesadaran; ….. dengan terhentinya kelahiran kembali, maka terhenti pulalah kelapukan,
kematian, kesedihan dll.

 

7. HUKUM KAMMA
Kamma adalah kata bahasa Pali yang berarti “perbuatan”, yang dalam arti umum meliputi semua jenis
kehendak dan maksud perbuatan, yang baik maupun yang buruk, lahir atau bathin dengan pikiran kata-kata
atau tindakan. Makna yang luas dan sebenarnya dari Kamma, ialah semua kehendak atau keinginan dengan
tidak membeda-bedakan apakah kehendak atau keinginan itu baik (bermoral) atau buruk (tidak bermoral),
mengenai hal ini Sang Buddha pernah bersabda :
“O, bhikkhu, kehendak untuk berbuat (Pali : Cetana) itulah yang Kami namakan Kamma. Sesudah
berkehendak orang lantas berbuat dengan badan, perkataan atau pikiran.”
Kamma bukanlah satu ajaran yang membuat manusia menjadi orang yang lekas berputus-asa, juga bukan
ajaran tentang adanya satu nasib yang sudah ditakdirkan. Memang segala sesuatu yang lampau mempengaruhi
keadaan sekarang atau pada saat ini, akan tetapi tidak menentukan seluruhnya, oleh karena kamma itu meliputi
apa yang telah lampau dan keadaan pada saat ini, dan apa yang telah lampau bersama-sama dengan apa yang
terjadi pada saat sekarang mempengaruhi pula hal-hal yang akan datang. Apa yang telah lampau sebenarnya
merupakan dasar di mana hidup yang sekarang ini berlangsung dari satu saat ke lain saat dan apa yang akan
datang masih akan dijalankan. Oleh karena itu, saat sekarang inilah yang nyata dan ada “di tangan kita” sendiri
untuk digunakan dengan sebaik-baiknya. Oleh sebab itu kita harus hati-hati sekali dengan perbuatan kita,
supaya akibatnya senantiasa akan bersifat baik.
Kita hendaknya selalu berbuat baik, yang bermaksud menolong mahluk-mahluk lain, membuat mahlukmahluk
lain bahagia, sehingga perbuatan ini akan membawa satu kamma-vipaka (akibat) yang baik dan
memberi kekuatan kepada kita untuk melakukan kamma yang lebih baik lagi. Satu contoh yang klasik adalah
sbb. :
Lemparkanlah batu ke dalam sebuah kolam yang tenang. Pertama-tama akan terdengar percikan air dan
kemudian akan terlihat lingkaran-lingkaran gelombang. Perhatikanlah bagaimana lingkaran ini makin lama
makin melebar, sehingga menjadi begitu lebar dan halus yang tidak dapat lagi dilihat oleh mata kita. Ini bukan
berarti bahwa gerak tadi telah selesai, sebab bilamana gerak gelombang yang halus itu mencapai tepi kolam, ia
akan dipantulkan kembali sampai mencapai tempat bekas di mana batu tadi dijatuhkan.
Begitulah semua akibat dari perbuatan kita akan kembali kepada kita seperti halnya dengan gelombang di
kolam yang kembali ke tempat dimana batu itu dijatuhkan.
Sang Buddha pernah bersabda (Samyutta Nikaya I, hal. 227) sbb :
“Sesuai dengan benih yang telah ditaburkan begitulah buah yang akan dipetiknya, pembuat kebaikan akan mendapat kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula.
Tertaburlah olehmu biji-biji benih dan engkau pulalah yang akan merasakan buah-buah dari padanya”.
Segala sesuatu yang datang pada kita, yang menimpa diri kita, sesungguhnya benar adanya. Bilamana kita
mengalami sesuatu yang membahagiakan, yakinlah bahwa kamma yang telah kita perbuat adalah benar.
Sebaliknya bila ada sesuatu yang menimpa kita dan membuat kita tidak senang, kamma-vipaka itu kamma-vipaka itu senantiasa benar. Ia tidak mencintai maupun membenci, pun tidak marah dan juga tidak
memihak. Ia adalah hukum alam, yang dipercaya atau tidak dipercaya akan berlangsung terus.
Terdapat dua belas jenis bentuk-bentuk kamma yang tidak diperinci di sini. Bentuk kamma yang lebih berat
(bermutu) dapat menekan — bahkan menggugurkan — bentuk-bentuk kamma yang lain. Ada orang yang
menderita hebat karena perbuatan kecil, tetapi ada juga yang hampir tidak merasakan akibat apapun juga untuk
perbuatan yang sama. Mengapa? Orang yang telah menimbun banyak kamma baik, tidak akan banyak
menderita karena perbuatan itu, sebaliknya orang yang tidak banyak melakukan kamma-kamma baik akan
menderita hebat.
Singkatnya : Kamma Vipaka dapat diperlunak, dibelokkan, ditekan, bahkan digugurkan.
Kamma dapat dibagi dalam tiga golongan :
1. Kamma Pikiran (mano-kamma).
2. Kamma Ucapan (vaci-kamma).
3. Kamma Perbuatan (kaya-kamma).
10 (sepuluh) jenis kamma baik
1. Gemar beramal dan bermurah hati
akan berakibat dengan diperolehnya kekayaan dalam kehidupan ini atau kehidupan yang akan datang.
2. Hidup bersusila
mengakibatkan terlahir kembali dalam keluarga luhur yang keadaannya berbahagia.
3. Bermeditasi
berakibat dengan terlahir kembali di alam-alam sorga.
4. Berendah hati dan hormat
menyebabkan terlahir kembali dalam keluarga luhur.
5. Berbakti
berbuah dengan diperolehnya penghargaan dari masyarakat.
6. Cenderung untuk membagi kebahagiaan kepada orang lain
berbuah dengan terlahir kembali dalam keadaan berlebih-lebihan dalam banyak hal.
7. Bersimpati terhadap kebahagiaan orang lain
menyebabkan terlahir dalam lingkungan yang menggembirakan.
8. Sering mendengarkan Dhamma
berbuah dengan bertambahnya kebijaksanaan.
9. Menyebarkan Dhamma
berbuah dengan bertambahnya kebijaksanaan (sama dengan No. 8).
10. Meluruskan pandangan orang lain
berbuah dengan diperkuatnya keyakinan.
10 (sepuluh) jenis kamma buruk
1. Pembunuhan
akibatnya pendek umur, berpenyakitan, senantiasa dalam kesedihan karena terpisah dari keadaan atau orang yang dicintai, dalam hidupnya senantiasa berada dalam ketakutan
2. Pencurian
akibatnya kemiskinan, dinista dan dihina, dirangsang oleh keinginan yang senantiasa tak tercapai,
penghidupannya senantiasa tergantung pada orang lain.
3. Perbuatan a-susila
akibatnya mempunyai banyak musuh, beristeri atau bersuami yang tidak disenangi, terlahir sebagai pria
atau wanita yang tidak normal perasaan seksnya.
4. Berdusta
akibatnya menjadi sasaran penghinaan, tidak dipercaya khalayak ramai.
5. Bergunjing
akibatnya kehilangan sahabat-sahabat tanpa sebab yang berarti.
6. Kata-kata kasar dan kotor
akibatnya sering didakwa yang bukan-bukan oleh orang lain.
7. Omong kosong
akibatnya bertubuh cacad, berbicara tidak tegas, tidak dipercaya oleh khalayak ramai.
8. Keserakahan
akibatnya tidak tercapai keinginan yang sangat diharap-harapkan.
9. Dendam, kemauan jahat / niat untuk mencelakakan mahluk lain
akibatnya buruk rupa, macam-macam penyakit, watak tercela.
10. Pandangan salah
akibatnya tidak melihat keadaan yang sewajarnya, kurang bijaksana, kurang cerdas, penyakit yang lama
sembuhnya, pendapat yang tercela.
Lima bentuk kamma celaka
Lima perbuatan durhaka di bawah ini mempunyai akibat yang sangat berat ialah kelahiran di alam neraka :
1. Membunuh ibu.
2. Membunuh ayah.
3. Membunuh seorang Arahat.
4. Melukai seorang Buddha.
5. Menyebabkan perpecahan dalam Sangha.
8. HIRI DAN OTAPPA
Dua ciri khas yang dianggap dua sifat yang membantu melindungi dunia dari kekacauan :
1. Hiri = Perasaan malu, yaitu malu melakukan hal-hal yang tidak baik.
2. Otappa = Perasaan takut, yaitu takut akan akibat yang timbul dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik.

 

9. ATTHALOKA-DHAMMA
Dalam penghidupan seorang manusia tidak dapat terlepas dari 8 (delapan) keadaan, yaitu :
läbha – aläbha = untung – rugi
yasa – ayasa = terkenal – tak terkenal
nindä -pasamsä= dicela – dipuji
sukha – dukkha = gembira, bahagia – sedih, menderita dll.

 

Bab. III
BEBERAPA PENGERTIAN
DALAM
AGAMA BUDDHA

1. PARITTA
a. Vandana
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma-Sambuddhassa = Terpujilah Sang Bhagava Yang Maha Pengasih,
Maha Suci dan Maha Bijaksana.
b.Tisarana
Buddhang saranang gacchami = Kami berlindung kepada Sang Buddha.
‘Berlindung kepada Sang Buddha’ berarti mencontoh sifat-sifat yang baik yang terdapat pada diri seorang Buddha.
Dhammang saranang gacchami = Kami berlindung kepada Dhamma.
‘Berlindung kepada Dhamma’ berarti bahwa kita berusaha untuk melaksanakan Ajaran Sang Buddha dalam
kehidupan kita sehari-hari, sehingga dengan demikian kita akan terhindar dari hal-hal yang tidak baik.
Sanghang saranang gacchami = Kami berlindung kepada Sangha.
‘Berlindung kepada Sangha’ berarti bahwa kita menganggap Sangha sebagai guru dan mentaati ajaran yang
diberikan oleh bhikkhu-bhikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian.
Yang dimaksud di sini ialah bahwa kita berlindung kepada Ariya Sangha yaitu pasamuan mereka yang telah
mencapai tingkat kesucian.
c. Pancasila

Pänätipätä veramani sikkhäpadang samädiyämi = Aku bertekad akan melatih diri menghindari
pembunuhan mahluk hidup.
Untuk dapat digolongkan ‘pembunuhan’ harus memenuhi syarat-syarat sbb. :
1. Adanya satu mahluk.
2. Sadar bahwa itu mahluk.
3. Niat untuk membunuh.
4. Langkah-langkah perbuatan.
5. Kematian sebagai akibatnya (mahluk itu betul-betul mati).
Adinnädänä veramani sikkhäpadang samädiyämi = Aku bertekad akan melatih diri menghindari pencurian.
Untuk dapat digolongkan ‘pencurian’ harus memenuhi syarat-syarat sbb. :
1. Adanya milik orang lain.
2. Kesadaran, pengertian akan keadaan ini.
3. Niat untuk mencuri.
4. Langkah-langkah perbuatan.
5. Peralihan benda yang dicuri sebagai akibatnya.

Kämesu micchäcärä veramani sikkhäpadang samädiyämi = Aku bertekad akan melatih diri menghindari
perzinahan (perbuatan a-susila).
Untuk dapat digolongkan ‘perzinahan’ harus memenuhi syarat-syarat sbb. :
1. Niat untuk mengalami sensasi obyek / sasaran yang terlarang dan bukan haknya.
2. Berusaha
3. Memiliki sasaran yang dimaksud.
Musävädä veramani sikkhäpadang samädiyämi = Aku bertekad akan melatih diri menghindari kedustaan
(ucapan yang tidak benar).
Untuk dapat digolongkan ‘kedustaan’ harus memenuhi syarat-syarat sbb. :
1. Kedustaan.
2. Niat untuk berdusta.
3. Usaha, dan
4. Menyampaikannya kepada orang lain.
Surämeraya-majjapamädatthänä veramani sikkhäpadang samädiyämi = Aku bertekad akan melatih diri
menghindari makanan dan minuman yang menimbulkan kemabukkan dan ketagihan.
2. DASA PARAMITTA
Sepuluh Kesempurnaan dalam Kebajikan yang harus dimiliki oleh seorang Buddha, yaitu :

1. Däna = Dermawan, gemar menolong orang lain.
2. Sila = Bersih dalam ucapan dan perbuatan.
3. Nekkhamma = Melepaskan ikatan keduniawian.
4. Pañña = Kebijaksanaan
5. Viriya = Tekun, bersemangat, ulet.
6. Khanti = Sabar, dapat memaafkan kesalahan orang lain.
7. Sacca = Mencintai kebenaran.
8. Adithäna = Teguh dalam tekad, tak tergoyahkan.
9. Metta = Cinta kasih luhur, mencintai semua mahluk tanpa perbedaan.
10. Upekkhä = Keseimbangan bathin, tak terpengaruh lagi oleh perasaan sukha dan dukkha.
3. MUDRA (Posisi tangan)
1. Menghadap ke Timur
Aksobhya dengan mudra Bhumisparsa (menunjuk bumi sebagai saksi).
2. Menghadap ke Selatan
Ratnasambhava dengan mudra Vara atau Varada (memberi anugerah).
3. Menghadap ke Barat
Amitabha dengan mudra Dhyana (meditasi).
4. Menghadap ke Utara
Amogasiddhi dengan mudra Abhaya (jangan takut).
5. Menghadap ke empat penjuru
Vairocana dengan mudra Vitarka (meyakinkan).
6. Di Candi Mendut terdapat sebuah patung besar Buddha Gautama dengan Dharmacakra-mudra (jari
manis tangan kanan ditaruh di jari manis tangan kiri, maksudnya : memutar Roda Dhamma).
Patung-patung dari Vajrasatva-Vajrasatva dengan Dharmacakra-mudra (yang menghadap ke empat
penjuru) pun dapat diketemukan di candi Borobudur.
4. HARI RAYA UMAT BUDDHA
Ada 4 (empat) hari raya yang penting dalam agama Buddha, yaitu
Hari Waisak, Hari Asadha, Hari Kathina dan Hari Magha-Puja.
Dirayakan dalam bulan Mei pada waktu terang bulan (purnama sidhi) untuk
memperingati 3 (tiga) peristiwa penting, yaitu :
Hari Waisak :
1. Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini di tahun 623 S.M.
2. Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha diBuddha-Gaya pada usia 35 tahun di tahun 588 S.M.
3. Buddha Gautama mangkat di Kusinara pada usia 80 tahun di tahun 543 S.M.
Hari Asadha : Dirayakan 2 (dua) bulan setelah Waisak, juga waktu terang bulan (purnama sidhi) di
bulan Juli ; untuk memperingati Khotbah pertama di taman rusa Isipatana (dekat
Benares) di hadapan 5 (lima) orang pertapa (Kondañña, Bodhiya, Vappa, Mahanama,
Assaji). Khotbah pertama ini dikenal sebagai Dhammacakkapavatana-Sutta
(Khotbah berputarnya roda Dhamma).
Hari Kathina : Dirayakan 3 (tiga) bulan setelah hari Asadha. Perayaan Kathina dapat dilakukan
dalam waktu 1 (satu) bulan, tidak ada hari-hari yang tertentu. Upacara Kathina
dimaksudkan untuk memberikan keperluan hidup sehari-hari kepada para bhikkhu
yang telah melaksanakan vassa selama 3 (tiga) bulan di suatu tempat tertentu.
Senioritas seorang bhikkhu dihitung dari jumlah vassa yang telah dilaksanakannya.

Magha-Puja :
Dirayakan di bulan Magha (Februari / Maret) pada waktu terang bulan; untuk
memperingati peristiwa berkumpulnya 4 (empat) faktor (caturrangga-sannipata)
pada hari tersebut.:
1. Purnama sidhi di bulan Magha.
2. 1.250 (seribu dua ratus lima puluh) orang bhikkhu berkumpul di Rajagaha
tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
3. Semuanya Arahat dan memiliki 6 (enam) kekuatan gaib (abhiñña).
4. Semuanya ditahbiskan dengan memakai ucapan ‘Ehi-bhikkhu’.
Pada waktu itu Sang Buddha membacakan Ovada patimokkha :
Khanti paranang tapo titikkhä
Kesabaran adalah cara bertapa yang paling baik.
Nibbänang paramang vadanti Buddhä
Sang Buddha bersabda : Nibbanalah yang tertinggi dari segalanya.
Na hi pabbajjito pärupaghati
Beliau bukan pertapa yang menindas orang lain.
Samano hoti parangvihethayanto
Beliau bukan pula pertapa yang menyebabkan kesusahan orang lain.
Sabba Päpassa akaranang
Kusalassa upasampadä
Sacitta pariyodapanang
Etang Buddhäna säsanang
Janganlah berbuat kejahatan
Perbanyaklah perbuatan baik
Sucikan hati dan pikiranmu
Itulah Ajaran semua Buddha
Anupavädo anupaghäto
Pätimokkhe ca samvaro
Tidak menghina, tidak melukai
Mengendalikan diri sesuai dengan tata-tertib.

Matannutä ca bhattasming
Pantanca sayanäsanang
Makanlah secukupnya
Hidup dengan menyepi.
Adhicitte ca äyogo
Etang Buddhana Sasanang
Dan senantiasalah berpikir luhur
Itulah Ajaran Semua Buddha.
Selain Ovada-Patimokkha dikenal juga Bhikkhu Patimokkha (tata-tertib untuk para Bhikkhu).Catatan :
ABHIÑÑA
Dengan Abhiñña dimaksud 6 (enam) kekuatan gaib, yaitu :
1. Memiliki pelbagai tenaga magis (iddhi-vidhä)
2. Teling dewa (dibbasota)
3. Mata dewa (dibbacakkhu)
4. Dapat membaca pikiran orang lain (ceto pariya-ñana)
5. Dapat mengingat kelahiran-kelahirannya yang lampau (pubbeniväsänussati-ñana)
6. Dapat membersihkan bathinnya dari semua kekotoran-kekotoran bathin dan memperoleh kebijaksanaan
luhur (pañña-vimutti).
5. MISKONSEPSI
SALAH PANDANGAN MENGENAI AGAMA BUDDHA
a. Vihara dan Kelenteng :
Umumnya orang menganggap kelenteng sama dengan vihara, padahal untuk disebut sebagai vihara
harus memenuhi syarat-syarat sbb. :
1. Harus ada patung Sang Buddha pada tempat yang terhormat.
2. Harus ada Dhammasala (tempat untuk berkhotbah).
3. Harus ada kuti (tempat menginap untuk para bhikkhu/bhikkhuni).
Dan kebanyakan kelenteng tidak dapat disebut sebagai vihara, karena tidak terdapat hal-hal tersebut
di atas. Di samping itu ada kelenteng yang khusus digunakan untuk menyimpan abu leluhur dari
suatu golongan masyarakat tertentu.
b. Pemuja berhala :

Orang-orang menganggap bahwa umat Buddha adalah pemuja berhala, padahal umt Buddha
menyembah patung Sang Buddha :
1. Untuk menyatakan rasa hormat dan terima kasihnya kepada Sang Guru yang telah memberikan
AjaranNya kepada umat manusia, seperti juga kita menghormat kepada bendera nasional kita.
2. Sebagai obyek dalam meditasi.
Kalau umat Buddha menyembah patung Kwan Im (Avalokitesvara), mereka sebenarnya
menghormat sifat welas-asih, pengorbanan dan sifat suka menolong yang dilambangkan dalam
patung Kwan Im.
c. Makan sayuranis :
Umat Buddha tidak diharuskan untuk hanya makan sayur-sayuran saja. mereka makan sayuranis
adalah dalam rangka melatih diri. Dan makan sayuranis atau makan daging tidak dapat dipakai untuk
mengukur kesucian seseorang.
d. Perabuan jenazah :
Seorang umat Buddha tidak mutlak harus diperabukan kalau meninggal dunia. Ia boleh dengan
bebas menentukan sendiri, apakah kelak setelah meninggal dunia akan dikubur atau dibuang
(dkubur) di laut atau ditinggal di hutan atau di goa tanpa ditanam.
e. Sikap pesimistis :
Seorang umat Buddha sering dikatakan sebagai seorang yang pesimistis, karena selalu memandang
dari sudut dukkha (penderitaan), padahal kalau kita mengerti hukum karma dan tahu arti dari istilah
viriya (semangat yang membaja), kita tidak mungkin menjadi orang pesimis.
f. Harus meninggalkan keluarga :
Ada anggapan bahwa untuk menjadi umat Buddha yang baik seseorang harus meninggalkan
keluarganya untuk menjadi bhikkhu atau bhikkhuni, padahal sebenarnya tidak perlu meninggalkan
keluarga. Terdapat banyak contoh bahwa orang-orang yang masih berkeluarga pun (para
upasaka/upasika) sanggup mencapai tingkat-tingkat kesucian. Dan kalau ada orang yang mau
menjadi bhikkhu, terlebih dahulu ia harus mendapat ijin dari orang tuanya atau isterinya, dan harus
memenuhi syarat lain lagi, misalnya isteri dan anak-anaknya tidak terlantar, berkelakuan baik dan
tidak menderita penyakit yang menular atau penyakit jiwa.
g. Mandi minyak, berjalan di atas bara api :
Kedua hal tersebut tidak ada hubungannya dengan agama Buddha.
Perlu kiranya diketahui bahwa Buddha Gautama sendiri dengan tegas melarang murid-muridNya
menggunakan dan mempertontonkan ilmu gaib dalam usaha untuk mencari umat.

6. BUNGA, LILIN, AIR DAN DUPA
a. Bunga
Simbol dari ketidak-kekalan ; bunga segar yang diletakkan di altar setelah lima atau enam hari akan
menjadi layu.
Begitu pula dengan badan jasmani kita, satu waktu kelak pasti akan menjadi tua, lapuk akhirnya mati.
b. Lilin
Simbol dari cahaya yang akan melenyapkan kegelapan bathin dan mengusir ketidak-tahuan (avijja).
c.Air
Air dianggap mempunyai sifat-sifat sbb. :
1. Dapat membersihkan noda-noda.
2. Dapat memberikan tenaga hidup kepada mahluk-mahluk.
3. Dapat menyesuaikan diri dengan semua keadaan.
4. Selalu mencari tempat yang rendah (tidak sombong).
5. Meskipun kelihatannya lemah, tetapi dalam keadaan tertentu dapat bangkit menjadi tenaga
yang maha dahsyat (misalnya waktu banjir, air dapat menghancurkan jembatan yang terdiri
dari beton atau merobohkan bangunan-bangunan yang kokoh dll.).
d. Dupa
Bau wangi dupa yang dibawa angin mungkin akan tercium di tempat yang agak jauh, namun tidak
dapat tercium di tempat yang berlawanan dengan arah angin. Tetapi nama yang harum karena selalu
melakukan perbuatan-perbuatan baik dapat diketahui di tempat-tempat yang jauh sekali, bahkan di
tempat-tempat yang dipisahkan oleh samudera-samudera besar dan juga di alam-alam lain.
6. BENDERA BUDDHIS
Bendera Buddhis terdiri dari lima warna dan mempunyai bentuk sbb. :

bendera buddhis ajaran inti dari agama buddha tisaranaDotNet

Sumber :

Intisari Agama Buddha

 

Incoming search terms:

  • inti ajaran agama buddha
  • inti ajaran buddha
  • Inti ajaran budha
  • intisari ajaran buddha
  • Ajaran inti budha
  • apakah inti ajaran budha
  • Inti ajaran agama buddha kelas 5
  • Sebutkan inti sari dari ajaran buddha
  • ceramah agama buddha singkat tentang sabar
  • bagaimana inti ajaran agama budha
tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For INTI SARI AJARAN AGAMA BUDDHA