Bagaimana Pandangan Ekonomi dalam Buddhisme?

Sabtu, Mei 21st 2016. | Artikel

ekonomi buddhis TisaranaDotNet

By Upi. Mettasanti Meta Nusati

Dalam agama Buddha terdapat dua pilihan yaitu hidup sebagai sebagai perumah tangga dan hidup sebagai seorang samana. Kehidupan setiap orang terlebih sebagai umat awam atau sebagai perumah tangga pasti tidak terlerpas dari masalah ekonomi. Sebagian besar dari mereka menginginkan perekonomian yag telah dibangun memperoleh keberhasilan. Namun, dapatkah kita melakukan kebajikan pada saat yang bersamaan dengan keberhasilan yang kita capai? Kenyataannya, tidak banyak orang yang peduli terhadap kebenaran dan nilai-nilai kemanusiaan. Banyak orang yang mengabaikan etikaetika dalam menjalankan bisnis atau suatu pekerjaan.
Beberapa orang mungkin berpikir bahwa menerapkan etika maupun nilai kepedulian tidak begitu dibutuhkan dalam pencapaian kesuksesan mereka. Biasanya mereka
hanya berpikir untuk dapat mencapai kesuksesan dengan cepat. Mereka lebih mengutamakan uang, jabatan ataupun kekuasaan dalam kehidupan untuk mengangkat derajat dan mempertahankan perekonomiannya. Banyak contoh dalam dunia bisnis yang mengarah pada pengejaran keuntungan tanpa mempertimbangkan konsekuensi yang nantinya akan diperoleh. Seperti, lingkungan yang tercemar, membuat orang lain bangkrut, menyebabkan kematian makhluk lain dan memperjual-belikan senjata tajam. Hal ini dapat merugikan makhluk lain dan diri
sendiri. Hal ini memperlihatkan keputusan-keputusan bisnis yang kurang baik.
Seorang yang sukses tidak hanya harus memiliki pengetahuan yang profesional dan etika yang sukses, juga harus dapat membedakan kebenaran dari kebohongan serta konsisten dalam kata-kata dan perbuatannya. Mempunyai keteguhan yang tak tergoyahkan serta rendah hati, hal inilah yang dapat meraih tujuannya.

Kekayaan memang bukan ukuran kebahagiaan, namun banyak orang berjuang untuk mendapatkan kekayaan. Buddha mengajarkan bahwa ada kebahagiaan lain yang lebih tinggi daripada kebahagiaan materi, yaitu kebahagiaan batin. Dalam Dhammapada 204 dikatakan bahwa: “Kesehatan adalah keuntungan yang paling besar. Kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga. Kepercayaan adalah saudara yang paling baik. Nirwana (Nibbana) adalah kebahagiaan yang tertinggi”.

Jika orang yang bergelut dalam dunia bisnis dapat mengesampingkan keuntungan semata dan belajar dari ekonomi Buddhis, maka mereka akan mencapai prestasi-prestasi yang hebat dan mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat sehingga dapat melakukan kebajikan pada saat yang bersamaan dengan keberhasilan
yang dicapai. Pengertian Ekonomi Secara umum, dapat dikatakan bahwa ekonomi adalah sebuah bidang kajian tentang pengurusan sumber daya material individu, masyarakat, dan negara untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Ekonomi merupakan ilmu tentang perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang bervariasi dan berkembang dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi, konsumsi dan atau distribusi.
Manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk ekonomi pada dasarnya selalu menghadapi masalah ekonomi. Inti dari masalah ekonomi yang dihadapi manusia adalah kenyataan bahwa jumlah kebutuhan manusia tidak terbatas, sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia jumlahnya terbatas. Manusia juga memiliki keinginan
terhadap sesuatu, mempunyai alasan dan motivasi dalam usaha mencapai keinginan itu. Kemudian, siapa yang memberikan motivasi tersebut? Dan bagaimana solusinya
agar keinginan itu tercapai? Semua pertanyaan itu berkaitan dengan tindakan, motif, dan prinsip ekonomi, serta berhubungan dengan kebutuhan akan barang dan
jasa. Konsep Ekonomi Buddhis Konsep ekonomi buddhis yaitu penghidupan/mata pencaharian benar yang terdapat di dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan, menyebabkan perlunya ekonomi buddhis memiliki beberapa implikasi, yaitu sebagai
berikut:
1.Ia mengindikasikan pentingnya Mata Pencaharian Benar (ilmu ekonomi) dalam agama Buddha.
2.Ilmu ekonomi dianggap hanya sebagai salah satu diantara sekian banyak faktor (secara tradisional ada delapan faktor) yang membentuk jalan hidup yang benar, yaitu jalan yang bisa menyelesaikan masalah. Menurut para ahli, Ekonomi buddhis tidak hanya mempertimbangkan nilai-nilai etika dari suatu kegiatan
ekonomi, tetapi juga berjuang untuk memahami realitas dan mengarahkan kegiatan ekonomi pada keharmonisan dengan ”hal seperti apa adanya”. Faktor ini mengharuskan bahwa mata pencaharian seseorang tidak menciptakan penderitaan atau menyakiti diri mereka maupun orang lain. Dan bahwa mata pencahariaan itu tidak melanggar faktor pendukung lainnya. Kunci dari ekonomi Buddhis adalah kesederhanaan, ekologi dan tanpa kekerasan. Dari sudut pandang ekonomi Buddhis tujuan dari kehidupan ekonomi adalah untuk memperoleh kesejahteraan yang maksimal tanpa merugikan makhluk lain. Pekerjaan yang merugikan atau menyebabkan kematian adalah di luar prinsip ini. Oleh karena itu pekerjaan
dalam dunia industri militer atau senjata, yang bertujuan tunggal menghasilkan senjata untuk membunuh atau melukai orang lain adalah melanggar faktor ini. Mata
pencahariaan melalui pencurian, penipuan, atau perjudian juga meyebabkan penderitaan, menciptakan konsekuensi karma yang negatif dan memiliki potensi untuk memupuk pembalasan dendam. Menjual bahan-bahan kimia yang beracun juga merupakan contoh lain dari mata pencaharian yang tidak benar.
Kita dapat mengetahui mengenai pekerjaan kita sendiri, bila apa yang kita kerjakan atau yang dilakukan perusahaan kita melanggar Pancasila Buddhis, maka pekerjaan tersebut melibatkan kita dalam mata pencaharian yang tidak benar. Berbicara tentang ekonomi maka kita tidak akan terpisah dari aspek kekayaan. Buddha mengajarkan kepada kita bahwa ada tiga hal utama yang harus diperhatikan saat berhadapan dengan kekayaan yang kita miliki, yaitu:
1. Cara memperoleh kekayaan tidak membawa penderitaan dan kerugian bagi mahluk lain.

Perlu diingat bahwa untuk mendapatkan kekayaan merupakan hal yang cukup mudah didapat, tetapi untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan Dhamma
merupakan hal yang sulit didapat. Kekayaan hendaknya diperoleh tidak dengan cara eksploitasi, tetapi melalui usaha dan keterampilan, seharusnya diperoleh dengan usaha yang bermoral. Dalam Anguttara Nikaya IV, 285 Sang Buddha menjabarkan bahwa keberhasilan usaha kita paling sedikit tergantung pada empat faktor
utama yaitu:

  1. Utthana Sampada
    Rajin dan bersemangat di dalam bekerja, memperoleh kekayaan melalui usaha yang berlandaskan keterampilan dengan kesungguhan
    Dalam menghadapi situasi ekonomi saat ini yang sangat ketat persaingannya maka kepandaian saja bukanlah satu-satunya jaminan keberhasilan. Selain itu, perlu adanya ketrampilan atau kemampuan khusus yang dapat menjadi faktor penting menuju kesuksesan, disamping kerja keras, pelatihan, pengalaman dan strategi, tertentu saja.
  2. Arakkha Sampada
    Penuh hati-hati menjaga kekayaan yang telah diperoleh. Memelihara kesuksesan adalah hal yang kadang diremehkan oleh sebagian orang yang telah merasa berhasil dalam usahanya. Menjaga kesuksesan di sini termasuk menjaga sistem yang digunakan dan hasil yang dapat serta berusaha
    untuk lebih meningkatkannya lagi.
  3. Kalyana-mitta
    Memiliki sahabat yang baik. Dalam pengertian Buddhis, lingkungan yang baik, jujur, pandai, terpelajar, mulia, dan seorang sahabat yang penolong, akan memberikan pengaruh cukup besar untuk kemajuan usaha kita.
  4. Samajivikata
    Hidup sesuai dengan pendapatan, tidak boros dan juga tidak kikir. Materi dalam Agama Buddha bukanlah musuh yang harus dihindari, namun ia juga bukan pula majikan yang harus kita puja. Hendaknya kita bersikap netral terhadap materi serta mampu mempergunakannya sewajarnya
    sesuai dengan kebutuhan. Angguttara Nikaya juga menjelaskan seseorang
    seharusnya menghindari diri dari lima macam perdagangan yang bisa membahayakan bagi dirinya sendiri dan juga mahkluk lain, yaitu:
  • satta vanijja (perdagangan perbudakan),
  • sattha vanijja (perdagangan persenjataan),
  • mamsa vanijja (perdagangan mahluk hidup),
  • majja vanijja (perdagangan minum-minumankeras), dan
  • visa vanijja (perdagangan racun, termasuk ganja, morfi n, dan sebagainya).

Kekayaan yang didapatkan dengan cara ini akan menjadi bumerang bagi orang tersebut. Ambalatthika Rahulovada Sutta menegaskan kriteria tentang pekerjaan terbaik yang dilakukan oleh para pengikut Sang Buddha. Jika suatu pekerjaan yang dilakukan adalah menimbulkan manfaat untuk dirinya sendiri dan bermanfaat
untuk orang lain serta bermanfaat untuk keduaduanya maka pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang terpuji. Beberapa jenis pekerjaan seperti kerajinan, pembangunan infrastuktur seperti jalan, sekolah, rumah sakit dan sebagainya merupakan pekerjaan yang sangat baik.

2. Cara kita menggunakan kekayaan yang benar

Pengaturan tentang kekayaan yang telah kita dapat, dapat dilihat di dalam Sigalovada Sutta yang terdapat dalam kitab Digha Nikaya sebagai berikut: o ekena bhoge bhubjeyya (satu bagian untuk dinikmati) o dvihi kammam payojaye (dua bagian untuk ditanamkan kembali ke dalam modalnya) o catutabca nidhapeyya (bagian ke empat disimpan) o apadasu bhavissanti (untuk menghadapi masa
depan yang sulit) Didalam Sigalovada-sutta, juga dijabarkan tentang enam cara pemborosan kekayaan, yaitu :
• Kecanduan pada minuman keras dan obat-obatan
• Berkeluyuran pada waktu yang tidak pantas
• Menghadiri hiburan malam
• Ketagihan berjudi
• Dikelilingi orang-orang yang tidak baik
• Kebiasaan bermalas-malasan

 

3. Sikap mental terhadap kekayaan itu sendiri
Seorang umat awam yang sejati tidak hanya mencari kekayaan secara benar dan menggunakan secara untuk tujuan konstuktif tetapi juga menikmati kebebasan spiritual, tanpa terikat padanya terobsesi atau diperbudak olehnya. Menggunakan kekayaan tanpa keserakahan, tidak melekat, mewaspadai bahayanya dan memiliki pengertian (insight) yang memelihara kebebasan jiwanya. Kekayaan yang diperlakukan secara salah tidak saja menghalangi kemajuan individu, tetapi juga bisa membahayakan masyarakat. Kekayaan menghancurkan mereka yang bodoh, tetapi tidak menghancurkan mereka yang mempunyai tujuan. Hidup yang bebas yang tidak secara berlebihan bergantung pada materi adalah hidup yang tidak tersesatkan oleh kekayaan. Ia yang mengaplikasikan mata pencaharian benar, dan menggunakan kekayaan dengan baik untuk dirinya maupun orang lain dikatakan dalam agama Buddha sebagai pemenang memiliki kebijaksanaan yang menuntun pada pelepasan kemelekatan (nisarana panna), saat ia tidak lagi diperbudak oleh harta ataupun tidak membawanya sebagai beban, saat ia bisa hidup dengan gembira dan tak bingung tanpa dirusak oleh kekayaan duniawi. Karakter utama dari ekonomi buddhis adalah mengacu pada jalan tengah, hidup sederhana, tidak berlebihan. Mengetahui dan sadar dimana kebahagiaan bertemu dengan kepuasan setelah kita menjawab kebutuhan akan kualitas kehidupan atau kebahagiaan. Misalnya konsumsi yang disesuaikan dengan jalan tengah harus seimbang sebatas jumlah yang pantas untuk pencapaian kesejahteraan daripada hanya pemenuhan nafsu
keinginan. Hal ini bertolak belakang dengan prinsip ekonomi di dalam ekonomi klasik bahwa konsumsi maksimum akan membawa kepuasan maksimum. Kita memiliki konsumsi yang bijak secukupnya menuntun menuju kebahagiaan. Di dalam ekonomi buddhis juga tidak merugikan diri sendiri maupun makhluk lain yang merupakan prinsip penting yang digunakan sebagai kriteria dasar perbuatan manusia. Ekonomi buddhis harus sesuai dan harmonis dengan keseluruhan proses
sebab akibat sehingga ekonomi berjalan sedemikian rupa tanpa menyakiti diri sendiri ataupun makhluk lain.
Walaupun konsumsi dan kekayaan ekonomi penting, tetapi itu bukanlah tujuan akhir. Itu hanyalah sebagai dasar untuk perkembangan manusia dan peningkatan kualitas hidup. Ekonomi Buddhis memastikan pembentukan kekayaan menuntun pada kehidupan di mana orang-orang bisa mengembangkan potensipotensi mereka dan memperbanyak hal-hal yang baik. Kualitas kehidupanlah dan bukan harta yang menjadi tujuan.

 
Referensi:
Payutto, Ven 2005 “Ekonomi Buddhis-Jalan Tengah Untuk Dunia Usaha”
. Buddhadharma Foundation.
Field, Lloyd 2009 “Business and The Buddha – Berhasil Dengan Berbuat Baik”. Yayasan penerbit Karaniya.
Tindakan, Motif, dan Prinsip Ekonomi.
Pandangan Agama Buddha Tentang Ekonomi.
Konsep Ekonomi Dalam Agama Buddha.
http://www.plengdut.com/2013/04/tindakan-motif-dan-prinsipekonomi. html, diakses 19 sept 2013 19.05
http://www.becsurabaya.org/artikel/artikel-buddhis/157pandanganagama- buddha-tentang-ekonomi.html,  diakses Kamis, 19 September , 2013 – 18:23 WIB
http://www.buddhistzone.com/story/Buddhist/27-08-2012/konsepekonomi-
dalam-agama-buddha, diakses Kamis, 19 September , 2013

 

Sumber :

Vidyāsenā Production
Vihāra Vidyāloka

Incoming search terms:

  • sutta yang berhubungan dengan kekayaan buddhis
tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Bagaimana Pandangan Ekonomi dalam Buddhisme?