ANTARA AMBISI & HATI NURANI Oleh Andrie Wongso.

Kamis, Oktober 19th 2017. | Artikel

Ambisi perlu dilandasi hati nurani, agar pencapaian yang diraih bisa membawa kebahagiaan sejati.

Banyak orang memiliki ambisi. Hal ini wajar-wajar saja. Bahkan tanpa ambisi, hidup bisa jadi tak bergerak sama sekali. Stagnan, dan kemudian hanya akan jadi begitu-begitu saja. Maka, ambisi sebenarnya juga diperlukan untuk mewujudkan impian. Ambisi bisa jadi bahan bakar semangat mencapai target besar dan menantang yang kita tetapkan.

Hanya saja, kadang tanpa kita sadari, banyak yang kemudian kebablasan. Akibat ambisi, tak lagi mendengar suara hati. Ujungnya, sikut sana sikut sini. Kita bisa melihat bagaimana persaingan memperebutkan jabatan. Bahkan, kalau ditarik jauh ke sejarah di masa lalu, banyak kisah peperangan yang dimulai dari ambisi.
Karena itulah, ambisi harus dikendalikan. Hati nurani tetap harus dikedepankan. Pikiran dan akal sehat juga harus terus dikembangkan. Sehingga, ambisi tetap jadi nilai positif yang akan menguatkan kita meraih berbagai impian.

Kita bisa belajar dari kisah berikut, untuk selalu ingat, bahwa ambisi yang berlebihan akan mengundang kerugian.

Dikisahkan, ada seorang petani di sebuah desa. Ia adalah seorang petani yang rajin dan punya mimpi besar akan jadi petani sukses. Suatu kali ia menanam benih tanaman yang diharapkan akan segera bertumbuh cepat sehingga ketika panen nanti ia akan mendapat untung besar.
Namun, dari hari ke hari, bibit yang ditanamnya tak bertumbuh sesuai harapan. Bibit itu tumbuh sangat pelan. Petani itu pun mulai mengeluh, mengapa tumbuhannya tak bisa segera bertumbuh besar.
Maka, karena petani itu sudah ingin mendapat keuntungan cepat, ia pun berinisiatif untuk mempercepat pertumbuhan bibit yang ditanamnya. Petani itu memutuskan akan membantu setiap bibit untuk tumbuh lebih cepat. Maka, di suatu hari, ia pun berkeliling ke semua sudut kebun tempat ia menanam bibit. Dengan penuh semangat, ia menariki satu demi satu bibit itu ke atas. Ia berpikir, dengan cara itu, bibit tersebut akan tumbuh lebih cepat. Sehari penuh ia dengan sabar menarik tetumbuhan itu hingga ia memastikan, tak ada satu pun yang terlewat. Setelah selesai, dengan bangga ia melihat hasil pekerjaannya. Bibit itu rata-rata memang sudah lebih tinggi dari sebelumnya.
Setelah itu, ia pun pulang ke rumah. Ia lalu berkata pada anaknya. “Hari ini aku sudah melakukan hal yang terbaik untuk kebun kita. Aku memastikan semua bibit yang kemarin kita tanam dan lambat pertumbuhannya esok hari bakal bertumbuh lebih cepat sehingga nanti panenan kita pun bisa lebih cepat. Aku tarik satu demi satu tanaman itu hingga tak ada satu pun yang terlewat. Dengan begitu, mereka akan lebih cepat berkembang dan nanti kita pun bisa segera memanen dengan untung yang berlipat,” yakin si petani.
Pagi harinya, dengan gembira si petani mengajak anaknya ke kebun mereka untuk melihat hasil kerja petani di hari sebelumnya. Namun, mereka menyaksikan hal yang tak diharapkan. Bukannya bertumbuh. Tapi, tanaman-tananam yang dicabuti itu malah mati kekeringan. Akarnya yang tak lagi menancap kuat ke tanah tak mendapat asupan air dan makan yang cukup, sehingga tanaman itu malah mati. Petani itu pun menyesal, upayanya membantu tanaman agar tumbuh lebih subur malah jadi petaka.

Netter yang Bijaksana,

Kisah tersebut memperlihatkan kepada kita semua, bahwa ambisi yang tak dilandasi dengan cara yang benar, hanya akan mendatangkan kenestapaan. Ambisi yang berlebih jika dilakukan dengan menghalalkan segala cara hanya akan melahirkan banyak kerugian. Bahkan, kerap kali yang merugi bukan hanya kita, tapi berdampak ke lebih banyak orang.

Karena itu, memiliki ambisi boleh-boleh saja. Tapi, landasi ambisi dengan kebersihan hati nurani, kejernihan berpikir, serta kebijaksanaan bertindak. Mari jadikan ambisi yang berbudi pekerti sebagai penguat semangat, sehingga kita selalu punya kemampuan untuk bertindak cepat, tepat, dan meraih hasil yang hebat!

Salam sukses, luar biasa!!!

Sumber:
http://www.andriewongso.com/antara-ambisi-dan-hati-nurani/

tags: , , , ,

Related For ANTARA AMBISI & HATI NURANI Oleh Andrie Wongso.