Hidup Dekat Dengan Dhamma oleh YM Bhikkhu Khemadhiro

Senin, Januari 29th 2018. | Artikel

Meskipun hanya membaca sedikit kitab suci
namun ia melaksanakan Ajaran Dhamma dengan sungguh-sungguh
melenyapkan pandangan keliru, nafsu raga dan kebencian
tidak melekat pada apapun dalam kehidupan ini maupun dalam
kehidupan yang akan datang, maka ia akan mendapat manfaat dari
kehidupan dalam pasamuan para bhikkhu.

Dhammapada – Yamaka Vagga, 20

 

Dhamma dikatakan indah pada awalnya, indah pada pertengahannya,  dan indah pada akhirnya. Apa yang dimaksud  dengan pernyataan di atas? Indah pada awalnya adalah indah pada  teori-teorinya (pariyati). Indah pada pertengahannya adalah indah  pada pelaksanaannya, praktik Dhamma (paṭipatti) dan indah pada  akhirnya adalah indah pada hasil atau pencapaian dari pelaksanaan  Dhamma itu (paṭivedha). Dalam hal ini merujuk pada pencapaian  akhir duka, Nibbāna.

Sebagai seorang umat Buddha yang berkeyakinan pada  Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Saṅgha). Supaya merasakan  keindahan Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya,  dan indah pada akhirnya. Hendaknya selalu bersemangat  untuk terus belajar Dhamma dan jangan lupa untuk  melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga akan mendapatkan manfaat dari belajar dan melaksanakan Dhamma  itu.

 

Hidup Dekat dengan Dhamma 

Hidup dekat dengan Dhamma. Bagaimanakah seseorang  dapat selalu hidup dekat dengan Dhamma? Mari kita ikuti cerita  di bawah ini:

Suatu ketika seorang bhikkhu mendekati Buddha dan  berkata kepada Beliau, “Hal ini, Bhante, dikatakan, ‘Orang yang  hidup dekat dengan Dhamma! Orang yang hidup dekat dengan  Dhamma!’ Dengan cara bagaimanakah Bhante, seorang bhikkhu  adalah orang yang hidup dekat dengan Dhamma?”

“Di sini, seorang bhikkhu menguasai Dhamma, khotbahkhotbah,  prosa campuran, penjelasan, syair, ungkapan-ungkapan  yang penuh inspirasi, ucapan-ucapan singkat, cerita-cerita kelahiran,  cerita-cerita yang luar biasa, dan lain-lainnya. Dia  melewatkan hari-harinya dengan sibuk menguasai Dhamma, dia  mengabaikan kesendirian, dia tidak memaksa diri untuk memperoleh  ketenangan pikiran di dalam dan selanjutnya dia tidak memahami  artinya dengan kebijaksanaan. Ini disebut bhikkhu yang  sibuk belajar, bukan orang yang hidup dekat dengan Dhamma.”

“Selanjutnya, bhikkhu, seorang bhikkhu mengajarkan Dhamma secara terinci kepada yang lain sebagaimana yang  dipelajari dan dikuasainya. Dia melewatkan hari-harinya sibuk mengajar Dhamma, dia mengabaikan kesendirian, dia tidak memaksa diri untuk memperoleh ketenangan pikiran di dalam dan selanjutnya dia tidak memahami artinya dengan kebijaksanaan. Ini disebut bhikkhu yang sibuk mengajar, bukan orang yang hidup dekat dengan Dhamma.”

“Selanjutnya, bhikkhu, seorang bhikkhu yang mengulang Dhamma secara terinci sebagaimana yang telah dipelajari dan dikuasainya. Dia melewatkan hari-harinya sibuk untuk mengulang Dhamma, dia mengabaikan kesendirian, dia tidak memaksa diri untuk memperoleh ketenangan pikiran di dalam dan selanjutnya dia tidak memahami artinya dengan kebijaksanaan. Ini disebut bhikkhu yang sibuk mengulang, bukan orang yang hidup dekat dengan Dhamma.”

“Selanjutnya, bhikkhu, seorang bhikkhu merenung,  memeriksa dan secara mental menyelidiki sebagaimana yang telah dipelajari dan dikuasainya. Dia melewatkan hari-harinya sibuk  merenungkan Dhamma, dia mengabaikan kesendirian, dia tidak memaksa diri untuk memperoleh ketenangan pikiran di dalam, dan selanjutnya dia tidak memahami artinya dengan kebijaksanaan.  Ini disebut bhikkhu yang sibuk merenung, bukan orang  yang hidup dekat dengan Dhamma.”

“Tetapi di sini, bhikkhu, seorang bhikkhu yang menguasai  Dhamma: khotbah-khotbah dan lain-lainnya. Dia tidak melewatkan  hari-harinya sibuk menguasai Dhamma, dia tidak mengabaikan  kesendirian, dia memaksa diri untuk memperoleh ketenangan  pikiran di dalam dan selanjutnya dia memahami artinya dengan  kebijaksanaan. Bhikkhu seperti itulah yang hidup dekat dengan  Dhamma.”

“Jadi, bhikkhu, aku telah mengajar tentang bhikkhu yang  sibuk dengan penguasaan belajar, tentang bhikkhu yang sibuk  mengajar, tentang bhikkhu yang sibuk mengulang, tentang  bhikkhu yang sibuk merenung dan bhikkhu yang hidup dekat  dengan Dhamma. Apa pun yang seharusnya dilakukan oleh  guru yang penuh welas asih karena kasih sayangnya mencari kesejahteraan  bagi para siswanya, itulah yang telah ku lakukan untuk  kalian. Ini adalah akar-akar pohon, O bhikkhu, ini adalah gubukgubuk  yang kosong. Bermeditasilah bhikkhu, jangan lalai, jangan  sampai kalian menyesal nantinya. Inilah instruksi kepada kalian.”  (Aṅguttara Nikāya V, 73 & 74).

Khotbah Buddha tersebut mengajarkan kita semua untuk  menjadi orang yang berkualitas bukan hanya pada sisi intelektual  semata, tetapi juga pada sisi batin. Banyak orang mengukur ke-  berhasilan seseorang dari kemampuan intelektualnya bukan dari kualitas batin. Orang seringkali mengelu-elukan orang yang piawai dalam pengetahuan dan pembabaran Dhamma, padahal itu belum  menjadi ukuran kualitas seseorang.

Dekat dengan Dhamma bukan karena seseorang memiliki pengetahuan yang banyak, dan pandai. Tetapi diukur dari kemampuan orang tersebut bisa mengubah karakter yang  tidak baik menjadi baik. Untuk menjadi orang baik hendaknya  seseorang mempraktikkan Dhamma. Dengan praktik Dhamma inilah, moral dan mental seseorang akan menjadi semakin baik. Banyak pengetahuan tentang Dhamma sangatlah baik, tetapi  harus diingat Dhamma itu untuk direalisasi. Kalau kita hanya puas  sampai di situ saja, maka tidak akan ada kemajuan, justru yang muncul adalah kekuatan ego, keangkuhan, dan kesombongan.

 

Teori vs Praktik 

Ada sebagian orang menganggap bahwa teori jauh lebih  penting jika dibandingkan dengan praktik. Kelompok yang lain menganggap bahwa praktik jauh lebih penting daripada teori.  Jadi antara teori dan praktik manakah yang lebih penting? Di  antara kedua hal tersebut, untuk lebih jelasnya, mari kita simak  kisah Dhammapada syair 19 dan 20 supaya menjadikan kita  lebih mengerti dan memahami Dhamma ajaran Buddha yang  indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada  akhirnya. Kisahnya sebagai berikut:

Suatu ketika terdapat dua orang sahabat yang berasal dari  keluarga terpelajar, dua bhikkhu dari Savatthi. Salah satu dari  mereka mempelajari Dhamma yang pernah dikhotbahkan oleh  Buddha dan sangat pandai dalam menguraikan Dhamma tersebut.  Dia mengajar lima ratus bhikkhu dan menjadi pembimbing bagi  delapan belas kelompok bhikkhu tersebut.

Bhikkhu lainnya berusaha keras, tekun, dan sangat rajin  dalam meditasi sehingga ia mencapai tingkat kesucian Arahat  dengan pandangan terang analitis.

Pada suatu kesempatan, ketika bhikkhu kedua datang  untuk memberi hormat kepada Buddha di Vihara Jetavana, kedua  bhikkhu tersebut bertemu. Bhikkhu ahli Dhamma tidak tahu  bahwa bhikkhu sahabatnya telah menjadi seorang Arahat. Dia  memandang rendah bhikkhu itu, dia berpikir bahwa bhikkhu tua ini hanya mengetahui sedikit Dhamma. Maka dia berpikir akan mengajukan pertanyaan kepada sahabatnya, bahkan ia ingin  membuat sahabatnya malu.

Buddha mengetahui tentang maksud tidak baik itu, Buddha juga mengetahui bahwa hasilnya akan membuat kesulitan bagi pengikut luhur seperti bhikkhu terpelajar itu. Dia akan terlahir kembali di alam kehidupan yang lebih rendah.

Dengan dilandasi kasih sayang, Buddha mengunjungi kedua bhikkhu tersebut untuk mencegah sang terpelajar bertanya kepada bhikkhu sahabatnya. Kemudian Buddha sendiri bertanya perihal “Penunggalan Kesadaran” (jhana) dan “Jalan Kesucian” (magga) kepada guru Dhamma, tetapi dia tidak bisa menjawab karena dia tidak  mempraktikkan apa yang telah diajarkan.

Bhikkhu sahabatnya yang telah mempraktikkan Dhamma dan telah mencapai tingkat kesucian Arahat, dapat menjawab semua pertanyaan. Buddha memuji bhikkhu tua yang telah mempraktikkan Dhamma (vipassaka), tetapi tidak satu kata pujian pun yang diucapkan Beliau untuk bhikkhu yang terpelajar (ganthika).

Murid-murid yang berada di tempat itu tidak mengerti,  mengapa Buddha memuji bhikkhu tua dan tidak sama sekali memuji kepada guru yang telah mengajari mereka. Karena itu, Buddha menjelaskan permasalahannya kepada mereka.

Pelajar yang banyak belajar tetapi tidak mempraktikkan  sesuai Dhamma adalah seperti penggembala sapi, yang menjaga  sapi-sapi untuk memperoleh upah, sedangkan seseorang yang  mempraktikkan sesuai Dhamma adalah seperti pemilik yang  menikmati lima manfaat dari hasil pemeliharaan sapi-sapi  tersebut. Jadi orang terpelajar hanya menikmati pelayanan yang  diberikan oleh murid-muridnya, bukan manfaat dari “Jalan” dan  “Hasil Kesucian” (magga-phala).

Bhikkhu lainnya berpikir, dia mengetahui sedikit dan hanya  bisa sedikit dalam menguraikan Dhamma, tetapi ternyata telah  memahami dengan jelas inti dari Dhamma dan telah mempraktikkannya  dengan tekun dan penuh semangat; adalah seseorang yang  berkelakuan sesuai Dhamma (anudhammacari). Ia telah menghancurkan  nafsu indra, kebencian, dan ketidaktahuan, pikirannya  telah terbebas dari kekotoran batin, dan dari semua ikatan terhadap  dunia ini maupun pada yang selanjutnya, ia benar-benar  memperoleh manfaat dari “Jalan” dan “Hasil Kesucian” (maggaphala).

Kemudian Buddha membabarkan syair Dhammapada 19  dan 20 berikut ini:

Meskipun ia telah membaca banyak kitab suci,

namun tidak melaksanakan ajaran Buddha,

seperti gembala yang menghitung sapi orang lain,

maka ia tidak akan mendapat manfaat hidup  dalam pasamuan para bhikkhu/pertapa.

Meskipun hanya membaca sedikit kitab suci,

namun ia melaksanakan Ajaran Dhamma  dengan sungguh-sungguh,

melenyapkan pandangan keliru,

nafsu raga dan kebencian,

tidak melekat pada apapun dalam kehidupan ini maupun  dalam kehidupan yang akan datang,

maka ia akan mendapat manfaat dari kehidupan  dalam pasamuan para bhikkhu/pertapa.

Dari kisah Dhammapada tersebut, dapat disimpulkan bahwa teori tanpa praktik tidak akan membawa kemajuan. Untuk mencapai kemajuan dalam Dhamma, hendaknya kita sebagai umat  Buddha selain bersemangat dalam belajar atau berteori Dhamma (pariyati), hendaknya juga bersemangat untuk melaksanakannya dalam keseharian kita (paṭipatti). Dengan demikian kita akan mendapatkan manfaat dari mempelajari dan melaksanakan Dhamma tersebut (paṭiveda). Kisah itu juga mengingatkan kita  supaya sebagai orang yang pandai, terpelajar dalam Dhamma,  pandai dalam menguraikan, mengajar, atau khotbah Dhamma  (menjadi seorang Dhammaduta), hendaknya jangan sampai  menjadi orang yang besar kepala atau sombong, merasa dirinya  yang paling hebat dari pada orang lain.

Dengan pemahanam Dhamma yang diimbangi dengan  praktik, maka seseorang akan maju dalam Dhamma, ajaran  Buddha. Dalam hal ini, sama seperti seorang yang mempunyai  sepasang mata untuk melihat peta, sehingga dia menjadi tahu dan  mengerti jalan yang akan ditempuh menuju tempat tujuan. Akan  tetapi tidak hanya itu yang perlu ia lakukan, ia juga harus melangkahkan  kaki sesuai dengan jalur peta yang sudah diketahui itu  sehingga akan mencapai tujuan.

 

Memiliki sepasang mata untuk melihat peta diibaratkan  berteori Dhamma dan melangkahkan kaki sesuai dengan jalur peta  yang sudah diketahui diibaratkan praktik Dhamma. Jika orang  hanya mengetahui jalur peta menuju tempat tujuan tanpa mau melangkahkan  kaki pada jalur peta itu, maka sampai kapan pun orang  itu tidak akan pernah sampai tujuan. Demikian pula jika hanya  terus melangkahkan kaki tanpa melihat peta, maka bisa menjadi salah jalan atau tersesat. Jadi antara teori dan praktik Dhamma  haruslah seimbang, sehingga akan sampai pada tujuan, mendapat manfaat dan kemajuan setelah berteori dan mempraktikkannya.

 

Teruslah bersemangat dalam belajar Dhamma ajaran  Buddha dan praktikkan apa yang sudah dipelajari. Senantiasa  memiliki rasa malu berbuat jahat (hiri) dan takut akan akibatnya (ottappa). Tidak melakukan segala macam bentuk perbuatan jahat, senantiasa menambah kebaikan dengan pikiran, ucapan, dan perbuatan badan jasmani, berdana, menjalankan moralitas (sīla) de-ngan baik, meditasi dan mengembangkan kebijaksanaan, berusaha membersihkan kekotoran batin sendiri. Dengan demikian kita menjadi selalu dekat dengan Dhamma. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Sebagai penutup, mari kita merenungkan pesan Buddha yang ada di dalam kitab suci Itivuttaka, 92 berikut ini:

Demikian telah dikatakan oleh Buddha …

“Wahai para bhikkhu, walaupun seorang bhikkhu me-  megang lipatan jubahku dan berada di belakangku selangkah demi selangkah, tetapi jika dia tamak akan objek-objek nafsu keinginan, kuat nafsunya, berpikir dengki, kotor buah-buah pikirnya, tidak memiliki perhatian, tidak mengerti, tidak terkonsentrasi, pikirannya  mengembara dan indranya tidak terkendali, maka dia berada  jauh dariku dan aku jauh darinya.”

“Mengapa demikian? Bhikkhu itu tidak melihat Dhamma.  Bila dia tidak melihat Dhamma, dia tidak melihat aku,”

“Wahai para bhikkhu, walaupun seorang bhikkhu hidup  seratus league (1 league = 4,8 KM) dariku, namun bila dia tidak  tamak akan objek-objek nafsu keinginan, tidak kuat nafsunya,  tidak berpikiran dengki, tidak kotor buah-buah pikirnya, mantap  perhatiannya, mengerti dengan jelas, terkonsentrasi, pikirannya  memusat dan indranya terkendali, maka dia dekat denganku dan  aku dekat dengannya.”

“Mengapa demikian? Bhikkhu itu melihat Dhamma. Dengan  melihat Dhamma, dia melihat aku.”

 

Sumber bacaan:

  • Aṅguttara Nikāya (Petikan). Klaten: Vihāra Bodhivaṁsa, 2003.
  • Dhammapada Atthakatha. Yogyakarta: Insight Vidyāsenā Production, 2012.
  • Itivuttaka. Bandung: Lembaga Anagarini Indonesia, 1998.

tags: , , ,

Related For Hidup Dekat Dengan Dhamma oleh YM Bhikkhu Khemadhiro