Betapa Mudahnya untuk Hidup Bahagia…!!!

Sabtu, Maret 26th 2016. | Artikel

be-happy mudahnya hidup bahagia tisaranadotnet
Arahkan Hidup Anda
Kehidupan menjadi kompleks dan hampir berantakan ketika kita tidak memiliki arahan hidup yang tepat. Jelas sekali ketika anda tidak tegas dengan arahan hidup anda maka anda mudah untuk tergonjang ganjing ke kanan ke kiri, atas bawah, maju mundur sungguh melelahkan. Tegaskan arahan hidup anda. Untuk menjadi mudah bahagia maka sederhana sekali bahwa arahan hidup kita adalah kebahagiaan. Kebahagiaan adalah bentuk rasa yang dapat kita rasakan melalui keadaan mental tertentu. Berikut marilah kita perdalam pemahaman kita akan kebahagiaan melalui pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Siapakah yang ingin bahagia saat ini?
2. Siapakah yang dapat bahagia saat ini?
3. Siapakah yang dapat membuat anda bahagia saat ini?

Sudahkah anda menjawabnya?. Tentu penulis yakin anda akan menjawab dengan satu huruf jika dalam versi bahasa inggris yaitu I atau SAYA. Tepat sekali, sayalah yang ingin bahagia saat ini, sayalah yang dapat bahagia saat ini, sayalah yang dapat membuat saya bahagia saat ini. Secara lebih lantang kita dapat menjawab seperti ini, “Sayalah yang ingin bahagia saat ini bukan anda, sayalah yang dapat bahagia saat ini bukan anda, sayalah yang dapat membuat saya bahagia saat ini bukan anda”. Ketegasan ini sangat kita perlukan untuk membuat kita bahagia secara mudah. Adalah kurang tepat jika anda berharap pasangan anda, keluarga anda, anak anda, orang tua anda untuk bahagia sedangkan anda sendiri diliputi oleh kekecewaan, kekesalan, kemarahan, dan penderitaan lainnya. Untuk itu ketegasan dalam jawaban atas ketiga pertanyaan di atas menjadi kunci jawaban untuk mempermudah anda masuk ke arus kebahagiaan.

Masalah itu guru/sahabat kita loh . . .
Anda tentu dapat dengan tegas mengatakan sayalah penentu kebahagiaan saya sendiri. Namun ketika anda diminta untuk merenungkan kebahagiaan anda di saat harta anda dicuri, istri atau suami yang anda cintai meninggal, anda dipecat, gaji anda dikorupsi, rumah anda terbakar dan lainnya, apakah anda masih dapat menjadi bahagia? Tentu sebagian akan menjawab ,’Tidak, saya menjadi tidak bahagia jika kondisi tersebut terjadi’. Reaksi ini sungguh wajar dan biasa terjadi demikian. Untuk itulah perlu kita perkuat atas jawaban dari pertanyaan siapa yang dapat membuat anda bahagia. Kebahagiaan yang masih terkondisi atau masih tergantung dengan kondisi merupakan kebahagiaan yang masih perlu kita tingkat jauh lebih tinggi agar kebahagiaan kita bebas dari kondisi apapun. Namun tidak masalah seberapa jauh anda bahagia saat ini apakah terkondisi atau tidak yang terpenting saat ini adalah anda perlu melihat bahwa kondisi yang ada di sekitar kita adalah guru yang paling dekat dengan kita. Sekali lagi guru bukan murid bukan juga musuh. Atau jika mau diubah istilah guru boleh dengan istri atau suami atau sahabat atau orang tua, apapun istilah yang digunakan silakan disesuaikan dengan mood masing-masing yang penting adalah istilah tersebut membuat kita menjadi lebih ‘lerem’ alias lebih tenang tidak gelisah. Sekali lagi saya ingatkan bahwa penting sekali memilih kata untuk menentukan perasaan kita. Ketika kita memilih kata untuk masalah dengan mengganti kata masalah menjadi guru maka masalah yang ada tentu membuat kita belajar untuk menyelesaikannya, dan bukan lagi masalah yang hadir membuat kita menjadi gelisah  berlama-lama, atau putus asa sehingga berlama-lama dengan sang emosi negatif.

Lihatlah dan renungkanlah, saya sangat yakin sekali segala yang terjadi sekarang ini dengan hidup kita adalah bagian dari diri kita sendiri, bagian dari perbuatan kita sendiri, bagian dari kesalahan atau kebajikan kita sendiri. Peganglah keyakinan ini maka anda mudah untuk menerima setiap masalah atau rejeki sebagai belahan hidup anda. Yakinlah bahwa setiap hal yang datang dan berdiam dalam hidup anda saat ini adalah bagian dari sejarah yang pernah anda buat sebelumnya baik anda sadari atau anda ingat atau yang tidak anda sadari atau anda tidak ingat. Jika kamus hidup anda masih beranggapan bahwa segala masalah yang datang sebagai kesialan semata atau karena ulah orang lain sehingga anda menjadi kambing hitam, dan segala rejeki sebagai hoki semata atau sim salabim semata atau hanya belas kasihan dari seseorang semata, maka anda akan sulit menerima masalah dan rejeki sebagai bagian belahan hidup anda atau sebagai bagian dari tindakan anda. Mari kita lihat sebuah contoh kejadian berikut; seorang mahasiswi pulang kuliah terlampau larut malam, ia akhirnya memutuskan untuk pulang ke kosnya yang berjarak cukup jauh katakanlah 15 km dari kampusnya ia putuskan menggunakan taksi. Ternyata taksi yang digunakkannya terdapat orang-orang jahat dan akhir cerita sang mahasiswi dirampok harta dan jasmaninya. Perhatikanlah ketika kita mendengar masalah ini, umumnya kita akan marah besar dengan sang perampok, dan ini wajar itu adalah reaksi alami selaku manusia yang penuh belas kasihan. Namun ketika kita merenungkan jika mahasiswi itu adalah kita, maka apa yang terjadi dengan kehidupan kita jika kita bereaksi yang serupa menyalahkan perampok tersebut siang dan malam, subuh dan petang tiada lagi kebahagiaan yang ada adalah kebencian yang kuat. Reaksi yang kita munculkan ternyata tidak pernah membawa kita untuk dapat menangkap sang perampok, dan perampok mungkin telah melakukan aksinya lagi kepada korban-korban lainnya tanpa pernah mengingat kita yang pernah menjadi korbannya. Rasa sakit tentu ada, rasa kecewa tentu ada, rasa kesal dan rasa negatif lainnya tentu bermunculan sebagai reaksi dari kondisi yang tidak menyenangkan, sekali lagi ini adalah wajar. Namun yang perlu kita siasati saat ini adalah kehidupan kita saat ini, kehidupan kita sekarang yang masih ada dan tak tersentuh oleh sang perampok. Kita masih memiliki kehidupan kita sekarang, iya yang sekarang adalah kehidupan kita. Untuk itu lihatlah sekali lagi sesungguhnya yang kita benci, kesali, marah, kecewa adalah ingatan kita di masa lampau yang telah lewat jauh ratusan hingga ribuan detik sebelumnya, dan sekali lagi tolonglah hargai, nikmati, terimalah kehidupan kita saat ini. Jika kita memang ingin hidup lebih baik, ingin hidup bahagia, benar-benar bahagia, maka terimalah Menerima masalah perampokan tersebut sebagai guru/sahabat kita yang sedang memberikan peringatan kepada kita bahwa ada yang salah dalam hidup kita dahulu kala, dan mengingatkan kita juga untuk segera membenahi kehidupan kita saat ini menuju masa depan yang lebih baik. Dengan penerimaan ini maka muncul emosi positif yaitu semangat hidup untuk belajar mengkoreksi diri, dan stop menyalahkan sang perampok, sang polisi yang tidak ada di lokasi, sang operator taksi, sang jalan, sang pemerintah, sang . . . dan sang lainnyaa… masih banyak sekali hal yang dapat kita salahkan ketika pikiran kita mulai mencari kambing hitam atas masalah kita. Namun ketika kita menerima masalah sebagai guru/sahabat kita maka kita stop menyalahkan orang lain, kita fokus kepada koreksi diri, perbaiki diri, kembalikan diri untuk hidup di saat ini di masa sekarang ini dan kita sangat menghargai kehidupan kita saat ini dan tidak lagi menyia-nyiakan kehidupan kita sekarang dengan berlama-lama kecewa, gelisah, putus asa, dan takut atas kejadian yang telah terjadi terhadap kita. Setelah menerima masalah sebagai guru / sahabat kita maka kita telah menekan tombol kebahagiaan kita. Lihat saja anda akan mudah untuk hidup lebih baik lagi, dan bahkan anda dapat lebih berkualitas lagi dalam menjalani hidup anda saat ini.

Penerimaan masalah tidak sama dengan penolakan masalah. Penolakan masalah memiliki ciri-ciri di antaranya kecemasan, trauma, ketakutan akan objek-objek tertentu yang menjadi pemicu karena objek tersebut terlihat, terdengar, teraba ketika masalah muncul (fobia) misalnya dari contoh mahasiswi yang dirampok di atas jika terjadi penolakan atas masalah yang terjadi maka sang mahasiswi dapat menjadi fobia ketika melihat warna mobil, tulisan taksi, atau kumis sang perampok, atau suara mobil. Sedangkan penerimaan masalah memiliki ciri-ciri di antaranya lebih waspada, lebih tenang, kembali berkarya, membagikan kiat-kiat keluar dari masalah, melakukan perubahan hidup melalui tindakan yang lebih positif. Pilihlah yang anda inginkan, anda ingin menolak atau menerima masalah, dan tentu saya tahu anda lebih memilih menerima masalah sebagai bagian dari hidup anda, menerima masalah sebagai guru/sahabat anda, menerima masalah sebagai sarana belajar mengkoreksi diri anda sendiri.

Sumber :
AHHA – It’s Easy To Be Happy
Penulis : Frengky
Vidyāsenā Production
Vihāra Vidyāloka

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Betapa Mudahnya untuk Hidup Bahagia…!!!