BIJAKSANA DALAM BERBAGAI SITUASI

Sabtu, Mei 7th 2016. | Artikel

LP_Sumedho_bijaksana dalamm berbagai keadaan by tisaranaDotNet

Oleh :

Venerable Ajahn Sumedho

Terkadang kebijaksanaan (insight) timbul pada saat yang tak terduga. Peristiwa ini terjadi pada diri saya manakala saya tinggal di Wat Pah Pong. Daerah timur laut Thailand dengan semak-belukar serta dataran-rendahnya bukanlah tempat yang terindah dan disukai di dunia; dan daerah ini menjadi sangat terik di musim panas. Kita mesti keluar di tengah terik siang pada tiap hari Uposatha dan menyapu dedaunan di jalan.

Daerah yang harus disapu sangat luas. Kami akan menghabiskan siang itu di bawah jerangan matahari, berkeringat dan menyapu dedaunan hingga menjadi tumpukan dengan sapu-lidi biasa; inilah salah satu tugas kami. Saya tidak suka melakukan ini. Saya kerap berpikir, ‘Saya tidak mau melakukannya. [Jauh-jauh] saya ke sini bukanlah buat menyapu dedaunan; Saya ke sini untuk mencapai pencerahan — dan mereka malah menyuruh saya menyapu rontokan daun. Lagipula, cuaca di luar sangat panas, saya berkulit putih; Saya bisa kena kanker kulit6.’ Saya berdiri di luar sana di suatu siang, merasa sangat malang, dan berpikir, ‘Duhh, apa yang kulakukan di sini? Kenapa aku ke sini? Mengapa aku tinggal di sini?’ Di sana, saya berdiri dengan sapu bergagang panjang, lunglai, menyesali diri sendiri dan membenci semuanya.

Kemudian Ajahn Chah datang, tersenyum kepada saya serta berkata,‘Wat Pah Pong [ternyata] adalah penuh penderitaan, ya `kan ?’ seraya melangkah pergi. Saya lalu berpikir, ‘Mengapa ia berkata demikian?’ dan, ‘Sesungguhnya, kamu juga tahu, semuanya toh tidak begitu buruk.’ — Ia membuat saya merenung: Apakah menyapu  dedaunan benar mengesalkan? … Tidak, tidak demikian. Perbuatan ini termasuk netral; anda menyapu dedaunan, dan bukan soal di sini ataupun di sana … Apakah keringatan ini begitu menyengsarakan? Apakah pengalaman ini sungguh celaka dan memalukan? Apakah ini benar-benar seburuk anggapan saya? …. Tidak, — berkeringat itu okeoke saja, sesuatu yang alami sekali. Dan saya juga tidak mendapat kanker kulit, lagian orang-orang di Wat Pah Pong sangatlah baik. Gurunya amat bijak dan ramah. Para bhikkhu memperlakukan saya dengan baik. Para umat awam datang serta memberi makanan, dan ….. Apa yang

saya gerutukan?’

Dengan merefleksikan pengalaman nyata di sana, saya pun berpikir, ‘Saya baik-baik saja. Orang-orang menghargai saya. Saya diperlakukan dengan baik. Saya diajari oleh orang yang menyenangkan di negeri yang sangat menyenangkan. Tak ada apapun yang salah, kecuali saya ; saya membuatnya jadi masalah karena saya tidak mau keringatan dan menyapu dedaunan.’ Kemudian saya memiliki pengetahuan-kebijaksanaan yang sangat jelas. Tiba-tiba saya menangkap sesuatu dalam diri saya yang selalu menggerutu dan mencela, serta yang menghambat saya untuk membaktikan diri pada apapun atau mempersembahkan diri pada situasi manapun. Pelajaran lain dari pengalaman saya berasal dari adat-kebiasaan mencuci kaki para bhikkhu senior ketika mereka pulang dari keliling pindapata (menerima persembahan makanan). Setelah mereka berjalan telanjang kaki melalui desa-desa dan sawah, kaki mereka akan berlumpur. Di luar ruang makan terdapat tempat mencuci kaki. Ketika Ajahn Chah datang, semua bhikkhu — sekitar 20 atau 30 orang — akan menghambur keluar dan mencuci kaki beliau.

Tatkala pertama kali melihatnya, saya berpikir, ‘Saya tidak akan melakukan itu. Tidak akan!’ Keesokan harinya, kembali tiga puluh bhikkhu terburuburu keluar ketika Ajahn Chah muncul dan mencuci kaki beliau — saya berpikir, ‘Sungguh perbuatan yang bodoh —tiga puluh bhikkhu mencuci kaki satu orang. Saya tidak bakal melakukan itu.’ Keesokan harinya lagi, reaksi saya bertambah keras… tiga puluh bhikkhu menghambur dan mencuci kaki Ajahn Chah dan….’ Saya benar-benar marah. Saya muak! Saya merasa itu adalah hal terbodoh yang pernah saya lihat — tiga puluh orang pergi mencuci kaki satu orang! Mungkin Ajahn Chah mengira bahwa ia patut menerimanya, tahukah anda — kebiasaan ini benar-benar mengelembungkan egonya.

Mungkin ia jadi punya ego raksasa, dengan banyaknya orang yang mencuci kakinya setiap hari. Saya takkan pernah melakukannya!’ Saat itu saya mulai membangun reaksi yang kuat, reaksi yang berlebihan. Saya akan duduk di sana dan merasa sangat sengsara dan marah. Saya akan melihat para bhikkhu dan berpikir, ‘Mereka semua tampak dungu di mata saya. Saya tak tahu lagi apa gunanya saya di sini.’

Tetapi saya mulai mendengar pemikiran saya dan berpikir, ‘Sungguh cara berpikir yang tak menyenangkan. Apa sih yang benar perlu untuk di buat kesal? Mereka toh tidak meminta saya untuk melakukannya. Tidak apa-apa – [sebenarnya] tidak ada yang salah tho dengan tiga puluh orang mencuci kaki satu orang. Perbuatan itu tidaklah tak-bermoral atau jahat, mungkin mereka memang menikmatinya; barangkali mereka memang ingin melakukannya — mungkin tak apa-apa untuk melakukannya…. Mungkin saya harus melakukannya!’ Maka keesokan paginya, tiga-puluh-satu bhikkhu tergopoh-gopoh mencuci kaki Ajahn Chah.

Selanjutnya tiada masalah lagi. Saya merasa sangat baik: hal buruk dalam diri saya telah berhenti. Kita dapat berefleksi dengan hal-hal yang menimbulkan kekesalan dan kemarahan dalam diri kita: apa sungguh ada yang salah dengan mereka atau justru kita sendiri yang menciptakan dukkha darinya? Kemudian kita pun mulai memahami masalah-masalah yang kita ciptakan dalam hidup kita sendiri dan pada hidup orang lain di sekitar kita. Dengan perhatian-penuh (mindfulness) kita akan sanggup menanggung keseluruhan hidup ini — beserta kegairahan dan kebosanannya, harapan dan keputusasaannya, kenikmatan dan kesakitannya, takjub dan kelelahannya, awal serta akhirnya, lahir dan matinya.

Kita sanggup menerima keseluruhannya dalam benak kita daripada hanya menyerap yang menyenangkan serta menekan yang tidak menyenangkan. Proses insight adalah: menyongsong dukkha, melihat dukkha, mengakui dukkha, mengenali dukkha dalam segala bentuknya. Sehingga anda tak lagi latah bereaksi seperti kebiasaan lama, larut menimang hawa-nafsu atau menekan. Oleh karena itu anda jadi mampu menanggung penderitaan, anda bisa lebih sabar dalam menghadapinya. Ajaran ini tidaklah berada di luar pengalaman kita. Sebaliknya, ajaran ini merupakan refleksi pengalaman nyata kita — bukan permasalahan intelektual yang rumit. Jadi berusahalah sunguh-sungguh dalam pengembangan-diri daripada terjebak dalam rutinitas. Seberapa sering anda merasa bersalah atas kegagalan dan kesalahan anda di masa lampau? Apakah anda harus menghabiskan seluruh waktu anda memuntahkan kembali semua yang telah terjadi dalam hidup anda dan tengelam dalam spekulasi dan analisis tanpa henti? Beberapa orang membentuk dirinya menjadi kepribadian yang begitu rumitnya.

Bila anda terus hanyut tenggelam dalam ingatan, pandanganpandangan serta opini anda sendiri, maka anda akan terus terjebak di dalam dunia ini dan takkan pernah melampauinya. Anda dapat melepas beban ini bila anda bersedia menggunakan ajaran dengan terampil. Katakan pada diri sendiri: ‘Saya tidak akan terjebak lagi; saya menolak untuk ikut dalam permainan ini. Saya takkan menyerah pada gejolak suasana hati ini.’ Mulailah menempatkan diri anda pada posisi yang mengetahui: ‘Saya mengetahui ini adalah dukkha; itu adalah dukkha.’ Adalah sangat penting untuk bertekad bersedia menyongsong dimana ada penderitaan dan mau tinggal bersamanya. Sebab hanya dengan mengamati dan mehadapi-langsung penderitaan dengan cara demikian maka seseorang boleh berharap untuk mendapatkan pengetahuan yang mendalam: ‘Penderitaan ini telah dimengerti.’ Jadi inilah ketiga aspek dari Kebenaran Ariya Pertama.

Inilah formula yang musti kita gunakan dan aplikasikan dalam refleksi hidup kita. Bilamana anda merasakan penderitaan, pertama-tama buatlah pengenalan: ‘Itu adalah penderitaan’, kemudian: ‘Penderitaan harus dipahami’, dan akhirnya: ‘Penderitaan telah dipahami.’ Pemahaman dukkha ini adalah pengetahuan-kebijaksanaan dari Kebenaran Ariya Pertama.

 

Sumber :

Vidyasena Production
Vihara Vidyaloka

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For BIJAKSANA DALAM BERBAGAI SITUASI