Apa Pesan Buddha untuk Zaman Sekarang ?

Sabtu, April 2nd 2016. | Artikel

pesan sang budha zaman sekarang tisaranadotnet
Oleh : Bhikkhu Bodhi
Tidak melakukan segala bentuk kejahatan, mengembangkan kebajikan dan kebersihan batin, inilah Ajaran Para Buddha

Meskipun umat manusia telah membuat berbagai kemajuan yang menakjubkan dalam sains dan teknologi -berbagai kemajuan yang secara dramatis telah meningkatkan kondisikondisi kehidupan dengan berbagai cara- kita masih menemukan diri kita berhadapan dengan berbagai masalah global yang menghalangi usaha-usaha kita yang paling menentukan untuk memecahkan mereka di dalam berbagai kerangka yang dibuat.

Banyak penyakit sosial yang menjangkiti kita tidak dapat dijelaskan dengan sepenuhnya tanpa memandang orang kuat yang menyetir yang berada di belakang mereka. Sering kali, gerakangerakan tersebut menyebabkan kita mengejar tujuan-tujuan yang divisif (bersifat memecahbelah) dan terbatas, meskipun yang dikejar itu akhirnya menghancurkan diri sendiri.

Problem-problem tersebut mencakup: tekanan-tekanan regional yang eksplosif (dahsyat) dengan karakter etnik dan keagamaan; perluasan senjata-senjata nuklir yang berkesinambungan; pelanggaran HAM; gap yang lebar antara si kaya dan si miskin; perdagangan gelap berskala internasional yang mencakup narkoba, perempuan, dan anak- anak; berkurangnya sumber-sumber alam di bumi; dan pencemaran lingkungan. Dari perspektif Buddhis, hal yang paling mencolok ketika kita merenungkan masalah-masalah tersebut sebagai suatu keseluruhan adalah karakter mereka yang pada dasarnya simptomatik. Di bawah keanekaragaman mereka yang terlihat di luar, mereka muncul dalam banyak manifestasi dari satu akar yang sama, dari sebuah penyakit spir itual berbahaya yang dalam dan tersembunyi yang menjangkiti organisme sosial kita. Akar yang sama ini secara sederhana dapat dikarakterisasi sebagai suatu tuntutan yang keras untuk menempatkan kepentingan diri yang sempit dalam waktu singkat (termasuk kepentingan kelompok-kelompok etnis dan sosial) di atas kepentingan umum. Banyaknya penyakit sosial yang menjangkiti kita tidak dapat dijelaskan secara tuntas tanpa memandang gerakan-gerakan yang kuat dari orang yang berada di belakang mereka. Sering kali, gerakan-gerakan tersebut menyebabkan kita mengejar tujuan-tujuan yang divisif (bersifat memecahbelah) dan terbatas, meskipun yang dikejar itu akhirnya menghancurkan diri sendiri. Ajaran Buddha menawarkan kepada kita dua cara yang berharga untuk menolong kita melepaskan diri kita dari belenggu ini. Yang satu adalah analisisn ya yang tajam berdasarkan sumber sumber psikologis tentang penderitaan manusia. Yang lain adalah jalan untuk latihan moral dan mental yang dibabarkan secara tepat yang berguna sebagai satu solusi. Buddha menerangkan bahwa sumber-sumber psikologis tentang penderitaan umat manusia yang tersembunyi di arena kehidupan kita -pribadi dan sosial- adalah ketiga faktor mental yang disebut akar-akar yang tidak baik, yakni: keserakahan, kebencian, dan delusi. Ajaran Buddhis tradisional melukiskan akar-akar yang tidak baik itu sebagai penyebab penderitaan pribadi, tetapi dengan mengambil pandangan yang lebih luas kita dapat pula melihat mereka sebagai sumber penderitaan di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Dengan merajalelanya keserakahan, maka dunia berubah menjadi arena pasar global dimana orang-orang direndahkan hingga status konsumen, bahkan komoditas, dan sumbersumber vital di planet kita dikeruk sebanyakbanyaknya tanpa mempedulikan generasigenerasi yang akan datang. Dengan mewabahnya kebencian, maka perbedaan etnis  dan kebangsaan menjadi lahan subur bagi kecurigaan dan permusuhan, yang meledak dalam kekejaman dan lingkaran balas dendam yang tiada akhir. Delusi menyokong kedua akar yang tidak baik itu beserta kepercayaan yang salah dan ideologi politis yang memunculkan kebijakan-kebijakan yang dimotivasi oleh keserakahan dan kebencian.

Sementara perubahan-perubahan dalam struktur dan kebijakan sosial benar-benar diperlukan untuk menanggulangi bentukbentuk kekerasan dan ketidakadilan yang begitu meluas di dunia dewasa ini, perubahanperubahan itu sendiri tidak akan cukup untuk mencapai kedamaian sejati dan stabilitas sosial. Berbicara dari perspektif Buddhis, saya akan mengatakan bahwa apa yang diperlukan diatas semuanya itu adalah sebuah mode persepsi yang baru, suatu kesadaran universal yang akan memampukan kita untuk menghargai sesama -yang pada hakikatnya tidak berbeda dari diri kita sendiri-. Bagaimanapun sulitnya, kita harus belajar untuk melepaskan diri dari menuntut untuk kepentingan diri sendiri dan selanjutnya meningkat ke perspektif universal, dimana kesejahteraan semua orang terlihat sama pentingnya dengan kesejahteraan diri kita sendiri. Yaitu, kita harus menanggalkan sikap ego-sentrik dan etno-sentrik, dan sebagai gantinya kita menganut “etika yang berpusatkan pada dunia” yang memberikan prioritas pada kesejahteraan semua orang.

Menggarisbawahi isi khusus dari etika global adalah sikap hati yang harus kita usahakan untuk mengejawantahkannya di dalam kehidupan pribadi dan kebijakan sosial. Hal utama dalam keduanya adalah cinta kasih dan belas kasih (metta karuna).

  1. Sebuah etika yang berpusatkan pada dunia seperti itu harus dibentuk berdasarkan ketiga bimbingan, sebagai antidot (penangkal) terhadap ketiga akar yang buruk:Kita harus mengatasi keserakahan eksploitatif dengan kemurahan hati global, pemberian bantuan, dan kerja sama,

  2. Kita harus menghilangkan kebencian dan dendam dengan kebijaksanaan dari kebaikan hati, toleransi, dan pemberian maaf, dan

  3. Kita harus mengenal bahwa dunia kita ini adalah suatu keseluruhan yang saling bergantung dan saling berhubungan sedemikian rupa sehingga dimana pun ada tingkah laku yang tidak bertanggungjawab di sana ia akan mendapatkan reaksi keras.

Bimbingan-bimbingan tersebut, yang didasarkan pada ajaran Buddha, dapat menjadi inti dari etika global yang dapat diikuti dengan mudah oleh semua tradisi spiritual besar di dunia.

Memperhatikan kandungan spesifik dari etika global adalah sikap hati yang harus kita usahakan untuk mengejawantahkannya di dalam kehidupan pribadi dan kebijakan sosial. Hal utama dalam keduanya adalah cinta kasih dan belas kasih (maitri karuna). Melalui cinta kasih kita mengetahui bahwa sesungguhnya kita masing-masing ingin hidup dengan bahagia dan damai. Melalui belas kasih kita menyadari bahwa sesungguhnya kita masing masing tidak ingin sakit dan menderita, demikian pula semua orang tidak menginginkan kesakitan dan penderitaan. Jika kita telah mengerti inti perasaan yang umum ini sehingga kita berbagi dengan setiap orang yang lain, kita akan memperlakukan sesama dengan kebaikan dan perhatian yang sama seperti kita ingin diperlakukan . Hal ini harus berlaku dalam kehidupan bersama di masyarakat, bukan hanya dalam hubungan hubungan pribadi kita. Kita harus belajar untuk melihat komunitas-komunitas yang lain sama seperti komunitas kita, yang berhak atas kepentingan-kepentingan yang sama sebagaimana yang kita inginkan terhadap kelompok kita.

Panggilan terhadap etika yang berpusatkan pada dunia ini tidak berkembang dari idealisme etis atau pikiran yang dipenuhi keinginan (pribadi), tetapi berdasarkan pada fondasi pragmatik yang solid. Dalam jangka panjang, mengejar kepentingan diri yang sempit dalam lingkaran yang luas selalu mengganggu kepentingan jangka panjang kita yang nyata; karena dengan mengadopsi sebuah pendekatan yang demikian kita berkontr ibusi dalam perpecahan di masyarakat dan perusakan ekologis, dengan demikian memotong cabang pohon dimana kita duduk. Rendahkanlah kepentingan diri yang sempit untuk kebaikan umum (bersama), yang pada akhirnya, untuk kebaikan nyata kita sendiri, yang sangat bergantung pada harmoni di masyarakat, keadilan ekonomi, dan lingkungan yang kondusif.
Buddha menyatakan bahwa di antara segala sesuatu di dunia, sesuatu yang memiliki pengaruh paling kuat untuk kebaikan dan keburukan adalah pikiran. Kedamaian sejati di antara orang-orang dan bangsa-bangsa bertolak dari kedamaian dan kemauan baik yang ada di dalam hati umat manusia. Kedamaian yang demikian tidak dapat dimenangkan hanya dengan kemajuan material, perkembangan ekonomi dan inovasi di bidang teknologi, tetapi menuntut perkembangan moral dan mental. Bahwa dengan mengubah diri sendiri kita dapat mengubah dunia kita ke arah kedamaian dan persahabatan. Jadi, supaya umat manusia di planet ini hidup bersama dengan damai, tantangan di depan kita yang tak dapat dihindari adalah mengerti dan menguasai diri kita sendiri.

Ini berarti bahwa ajaran Buddha menjadi sangat cocok dengan zaman, bahkan untuk mereka yang tidak siap untuk merangkul sepenuhnya keyakinan dan doktrin religius Buddhis. Dalam diagnosisnya terhadap kotorankotoran batin sebagai sebab pokok terjadinya penderitaan manusia, ajaran ini menunjukkan kepada kita akar-akar dari masalah masalah pribadi dan kolektif kita yang tersembunyi. Dengan menunjukkan sebuah cara praktik untuk latihan moral dan mental, ajaran-ajaran tersebut menawarkan kepada kita sebuah resep yang efektif untuk mengatasi pelbagai problem dunia di satu tempat dimana mereka dapat diakses secara langsung untuk kita: di dalam pikiran kita.

Ketika kita memasuki milenium baru. Ajaran Buddha menyediakan bagi kita semua -tanpa memandang keyakinan religius kita- bimbingan yang kita butuhkan untuk membuat dunia kita menjadi sebuah tempat yang lebih damai dan lebih cocok untuk dihuni.

 

Sumber :

Dhamma Citta
Perpustakaan eBook Buddhis
http://www.DhammaCitta.org

Incoming search terms:

  • pesan budha untuk pendidikan
tags: , , , , , ,

Related For Apa Pesan Buddha untuk Zaman Sekarang ?