BERDANA DALAM AGAMA BUDDHA Oleh : MP. T. Harmanto

Minggu, Desember 3rd 2017. | Artikel


“ Anuttaram Punnakhetam Lokassati”

Dalam kehidupan manusia didunia ini, terdapat 4 hal yang selalu diinginkan, yaitu : menjadi kaya raya, memperoleh kedudukan yang tinggi, usia panjang, dan mencapai alam kebahagiaan setelah berakhirnya kehidupan di dunia.
Secara universal praktek memberi (berdana) dikenal sebagai salah satu keluhuran manusia yang paling mendasar. Terlebih dalam ajaran agama Buddha berdana memiliki tempat dan pengertian yang paling istimewa dan khusus, yaitu sebagai pondasi dan benih perkembangan spiritual. Dengan berdana kita membantu orang lain keluar dari kesulitan atau penderitaan. Berdana berarti pula mengurangi keserakahan dan keterikatan kita terhadap keduniawiaan. Jelasnya dana merupakan praktek langsung dari perbuatan baik, yang menjadi landasan dalam mencapai keinginan setiap orang, yaitu kehidupan yang penuh kebahagiaan dan kedamaian.
Menurut jenis ada 3(tiga) macam dana :
1. Amisa-dana : yaitu pemberian dalam bentuk materi yang terdiri dari:
a. Tavara-dana, berupa sesuatu yang bersifat tahan lama, misalnya: membangun stupa, vihara, tempat meditasi, rumah sakit, sekolah , dhammasala,dan lain sejenisnya.
b. Atthavara-dana, yaitu pemberian yang bersifat sementara seperti: pakaian, makanan, obat-obatan dan lain sejenisnya
2. Abhaya-dana : yaitu pemberian yang bersifat membantu makhluk lain yang sedang dalam bahaya, melepas binatang dan mau memaafkan kesalahan orang lain.
3. Dhamma-dana : yaitu pemberian berupa pengetahuan Dhamma (kebenaran) “Dhamma Danam Jinati” memberikan Dhamma Dana melebihi segala pemberian apapun

Dana yang diberikan tanpa pengharapan apapun dapat membawa seseorang terlahir dialam Brahma, dialam itu ia bisa menjadi yang tidak kembali lagi (Anguttara Nikaya IV/62)

Dalam Kitab Dakkhina Vibhanga Sutta merinci daftar orang-orang yang dapat diberi persembahan dana serta jasa kebajikan yang dihasilkan dalam niat baik sebagai berikut;
1. Dana yang diberikan kepada binatang memberikan hasil seratus kali lipat.
2. Dana yang diberikan kepada orang biasa yang memiliki kebiasaan buruk masih dapat memberikan ganjaran atau pahala 1000 kali lipat
3. Dana yang diberikan kepada orang yang berbudi luhur memberikan ganjaran 100.000 kali lipat.
4. Jika dana diberikan kepada diluar agama Buddha yang tidak memiliki kemelekatan terhadap kesenangan indria hasilnya 100.000 X 10.000.000
5. Apabila dana diberikan kepada orang pemasuk arus (sottapana, sakadagami, anagami, arahat, paceka Buddha, dan Samma Sambuddha) hasil atau pahalanya tidak dapat diukur (tiada tara)

Dalam Sutta (Kotbhah) Sang Buddha juga menerangkan bahwa dana yang diberikan kepada Sangha lebih berharga daripada dana yang dipersembahkan kepada Bhikkhu dalam kapasitas individunya Sang Buddha pernah menjelaskan bahwa membuang air bekas mencuci piring yang masih terdapat sisa makanan sudah merupakan tindakan yang berjasa, asal disertai dengan pikiran yang dermawan “ semoga partikel-partikel makanan didalam air cucian ini menjadi makanan makhluk-makhluk didalam tanah / comberan. Lebih lanjut dalam Kitab Anguttara Nikaya, dikatakan bahwa seseorang yang melakukan dana secara tetap dan teratur ia tidak akan dilahirkan dialam yang menyedihkan. Pemberian yang dilakukan atas kemauan sendiri akan menjadikan seseorang cerdas dan kreatif. Mereka yang berdana tanpa disertai dengan pengertian akan dilahirkan tanpa mencapai banyak kemajuan dalam kehidupan spiritual karena ia tidak memiliki kebijaksanaan, sedangkan bila dilakukan dengan pengertian akan mendorong kearah pencapaian tingkat kesucian dalam kehidupan ini.

Anuttaram Punnaketham Lokassati ladang untuk menanam kebaikan yang tiada tara bagi dunia

Incoming search terms:

  • punnakhetam lokassati
tags: , , , , , ,

Related For BERDANA DALAM AGAMA BUDDHA Oleh : MP. T. Harmanto