Ajaran Buddha Ajaran Tentang Kehidupan. Ven YM. Bhante Sri Pannavaro Mahathera.

Jumat, Juni 16th 2017. | Artikel

Karena perjalanan sejarah yang cukup panjang (2500 tahun) itu kadang-2 ajaran Sang Buddha ini terbungkus….. terbungkus oleh bermacam-macam bungkusan yang berwarna-warni yang kadang-2 orang susah melihat isi sesungguhnya.

Kalau masyrakat melihat agama Buddha , kalau masyarakat melihat umat Buddha, mereka tidak gampang simpati, apalagi jatuh cinta kepada agama Buddha. Apa sebabnya? Oleh karena yang kelihatan dari luar, yang menjadi kesan pertama bagi masyarakat terhadap umat Buddha, terhadap agama Buddha ini sungguh kurang menarik. Kalau masyarakat melihat saudara-2, “Oh….umat Buddha ini kalau sembahyang sakepenake dewe”. Pakaiannya tidak diperhatikan, kadang-2 pakai celana pendek, pakai kaos, apalagi duduknya dibawah, tidak rapi dan tidak necis.

Ini sudah membuat kesan tidak gampang, tidak senang orang ikut dengan Saudara. Kesan seperti ini tidak bisa membuat mereka jatuh cinta kepada Saudara, apalagi kemudian melihat agama Buddha ini sembahyang pakai altar, pakai patung-2 bahkan kadang-2 patungnya besar sekali, dan kemudian patungnya banyak. Orang kemudian berpikir, “Oh tentu agama Buddha ini satu agama yang mengajarkan kita untuk menggantungkan diri kepada patung-2, memohon-mohon kepada patung-2, ah…..ini tentunya agama yang sudah ketinggalan jaman satu agama yang sudah tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan, satu agama yang tidak mempunyai daya tarik, satu agama yang tidak menarik bagi saya”. Kemudian mereka tidak simpati kepada kita. Inilah kesan-2 pandangan pertama bagi masyrakat terhadap Saudara, terhadap kita, terhadap agama kita yang menimbulkan rasa tidak simpatik dan sulit untuk jatuh cinta kepada agama Buddha.

Sesungguhnya tidak menjadi persoalan Saudara……memang sepintas agama Buddha ini tidak bisa mengundang orang cepat jatuh cinta apalagi kalau altarnya banyak patung dan kemudian banyak sesjaian……ada pisang, ada jambu, ada roti. Orang kemudian mengatakan: “Meja sembahyang kok seperti apa….supermarket. Apakah ini satu agama yang masih layak kita pakai?” Saudara sekalian, tidak menjadi soal pandangan masyarakat kepada kita. Memang di Jawa ada orang yang mengatakan demikian, “Yang perlu….kan hatinya, meskipun wajahnya cantik kalau hatinya berbulu apa gunanya, meskipun wajahnya jelek tapi kalau hatinya mulia tentu akan dicari orang”…..hanya mungkin tidak gampang menarik orang.

Tetapi kalau mereka-2 yang mempunyai salah pengertian kepada agama Buddha terhadap ajaran yang kita anut ini mau sedikit membuka telinga, mendengar dan mengerti apa yang sesungguhnya yang diajarkan oleh agama BUddha, mereka mau tidak mau akan memberikan rasa hormat yang setinggi-tingginya terhadap Ajaran Sang Buddha.

Orang-2 besar, orang-2 pandai di dunia ini Saudara sekalian….kalau Saudara membaca buku-2, Saudara akan melihat orang-2 besar di dunia ini menghargai begitu tinggi sekali terhadap Ajaran Sang Buddha. Apa sebabnya? Oleh karena Ajaran Sang Buddha ini satu ajaran yang berusaha membawa kita mempunyai pegangan yang universal. Ajaran Sang Buddha bukan satu ajaran yang membawa kita pada diskriminasi, satu ajaran yang berusaha mengangkat derajat manusia ini dengan kemampuannya sendiri, satu ajaran yang mengajak kita untuk berpikir dewasa, satu ajaran yang tidak menghendaki kita ini suka menggantungkan diri kepada siapa pun juga, tetapi satu ajaran yang mengingatkan kepada kita, menyadarkan kita, membangunkan kita, “Ayo…..mari bertanggung jawab atas hidupmu masing-masing”. Memang ini susah Saudara, yang paling mudah adalah kalau orang lain maun menanggung kita, yang paling mudah adalah kalau kita ini di dalam kesulitan dan saat kita memohon sesuatu kemudian dengan segera kesulitan itu dapat teratasi. Menggantungkan diri pada sesuatu, mengharapkan sesuatu, adalah sesuatu hal yang paling disukai manusia, memohon sesuatu, meminta sesuatu adalah sesuatu hal yang paling gampang dan paling disukai manusia.

Andaikan Ajaran Sang Buddha ini kemudian karena disulap menjadi demikian, ajaran Sang Buddha ini oleh karena sudah kuno harus di perbaruhi. Ajaran baru agama BUddha ini berbunyi demikian: Kalau Saudara punya kesulitan / persoalan….dan semua manusia tentu punya kesulitan dan persoalan kehidupan ini, tidak usah repot-2, Saudara cukup menyebut satu doa saja, misalnya, satu mantra misalnya, satu jampe-2 misalnya, ‘namo Hompimpa’ misalnya demikian…….tanggung beres, cita-cita (keinginan) semua tercapai, kesulitan semuanya teratasi. Siapa yang tidak senang? Siapa yang tidak tertarik? Dan ini memang menarik sekali. Tetapi ingat, ajaran yang demikian sesungguhnya seperti Saudara diberikan racun yang rasanya madu manis….enak, nanti setelah mati. Yang mati bukan Saudara, yang mati itu pengertian Saudara, bukan racun di tangan kanan madu ditangan kiri (salah satu bait lagu Madu dan Racun). Ajaran seperti yang saya sebutkan tadi seperti racun yang rasanya madu….seperti Baygon yang rasanya jeruk.

Kalau kita mau meneliti Ajaran Sang Buddha, maka ajaran Sang Buddha ini sesungguhnya satu ajaran yang berusaha menguraikan, menjelaskan, menganalisa dengan jelas sekali tentang kehidupan kita. Belajar agama Buddha berarti belajar agama tentang kehidupan, oleh karena tidak ada satu kalimat pun yang diajarkan Sang Buddha yang tidak berhubungan dengan kehidupan.

 Sumber :

https://web.facebook.com/744210529044598/photos/a.744215425710775.1073741828.744210529044598/1140026572796323/?type=3&theater

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Related For Ajaran Buddha Ajaran Tentang Kehidupan. Ven YM. Bhante Sri Pannavaro Mahathera.