Budaya Kedermawanan Buddhis by Thanissaro Bhikkhu

Jumat, Agustus 19th 2016. | Artikel

sikap kedermawanan buddhis share by tisaranaDotNet

“Bagaimana saya dapat membalas budi atas ajaran yang telah anda berikan?”
Guru-guru meditasi yang baik sering kali mendengar pertanyaan ini dari murid-murid mereka, dan jawaban terbaik yang saya tahu adalah jawaban yang selalu diberikan oleh guru saya, Ajaan Fuang:
“Dengan bersungguh-sungguh dalam berlatih.”
Setiap kali beliau memberikan jawaban ini, saya tertegun oleh betapa mulia dan ramahnya beliau. Dan ini bukan hanya sekedar formalitas saja. Beliau tidak pernah mencari kesempatan untuk menekan murid-muridnya agar memberikan dana. Bahkan ketika wihara (vihara) kami sangat miskin, beliau tidak pernah bersikap miskin, tidak pernah mencoba mengambil keuntungan dari rasa syukur dan kepercayaan murid-muridnya. Ini adalah sebuah perubahan segar dari beberapa pengalaman saya sebelumnya dengan para bhikkhu desa dan kota yang biasa dengan cepat memberikan petunjuk mengenai kebutuhan dana mereka bahkan dari pengunjung biasa yang datang sepintas lalu saja.

Dengan cepat saya mengetahui bahwa sikap Ajaan Fuang adalah wajar di antara para bhikkhu Tradisi Hutan. Hal ini didasarkan pada sebuah wacana di dalam Kitab Pali dimana Buddha pada saat menjelang kematian-Nya menegaskan bahwa penghormatan tertinggi yang ditujukan kepada Beliau bukanlah penghormatan materi, tetapi penghormatan dengan melatih diri sesuai dengan Dhamma. Atau dengan kata lain, cara terbaik untuk membalas budi seorang guru adalah dengan menempatkan Dhamma ke dalam hati dan melatihnya dengan sebuah cara yang memenuhi tujuan mulia guru Anda mengajarkan Dhamma. Saya bangga menjadi bagian dari sebuah tradisi dimana kekayaan batin dari ajaran mulia ini benar-benar hidup—dimana seperti yang seringkali Ajaan Fuang tekankan, kita tidak menjadi sekedar orangorangan dan perbuatan mengajar Dhamma adalah benarbenar merupakan sebuah berkah.

Jadi, saya begitu sedih ketika sekembalinya saya ke Amerika, saya terlibat dalam perbincangan seputar dana: perbincangan mengenai praktik memberi dan kedermawanan yang sering kali diutarakan pada sesi akhir dari sebuah retreat. Konteks perbincangan tersebut—dan bahkan sering menjadi isi pokok pembicaraan— membuat jelas bahwa  itu bukanlah sebuah praktik yang tidak menarik perhatian. Perbincangan itu ditujukan untuk mengumpulkan pemberian bagi guru atau organisasi yang telah mensponsori retreat tersebut, dan memberikan beban tanggung jawab bagi para peserta retreat untuk memastikan agar retreat selanjutnya dapat berlangsung kembali. Bahasa perbincangan itu sering kali lancar dan penuh semangat, tetapi apabila dibandingkan dengan jawaban yang diberikan oleh Ajaan Fuang, saya menemukan kenyataan bahwa perbincangan itu tidak pantas dan meremehkan esensi dari praktik berdana itu sendiri. Jika seandainya panitia dan para guru benar-benar percaya bahwa para peserta retreat mereka berhati baik, mereka tidak akan memberikan perbincangan mengenai hal itu sama sekali. Yang malah membuat segalanya bertambah buruk, pada perbincangan dana sejenis—bersama dengan rekannya, pusat-pusat meditasi mengirimkan surat donasi—sering kali dengan memberikan contoh bagaimana para bhikkhu dan bhikkhuni disokong di Asia sebagai dasar pembenaran bagaimana dana harus dilakukan serupa di dunia Barat.

Saya memahami alasan di balik perbincangan itu. Guruguru awam di sini memberikan ajaran ideal bagi kebebasan, tetapi mereka sendiri masih butuh makanan. Dan tidak seperti kebiasaan monastik di Asia, mereka tidak memiliki sejarah lama tradisi berdana yang dapat menyokong kehidupan mereka di Barat. Jadi perbincangan mengenai dana dirancang sebagai sebuah cara untuk membangun budaya berdana di dalam konteks dunia Barat. Tetapi, seperti yang sering kali terjadi adalah kasus dimana sebuah budaya baru dirancang bagi Buddhisme Barat, pertanyaannya adalah apakah perbincangan mengenai dana tersebut benar-benar dapat menerjemahkan prinsip-prinsip Buddhis ke dalam konteks Barat atau malah sebaliknya, benar-benar menyimpang dari  ajaran Buddha. Cara terbaik untuk menjawab pertanyaan ini adalah dengan melihat lebih dekat prinsip-prinsip tersebut di dalam konteks asli mereka.

Seperti yang sudah umum diketahui bahwa dana merupakan permulaan dalam latihan Buddhis. Dana secara langsung maupun tidak langsung telah menjaga keberlangsungan Dhamma. Jika bukan tradisi India untuk berdana pada peminta-minta, Buddha tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan jalan menuju Kesadaran. Persaudaraan Sangha tidak akan memiliki waktu dan kesempatan untuk mengikuti jalan Beliau. Dana merupakan ajaran pertama di dalam khotbah kelompok: daftar topik-topik yang digunakan Buddha untuk membawa pendengar-Nya setahap demi setahap hingga mencapai sebuah apresiasi terhadap empat kebenaran mulia, dan kerap kali dari sana hingga mencicipi rasa Pencerahan pertama mereka. Ketika menegaskan prinsip-prinsip dasar karma, Beliau selalu memulai dengan pernyataan,
“Terdapatlah apa yang diberikan.”

Hal yang kurang diketahui umum adalah bahwa ketika sedang membuat pernyataan ini, Buddha tidak sedang berhadapan dengan kebenaran nyata atau omongan basa-basi semata, karena topik memberi sebenarnya menjadi sebuah topik yang kontroversial pada masa hidup Buddha Gotama. Selama berabad-abad, para brahmana India telah memuji nilai kebajikan dari praktik memberi – selama pemberian itu ditujukan kepada kaum mereka. Tidak hanya itu, pemberian kepada kaum brahmana adalah wajib hukumnya. Orang-orang dari kasta lain, apabila mereka tidak menyerahkan kebutuhan brahmana dalam bentuk pemberian hadiah, berarti mereka telah mengabaikan kewajiban sosial mereka yang paling esensial. Dan karena dengan mengabaikan kewajiban sosial mereka dalam kehidupan sekarang ini, mereka dan keluarganya akan menderita baik di masa kehidupan saat ini maupun setelah kematian.

Seperti yang dapat diperkirakan, sikap ini memberikan serangan balik. Beberapa samana atau pertapa, gerakan yang ada di masa kehidupan Buddha menyerang balik klaim kaum brahmana dengan menyatakan bahwa tidak terdapat kebajikan sama sekali dalam praktik memberi. Argumen mereka berujung pada dua kubu. Kubu pertama mengklaim bahwa praktik memberi tidak memiliki kebajikan karena tidak ada yang namanya kehidupan setelah kematian. Seorang manusia tidak lebih dari gabungan unsur-unsur fisik yang dengan kematian akan kembali ke alam. Hanya itu. Oleh karena itu praktik memberi tidak memberikan manfaat jangka panjang. Kubu lainnya menyatakan bahwa tidak ada yang namanya praktik memberi karena segala sesuatu di alam semesta ini telah ditentukan oleh takdir. Jika seorang pendana memberikan sesuatu kepada orang lain, itu sebenarnya bukanlah sebuah pemberian karena si pendana tidak memiliki pilihan atau kehendak bebas dalam hal tersebut. Takdir bekerja dengan sendirinya.

Jadi ketika Buddha, di dalam pengenalan-Nya terhadap ajaran mengenai karma, memulai dengan mengatakan bahwa terdapat sesuatu yang diberikan, dengan demikian Beliau meluruhkan pendapat kedua kubu di atas. Praktik memberi pasti akan memberikan akibat baik di saat ini maupun di masa mendatang, dan praktik ini juga merupakan akibat dari kehendak bebas si pendana. Akan tetapi, berbeda dengan pandangan kaum brahmana, Buddha membawa prinsip kebebasan ini selangkah lebih maju. Ketika ditanya dimana sebuah pemberian seharusnya diberikan, Beliau menjawab dengan sederhana, “Dimana pun pikiran terinspirasi untuk memberi.” Dengan kata lain—selain membalas budi kepada orang tua— tidak terdapat sebuah hukum untuk memberi. Hal ini berarti bahwa pilihan untuk memberi merupakan sebuah tindakan yang didasarkan kebebasan sejati, dan oleh karena itu merupakan tempat yang sempurna untuk memulai jalan menuju pembebasan sempurna.
Inilah alasan mengapa Buddha mengadopsi dana sebagai konteks dalam melatih dan mengajar Dhamma. Tetapi untuk menegakkan prinsip kembar dari kebebasan dan buah akibat dari praktik memberi, Beliau menciptakan sebuah budaya berdana yang mewujudkan cita-cita Buddhis. Pertama-tama, Beliau mendefinisikan dana tidak hanya sebatas pemberian material. Latihan sila, kata Beliau, juga merupakan salah satu bentuk dana—pemberian keamanan universal, melindungi semua makhluk dari perbuatan jahat seseorang—merupakan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Dharma. Hal ini berarti pula bahwa praktik berdana berlebihan bukan hak istimewa orang kaya. Kedua, Beliau merumuskan sebuah aturan tingkah laku untuk menghasilkan sebuah sikap praktik berdana yang akan menguntungkan pihak pendana dan penerima dana, menjaga praktik memberi ini tetap bermanfaat dan bersifat bebas.

Kita cenderung tidak mengasosiasikan aturan tingkah laku ini dengan kata “kebebasan”, tetapi ini karena kita lupa bahwa kebebasan juga membutuhkan perlindungan, terutama dari sikap yang ingin bebas atas pilihannya tetapi merasa tidak nyaman ketika orang lain pun memiliki kebebasan atas pilihan mereka. Aturan tingkah laku yang dibuat oleh Buddha ini bersifat sukarela – Beliau tidak pernah memaksa siapa pun

untuk berlatih sesuai dengan ajaran-Nya – tetapi pada saat ajaran-Nya diterapkan, mereka membutuhkan kerja sama dari kedua belah pihak untuk menjaga agar ajaran ini tetap efektif dan kokoh.

Aturan ini paling baik dipahami dalam istilah enam faktor yang Buddha katakan merupakan contoh dari praktik memberi yang ideal:
“Si pendana, sebelum memberi merasa bahagia; pada saat memberi, pikirannya terinspirasi; dan setelah memberi merasa puas. Inilah tiga faktor dari si pendana…
“Si penerima dana bebas dari nafsu keinginan atau setidaknya sedang berlatih untuk mengatasi nafsu keinginan; bebas dari keengganan atau setidaknya sedang berlatih untuk mengatasi keengganan; dan bebas dari angan-angan atau setidaknya sedang berlatih untuk mengatasi anganangan. Inilah tiga faktor dari si penerima dana.”
— AN 6.37

Walaupun bagian ini kelihatannya menyarankan bahwa masing-masing pihak bertanggung jawab hanya atas faktorfaktornya sendiri, etika kedermawanan Buddha secara lebih luas menunjukkan bahwa tanggung jawab atas keenam faktor tersebut – dan terutama untuk tiga faktor dari si pendana – sama-sama dimiliki kedua belah pihak. Dan tanggung jawab bersama ini paling baik berkembang dalam atmosfer saling mempercayai.

Bagi si pendana, hal ini berarti apabila mereka ingin merasakan kebahagiaan, inspirasi, dan kepuasan atas pemberian mereka, mereka tidak seharusnya melihat  pemberian mereka sebagai balas budi atas pelayanan yang diberikan oleh seorang bhikkhu atau bhikkhuni. Hal itu akan mengubah pemberian dana tersebut menjadi seperti upah dan menghilangkan kekuatan emosi yang ada dari praktik berdana. Malahan akan lebih bijaksana bila mereka mencari penerima dana yang dapat dipercaya: orang-orang yang sedang berlatih – atau telah melatih – pikiran-pikiran mereka sehingga menjadi bersih dan tanpa cela. Mereka juga harus memberikan dana mereka dengan cara yang penuh penghargaan sehingga perbuatan memberi akan memperkuat kebahagiaan yang menginspirasinya, dan akan menginspirasi si penerima dana untuk menghargai dana yang diberikan.

 

Tanggung jawab si penerima dana, bagaimana pun juga, lebih besar. Untuk memastikan si pendana merasakan kebahagiaan sebelum memberi, para bhikkhu atau bhikkhuni dilarang menekan si pendana dalam cara apapun juga. Kecuali dalam keadaan sakit atau dalam situasi dimana si pendana telah mengizinkan mereka untuk meminta sesuatu, mereka tidak dapat meminta apapun melebihi kebutuhan-kebutuhan paling utama mereka. Bahkan mereka tidak diperkenankan untuk memberi petunjuk tentang apa yang ingin mereka terima. Ketika ditanya ke mana sebuah pemberian tepat harus diberikan, mereka harus mengikuti contoh jawaban Buddha dan berkata, “Berikanlah di manapun pemberianmu akan digunakan, atau akan dirawat, atau akan mampu bertahan lama, atau di manapun pikiranmu merasa terinspirasi untuk memberi.” Hal ini membawa sebuah rasa kepercayaan dalam kesadaran si pendana – yang merupakan sebuah pemberian yang membahagiakan pikiran si pendana.

Untuk memastikan seorang pendana merasakan inspirasi ketika sedang memberikan sebuah pemberian, para bhikkhu  dan bhikkhuni harus menerima dana dengan penuh perhatian dan dengan sebuah sikap yang penuh penghargaan. Untuk memastikan si pendana merasakan kepuasaan setelah berdana, mereka harus hidup dengan hemat, merawat pemberian tersebut, dan memastikan dana tersebut digunakan dengan cara yang sepantasnya. Dengan kata lain, mereka harus menunjukkan bahwa kepercayaan si pendana kepada mereka memang benar-benar dihargai. Dan tentu saja mereka harus bekerja untuk mengurangi keserakahan, kemarahan, dan delusi mereka. Pada kenyataannya, ini merupakan motivasi utama dalam upaya untuk mencapai tingkat kesucian Arahat : sehingga pemberian yang diberikan kepada seorang Arahat akan memberikan buah kebajikan yang luar biasa bagi si pendana.

Prinsip-prinsip kebebasan dan kesuksesan juga memengaruhi aturan yang dirumuskan oleh Buddha terutama untuk melindungi pemberian Dhamma (dana Dhamma). Disini juga, tanggung jawab ditanggung bersama-sama. Untuk memastikan bahwa guru bahagia, terinspirasi, dan puas dalam ajaran, si pendengar dianjurkan untuk mendengar dengan penuh rasa hormat, mencoba untuk memahami ajaran yang diberikan, dan – sekali mereka meyakini bahwa ajaran itu benar-benar bijaksana – mereka harus benar-benar tulus mempraktikkannya sehingga berhasil memperoleh hasil yang diharapkan. Seperti halnya seorang bhikkhu atau bhikkhuni menerima sebuah pemberian materi, si penerima dana Dhamma memiliki tanggung jawab sederhana untuk memperlakukan pemberian tersebut selayaknya.

Sementara itu, guru harus memastikan bahwa perbuatan mengajarnya bukanlah sebuah balas budi atas sebuah hutang. Di atas semua itu, para bhikkhu dan bhikkhuni membalas hutang mereka kepada umat awam pendana dengan mencoba membersihkan pikiran-pikiran mereka dari keserakahan, keengganan, dan delusi. Mereka tidak memiliki kewajiban apapun untuk mengajar, yang berarti bahwa perbuatan mengajar adalah sebuah pemberian yang bebas dan murni. Sebagai tambahan, Buddha menegaskan bahwa Dhamma harus diajarkan tanpa mengharapkan pemberian materi. Ketika pada suatu kesempatan Beliau ditawarkan “upah guru” atas pengajaran-Nya, Buddha menolak menerimanya dan mengatakan pada si pendana untuk membuangnya. Beliau juga memberikan teladan bahwa ketika seorang biarawan mengajarkan pahala dari kedermawanan, ajaran disampaikan setelah sebuah pemberian diberikan; dan tidak sebelumnya, sehingga noda atau keinginan untuk memberikan petunjuk tidak mencemari inti ajaran yang disampaikan.

Semua prinsip ini memikul sebuah level kemuliaan yang tinggi dan mengendalikan kedua belah pihak yang mengapa banyak orang mencoba mencari cara untuk menyiasatinya bahkan ketika Buddha masih hidup. Cerita-cerita asli mengenai peraturan kebiaraan – cerita yang menggambarkan kekeliruan tingkah laku yang menyebabkan Buddha merumuskan peraturan-peraturan bagi para bhikkhu dan bhikkhuni – sering kali menceritakan anggota Sangha yang memberikan dana Dhamma disertai dengan senar yang disematkan, dan juga menceritakan umat awam yang dengan senang menarik senar-senar tersebut untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dari Persaudaraan: perlakuan untuk dilayani dengan sebuah senyuman yang menyenangkan. Ketekunan kokoh Buddha dalam merumuskan peraturan-peraturan   untuk memotong senar-senar ini menunjukkan betapa besar kesungguhan Beliau menganggap prinsip-prinsip Dhamma sebagai sebuah pemberian yang bebas dan murni, dan bukan sebagai sebuah ideal belaka. Beliau berharap Dhamma dapat memengaruhi cara orang-orang berperilaku.

Beliau tidak pernah memberikan sebuah penjelasan terperinci mengapa perbuatan mengajar Dhamma harus selalu merupakan sebuah pemberian (dana), tetapi Beliau menyatakan dalam berbagai istilah umum bahwa ketika peraturan tingkah laku yang diberikan-Nya menjadi buruk sesuai waktu, hal tersebut juga akan merusak Dhamma. Dan dalam kasus etika kedermawanan, prinsip-prinsip ini telah sering kali bertahan sepanjang sejarah Buddhis.

Sebuah contoh utama tertulis dalam Apadana, yang para ahli yakini merupakan catatan yang ditambahkan ke dalam Kitab Pali setelah masa Raja Asoka. Apadana membahas pahala dari praktik memberi dengan sebuah cara yang menunjukkan betapa mudahnya para bhikkhu mengajarkannya hanya untuk mendapatkan dana berlebihan. Mereka menjanjikan bahwa bahkan hanya dengan pemberian sedikit akan memberikan buah pada pencapaian tingkat kesucian Arahat dan pada jasa kebajikan di banyak masa kehidupan di masa mendatang, dan bahwa jalan hidup pendana mulai sekarang akan dipenuhi dengan kesenangan dan martabat. Pencapaian jasa spesial, akan membutuhkan donasi yang spesial pula. Beberapa donasi ini memiliki bentuk simbolis yang merupakan perwujudan dari jasa tertentu – sebuah pemberian lampu misalnya, merupakan simbol kewaskitaan – tetapi pemberian jasa tertentu adalah sebanding dengan seminggu berdana makanan bagi seluruh anggota Sangha, atau setidaknya bagi bhikkhu-bhikkhu yang mengajar

Disini jelas terlihat bahwa para bhikkhu yang menyusun Apadana memberikan kelonggaran pada keserakahan mereka, dan dengan mudah mengatakan pada pendengar mereka apa yang mau didengar oleh si pendengar. Kenyataan bahwa naskah-naskah ini tertulis untuk generasi selanjutnya menunjukkan bahwa para pendengar merasa puas. Oleh karena itu pada guru dan murid, berbuat kolusi, telah menyimpangkan budaya berdana menuju arah kekotoran batin mereka sendiri. Dengan melakukan hal ini, mereka berarti juga telah menyimpangkan Dhamma. Jika praktik memberi menjamin Pencerahan, hal ini berarti akan menggantikan jalan mulia beruas delapan dengan jalan satu ruas: berdana. Apabila jalan menuju Pencerahan selalu dipenuhi martabat dan kesenangan, konsep daya upaya benar akan menghilang. Akan tetapi ketika gagasan-gagasan ini diperkenalkan ke dalam tradisi Buddhis, semenjak itu pula mereka memperoleh cap otoritas dan telah memengaruhi praktik-praktik Buddhis. Di Asia, para umat Buddha cenderung memberikan dana dengan sebuah simbol harapan akan pahala di masa mendatang; dan daftar pemberian yang dipuji dalam Apadana dibaca seperti sebuah katalog dana yang diletakkan di depan altar oleh semua umat Buddha Asia bahkan hingga saat ini.

Hal ini menunjukkan bahwa sekali budaya berdana telah menyimpang, maka hal ini akan dapat menyimpangkan praktik Dhamma secara keseluruhan selama berabad-abad. Jadi, apabila kita benar-benar mau serius membawa budaya berdana ke dalam dunia Barat, kita harus waspada dalam memastikan bahwa upaya kita menghargai prinsip-prinsip yang membuat praktik berdana memang benar-benar sebuah latihan Buddhis yang sesungguhnya. Ini berarti tidak lagi diperlukan taktik pengumpulan dana modern untuk mendorong rasa kedermawanan dari para peserta retreat atau umat Buddha biasa secara umum. Ini juga berarti diperlukan pemikiran kembali mengenai pembicaraan perihal dana, mengingat banyak kegagalan dari taktik ini. Dengan memaksa para peserta retreat memberikan dana pada para guru, hal ini tidak akan membawa kebahagiaan sebelum memberi, dan malah kedengaran seperti sebuah permintaan tip pada akhir santapan. Usaha terus-menerus dalam menarik sanubari para peserta retreat sebagai sebuah cara untuk menarik sokongan mereka memperlihatkan kurangnya kepercayaan atas perhatian para peserta dan meninggalkan rasa yang buruk. Dan dalam cara apapun dana tersebut dipergunakan bagi kepentingan para guru, hal ini tetap tidak mengubah kenyataan bahwa itu telah menjadi sebuah pembayaran atas pelayanan yang telah diberikan. Entah para guru memikirkan hal ini dengan sadar atau tidak, hal ini membuat mereka mengatakan kepada para pendengar apa yang mereka pikir para pendengar mereka ingin dengarkan. Dhamma tidak dapat menolong, malah sebaliknya akan membuat mereka menderita.

Solusi ideal adalah dengan menyediakan sebuah kerangka dimana para praktisi Dhamma yang serius dapat mendukung entah mereka diajarkan untuk berdana atau tidak. Dengan cara ini, perbuatan mengajar dana akan benar-benar menjadi sebuah dana murni. Dan seiring dengan itu, meskipun sebuah langkah menuju arah budaya berdana yang murni masih akan menjadi sebuah penangguhan di semua perbincangan mengenai dana pada akhir retreat, dan mengacu pada tradisi berdana Buddhis dalam meminta sokongan, dengan demikian dibutuhkan waktu untuk mengembalikan martabat dari berdana.  Pada retreat-retreat, dana dapat didiskusikan dalam sebuah cara umum, di dalam konteks, banyak perbincangan Dhamma diberikan mengenai betapa baik mengintegrasikan praktik Dhamma di dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhir retreat, sebuah keranjang dapat diletakkan sebagai keranjang dana, dengan sebuah catatan bahwa si guru belum dibayar untuk mengajar di retreat tersebut. Cukup itu saja. Tidak perlu permohonan balas jasa. Tidak perlu kartu pengingat. Para peserta retreat yang sensitif akan dapat menarik kesimpulan dan akan dengan senang hati, terinspirasi, dan puas mengetahui bahwa mereka dipercaya untuk melakukan praktik berdana dari dan bagi diri mereka sendiri.

 

Provenance:

©2009 Thanissaro Bhikkhu.

Transcribed from a file provided by the author.

This Access to Insight edition is ©2009–2010.

Terms of use: You may copy, reformat, reprint, republish, and redistribute this work in any medium whatsoever, provided that: (1) you only make such copies, etc. available free of charge; (2) you clearly indicate that any derivatives of this work (including translations) are derived from this source document; and (3) you include the full text of this license in any copies or derivatives of this work. Otherwise, all rights reserved. For additional information about this license, see the FAQ. How to cite this document (one suggested style): “No Strings Attached: The Buddha’s Culture of Generosity”, by Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight, June 5, 2010, http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/thanissaro/nostringsattached.html

 

Incoming search terms:

  • Contoh paper sikap hormat umat buddha terhadap bikhu
  • buddha nusati
  • contoh kedermawanan dalam agama buddha
tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Budaya Kedermawanan Buddhis by Thanissaro Bhikkhu